Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Kesempatan Dalam Kesempitan


__ADS_3

Suasana semakin memanas, saat isakkan Rossi terdengar begitu lirih. Gadis itu mengcekram kuat lengan ayahnya, seolah tak kuasa harus menjawab seperti apa. Kini semua mata menatap kearahnya, seperti dirinya tersorot penuh layaknya seorang tersangka.


"Ros katakan! Jangan diam aja!" Reno terpaksa membentak, membuat api amarah Tn. Wingky tersulut.


"Jangan membentak putriku, Reno! Berani sekali kamu, padahal ini semua ulahmu masih saja ngeles dan tidak mengakuinya," cerca beliau dengan pandangan tajam.


"Maaf, Pak Wingky, tapi saya tidak merasa melakukan hal tersebut. Rossi jelas mengarang cerita. Saya gak pernah ngelakuin hal kotor kepadanya," ujar Reno membela diri, karna kenyataanya dirinya memang benar dan Reno tetap pada pendiriannya.


"Papa...." lirih Rossi sedikit parau. Mata sang ayah memandang penuh khawatir ke putrinya, lalu menggenggam erat tangan Rossi.


"Iya, Ros. Katakan yang sebenarnya sama Papa. Siapa ayah bayi dalam kandunganmu itu? jangan takut, Papa ada disini." Sebuah usapan lembut di kepala Rossi mulai terasa, membuat gadis itu tetap menahan isakkan tangisnya yang mungkin jika di luapkan akan sangat menyakitkan.


"Aku gak tauu... Pa... Saat it-uu aak-uu" Rossi diam menghentikan ucapannya karna tidak sanggup menjelaskan detail kronologi malam lalu. Saat itu ia tiba-tiba sudah berada di kamar hotel, tepat setelah perayaan hari ulang tahun ibunya Reno. Rossi yang bangun dipagi hari dengan tubuh tertutupi selimut dan bercak darah membuat memori kelam itu slalu menghantuinya. Dirinya mengira jika laki-laki brengsek yang tidur dengannya adalah Reno, tapi Rossi tidak bisa membuktikan apapun jika Reno lah yang sudah memperkosanya malam itu.


Seolah tertelan angin, semua bukti tentang laki-laki yang tidur dengannya lenyap. Tidak ada peninggalan barang apapun. Rossi meruntukki kebodohannya yang terlalu minum banyak hingga membuatnya mabuk dan naasnya harus berakhir di tangan laki-laki tanpa identitas.


"Katakan Ros, kami semua nungguin kamu. Bilang yang sebenarnya, siapa ayah bayimu itu?" tanya Vierra ikut menimpali.


"Malam itu... Aku di perkosa saat ulang tahun Tante Elma, paginya aku gak menemukan siapa laki-laki yang tidur denganku. Akk-uu gak ingat apa-puun, Papa...." Rossi memeluk tubuh ayahnya dari samping, membuat sang ayah iba lalu mengelus memberi usapan kehangatan dirambut putrinya.


"Udah jelas! Pak Wingky, Rossi aja gak ingat betul tentang siapa laki-laki yang tidur dengannya, jadi anak dalam kandungannya itu jelas bukan anak saya," sanggah Reno merangkum pembelaannya dari ucapan Rossi yang ia dengar. Baginya, sudah sangat jelas kalau ia tidak terlibat apapun tentang kejadian yang menimpah Rossi.


"Tetap saja, Rossi begini karna kamu Reno!" bantah Tn. Wingky.


"Apalagi Wingky? Sudah jelas kalau putraku gak salah sama sekali!" Ny. Elma ikut memberi pembelaan, merasa tidak terima atas tuduhan tersebut.


"Nyonya Elma! yang terjadi dengan Rossi itu atas salah anda dan juga Reno. Putriku mengalami pemerkosaan dengan laki-laki lain entah itu Reno sendiri atau orang lain, yang jelas hal kotor itu terjadi tepat diacara ulang tahun anda yaitu di Hotel. Anda mau menyangkal bagaimana lagi? Reno tetap harus bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa putriku, atau kalau tidak saya akan menuntut dia ke jalur hukum!"


"Aku rasa ucapanmu sudah sangat keterlaluan Wingky!"


"Saya gak main-main, Tn. Ednan! Ini menyangkut harga diri dan penghormatan keluarga saya. Anda juga akan melakukan hal yang sama, jika hal ini terjadi sama putri anda, jadi saya minta pertanggung jawaban dari Reno. Jika saya tidak bisa menemukan laki-laki yang memperkosa Rossi, maka Reno lah yang harus bertanggung jawab!"

__ADS_1


Mata Tn. Wingky menajam, dengan nada penuh penegasan. Semua orang hanya diam, tidak berani menyangkal apapun, lalu beliau akhirnya melepaskan pelukan putrinya dan menuntun Rossi untuk keluar dari rumah.


_____•••••_____


Malam harinya, Vierra sibuk berdiam diri di kamar yang bernuansa putih. Setelah kejadian menghebohkan tadi sore, membuat hatinya tidak tenang. Ucapan ayah Rossi tidak main-main. Vierra bukannya ragu dengan Reno, ia bahkan sudah percaya, tapi dirinya hanya takut kalau masalah ini akan menjadi besar sampai ke jalur hukum.


Suara derap kaki mulai terdengar, tapi sebelum Vierra membalikkan badannya, sebuah tangan melingkar sempurna dari arah belakang. Aroma Reno tercium kuat, bau sampo dan sabun juga masih membekas. Laki-laki itu memeluk perutnya dengan kepala yang ditaruh di bahu kanan Vierra.


