Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Surganya Belanja


__ADS_3

Di Paris.


Langit cerah menyosong ibu kota Prancis, namun hawa dingin serta tiupan angin yang sedikit kencang tetap membuat orang-orang berlalu lalang di sekitar jalan Champs Elysees. Jalan tersebut ialah kawasan yang berjejer berbagai ruko-ruko serta butik pakaian ternama seperti Louis Vuitton, Zara, H&M, Anne Fontaine, Bulgari, Disney Store, Nike Store dan sejenis toko pakaian ternama lainnya.


Setelah makan siang yang sebelumnya dipesan dari Restoran Le Cinq dimana restoran tersebut berada di dalam kawasan hotel George V, dengan menu makanan paling enak yang tiada tanding.


Kini Vierra dan Reno sudah memasuki salah satu toko ternama yaitu Louis Vuitton.



"Good Afternoon, Sir. Is there anything I can help?" Reno menatap kearah pegawai wanita yang menyambutnya, "I want to find clothes for my wife," balasnya.


"Of course...., follow me, Sir." Reno mengangguk, lalu lanjut jalan mengikuti arahan pegawai tersebut dengan masih menggandeng tangan kiri Vierra.


Tak butuh waktu lama berbagai baju mewah nan cantik tergantung indah. Vierra sampai membola tak percaya, ini seperti surga belanja sungguhan, fikirnya begitu.


"Here, Sir. You can choose yes yourself, lots of the best and newest clothes," ujar Selena tersenyum.


"Sayang...., kamu pingin baju seperti apa? Kamu coba liat-liat dulu. Kalau emang bagus dan kamu suka, bisa langsung kamu ambil. Aku tunggu disini," tutur Reno halus.


"Serius? Jadi aku bisa pilih baju apa aja gitu?" Reno mengangguk, "Iya sayang..., kamu bebas pilih baju mana aja yang kamu suka. Masalah harga jangan khawatir, pilih aja dulu," balasnya seraya mengusap lembut rambut istrinya dari samping.


"Ok! Jangan salahin aku ya kalau nanti kamu harus bayar mahal," ujar Vierra yang terdengar seperti ancaman.


"Hahahaha...., bahkan kamu borong semua baju disini pun gak masalah. Aku masih sanggup beliin semuanya buat kamu. Gih pilih bajunya dulu." Reno tertawa renyah.


"Idihh...., dasar sombong kamu mentang-mentang kaya! Gak boleh gitu mas, kita harus hemat," sembur Vierra merasa kesal.


"Aku masih bisa cari uang lagi sayang, kamu gak perlu khawatir. Tabunganku juga masih banyak, masih cukup buat biayain anak-anak kita nanti," tukas Reno menjelaskan, membuat Vierra memutar bola mata kesalnya dan beranjak pergi.


"Ya...Ya.... Yaa...., terserah kamu! Aku mau pilih baju dulu."


Vierra sedang asik memilih beberapa baju yang sudah ia ambil. Ditangan kanannya ada satu dress indah dengan motif bunga lily dibagian bawah berwarna putih. Mungkin kalau ia pakai akan terlihat seperti Dewi.


Namun disebelah kirinya ada satu dress juga dengan sedikit motif seperti kain batik, bedanya kain ini terasa lebih lembut ditangan. Dipadukan gradasi warna yang cantik membuat Vierra merasa bingung. Ia menghampiri Reno lagi untuk minta pendapat. Suaminya itu ternyata masih berdiri ditempat yang sama.


"Mas...." Reno menengok kearah istrinya.


"Iya kenapa?"


"Ini menurutmu bagusan yang mana?" Alis Reno terangkat mengamati lekat detail kedua baju yang Vierra pegang.


"Dua-duanya aja, lagian sama bagusnya."


"Kok dua? Kan aku pinginnya satu!" tukas Vierra mendengus kesal.


"Ngapain beli satu? Kan aku ingin kamu beli sesukamu, kalau kamu tertarik sama dua baju itu yaudah beli dua-duanya aja sayang....," tutur Reno dengan nada halus.

__ADS_1


"Oh gitu ya?"


"Kan tadi aku bilangnya ambil baju sesukamu aja, kalau suka yaudah diambil." Vierra mengangguk.


"Ok, aku beli lebih dari satu kalau gitu." Vierra langsung jalan lagi kearah gantungan baju. Ia melihat-lihat semua baju tanpa melewatkan sedikitpun. Baju disini sangat bagus dengan beragam motif, rasanya Vierra ingin memborong semuanya, tapi bagaimana dengan Reno bukannya suaminya itu yang menyuruhnya belanja apa saja. Seutas senyuman mengembang, membuat Vierra tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan kali ini.


"Mumpung ada disini aku harus beli beberapa baju. Aku juga beli untuk ibu buat oleh-oleh, pasti ibu senang," gumannya bersemangat.


Vierra tanpa malu-malu lagi, ia sekarang saat melihat baju yang membuatnya tertarik langsung diambil. Tangannya membawa kurang lebih 6 pasang dress, serta baju atasan.


"Miss, let me help to bring your clothes," papar Selena sopan, membuat Vierra menatap kearah pegawai cantik itu, "Ah..., yes of course," balasnya.


Selena menerima baju yang di pilih Vierra, lalu jalan kearah kasir untuk menaruhnya disana.


Mata Vierra berbinar saat tidak sengaja melihat beberapa koleksi sepatu, ada high heels dan flat shoes yang sayang kalau di lewatkan.


"Bagus banget...., beli beberapa gapapa kali ya, kata Reno aku boleh beli apa aja," gumannya dengan hati berbunga-bunga.


Ia langsung mengambil 4 pasang high heels, serta flat shoes dan beberapa koleksi tas juga sangat menggugah selera untuk dimiliki.


