
"Gev....." Gevan masih diam. Hatinya merasa sakit, jika mengingat masa-masa bersamanya dulu dengan Amanda. Akhir-akhir ini ia sudah memesan cincin bahkan memilih baju untuk prewedding, nyatanya harus ia pupus dalam-dalam keinginannya itu karna pernikahannya terpaksa dibatalkan. Sikap cuek Amanda membuat Gevan merasa mantan kekasihnya itu benar-benar tidak menginginkan dirinya. Atau memang tidak mencintainya sama sekali. Gevan mengubur harapan serta perasaannya, bagaimanapun keputusannya saat ini adalah pilihan yang ia pilih. Gevan tidak ingin menyesalinya, karna ini adalah jalan yang terbaik. Hubungannya harus kandas sebelum bersanding sampai ke pelaminan.
"Gev...., kamu ken-naapa?"
Srtt...
Gevan langsung melepaskan pelukannya, lalu tersenyum disertai gelengan kepala.
"Aku gapapa adik ipar...., maaf tadi aku gak sengaja meluk kamu. Aku butuh menenangkan fikiran."
"Oh..., kamu ada masalah? Trus gimana sama kondisi Reno? Apaa-"
"Dia masih tetap sama, belum sadar sama sekali," sela Gevan cepat membuat Vierra menghembuskan nafasnya karna merasa kecewa.
"Kamu dari mana? Aku nyariin kamu adik ipar."
"Ha? Akku-- aku..., habis dari mushola Gev." Gevan hanya ber O ria disertai anggukan paham.
"Yaudah ayo Gev, aku ingin liat Reno"
"Kamu aja Vie..., aku mau cari udara segar dulu."
"Oh..., yaudah aku duluan ya, Gev," ujar Vierra seraya berpamitan. Gevan mengangguk dengan menampilkan senyuman manisnya.
Sekarang Vierra jalan ke lorong dengan hati was-was berharap kalau Reno segera sadar dari masa kritis meskipun persentasenya sangat kecil. Vierra menatap perutnya yang masih rata, lalu mengusapnya perlahan-lahan.
"Kamu sabar ya sayang..., ayahmu pasti sembuh trus nanti bisa main sama kamu dan bunda," gumannya dengan wajah berbinar.
"Kalau ayahmu udah sadar, nanti bunda bakal nemenin ayahmu. Kamu juga bisa bicara sama ayahmu, kita doakan biar ayahmu lekas sembuh ya nak...." Hati Vierra merasa hangat. Ungkapan isi hatinya dengan mengajak bicara calon bayinya, membuat Vierra benar-benar yakin. Setidaknya dengan begini hatinya merasa sedikit lega, kehadiran buah hatinya yang masih dalam kandungan membuat Vierra menjadi lebih kuat. Terlalu larut menunduk sembari trus mengusap perutnya sendiri, saat itu juga tubuh Vierra merasa menabrak sesuatu yang membuat tubuhnya hampir jatuh, namun sebuah tarikkan di pinggangnya berhasil menyelamatkannya.
Mata setajam elang itu menatapnya begitu intens, seakan manik mata Vierra satu-satunya fokus yang sayang untuk dilewatkan. Tangan kekar Leon memeluk pinggang Vierra sangat erat disertai bau maskulin menyeruak kuat di hidung Vierra.
Terjadi adegan tatap menatap satu sama lain. Vierra hanya diam tidak berekspresi apapun. Matanya masih menunjukkan keterkejutan dengan ritme detak jantung yang tidak beraturan. Leon menatapnya tanpa henti. Matanya tidak pernah lepas, mata seindah itu sangat sulit Leon alihkan. Dalam beberapa detik ia dibuat jatuh cinta dengan pandangan mata Vierra yang menatapnya.
Vierra langsung sadar dan buru-buru melepaskan pelukan ketidak sengajaannya dengan Leon. Vierra sedikit menjauh, seolah memberi jarak agar tidak terlalu dekat dari Leon berdiri saat ini.
"Maaf..., apa kamu gapapa?" Vierra tersentak mendengar pertanyaan itu, dadanya masih merasakan gugup takut kalau ia salah bicara.
"Saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolong, harusnya saya yang minta maaf karna tidak sengaja menabrak anda."
"Dia masih memakai bahasa formal," guman Leon dalam hati dengan sunggingan miring.
Leon tersenyum, "Iya tidak masalah. Apa nona Vierra masih mengingat saya?" Kening Vierra mengerut bingung, "Maaf anda...???"
Mata Vierra terbelalak kaget. Ia sekarang langsung ingat, ternyata pria didepannya ini pria yang pernah ia temui di studio foto saat melakukan prewedding, "Ya ampun..., maaf saya baru ingat anda sekarang. Anda orang yang di studio foto tempo lalu kan?" Leon mengangguk cepat.
"Tepat sekali. Tebakkan anda benar nona Vierra." Vierra tertawa pelan bermaksud mencairkan suasana agar tidak tegang, tapi justru membuat Leon semakin menatapnya trus menerus.
__ADS_1
"Ya sudah..., saya permisi dulu Tuan."
"Apa nona Vierra sedang menjenguk suami anda? Saya baru tau kalau Pak Reno kecelakaan, kebetulan sekali saya ingin menjenguknya."
"Anda kerabat bisnis suami saya, Tuan?"
"Hahaha... Benar nona Vierra. Tolong jangan panggil saya tuan. Anda bisa panggil saya Leon saja." Kening Vierra mengerut, merasa sedikit heran apa tidak masalah kalau hanya memanggil nama saja tanpa embel-embel tuan atau Pak.