"Jangan mikirin apapun, Ra. Cukup percaya sama aku, maka masalah ini akan cepat berlalu."


Cup...


Satu kecupan mendarat mulus di pipi kanan Vierra. Reno masih mempertahankan posisinya, sedangkan Vierra hanya diam tidak menolak perilaku calon suaminya seperti hari-hari sebelumnya.


"Tapi gimana kalau ayahnya Rossi beneran nuntut kamu, Ren?" tanya Vierra gelisah. Reno melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh Vierra menjadi menghadap kearahnya. Kedua tangannya menangkup pipi yang sedikit tirus milik sang calon istri.


"Aku akan melawannya. Kamu tenang aja, selagi Rossi gak ada bukti apapun tentang aku terkait kehamilannya itu, jadi dia gak akan berhasil. Aku akan mengalahkannya meski di meja hijau sekalipun," ujar Reno memberi keyakinan.


"Aku juga gak tau, mungkin aja-"


"Gimana kalau kamu disuruh menikah sama dia?"


"Jelas aku gak mau, karna aku pilih kamu." Reno spontan membalas ucapan Vierra. Matanya menatap penuh kehangatan, berusaha memberi keyakinan lagi, agar Vierra tetap percaya kepadanya.


Srrtt....


"Reno!" pekik Vierra, saat tubuhnya tiba-tiba melayang diudara. Reno tanpa izin menggendongnya ala bridal style, dan kini laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya dengan pelan di atas ranjang. Derit kasur mulai terdengar, karna harus menyangga badan Reno yang sekarang sukses menindihi tubuh langsing Vierra.


Vierra diam, tapi kedua tangannya masih mengalung erat di leher Reno. Ia menatap bingung dengan debaran jantung yang berdetak kencang, aroma mint dipadukan tatapan Reno yang mengintimidasi membuat bulu kuduknya merinding.


"Ren..."

__ADS_1


Sebuah usapan lembut di rambut Vierra mulai terasa, Reno membenarkan beberapa poni yang menutupi kelopak matanya.


"Ra, tolong jangan buat aku harus melakukan hal nekat. Saat kamu kembali lagi setelah 5 tahun, itu rasanya sebuah keajaiban. Kamu tau? Aku bahkan gak bisa ngelupain kamu sejak SMA. Aku benar-benar ingin miliki kamu saat itu juga, tapi karna kamu menolak ku waktu dulu, aku menjadi sadar. Mungkin saat itu aku masih belum pantas milikin kamu, tapi sekarang aku udah merubah semuanya. Semua ketekunanku dan perubahanku sekarang itu karna kamu Ra..."


"Ka-rrna aaku?" Lidah Vierra seakan keluh dan hanya bisa bersuara sangat pelan.


"Iya sayang... Setelah kita menikah aku gak akan ngelepasin kamu lagi. Kamu milikku, dan aku gak ingin berbagi dengan laki-laki lain. Cuman kamu yang selamanya ada dihatiku, Ra. Aku mencintaimu...."


Tepat ungkapan perasaan tulus Reno, saat itu juga bibirnya menyatu dengan bibir ranum Vierra. Seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi, karna ia sudah sangat bersabar setelah 5 tahun lamanya menunggu, akhirnya cintanya berhasil ia miliki kembali.


Vierra hanya diam. Tubuhnya kaku, ia menatap penuh terkejut saat Reno juga menatap intens matanya. Sorot mata tajam seakan menggelamkannya dalam seribu pesona. Tangan kanan Reno menekan sedikit tengkuk Vierra, agar lebih leluasa menjelajahi seluruh rongga mulut gadis itu. Terasa sangat lembut dan manis, Reno betah berlama-lama mencium bibir mungil tersebut.


"Nnghhh...." Vierra meloloskan desahannya, dengan geliatan tubuhnya yang kini merasa sangat panas. Reno tidak ingin sampai kebablasan, meski dengan tidak rela ia akhirnya menyudahi ciumannya itu.


Bibir Vierra tampak sedikit bengkak, dengan warna merah merekah. Jujur Reno ingin melahap habis bibir yang tampak menggiyurkan itu, tapi ia mencoba menahan gejolak hasrat dalam tubuhnya.


"Waduh! Maaf, aku datang diwaktu yang gak tepat."


Mata Vierra terbelalak kaget, kepalanya ia iringkan demi melihat dari mana asal suara tersebut. Tepat dipintu seorang laki-laki berdiri, membuatnya mendorong kuat tubuh Reno dengan lutut yang tanpa sengaja mengenai benda pusaka laki-laki itu.


Brugh...


"Awwwhhh... Sakit, Vie! Tega banget, masa depan kita nanti ini kamu tendang sembarangan!" celetuk Reno dengan rasa nyeri memegangi selangkangannya.


"Maaf, maaf... Salah sendiri kamu ngambil kesempatan dalam kesempitan, kan aku gak tau! Tubuhmu berat!" sungut Vierra membela diri. Ia akhirnya bangun dengan merapikan bajunya yang sedikit terkoyak, sedangkan Reno masih merintih kesakitan di lantai. Vierra yang memandang saja hanya meneguk ludahnya, berasa jadi ikutan ngilu.


"Hahahahhahaahahah Ren, Ren! Bu boss galak tuh, kasian! Lain kali kalau mau bikin anak ya di kunci dong pintunya, dasar ****!" Kini tawa nyaring Gevan terdengar dalam ruangan membuat Reno yang melihat mengeram kesal.


"Sialan Gevan!"


_____•••••_____

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2