
C'est pas moi qui te cherce.
Mais le destin que nous retrouve.
[ Bukanlah aku yang mencarimu ]
[ Tapi takdir yang mempertemukan kita ]
Je t'aime pour toujours et a jamais
[ Aku mencintaimu selalu dan selamanya ]
Sebuah bangunan megah dengan arsitektur Eropa itu sudah nampak depan mata Reno dan Vierra. Museum The Louvre ialah tempat kedua yang mereka datangi setelah Pont Des Arts.
Museum The Louvre adalah Museum seni terbesar yang paling banyak di kunjungi di kota Paris. Satu-satunya Monumen bersejarah didunia. Ada hampir sekitar 35.000 benda dari jaman prasejarah sampai abad ke-19 dipamerkan didalam bangunan seluas 60.600 meter persegi.
"Bagus bangunannya buat aku gak sabar masuk sayang. Yang aku tau ini museum terbesar didunia banyak benda-benda kuno bersejarah didalam," tutur Reno penuh rasa kekaguman, membuat Vierra menatap tak percaya.
"Wah, pantes. Bangunannya aja sebesar ini. Ayo masuk, aku pingin liat." Reno mengangguk dan jalan dengan menggandeng tangan kiri Vierra.
Saat didalam Museum baru mata Vierra lagi-lagi membola penuh takjub. Bagaimana tidak, dilihat dari ukirannya serta banyaknya figora foto raja-raja terdahulu terpajang indah.
"Bagus banget ya ampun..." guman Vierra membekap mulutnya sendiri. Rasa kagum yang sudah melebihi batas, membuatnya tak kuasa ingin sekali menjerit mengatakan Wow atau Gila Ini Keren Banget, tapi hal itu hanya ia serukan didalam hatinya menjerit penuh rasa kekaguman.
"Awwh... Maaf, maaf ehh.. I'm sorry miss," ujar Vierra dengan menunduk diselingi nada penuh bersalah. Baru saja ia tidak sengaja menabrak punggung seseorang, karna sangking terlarut memandangi foto lukisan.
"Aucun problème. La prochaine fois, il faut être plus prudent."
[Tidak masalah. Lain kali kau harus lebih berhati-hati.]
"Ha! Sorry miss, I am-"
"Pardonnez ma femme, mademoiselle. Il n'a pas fait attention," ujar Reno menimpali seraya merangkul hangat pundak kiri Vierra.
__ADS_1
[Maafkan istri saya, Nona. Dia kurang berhati-hati.]
Wanita berparas cantik dengan pakaian mewah disertai gaya fashion yang sangat trendy itu hanya mengangguk," It's Ok..."
Reno langsung membawa tubuh Vierra menjauh dari wanita tersebut. Vierra bernafas lega, lalu menengok kesamping.
"Aku tadi bener-bener gak tau kalau nabrak itu cewek. Dia jawab apa? Dia gak marah kan?" Alis Reno terangkat sebelah dan detik berikutnya tertawa pelan.
"Makanya hati-hati sayang. Jangan jauh-jauh dari aku, tetap disampingku aja. Gapapa kok dia gak marah, yaudah ayo lanjut liat-liat lagi." Vierra mengangguk tanpa membantah.
Kurang lebih sudah berkisar 1 jam mereka menghabiskan waktu melihat-lihat didalam Museum, sekarang Vierra dan Reno keluar dari Museum itu dengan perasaan senang.
"Tadi benar-benar bagus banget. Aku baru tau banyak benda-benda kuno yang masih tersimpan bersih didalam." Vierra berhenti melangkah dan memandang kearah Reno.
"Udah biasa itu. Di Monas juga seperti itu sayang, banyak benda-benda sejarah kuno."
"Tapi kan beda di Monas sama di Museum ini," tukas Vierra.
"Iya sayang iya... Kamu lapar gak? Yaudah ayo cari makan siang dulu," ajak Reno lembut.
Saat akan lanjut jalan tiba-tiba suara wanita terdengar begitu keras.
"Maaf...."
"Jangan bilang kamu lupa denganku. Jahat sekali, ini aku Cassandra Petra temanmu dulu sewaktu di Universitas Sydney." Kening Reno mengerut, lalu sekelebat memori saat masa kuliahnya dulu mendadak terlintas di otaknya.
