
Hari tlah berganti menjadi larut malam, namun Vierra masih setia berada didekat Reno. Ia duduk di kursi samping ranjang sembari mengenggam tangan kiri Reno. Hatinya masih menantikan sebuah keajaiban. Berharap jika suaminya akan membuka kelopak mata yang sudah berjam-jam lamanya terpejam. Vierra ingin trus bersama Reno, meski beberapa kali sudah dibujuk untuk istirahat nyatanya ia bersikeras menolak, dan berakhir seperti sekarang ini. Matanya hanya menatap bibir pucat pasih Reno dengan bekas air mata dipipi.
"Vie...., kamu istirahat udah jam 10, biar mama aja yang jaga Reno." Vierra mengalihkan pandangannya, menatap ibu mertuanya yang melihatnya penuh kecemasan. Ia memaksakan diri untuk tersenyum, meski suasana hatinya masih teramat merasakan sakit.
"Ngga ma...., aku masih kuat kok. Aku ingin jaga mas Reno sampai dia sadar," ungkapnya.
Gevan akhirnya berdiri dari sofa sebelah kiri. Setelah membuang waktu untuk bermain game online di ponselnya, sekarang ia tidak ingin membuat ibu serta adik iparnya kelelahan.
"Ra..., kamu istirahat aja biar Reno aku yang jaga. Ingat kamu itu hamil jangan kecapean, bisa-bisa aku dipenggal sama Reno pas dia udah sadar nanti, kalau tau istrinya gak disuruh istirahat."
"Yang dikatakan Gevan benar sayang..., kamu istirahat aja di ruanganmu," imbuh Ny. Elma.
"Mama Elma juga istirahat."
"Lho mama juga Gev?" Gevan mengangguk.
"Iya ma..., mama udah jagain Reno dari tadi siang. Sekarang mama Elma pulang aja, biar Reno aku yang jaga sendiri. Besok kalau dia sadar langsung aku hubungi mama Elma."
"Oh iya Ra..., ibumu di kubur kapan? Apa keluargamu udah datang ke Jakarta?" Vierra terkesiap menatap kearah Gevan. Ia hampir melupakan tentang kematian ibunya karna terlalu khawatir dengan kondisi Reno. Ia bahkan tidak memperdulikan kondisi dirinya sendiri yang tengah mengandung. Yang ia inginkan agar Reno cepat membuka matanya dan kembali sadar.
"Ponselku...." Alis Gevan terangkat sebelah, "Aku belum ngecek ponselku sama sekali. Malam ini aku akan pulang kerumah. Aku ingin liat jenazah ibu sebelum besok di kuburkan," jelasnya begitu gusar.
"Biar aku telfon Pak Budi aja agar nganterin kamu pulang kerumah."
Ceklek...
Ny. Gasella masuk keruang ICU, lalu menghampiri Gevan yang berdiri didekat sofa. Vierra dan Ny. Elma ikut menatap kehadirannya.
"Kalian pulang aja, biar Reno aku yang jaga. Hari ini aku akan lembur dan berniat tidur dirumah sakit. Gev! Antar Elma dan Vierra pulang kerumah biar mama yang jaga Reno disini."
"Mbak Sella yakin?"
"Aku yakin Elma! Sekarang lebih baik kamu pulang. Oh iya Vierra kamu juga pulang, apalagi jenazah ibumu belum dikubur, kamu harus ada untuk menemani jenazah ibumu sebelum dikuburkan," tutur Ny. Gasella memberi pengertian.
"Mama bener...., sekarang biar aku antar kamu pulang kerumah trus baru antar mama Elma kerumah, nanti aku balik lagi kesini."
"Gak perlu balik Gev! Kamu juga pulang. Istirahat dan bantu besok buat pemakaman ibunya Vierra. Besok aku akan nyusul, kabari aja lokasi pemakaman dan jam berapa akan dikubur."
"Aku setuju. Yaudah...., jaga Reno baik-baik ya mbak Sel."
"Tenang aja Elma, dia pasti aman disini."
"Yaudah, ayo ma aku anterin mama Elma pulang, tapi sekarang nganterin Vierra pulang lebih dulu." Gevan tersenyum menghampiri Ny. Elma sekaligus memberi isyarat agar Vierra mau berdiri.
