
Ny. Sera selaku pemilik Butik tertawa pelan karna mengantar Ny. Elma beserta anak dan calon istri dari sahabatnya itu sampai didepan pintu. Akhirnya setelah hampir 2 jam berbincang dan memilih gaun serta pakaian adat pernikahan juga kini telah selesai, mengharuskan mereka untuk segera pulang.
"Makasih ya, Ser. Oh iya baju buat aku jangan terlalu meriah, kurangin renda-renda dan motifnya. Yang penting nyaman dan simple," ujar Ny. Elma yang mendapat anggukan paham dari sang sahabat.
"Iya Elma, tenang aja. Masalah baju serahkan semuanya sama aku. Oh iya resepsinya di Jakarta kan?"
"Reno pinginnya di Bali, tapi nikahnya di Jakarta"
"Nah! Mantap itu, seperti pernikahan Raffi Ahmad dan istrinya dulu. Tenang aja, aku pasti datang semoga pernikahan Reno dan Vierra berjalan lancar, " ujar Ny. Sera dengan tersenyum, sedangkan Reno ikut membalas," Amin... makasih tante."
"Ma, aku mau ke Mall ya, sekalian nyari makan siang sama Vierra." Reno kembali berujar setelah sampai di dekat parkiran mobilnya.
"Yaudah, jaga calon menantu mama ini baik-baik ya, Ren," balas sang ibu.
"Siap ma. Vierra slalu aman kalau sama aku, kan aku jagain dia dengan sepenuh hati."
"Apasi, lebay!" celetuk Vierra menimpali, tapi Reno justru tertawa lalu meraih tangan ibunya untuk minta salam.
"Reno emang begini anaknya, Vie. Meski gitu Reno pasti akan jagain kamu. Dia mirip kayak ayahnya, andai suami mama masih ada udah persis ni tingkahnya seperti ini." Vierra tersenyum tidak berani menyahuti lagi, dan ia meraih tangan kanan beliau untuk minta salim.
"Kalian hati-hati ya," tutur Ny. Elma, mendapat anggukan patuh dari Reno dan Vierra.
"Mama juga hati-hati." Reno mengantarkan ibunya dan ikut membukakan pintu mobil Mercedes milik sang sopir sampai ibunya berhasil masuk kedalam mobil.
Setelah melihat mobil yang ditumpangi ibunya melaju meninggalkan karangan Butik, baru kini Reno menatap kesamping. Tangan kanannya dikaitkan ke tangan kiri Vierra untuk ia genggam.
"Ayo pergi." Vierra mengangguk.
*****
Vierra sekarang jalan menelusuri mall dengan tangan kiri yang di gandeng erat oleh Reno, sedangkan tangan kanannya memegang ponsel yang tertengger di telinganya. 15 menit yang lalu, sang ibu menelfon mungkin khawatir karna melihat Vierra tak kunjung pulang, meski sudah mendapat kabar dari Reno kemarin kalau Vierra akan menginap, tetap saja beliau sangat merindukan dan mengkhawatirkan putrinya tersebut.
"Iya ibu, aku sekarang lagi di mall. Reno ngajak nyari makan disini."
"Nanti kamu pulang kerumah kan, Vie?"
"Pasti ibu. Aku nanti akan pulang, ibu gak usah cemas. Oh iya, ibu ingin aku belikan makanan? mumpung lagi di mall?" tawar Vierra dengan menghentikan langkahnya. Reno juga ikut berhenti menatap kearah calon istrinya, tapi tanpa menanyakan alasan dari berhentinya gadis itu.
"Gak perlu Vie. Titip salam sama Nak Reno, ya."
"Iya, Bu. Apa ibu di Restoran sekarang?"
__ADS_1
"Gak, Nak. Besok ibu baru masuk kerja. Ibu cuti dua hari, yaudah kamu hati-hati ya sama Nak Reno."
"Iya ibu... Ibu dirumah baik-baik ya, aku tutup telfonnya. Assalamu'alaikum..."
