Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Doa Seorang Istri


__ADS_3

Derap langkah kaki terdengar cepat di lorong rumah sakit. Vierra jalan setengah lari dengan tangan kanan yang memegangi perutnya. Ia menggeleng kuat menahan rasa nyeri di bagian perut, berusaha mengabaikannya demi melihat kondisi Reno sekarang ini. Sampai didepan ruang ICU semuanya berhenti, menunggu dengan cemas diluar ruangan.


Ceklek...


Dokter Hamis keluar dari ruang ICU diikuti oleh beberapa suster. Setelah berbincang dengan suster Dira baru Dokter Hamis menghampiri Ny. Elma beserta yang lain.


"Bagaimana Ham? Reno udah sadar?" Sang Dokter menggeleng disertai hembusan nafas.


"Detak jantungnya makin lemah. Sepertinya sekarang kamu harus banyak-banyak berdoa Elma demi kesembuhan putramu. Aku udah berusaha semaksimal mungkin, mengenai hidup dan maut seseorang hanya tuhan yang menentukan. Banyak-banyaklah berdoa Elma."


Dokter Hamis sudah kehilangan kata-kata lagi, yang beliau lakukan sudah mencapai batas maksimal. Tersenyum dengan menepuk pundak kanan Ny. Elma, lalu menatap kembali yang lainnya dan beranjak pergi.


Hati Vierra mencelos merasakan kepedihan yang menggerogoti batinnya. Setetes air mata trus berjatuhan, ia benar-benar tidak bisa harus mendengar kalimat yang hampir putus asa dari dokter yang menangani suaminya. Vierra memutar balik badannya, ia diam-diam pergi dengan isak tangis yang sengaja direndam. Vierra jalan sambil memegangi perutnya, seraya mengusapnya lembut.


"Sayang...., kita doakan ayahmu ya, biar ayahmu cepat sadar dan sembuh. Aku gak bisa harus kehilangan kamu mas. Aku dan bayi kita masih membutuhkan kamu...," gumannya begitu lirih.


Vierra melangkah mengikuti petunjuk arah yang ia temui, pasalnya ada mushola dirumah sakit. Vierra ingin meminta, setidaknya belas kasih agar doanya bisa terkabul sekaligus melakukan sholat dhuhur.


"Itu musholanya...." Vierra langsung pergi kearah tempat air wudhu untuk mengambil wudhu. Setelah tidak sampai 5 menit, Vierra selesai mengambil wudhu dengan bacaan bismillah disertai doa ia akhirnya melangkah masuk kedalam Mushola. Matanya mengedar, lalu jalan kearah rak kaca. Ia mengambil satu stel mukenah dan langsung memakainya.


Azan belum berkumandang karna memang masih jam 10 pagi. Vierra memutuskan untuk sholat sunnah lebih dulu, dengan hati yang mantap barulah ia mulai melakukan sholat sunnah.


Setelah sujud pada rakaat terakhir, Vierra mengucapkan salam disertai kepala yang menengok kekanan lalu kekiri. Kedua tangannya mengusap permukaan wajahnya disertai permohonan kepada sang kuasa.


Ya Allah...


Sembuhkanlah suamiku dari kecelakaan yang menimpanya.


Buat sumiku bisa melewati masa kritisnya.


Aku mohon jangan ambil suamiku lebih dulu.


Aku masih membutuhkannya disampingku.

__ADS_1


Sudah cukup engkau mengambil ibuku, tapi jangan engkau ambil juga suamiku.


Aku mencintainya.


Teramat mencintainya.


Dulu mungkin aku tidak menyukainya, tapi sekarang aku tidak ingin kehilangannya.


Dia sosok laki-laki yang aku idamkan dunia akhirat.


Laki-laki yang begitu mencintaiku.


Menerima segala kekuranganku.


Aku menyukai segala sikapnya, tolong jangan ambil dia dari hidupku.


Sembuhkanlah, buat dia sadar dari masa kritisnya.


Aku mohon.....


Sementara itu didalam ruangan Ny. Elma trus menumpahkan tangisan kesakitan, membuat Gevan tidak tega lalu memeluk bahu sang ibu dari samping. Tangannya mengusap bahu kiri Ny. Elma disertai tetesan air mata yang ikut berjatuhan.


"Mama yang kuat...., Reno pasti sembuh ma...."


"Mama gak kuat Gev, harus ngelihat Reno seperti ini. Mama ingin Reno sembuh, kalau Reno tidak mengalami perubahan lebih baik kita bawa Reno ke luar negri. Mama akan lakukan apapun agar Reno bisa pulih lagi."