"Oh... Sandra. Maaf San aku hampir lupa. Kamu sekarang beda banget gak seperti dulu," ujar Reno mulai meneliti gaya fashion style serta make up Sandra yang lebih trendy persis sewaktu wanita yang tidak sengaja istrinya itu tabrak.
"Iya kerjaanku Ren, yang buat aku harus merubah penampilanku," tutur Sandra sembari memasukkan kaca mata hitamnya yang awalnya ia pegang dan sekarang sudah dimasukkan kedalam bag merah.
"Kerja apa kamu?" tanya Reno penasaran.
"Aku jadi model sekarang. Ini aja abis pemotretran dan nanti malam aku akan pemotretran didalam kapal. Eh nanti kamu datang ya?" Manik mata Sandra melirik kearah samping. Ia baru sadar dengan keberadaan Vierra disamping teman lamanya tersebut.
"Siapa gadis ini?" Reno mengikuti arah pandang Sandra, lalu mengenggam jemari tangan kiri Vierra.
"Ini istriku, San. Namanya Vierra. Kita baru aja nikah," balas Reno berterus terang.
"Istri? Ya ampun udah nikah Ren? Cepet banget! Katanya dulu perjanjiannya kita meski nikah sama-sama. Eh ngomong-ngomong dimana Gevan sama Aily?" Mata Sandra mengedar mencoba menemukan keberadaan dua temannya itu.
__ADS_1
Memang dia dulu berteman dekat selain dengan Reno ada juga Gevan dan Aily. Ketiganya mengambil kuliah di Universitas Sydney meski dengan jurusan yang berbeda-beda. Meski begitu pertemanan Sandra dan ketiganya terjalin erat, walau harus lost contact setelah perayaan wisuda.
"Mereka di Indonesia, kan aku kesini bulan madu sama istriku, San!"
"Bulan madu?"
"Iya, doakan ya cepet dapat momongan," imbuh Reno lagi melihat kearah Vierra disertai senyuman.
"Ya aku doakan Ren." Sandra tersenyum tipis, membuat Vierra juga ikut tersenyum.
"Maaf lama San. Eh Vierra!"
"Gerald!" guman Vierra dalam hati. Matanya membola kaget, kenapa bisa ada laki-laki itu disini, fikirnya begitu.
"Udah saling kenal?" tanya Sandra menatap bergantian kearah Gerald dan juga Vierra.
"Iya san. Teman lamaku," balas Gerald santai.
"Oh gitu. Oh iya Ren nanti malam datang ya ada pesta di dalam kapal dekat dermaga di sungai Seine. Gratis kok, disana memang ada pameran juga kamu bisa datang sama istrimu."
"Liat nanti aja San, kalau istriku setuju aku pasti datang." Sandra masih tersenyum sembari memakai kembali kaca mata hitam yang ia ambil lagi dari dalam bagnya.
"Yaudah, aku tunggu. Ayo Ge lokasi selanjutnya dimana?" tanya Sandra dengan tengokkan kepala kearah Gerald yang sedikit terkejut karna lamunannya buyar.
"Kenapa aku jadi liatin Vierra trus hmm.." gumannya dalam benak.
"Di Arc De Triomphe San. Disana tempatnya cocok apalagi menjelang sore begini," balas Gerald berusaha setenang mungkin.
"Ok. Yaudah Ren, aku harus pergi. Sampai jumpa dikapal nanti ya..."
Vierra sedikit terkejut saat Sandra tiba-tiba melakukan cipika cipiki di pipi Reno. Ia kini melihat kearah suaminya. Ekspresi wajah Reno hanya biasa dan malahan justru terlihat datar.
Sandra tersenyum lalu melambaikan tangan, sebelum akhirnya pergi yang diikuti oleh Gerald. Vierra bisa melihat ekor mata Gerald menatapnya tajam, ada apa dengan dia, fikirnya begitu.
"Ayo sayang... Tadi itu cuman temen pas kuliah dulu. Dia temennya Gevan sama kak Aily juga, cuman aku kaget aja bisa ketemu dia disini, karna emang udah lost contact," ujar Reno menjelaskan.
*****
Bersambung....
__ADS_1
Vote, Like dan Komentar ya.