Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Pengumuman Di Pesta


__ADS_3

Happy Reading, tinggalkan jejak vote dan komentar 👍


_____•••••_____


Keesokan harinya, matahari menyambut begitu cerahnya kota Jakarta. Disebuah Restoran ternama dibawah naungan Gemilang ARD, perusahaan yang Reno pimpin itu tengah ramai. Restoran ini buka jam 8 pagi langsung diserbu beberapa orang yang datang. Kualitas makanan, serta bahannya tidak perlu diragukan lagi. Semua berasal dari Italia dan juga Jerman. Ada sekitar 6 koki, serta belasan pelayan yang bekerja di restoran.



Wanita paruh baya tengah gusak gusuk. Ia berkali-kali berjalan bolak balik hanya untuk mengambil beberapa barang yang ia butuhkan. Seorang koki dengan name tag didada Alfan itu memanggil.


"Ambilkan piring baru lagi, tapi yang ceper sama mangkuk bolam besar untuk sup." Ny. Dian mengangguk patuh, lalu mengambil perabotan seperti yang koki itu suruh.


"Terimakasih Bu. Dian," tutur Koki Alfan dengan tersenyum.


Ny. Dian Selaku ibu dari Vierra memang bekerja di Restoran ini. Bekisar sudah 1 tahunan sejak Reno menolongnya waktu itu, lalu memberikannya pekerjaan sebagai kepala dapur yang membantu semua keperluan koki.


Reno melangkah memasuki area dalam restoran. Beberapa kursi sudah terpenuhi dan masih ada juga yang kosong. Reno memutuskan berjalan untuk memilih tempat duduk, tapi sebelum itu wanita dengan pakaian pelayan menyambut dan menyapanya.


"Selamat pagi Mister Reno."


"Pagi juga Steffi," balas Reno tersenyum tipis.


"Akhir-akhir ini kerjamu sangat bagus, Stef. Pertahankan kalau ada masalah pribadi jangan sampai menganggu pekerjaanmu disini," ujar Reno memberi penuturan.


"Baik, Mister. Saya akan lebih fokus untuk bekerja." Steffi membalas dengan anggukan serta senyuman hangat.


Reno ikut mengangguk, lalu kembali melangkah. Ia memusatkan pandangannya sampai di kursi pojok kosong belum terisi. Reno jalan menghampiri kursi tersebut.


Srkkk..


Reno menarik kursi, tapi tiba-tiba getaran serta dering telfon dari ponselnya terdengar. Reno mengeceknya, lalu merogoh saku jas hitamnya.


Panggilan Tersambung.


"Ren! Kenapa gak kasih tau aku si, kalau kamu di ganggu lagi sama si nenek lampir." Gerutuan kesal terdengar dari speaker ponselnya.


"Nenek lampir?"


"Iya! Makanya diinget, kalau sebutanku sekarang ke Rossi itu nenek lampir."


"Hahahahahaha....." Reno tertawa sangking lucunya, karna Amily sahabatnya memberikan julukan yang sangat tepat untuk Rossi.


"Kok ketawa si... Kurus dengerin! Aku serius tauu!"


"Aku gak kurus lagi, Mil! Tubuhku udah kekar gak liat apa kalau tiap hari aku ngeboxing!"


"Biarin! Bagiku, kamu tetap kurus titik! Oh iya aku pengen dengerin lagi ceritamu tentang cewek yang namanya Vierra." Alis Reno terangkat. Ia sampai lupa, kalau Amily sudah mengetahui semua masa lalunya terlebih lagi saat ia menyukai Vierra sejak SMA.


"Hmm... Jangan kepo, Mil! Pokoknya, Vierra itu cantik, trus tinggi, rambutnya sekarang pendek dan juga....."


"Dan juga apa? Cepat katakan Reno! Jangan buat aku penasaran ya!"


"Dan juga... dia seksi dimataku."


"APA!" Belum sempat Amily meneruskan ucapannya, Reno langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


Reno memang sudah menjadi sahabat dekat Amily. Hanya sebatas sahabat. Reno pastikan Amily tidak memiliki perasaan lebih terhadapnya. Amily sudah bertunangan dan dia mengaku sangat mencintai tunangannya itu yang bernama Jordan. Reno sudah biasa bercerita tentang semua masalahnya kepada Amily, karna hanya dia yang Reno percayai.


Baby.


Nanti malam datang ya ke ulang tahun ibuku dan nanti aku akan datang ke Matahari.


Sampai jumpai disana Baby.


_____•••••_____


Sedangkan itu Vierra yang kini tengah berjalan menelusuri koridor mall menatap pesan WA dari notifikasi yang sangat amat tidak ia sukai. Siapa lagi, kalau bukan pesan dari Reno. Kedatangan laki-laki itu selain menguras pikiran, waktu, sekarang bahkan seperti detektif yang slalu ingin tahu dan mengganggu setiap aktifitasnya.