Panggilan Terputus.
Vierra memasukkan kembali ponselnya kedalam tas kecil yang ia selempangkan di bahu kanannya.
"Udah selesai? Mama mertua bilang apa aja tadi?" tanya Reno penasaran, tapi Vierra justru menggeleng, seolah melupakan sesuatu yang sempat ibunya pesankan.
"Yaudah ayo jalan, tapi enaknya kamu mau makan apa? seafood atau makanan yang berkuah?"
"Aku kok pengen cumi-cumi ya, Ren." Alis Reno terangkat sebelah menatap heran.
"Cumi-cumi?" Vierra mengangguk cepat.
"Yaudah ayo kita makan itu aja. Pokoknya apapun yang kamu makan, aku juga makan biar persis kayak kamu," ujar Reno langsung melangkah jalan diikuti Vierra, karna tangannya masih digenggam.
"Apasii! Jangan lebay, deh!" sungutnya kesal.
"Serius sayang, bahkan aku gak masalah kalau harus dikatain lebay asal lebaynya karna kamu hehehehe..." cengir Reno, lagi-lagi Vierra hanya memutarkan bola matanya. Dirinya sudah terbiasa, dan hanya menatap kedepan tanpa membalas ucapan Reno.
"Pak Andre telfon, bentar ya Ra, aku angkat dulu." Reno langsung mengangkat telfon dari sekretaris pribadinya itu.
"Iya pak An, ada apa?"
"Tuan muda, sekarang anda ada dimana?"
"Aku di mall, kenapa pak?"
"Anda langsung datang ke kantor ya, soalnya ini ada Pak Wingky dan juga nona Rossi disini."
"Apa? Hm.... baiklah, aku akan kesana." Reno memutuskan panggilan tersebut, tapi Vierra mengetahui kejanggalan yang terjadi. Raut wajah Reno seolah berhasil ia baca, ada rasa cemas dalam diri laki-laki itu.
"Kenapa Ren?" tanyanya pelan.
"Maaf ya, Ra. Aku harus ke kantor sekarang. Aku akan telfon Pak Budi buat antarin kamu pulang kerumah," balas Reno memberi penuturan. Kening Vierra mengerut, masih belum puas dengan jawaban Reno, seolah ada yang laki-laki itu tutupi.
"Apa ada masalah dikantor?"
"Pak Wingky datang kesana, dan aku harus menemuinya sebelum beliau mengacau di sana." Vierra akhirnya paham. Ia mengangguk menginyakan, meski ingin rasanya dirinya ikut, tapi Vierra tidak berani mengatakan hal itu didepan Reno.
__ADS_1
"Yaudah, selesaikan baik-baik ya, nanti kabari aku setelah itu. Kamu gak perlu khawatir, aku bisa naik taksi buat pulang kerumah. Sana temui Pak Wingky dulu." Reno memegang tangan kanan Vierra. Ucapan dari gadis itu, semakin membuatnya merasa tidak nyaman, seolah mengabaikan calon istrinya tersebut.
"Ayo ikut..."
"Eh, tapi!" Vierra terbelalak kaget, pasalnya Reno sudah mengajaknya pergi begitu saja sembari menguatkan genggaman di tangan kanannya.
"Kita hadapi bersama, Ra," sambung Reno dengan pelan. Sekarang Vierra paham, jika laki-laki itu ternyata sangat mengerti dirinya, bahkan seolah bisa membaca pikirannya yang juga ingin ikut dengannya ke kantor.
*****
Reno kini sudah sampai di kantor, tak butuh waktu lama. Karna letak kantor memang bersebelahan dengan mall. Perusahaan yang Reno pegang ialah perusahaan yang bergerak di bidang trading yaitu jual belinya emas dengan nominal US$ (Dollar Amerika) dimana mengharuskan untuk mencari beberapa nasabah untuk menginvestasikan uangnya menjadi berlipat dalam perusahaannya.