"Matilah kamu Vie..., kalau begini bisa-bisa aku jadi pingin beli semuanya," batinnya meronta.


Setelah berkutat lamanya sekitar menghabiskan waktu 2 jam barulah Vierra selesai belanja. Kini ia sedang menunggu didepan kasir, dan Reno juga mulai mengeluarkan Mastercardnya.


"Total amount 1.000.000 EUR, Sir." Reno menyerahkan Mastercard kepada kasir.


Vierra menerima barang belanjaannya dari tangan Selena dan pegawai yang lain.


"Kamu puas sayang?" tanya Reno memastikan, membuat Vierra mengangguk antusias. Ia jelas beribu-ribu puas, siapa yang tidak puas jika habis belanja barang banyak dengan harga mahal. Semut saja mungkin bisa iri.


Reno tersenyum dan berjalan di belakang Vierra. Kedua tangannya memegang delapan kantong belanjaan, sedangkan Vierra tidak memegangnya sama sekali. Pertempuran panas akibat ulah Reno yang menggempur Vierra sampai tengah malam, membuat istrinya sedikit merintih menahan rasa nyeri dibagian sensitifnya.


"Sayang...., kalau tau kamu belanja banyak begini mending aku ajak Pak Albert tadi," ujar Reno sedikit kesusahan, dengan berjalan menenteng banyaknya kantong belanjaan.


"Kamu gak ikhlas ya bawain belanjaanku? Katanya tadi suruh belanja apa aja, kok sekarang ngedumel gimana si kamu mas!" celoteh Vierra sedikit kesal.


"Bukan gitu sayang...., hmm... Iya, iya aku ikhlas kok bawainnya."


"Nah gitu dong baru suami pengertian. Kakiku juga masih sakit karna kamu kemarin malam dasar singa ganas!" sembur Vierra, lalu lanjut jalan meninggalkan Reno yang masih tertinggal dibelakang.


"Sayang tunggu!"


*****


Di Jakarta.


Penyelidikan sudah mulai dilakukan tepatnya hari ini. Pak Ronald dan Pak Wijaya ada di hotel Gemilang. Kamar nomor 203 sengaja ditutup dan tidak boleh di pesan oleh tamu, atas perintah Reno beberapa hari yang lalu. Kamar itu harus steril, dan benar saja sekarang pengecekkan kembali tengah dilakukan di kamar tersebut.

__ADS_1


"Kamar ini pasti sudah dibersihkan. Percuma saja, akan sangat sulit menemukan bukti disini," ujar Pak Ronald dengan hembusan nafas berat.


"Aku rasa juga begitu. Kamar ini sangat bersih dan rapi, seperti kamar yang memang sudah dibersihkan sebelumnya. Kita harus periksa yang lain," papar Pak Wijaya memberi usul.


"Kamu benar Jaya, ayo!" Pak Wijaya mengangguk, lalu mengikuti rekan kerjanya itu untuk keluar dari kamar 203.


Setelah berhasil keluar, Pak Vitto menatap penuh heran berharap mendapatkan hasil yang memuaskan, "Bagaimana Pak?" tanya beliau penasaran.


"Didalam tidak ada apa-apa. Kami tidak menemukan bukti apapun," balas Pak Wijaya, membuat Pak Vitto merasa kecewa.


"Oh iya, apa ada rekaman cctvnya?"


"Ada pak."


"Boleh kita lihat."


"Tentu saja boleh, mari saya antarkan keruangan cctvnya," balas Pak Vitto tersenyum.


"Kalau boleh saya tahu, apa anda mencurigai seseorang terkait kasus ini. Apa sebelumnya Pak Reno sudah lebih dulu mempunyai bukti?" tanya Pak Ronald, membuat langkah kaki Pak Vitto terpaksa berhenti.


"Ada satu orang Pak."


"Siapa orang itu?"


"Dari rekaman cctv yang saya lihat dengan Tuan Reno, kalau kamar 203 dipesan oleh Pak Leon."


"Pak Leon? Siapa dia?" tanya Pak Wijaya penasaran.


"Pak Leon adalah salah satu tamu VIP yang sering menginap dihotel ini, tapi pada saat hari ulang tahun Nyonya Elma berlangsung Pak Leon yang sudah memesan kamar tersebut. Tuan Reno mencurigai kalau Pak Leon yang sudah memperkosa Nona Rossi."


"Beritahu alamatnya, agar kami bisa menyelidiki beliau, dan....., untuk korban yang anda bilang namanya Nona Rossi beritahu juga alamat rumahnya. Kami berdua akan langsung menginvestigasi korban serta pelaku," ujar Pak Ronald tegas.


"Tapi sebaiknya anda lebih berhati-hati, karna saya dan Tuan Reno tidak memiliki bukti kuat untuk bisa membuat Pak Leon mengakui kesalahannya yang sudah memperkosa Nona Rossi. Pak Leon yang saya tau sangat cerdik. Saya harap Pak Leon bisa mengakui sendiri perbuatannya tersebut tanpa perlu dipaksa," papar Pak Vitto berterus terang.


"Akan sangat sulit, tapi jangan khawatir. Kami sangat tahu betul bagaimana cara menghadapi sikap pelaku yang seperti itu. Serahkan semuanya kepada kami, agar kasus ini segera bisa kami tuntaskan." Pak Wijaya tersenyum, membuat Pak Vitto bernafas lega. Setidaknya semoga Leon bisa tertangkap, agar dugaan Reno yang selama ini mengarah kepada laki-laki itu tidak salah tafsir.


*****


Bersambung....


Jangan lupa minta Vote, Like, dan Komentar ya🙏


Bonus Visual Belanjaan Louis Vuitton Siapa Tau Kalian Kepengen 😁



__ADS_1


__ADS_2