Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Ajakan Dari Orang Asing


__ADS_3

Di Jakarta.


Leon tengah fokus ke layar laptopnya sembari menekan jarinya di mouse. Sudah hampir satu jam ia tidak beranjak sama sekali dari kursi kerjanya. Hembusan nafas lelah akhirnya Leon keluarkan, disertai tangan yang melepas kaca mata dan ditaruh diatas meja.


Tok tok tok....


"Masuk!"


Pak Navandi masuk kedalam ruangan, lalu melangkah menghampiri meja Leon.


"Pak Leon, saya sudah tau dimana Pak Reno dan istrinya bulan madu." Leon mendongak, menatap dengan alis terangkat.


"Dimana mereka?"


"Ada di Paris."


"Paris?" Mendapat anggukan dari sekretarisnya.


"Baiklah. Periksa kapan ada penerbangan untuk ke Paris. Aku ingin secepatnya. Kabari aku besok pagi," tutur Leon tegas.


"Baik, Pak..." Pak Navandi menunduk, lalu berbalik untuk keluar dari ruangan.


Leon menutup laptopnya dengan senyuman tipis yang terukir dibibir, "Reno Reno... liat aja, gak akan aku biarkan bulan madumu berjalan lancar."


"Vierra, wajah wanita itu sepertinya gak asing. Apa aku pernah bertemu dengannya dulu," gumannya penuh keheranan.


Di Paris.


Suara keras mikrofon disertai semilir angin malam menyambut kedatangannya. Vierra sudah ada di dalam kapal. Lebih tepatnya ia menaiki Bateaux Mouches yang dikenal sebagai salah satu kapal layar terbesar di Paris. Dinner romantis, dan beberapa pameran tengah berlangsung sekarang. Banyak model, serta pengunjung kelas atas yang berlalu lalang.



"Sayang... Kok berdiri disini? Ayo kedalam aku udah pesen meja buat kita makan." Reno datang langsung menggandeng tangan kiri istrinya.


"Iya mas, tapi disini bagus. Pemandangan dari sini benar-benar indah." Reno tersenyum.


"Nanti dilanjut lagi, yang penting kita makan dulu. Aku tadi tanya kalau kapal ini akan melewati menara Eiffel."


"Serius mas?" pekik Vierra terkejut dan Reno mengangguk, "Iya sayang, makanya ayo makan dulu," balasnya lembut.


Reno menuntun Vierra untuk masuk lebih ke dalam ruangan yang di penuhi kursi-kursi makan. Sangat ramai, untung ia sudah memesan kursi lebih dulu.


Seorang waitress datang menghampiri.


"Good night, Sir. This is tonight's menu." Reno mengambil buku menu yang baru saja waitress itu berikan.


"I want most delicious food here," balas Reno seraya menutup kembali buku menu tersebut, lalu memberikannya pada waitress.


"Yes, Sir. Please wait..." Reno mengangguk.


"Mas..." panggil Vierra pelan.


"Hmm... Iya sayang?" Reno menoleh kearah istrinya.


"Disini ramai ya. Aku gak kebayang acaranya pasti sampai tengah malam."


"Mungkin, kenapa? kamu gak suka ya?"


"Bukan gitu...." Vierra menggeleng, "Cuman gak biasa aja aku. Bahasa inggrisku masih kurang mas, jadi aku bingung mesti gimana."


Reno meraih kedua tangan Vierra disertai tatapan penuh kehangatan, "Sayang... Aku ajak kamu kesini buat bulan madu bukan buat tour guide yang wajib bisa bahasa inggris, lagian ada aku. Kamu cukup disampingku aja." Vierra mengangguk patuh.

__ADS_1


"Ladies and Gentlemen. Thank you for coming. Next, I will start the first auction of the night." Vierra mendongak, memanjangkan lehernya untuk bisa melihat lebih jelas.


Dari kejauhan ada laki-laki berpakaian jas rapi serta menggunakan mikrofon dipandu oleh seorang model cantik dengan pakaian super seksi yang memegang sebuah gelang antik.