Gevan hanya diam, ia trus mengusap bahu Ny. Elma seraya memberi penenang. Ucapan yang ia dengar membuatnya kembali berpikir, mungkinkah dengan berobat keluar negri Reno mendapat perubahan, setidaknya bisa melewati masa kritisnya. Gevan berharap adiknya itu segera sadar, karna banyak orang yang benar-benar menantikan Reno sembuh dan bisa kembali berkumpul seperti dulu lagi. Mata Gevan mengedar, ia baru sadar kalau tidak menemukan Vierra didalam ruangan. Rasa cemas mulai menguar, membuatnya tidak tenang dengan kondisi adik iparnya sekarang ini.


"Ma, bentar ya, Gevan keluar dulu." Ny. Elma menegakkan badannya disertai anggukan kepala.


"Mau kemana kamu?"


"Mau cari minum ma, nanti Gevan kesini lagi." Gevan tersenyum setelah mendapat izin, ia akhirnya melangkah pergi dari ruang ICU.

__ADS_1


Gevan jalan dengan perasaan tidak tenang, matanya tidak pernah lepas dari beberapa objek yang ia lihat. Langkahnya terbilang cepat, ada dimana sekarang kamu adik ipar, fikirnya begitu.


"Gevan!" Gevan menghentikan langkahnya melihat Amanda dari kejauhan. Ia membuang nafasnya berusaha mengabaikan kehadiran kekasihnya, tapi Amanda semakin mendekat kearahnya.


"Gev tunggu!" Amanda berhasil mencekal pergelangan tangan kiri Gevan, membuat Gevan menoleh dan menatapnya datar.


"Kenapa kamu datang kesini?"


"Kok kamu tanya begitu? Aku kesini jelas-jelas ingin bertemu sama kamu Gev. Katanya Reno kecelakaan, makanya aku langsung kesini."


"Kamu datang menemuiku karna mengetahui Reno kecelakaan, iya begitu?"


"Eh..." Amanda sedikit terkejut. Matanya menelisik gesture wajah Gevan yang seolah tidak bersahabat, "Kok kamu bilang gitu Gev?" tanyanya.


Gevan melepaskan tangan Amanda yang mencekalnya, "Selama ini kamu kemana aja Man? Setelah pertemuan kita di Cafe kamu makin sulit dihubungi. Sekarang setelah mendapat kabar duka dari keluargaku, baru kamu datang menemuiku? Apa aku gak penting buat kamu Man? Keluargaku tertimpa masalah, dimulai kasus Reno lalu meninggalnya ibu dari adik iparku dan sekarang Reno mengalami kecelakaan, tapi kamu baru datang sekarang? Hahahaha... "


Gevan menghentikan ucapannya dengan diselingi tawa mirisnya. Hatinya merasa sakit, entahlah Gevan merasa Amanda memang tidak peduli dengannya. Kalau bukan keluarganya tertimpa masalah, gadis itu mungkin tidak akan memunculkan kehadirannya. Di telfon pun sudah puluhan kali slalu tidak mendapat respon. Gevan sudah putus asa, padahal ia tlah menyiapkan persiapan pernikahan dengan kekasihnya itu meskipun seorang diri, tapi kenapa Amanda tidak pernah bisa mengerti dirinya sama sekali.


"Gev...., ak-akuuu sibuk akhir-akhir ini. Banyak penerbangan sampai bulan depan, maaf...., aku jarang menemuimu dan baru datang sekarang ini. Aku bener-"


"Udah cukup Amanda! Aku udah putuskan." Gevan menarik nafas panjangnya, lalu ia hembuskan, "Pernikahan kita lebih baik dibatalkan. Aku gak akan ngelarang kamu lagi buat lanjutin karirmu, memang aku rasa hubungan kita udah gak bisa dilanjutkan. Sekarang kamu pergi aja, aku gak ingin ngelihat kamu disini." Gevan pergi begitu saja meninggalkan Amanda yang diam mematung dengan setetes air mata yang mulai berjatuhan.


Gevan jalan dengan tatapan kosong disepanjang lorong rumah sakit, ia bahkan tidak memperdulikan banyak pasang mata yang menatapnya heran.


"Gevan.....," teriak Vierra memanggil Gevan dari kejauhan. Gevan tersenyum tipis lalu mempercepat langkahnya sampai akhirnya Vierra terkejut saat Gevan memeluk tubuhnya begitu saja.


"Gev, kaa-kamuu...."


"Jangan dilepas biarkan tetap seperti ini. Aku harus memulihkan perasaanku lebih dulu," pinta Gevan. Pelukan yang semula biasa, kini semakin erat. Gevan memeluk tubuh Vierra begitu erat dengan air mata yang ia tumpahkan di baju Vierra.


"Itu kan Gevan sama Vierra...., mereka pelukan?" Amily berdiri dibelakang Vierra dari kejauhan. Matanya menatap penuh keheranan dengan perasaan janggal yang mengerubungi benaknya.


*****

__ADS_1


Bersambung...


Minta dukungannya ya tinggalkan Vote, Like, dan Komentar. Klik favorit biar trus mengikuti kelanjutan ceritanya. Oh iya mungkin aku hanya up satu part setiap harinya gapapa kan hehehe😊


__ADS_2