"Apasi... Dasar gak jelas."


"Baby, emang aku bayinya apa. Dasar gila."


Vierra berguman dengan nada kesal. Ia hanya membaca pesan WA dari Reno, tanpa berniat untuk membalasnya. Vierra melanjutkan langkahnya. Sekitar 5 menit yang lalu, ia memang izin ke salah satu teman kerjanya untuk pergi ke toilet.


"Ehh, denger-denger Mister Reno itu gay ya."

__ADS_1


"Ha! Jangan ngawur kamu!"


"Gak ngawur! Kemarin ada cewek yang ngatain kalau, Mister Reno itu gay. Ceweknya si sering aku liat. Aku pikir dia pacarnya Mister Reno ehhh... kayaknya gak si."


"Setahuku Mister Reno itu normal, Win! Jangan sembarangan kamu! Mana ada keluarga Barack yang gay."


"Bisa aja kan!"


"Aku gak percaya, oh iya... Nanti malam ada perayaan ulang tahun ibunya Mister Reno. Kamu datang gak?"


"Emang kamu dapat undangannya?"


"Ha! Undangan?"


"Iyalah, masa ke pesta gak bawa undangan."


Vierra diam, ia memang sengaja menghentikan langkahnya sejak 3 menit yang lalu, suara dari dua orang pegawai toko itu sangat membuatnya penasaran dan memutuskan untuk menguping sedikit pembicaraan mereka.


"Gay???" Gumannya pelan.


"Apa mungkin karna aku tolak dulu dia jadi gay."


Di Malam Hari.



Disebuah hotel mewah lebih jelasnya di lantai dasar hotel sedang ada perayaan besar-besaran. Beberapa tamu yang datang bukan orang sembarangan. Semuanya adalah tamu VIP. Kerabat, bahkan pebisnis dan wartawan ikut andil dalam perayaan ulang tahun Ny. Elma selaku ibu dari Reno.


Tepukkan meriah terdengar saat Ny. Elma berhasil meniup lilin diatas sebuah cake besar nan cantik. Disebelah Ny. Elma ada Tn. Ednan yang memberikan usapan lembut di kepala saat menantunya itu meminta salam restu.


"Aku doakan panjang umur menantuku," tutur Tn. Ednan yang sudah Ny. Elma anggap sebagai ayahnya sendiri.


Reno tersenyum ikut bahagia melihat kakek dan ibunya. Ia kini berdiri sedikit jauh dari tempat utama, tapi masih bisa melihat jelas kakek beserta ibunya. Beberapa saudaranya juga menghilang entah pergi kemana.


"Ibu.... Ngapain juga si, kita harus datang kesini," ujar Vierra dengan nada malasnya.


"Hush! Jangan begitu, Ra. Ibu datang, karna gak enak sama Nak Reno. Di Restoran tadi dia ngasih undangan ke ibu sama baju juga, katanya pas ketemu kamu, ehhh.... kamunya gak nerima."


"Biarin aja Bu. Aku emang gak mau nerima barang apapun dari dia." Vierra membalas dengan memprotes kesal.


"Tetap aja dia udah belikan kamu baju. Pemberian dari siapapun harus kamu hargai. Terlebih lagi, Nak Reno sangat baik sama ibu. Jangan kasar-kasar sama dia ya, Nak!" tutur, Ny. Dian.


"Pakai aja cuman malam ini, yang penting kamu udah pakai dan ngehargai pemberian dari Nak Reno. Ibu suruh pakai jaket gak mau."


"Ya gak bagus dong Bu, kalau pakai jaket."


"Udah-udah.... itu liat kedepan. Acaranya, kayaknya udah selesai ya, Ra? Atau belum? Ibu bingung ini," ucap Ny. Dian keheranan.


"Gak tau, Bu. Aku ke toilet bentar ya, Bu," balas Vierra dengan meminta izin.


"Iya, Nak. Jangan lama-lama." Vierra mengangguk patuh, lalu melangkah pergi ke arah Timur.


Vierra jalan menerobos kumpulan orang yang tengah asik berdiri dengan menikmati musik yang sedang berputar.


Brughh...


Karna keteledorannya yang jalan tanpa hati-hati Vierra tidak sengaja menabrak tubuh kekar seseorang. Dari baunya sangat maskulin.


"Ahh... maaf-maaf, aku gak sengaja," ucapnya pelan dengan menunduk.


"Gak masalah. Lagian aku juga salah karna gak liat-liat kalau jalan," balas Elson tersenyum hangat.


"Kamu mau kemana?"


"A-aku ingin ke toilet," balas Vierra sedikit gugup.


"Udah tau toiletnya?" Elson bertanya lagi.


"Ak-akuu..."