"Ada apa sayang?" tanya Reno keheranan.


"Gak tau mas. Disana ramai banget, kayaknya ada acara." Reno memutar balik lehernya melihat kearah belakangnya, ternyata ada acara lelang yang tengah berlangsung.


"Oh... Itu acara lelang sayang," balasnya menatap kembali kedepan. Vierra justru bingung, "Lelang?" Reno mengangguk.


"Iya lelang sayang... Kamu tertarik? Atau kamu pingin beli?" tawarnya.


"Ish.. Gak kok mas. Aku cuman penasaran aja, lagian pasti barangnya mahal-mahal," sela Vierra menolak dengan gelengan kepala.


"Gak mahal kok, kalau kamu mau kita bisa beli satu barang. Biar aku liat apa yang ditawarkan." Reno membalikan lagi badannya, mencoba menatap lebih seksama apa yang model itu pegang.


"This bracelet is a bracelet from the United Kingdom of Great Britain that was worn by the Queen Victoria."


"Opened at a price of $ 500.000."


"$ 600.000!" ucap pria dari sebrang Timur


"$ 800.000!"


"$ 1.000.000!"


"Ok, is there someone bargaining at a higher price?" tanya pria mikrofon tersebut.


Reno mengangkat tangan kanannya keatas, "Yes, Sir, over there?" Pria itu menunjuk kearah meja Reno, "$ 2.000.000," jawab Reno lantang membuat tepuk tangan orang-orang meriah disertai bisikan takjub.


"Ok deal. Congratulations this bracelet is the owner of a $ 2.000.000 man."


Vierra membola kaget dengan apa yang barusan Reno lakukan. Semua pasang mata menatap kearah mejanya. Ia menatap suaminya itu penuh kebingungan.


"Iya sayang... Gelang itu sangat bagus dan unik, cocok kalau kamu pakai," balasnya.


"Emang berapa harganya?"


"Masalah harga gak penting, asal gelang itu bisa jadi milik kamu." Reno tersenyum, memberi penjelasan halus agar istrinya tidak perlu cemas.


"Awas ya kalau mahal! Aku gak mau kamu beli barang mahal-mahal. Beli di Jakarta kan sama aja nanti," ujar Vierra membuat dahi Reno mengerut.


"Gelang tadi itu gelang yang pernah di pakai Ratu Victoria sewaktu masih memimpin Kerajaan Britania Inggris, jadi aku tertarik buat beli. Gapapa meski sedikit mahal, asal istriku ini bisa pakai barang mewah," tutur Reno.


"Aku gak perlu pakai yang mewah-mewah mas, aku cukup pakai yang murah juga gapapa. Kamu jangan boros-boros!" tukas Vierra merasa tidak sependapat.


Reno menghembuskan nafasnya, "Sayang... Kamu dulu pakai barang yang murah kan, nah sekarang kamu coba pakai yang mewah ya karna kamu udah jadi istriku. Aku ngelakuin ini semata-mata buat manjain kamu aja. Aku cari uang juga buat nafkahin kamu dan calon anak kita nanti. Kamu gak perlu cemas, uangku gak akan habis cuman beli satu gelang." Vierra paham dan mengangguk.


Hatinya merasa bahagia, entahlah sikap dan ucapan Reno setiap hari slalu bisa membuatnya berbunga. Memang kebanyakan istri menginginkan suami yang loyal yang setiap saat bisa mengasihnya uang belanja, tapi tidak dengan Vierra. Ia lebih suka berhemat dan hanya perlu membeli barang yang penting saja. Hidup susah yang sudah ia jalani dari kecil, membuatnya lebih menghargai uang hasil dari jerih payahnya sendiri.


Tak lama kemudian makanan pun datang. Vierra tersenyum melihat warna makanan yang begitu menggugah selera.


"Ayo dimakan, kalau kurang nanti aku pesenin lagi."


"Ini aja belum habis mas. Tunggu sampai habis, nanti kalau emang enak aku pesan lagi." Reno mengangguk, "Iya sayang..." balasnya.