Tn. Wingky yang melihat kedatangan Reno hanya bisa menyunggingkan senyum tipis, lalu melepaskan pelukan putrinya di lengan kanannya. Rossi terlihat sedikit ketakutan, namun setelah pesan dan penuturan ayahnya sebelum datang kesini membuat gadis itu tampak lebih kuat seolah siap merebut Reno dari tangan Vierra.
"Akhirnya kamu datang kesini Ren."
"Ada perlu apa anda kesini, Pak Wingky? Bukannya sudah jelas kalau saya tidak terlibat apapun tentang pemerkosaan yang terjadi dengan Rossi, bahkan saya sudah memberikan anda bukti sekaligus rekaman cctv tadi pagi." Reno menyela lebih dulu mengulang lagi peringatannya tadi pagi, sebelum Tn.Wingky mengatakan hal lebih atau justru sebuah ancaman.
"Memang benar, tapi itu semua gak cukup untuk membuktikan kalau Pak Leon yang sudah memperkosa Rossi." Alis Reno terangkat, seperti ada firasat buruk yang akan ia dapatkan setelah mendengar ucapan dari rekan kerjanya itu.
"Aku sudah menemui Pak Leon tadi, katanya dia memang yang memesan kamar tersebut, tapi tidak ada bukti jelas kalau dia yang sudah memperkosa putriku, bahkan rekaman cctv yang kamu berikan belum cukup akurat sebagai bukti jika Pak Leon yang bersalah."
"Tapi saya yakin dia yang sudah memperkosa Rossi, Pak Wingky! Coba anda tanya lagi kepada putri anda itu, suruh dia ingat kembali siapa laki-laki yang sudah menidurinya saat itu!" Nada Reno mulai meninggi, disertai penegasan dan tatapan tajam seperti sedang menatap musuhnya sendiri.
"Aku gak ingat apa-apa pa..." ujar Rossi begitu lirih, membuat tatapan tajam Reno kini mengarah ke manik coklat milik gadis itu.
"Kau emang gak ingat, atau hanya pura-pura, Ros!"
"Hentikan Reno!" Tn. Wingky menyela keras, mencoba membela putrinya agar Reno tidak trus menyudutkan Rossi yang bisa saja membuat gadis itu salah bicara.
"Aku kesini ingin menawarkan sebuah negoisasi kepadamu. Aku sudah menginvestasikan banyak uang bahkan 30% dari perusahaan ku untuk perusahaanmu, jika sekarang aku tarik maka belum sampai mencapai nominal yang diinginkan, apa kamu siap mengganti rugi semua uangku. Bahkan harganya sekarang jika dilipatkan dari setahun yang lalu saat aku menginvestasikan sudah bekisar mencapai milyar rupiah." Tn Wingky menjeda ucapannya dan kini melangkah mendekati Reno dan juga Vierra yang masih berdiri dengan tatapan was-was.
"Aku akan membuat ini menjadi selesai, jika kamu mau bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa putriku. Usia kandungan Rossi belum sampai satu minggu, jadi belum bisa di lakukan tes DNA untuk itu aku hanya ingin kamu yang menjadi ayah dari anak yang dikandung putriku saat ini. Dan pernikahanmu dengan gadis ini akan aku biarkan, tapi jika kamu menolak maka bersiaplah... Aku Wingky tidak akan membiarkan pernikahanmu berjalan lancar. Apa kamu mengerti sekarang seberapa kuatnya posisiku, Reno?"
Vierra menahan tangan kanan Reno agar tubuh laki-laki itu tidak tersulut karna bendungan emosi yang tlah lama tertahan. Reno menatap penuh kumpulan asap emosi dalam pikiran serta benaknya. Ingin rasanya sebuah tinju keras ia layangkan kepada rekan kerjanya, tapi tangan Vierra menahannya.
*****
Bersambung...
Tetap beri Like, Komentar, Dan Vote ya makasih 😊
__ADS_1