"Pasti gak tau. Yaudah Ayo aku antar," sela Elson cepat. Ia masih tersenyum mencoba bersikap ramah didepan Vierra.


Vierra mengangguk tanpa bersuara. Ajakan Elson memang benar, tapi saat ia kembali melangkah tiba-tiba suara yang begitu familiar terdengar.


"Kak Elson!" panggil seseorang dengan suara bass yang sangat nyaring.

__ADS_1


"Eh, Gerald! Datang juga ternyata." Elson menyahuti dengan sedikit keras.


Vierra penasaran dan membalikkan badannya, matanya sukses melotot tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Vierra!!!" pekik Gerald berjalan menghampirinya.


"Kamu ada disini juga? Aku baru tau. Hmm... Apa kabar, Ra?" Vierra diam mematung.


"Kalian udah saling kenal?" tanya Elson penasaran.


"Iya, Kak. Vierra ini teman SMA ku dulu sekaligus mantan pacarku juga," ujar Gerald menjelaskan.


Vierra menatapnya aneh. Laki-laki itu justru terkekeh, seolah yang dia katakan hanya sebuah lelucon. Apa Gerald tidak lupa dengan pengkhianatannya dulu? Vierra tersenyum remeh.


"Ohh... Dia toh, Ger! Aku pikir pacarmu dulu Jesicca."


"Udah putus, Kak EL!" bantah Gerald cepat.


"Trus sekarang sama siapa lagi?"


"Gak sama siapa-siapa. Aku harus fokus sama kerjaanku sekarang," balas Gerald dengan tersenyum. Vierra hanya memandang biasa, seolah malas melihat apalagi harus bertemu mantan pacarnya dulu.


"Iya, iya.. yang bakal jadi Fotografer Profesional." Elson tertawa.


"Maaf, aku permisi dulu kalau gitu," sela Vierra dengan senyum terpaksa.


Srrtt...


"Tunggu, Ra!" Gerald menahan pergelangan tangan kanannya, membuat Vierra kembali menoleh dan menatapnya.


"Lepaskan tanganmu dariku!" ujar Vierra dengan nada tegasnya. Alis Gerald terangkat mengetahui perubahan wajah serta ucapan gadis dimasa lalunya.


"AKU BILANG LEPAS!" Vierra berteriak sangat keras. Banyak orang menatapnya, bahkan Gerald semakin terkejut.


Vierra menarik paksa pergelangan tangan kanannya, tapi Gerald tetap mencekram kuat seakan tidak ingin dia lepaskan.


"Awwhh... Lepas, Ge!"


"Ge! Lepasin tanganmu," ujar Elson memerintah.


Seakan tuli Gerald tidak terpengaruh tatapan matanya semakin tajam, membuat berkali-kali Vierra meringis kesakitan.


Srrtt...


"Keparat! Lepas!!!"


Reno datang dengan menarik paksa tangan Vierra, lalu langsung menyembunyikan tubuh Vierra dibelakangnya. Tatapan Reno menajam, membuat semua orang hanya fokus memandang kearahnya.


"Berani sekali kau menginjakkan kaki disini!"


"Siapa yang mengundang keparat sepertimu kesini?"


"Keparat Katamu!" nada Gerald meninggi.


"Reno! Gerald! Apa-apaan kalian! Hentikan!" Suara Elson kembali terdengar dengan sedikit bentakkan dan penegasan.


"Kak, EL! Jangan membela dia. Orang seperti dia gak pantas datang kesini, harusnya dia ditendang keluar dari hotel ini," ucap Reno dengan tatapan tajam yang sangat meremehkan.


"Reno? Ohhh... kau kutu buku itu kan?"


"Dia adikku, Ger," ujar Elson menimpali.


"Aku gak nyangka Kak Elson bisa punya adik kayak dia. Kutu Buku, kenapa gayamu berubah sekarang? Apa karna malu dengan penampilanmu dulu."


"Berhenti Gerald!" Kini Vierra kembali berujar dengan tegas.


"Reno! Ayo kita pergi," ajaknya dengan menarik pelan tangan kiri laki-laki yang berdiri membelakanginya.


"Ren! Udah, biarkan dia-"


"Vierra!" Vierra diam, saat Reno beralih menatapnya. Tangan kanannya kini berubah menjadi digenggam erat oleh tangan kekar laki-laki itu.


"Buat Semuanya. Aku umumkan ke kalian. Perkenalkan, wanita di sampingku ini, Dia adalah calon istriku. Aku akan menikah dengannya minggu depan. Aku harap kalian bisa datang ke pernikahan kami."


Semua orang menatap dengan terkejut termasuk Vierra. Benar-benar tidak terduga dengan apa yang ia dengar barusan.

__ADS_1


Di sudut jauh, Tn. Ednan justru tersenyum ternyata cucunya itu berhasil mengikuti ucapannya.


_____•••••_____


__ADS_2