Acara makan dengan diiringi musik serta lelang membuat suasana didalam kapal sangat menyenangkan. Ini adalah momen terindah yang pernah Vierra rasakan.


Reno sudah selesai makan, lalu mengelap sudut bibirnya dengan tissue.


"Sayang bentar ya, jangan kemana-mana." Vierra mengangguk tanpa melihat wajah Reno, karna masih asik memotong steak dagingnya.

__ADS_1


Srkk..


Reno mendorong kursi duduknya dan berdiri. Matanya melihat lagi kearah sang istri yang masih lahap menyantap makanan. Senyumannya terukir kembali," Sayang aku pergi dulu bentar..." pamitnya lagi.


**


Selepas kepergian Reno yang baru sekitar 10 menit yang lalu, kini Vierra bernafas lega. Perutnya kenyang karna makanan yang ia santap habis total tak tersisa, bahkan minumannya pun tinggal setengah gelas.


"Akhirnya kenyang juga... Enak banget dagingnya, jadi pengen lagi," gumannya pelan.


Vierra menatap ke sekeliling masih sangat ramai, ia baru sadar kalau Reno belum juga kembali.


"Excuse Me, Miss..." Vierra menoleh, menatap bingung kearah laki-laki yang berdiri di sebelah kursinya.


"Yes. Ah.. Anuu maaf-"


"Haduh b*go kamu Vie harus bicara apa ya, mana gak bawa kamus." runtuknya mengumpat dalam hati.


"Kamu orang Indonesia?"


"Ha!" Vierra menengadah membeo bingung, dan saat ia sadar dengan ucapan laki-laki itu barulah ia membalas, "Maksud anda apa saya dari Indonesia?" Laki-laki itu mengangguk.


"Benar! Tadi aku tanya begitu. Aku tadi liat kamu sendirian disini, makanya aku samperin eh ternyata orang Indonesia. Senang bisa bertemu denganmu nona. Kenalkan namaku Krisna panggil aja Kris ."


"Oh iya maaf saya tadi sedikit bingung." Vierra tersenyum kaku.


"Santai saja nona jangan terlalu formal. Aku belum setua itu, sepertinya kita seumuran. Oh iya nama nona siapa?" tanya Krisna tersenyum hangat.


"Vierra..."


"Nama yang cantik secantik orangnya...." Krisna terkekeh, membuat Vierra memandang heran.


"Apa dia baruaja menggombaliku," gumannya dalam hati, "Reno juga kemana si belum datang sampai sekarang," lanjutnya lagi.


Vierra berdiri, "Maaf ya, saya harus pergi."


"Kemana nona Vierra? Kenapa buru-buru sekali?"


"Saya ingin menemui suami saya," balas Vierra sopan.


"Kamu udah menikah?"


"Iya. Saya baru saja menikah dan kami ini ke Paris buat bulan madu." Alis Krisna menyatu menukik tajam, seolah ucapan Vierra membuatnya sedikit terkejut.


"Oh gitu ya nona, hahahaha.... Selamat atas pernikahan nona. Bagaimana, sebagai awal pertemuan kita izinkan aku mentraktirmu minum."


"Tidak perlu. Saya sudah minum barusan," tolak Vierra halus.


"Nona Vierra lucu sekali, maksudnya aku ingin mentraktirmu minum. Disana ada yang menjual minuman, ayo nona tolong jangan menolak ajakanku ya. Tenang aja aku bukan orang jahat, aku hanya ingin mentraktir nona."


Hening.


Vierra diam, hatinya merasa bingung. Ingin sekali ia menolak lagi karna ia tidak bisa harus bicara dengan orang asing.


"Bagaimana nona?" tanya Krisna lagi.


"Baiklah hanya minum..." balas Vierra pelan. Krisna menyunggingkan senyumannya, sembari mempersiapkan Vierra jalan lebih dulu.


*****


Bersambung....

__ADS_1


Hari ini triple up, gak tau besok. Mungkin bakal update satu part hehehe.


__ADS_2