"Yaudah Gev...., ayo Vie kita pulang." Vierra tidak membalas, justru kembali menatap kearah wajah pucat Reno. Jujur hatinya ingin slalu disini untuk menemani suaminya, tapi besok ia juga harus mengubur jenazah ibunya. Vierra menarik nafas panjang lalu ia hembuskan. Ia berdiri sebelum itu berpamitan lebih dulu kesuaminya yang masih terbaring, "Aku pulang dulu ya, besok saat aku kesini kamu harus udah sadar....," pintanya pelan.
"Ayo Vie...." Ny. Elma menghampiri Vierra, dengan kedua tangan yang mendekap bahu Vierra dari belakang, bermaksud ingin menuntun menantunya itu untuk segera beranjak pergi dari ruangan.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya suasana di pemakaman begitu haru. Setelah sang ibunda tercintanya dikebumikan, Vierra tak kuasa menahan derai air mata yang trus berjatuhan. Ny. Elma membawa kepala Vierra di bahunya, mendekapnya seraya memberi kekuatan agar menantunya mengikhlaskan kepergian sang ibu.
"Ibuuuuuu.....," lirih Vierra begitu parau.
"Tenang sayang, ibumu udah bahagia disana. Ikhlaskan kepergiannya, masih ada mama. Mama udah anggap kamu seperti putri mama sendiri...."
"Vie..., kamu yang sabar ya," ujar Amily menepuk pundak kanan Vierra sembari mengusapnya agar Vierra bisa lebih tenang.
Setelah kurang lebih hampir satu jam acara pemakaman akhirnya telah selesai. Beberapa orang sudah mulai meninggalkan kuburan, dan hanya tersisa keluarga besar Vierra dimakam.
"Wes toh nduk..., ojok nangis teros mengko ibumu ora tenang. Pak de yo kaget, tapi yok opo maneh iki kabeh wes dadi takdir." Vierra mendongak, memalingkan pandangannya kearah laki-laki paruh baya. Beliau adalah kakak kandung almarhum ibunya. Vierra memanggilnya Pak de Junaedi.
[Udah Nduk, jangan nangis trus nanti ibumu gak tenang. Pak de juga kaget, tapi mau gimana lagi ini udah jadi takdir.]
"Inggih, Pak de...."
[Iya, Pak de.]
"Vie..., maafno Bulek mu iki, amargo jarang nemoni kowe kambek Dian. Tapi Bulek seneng kowe wes entok suami, dadine Bulek ora khawatir ninggalno kowe neng Jakarta," ujar Bu Amarti.
[Vie, maaffin Bulek mu karna jarang menemuimu dan ibumu di Jakarta, tapi Bulek senang kamu udah dapat suami, jadinya Bulek gak khawatir ninggalin kamu di Jakarta.]
"Ibu gak perlu khawatir, Vierra akan tinggal dirumah saya." Ny. Elma tersenyum kearah Bu Amarti yang juga menatapnya. Wanita itu menghampiri Vierra, "Matursuwon nyonya..., Vie, Bulek mu kambek Pak de langsung muleh neng Solo. Pas seratus dinone ibumu insyaallah Bulek teko maneh neng Jakarta. Jogo awakmu apik-apik, wes ikhlasno ibumu iku ben tenang...."
[Terimakasih nyonya. Vie, Bulek mu kambek Pak de langsung pulang ke Solo. Saat seratus harinya ibumu insyaallah Bulek datang ke Jakarta. Jaga diri baik-baik, udah ikhlasin aja ibumu supaya tenang.]
"Inggeh Bulek..." Vierra langsung memeluk Bu Amarti begitu erat, seolah tengah memeluk ibunya yang masih ada. Cucuran air mata tak bisa Vierra bendung lagi. Jika mengingat kepahitan takdir yang ia terima, lubuk hatinya masih sedikit belum mengikhlaskan kepergian ibunda tercintanya.
Bu Amarti mengusap punggung Vierra dengan memberi tepukan penenang, lalu pelukan tersebut dilepas. Tangan Bu Amarti mengusap air mata dipipi Vierra, tersenyum disertai kecupan dikening.
"Wes..., ojok nangis wae Vie." Vierra mengangguk.
[Udah jangan nangis trus Vie.]
"Nduk..., Pak de langsung moleh, sing apik-apik neng Jakarta. Telfon Pak de yen onok masalah, ojok diatasi dewe."
[Nduk Pak de langsung pulang. Baik-baik di Jakarta. Telfon Pak de kalau ada masalah, jangan di atasi sendiri.]
"Wes toh mas, lek iku Vierra ngerti. Dek'e wes rumah tangga ben keluarga suamine sing bantu."
[Udah mas, kalau itu Vierra paham. Dia udah berumah tangga, biar keluarga suaminya yang bantu.]
"Aku nuturi Vierra Bu'e...."
[Aku nuturi Vierra, Bu'e]
"Wes..., wes..., nduk Bulek pamit yo." Vierra mengangguk dan langsung meraih tangan kanan Bu Amarti untuk minta salim. Bu Amarti mengusap kepala Vierra saat punggung tangannya dicium anak dari almarhum adik iparnya.
"Hati-hati Bulek...., Pak de....," ujar Vierra tersenyum.
__ADS_1
"Iyo..., nduk...." Vierra beralih kearah Pak de Junaedi, lalu meminta salim.
"Nyonya...., kita pamit. Tolong jaga Vierra," ujar Bu Amarti kearah Ny. Elma, "Iya Bu..., Vierra akan slalu saya jaga. Ibu hati-hati dijalan, atau mau diantar ke bandara?" tanya Ny. Elma.
"Gak perlu nyonya...., kita naik kereta."
"Tidak apa-apa Bu, biar diantar saja. Gev-"
"Biar aku yang antar mama elma," ujar Elson mengangkat tangan kanannya.
"Yaudah, tolong kamu antar EL sampai stasiun." Elson mengangguk, lalu menghampiri Bu Amarti serta Pak de Junaedi untuk mengikutinya beranjak pergi dari makam.
"Aku pergi dulu...," pamitnya yang mendapat anggukan dari semua orang.
"Hati-hati kak El," seru Gevan.
Setelah kepergian Bu Amarti dan Pak de Junaedi kini hanya ada Ny. Elma, Gevan, Amily dan Jordan, karna yang lainnya sudah lebih dulu pergi satu persatu. Keluarga dari almarhum ibu Vierra yang datang cuman Pak de dan Budhenya, sedangkan yang lain tidak bisa datang ke pemakaman apalagi keluarga dari Almarhum ayahnya justru jauh ada di Makassar. Vierra tidak ingin membebani semua keluarganya karna memang beberapa keluarga dari almarhum ayah dan ibunya tinggal di kota yang berbeda-beda.
"Sabar Ra...," ujar Jordan tersenyum.
"Bentar Vie..., mama angkat telfon dulu," Vierra mengangguk, lalu Amily makin mendekat memeluk dari samping dibahu kiri Vierra.
"Astagfirullah....., iya Ham aku kerumah sakit."
"Ada Apa ma?" tanya Gevan ikut panik.
"Dokter Hamis barusan telfon mama, katanya kondisi Reno trus menurun dan...."
"Dan...., apa ma? Apa yang terjadi?" desak Gevan.
"Rossi meninggal Gev."
"Apa???" Semua orang memekik keras disertai tatapan penuh keterkejutan.
"Rossi meninggal? Kok bisa ma?"
"Iya, dia meninggal karna kecelakaan. Polisi menemukan dua korban pasca kecelakaan, yang satunya Reno tapi korban yang kedua itu ternyata Rossi. Dia juga ada dalam mobil bersama dengan Reno. Mama aja kaget dengernya."
"Jadi Reno sama Rossi mengalami kecelakaan dalam mobil yang sama?"
"Iya Gev...."
Vierra masih terbelalak kaget. Jantungnya berdegup kencang, ada rasa cemas yang mengerubung kuat disertai rasa takut.
"Reno semobil sama Rossi? Pantes Reno gak ada saat aku sadar, jadi dia pergi sama Rossi," guman Vierra bertanya-tanya dalam hati. Benaknya masih menerka-nerka penyebab kecelakaan tersebut.
*****
Bersambung.....
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ya, tinggalkan jejak Vote, Like dan Komentar positif 🙏