"Saya merasa tidak nyaman kalau hanya panggil nama. Anda kan rekan kerja suami saya. Saya akan panggil Pak Leon saja," balas Vierra tersenyum.
"Yasudah anda bisa panggil saya Pak Leon. Nona Vierra apa saya bisa bicara dengan anda lebih dulu sebelum nanti menjenguk Pak Reno?"
"Bicara dengan saya?" Leon mengangguk.
"Iya, nona Vierra..., saya ingin bicara berdua dengan anda. Kalau diperbolehkan, bagaimana kita bicara di kantin rumah sakit saja. Sekaligus beli makan disana." Vierra hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya ia ingin menolak, tapi nanti akan tidak enak bagaimanapun ia juga merasa bersalah karna insiden tabrakan barusan.
"Bagaimana nona Vierra?" Vierra kembali tersentak, lalu dengan perlahan ia akhirnya mengangguk, "Baiklah Pak Leon..."
"Yaudah..., nona Vierra jalan lebih dulu."
"Lebih baik Pak Leon saja yang jalan lebih dulu."
"Yaudah kita jalan beriringan saja."
"Beriringan, apa maksudnya jalan disampingnya gitu?" tanya Vierra dalam hati.
"Sabar Leon..., sebentar lagi" gumannya menyemangati diri sendiri dalam hati.
Tak butuh waktu lama kini Leon dan Vierra sudah ada di area kantin rumah sakit. Terlihat sedikit ramai, meski begitu beberapa tempat duduk dikantin ini masih banyak yang kosong.
"Nona, kita duduk disebelah sana saja," Leon menunjuk bangku paling pojok di ujung selatan.
"Terserah Pak Leon saja." Leon tidak menjawab. Ia meneruskan langkahnya untuk menghampiri bangku kosong paling pojok.
"Silahkan duduk nona Vierra." Vierra menarik kursi kayu tersebut, lalu mulai duduk didepan Leon.
"Kita pesan makanan dulu, sebentar biar saya-"
"Tidak perlu Pak Leon. Langsung saja, sebenarnya Pak Leon ingin bicara apa?" sela Vierra bertanya cepat. Leon menghembuskan nafas beratnya.
"Nona Vierra..."
"Iya Pak Leon, ada apa ya?"
"Saya tau kalau Pak Reno mengalami kecelakaan mobil bersama dengan nona Rossi. Saya sudah mendapat kabar kalau nona Rossi meninggal tadi pagi, tapi saya belum tau jelas bagaimana keadaan Pak Reno sekarang ini."
"Suami saya kritis Pak Leon," ujar Vierra berterus terang, tapi ekspresi Leon tidak menunjukkan keterkejutan justru tetap tenang.
__ADS_1
"Saya berharap Pak Reno segera sadar dari masa kritisnya. Anda harus yakin dengan diri anda sendiri kalau suami anda akan segera sadar."
"Terimakasih Pak Leon, saya yakin suami saya akan sadar dari masa kritisnya," balas Vierra dengan keyakinan yang masih tertinggal dalam benaknya.
Leon yang melihat merasa tidak tega. Kepala Vierra trus menunduk. Leon masih memperhatikan dalam keheningan. Matanya tak pernah lepas dari Vierra, sampai ia bisa melihat setetes air mata yang jatuh di telapak tangan Vierra yang berada diatas paha gadis itu. Leon berdiri dan tanpa sepengetahuan Vierra, Leon mendekat kearahnya yang kini sedang jongkok dengan satu kaki. Memandang dalam diam kearah Vierra yang masih duduk dihadapannya.
"Nona Vierra...." Vierra mendongakan kepalanya, sedikit terpengangah kaget melihat Leon yang begitu dekat berada disampingnya.
"Ini tissue untuk anda. Tidak baik nona Vierra trus menangis seperti ini. Nona cukup yakin dengan diri nona sendiri kalau suami anda, Pak Reno akan cepat sadar dari kritisnya," tutur Leon sembari memberikan satu pack tissue berukuran kecil.
Melihat Leon tersenyum dengan mendengar kalimat barusan entah kenapa Vierra merasa ada yang aneh. Hatinya trus memikirkan kalimat tersebut. Kalimat yang membuatnya seperti kembali mengingat masa lalu.
Flash Back On.
Vierra kecil tengah berlarian di taman bermain, namun karna terlalu asik sampai akhirnya ia tidak sadar kalau ada batu didepannya. Vierra tersandung dan merintih kesakitan saat lututnya mengeluarkan banyak darah.
"Hei..., kamu gapapa? Lututmu berdarah, biar aku obati." Vierra menghentikan isakkannya, saat seorang anak laki-laki jongkok didepannya. Anak itu mengeluarkan tissue dalam saku celana, lalu mengusap perlahan-lahan darah dilututnya.
"Awhh..., sakit...."
"Maaf, maaf..., aku bakal pelan-pelan ngusapnya. Kamu tahan bentar ya, kalau darahnya gak di bersihkan nanti makin parah. Kata mamaku bisa kena infeksi," ujar anak laki-laki itu memberi penuturan. Tangan kecilnya dengan telaten membersihkan beberapa pasir serta darah disekitar lutut Vierra. Sebuah senyuman mengembang.
"Udah selesai. Maaf ya..., aku gak bawa plester. Aku cuman bawa tissue aja, tapi darahnya udah gak keluar lagi kok. Apa masih sakit?" Vierra menatap luka di lututnya, lalu beralih menatap kearah anak laki-laki itu. Vierra menganggukan kepalanya.
"Kamu jangan nangis, lukanya udah aku usap kok nanti pas sampai rumah kamu bisa---"
"Ya ampun nduk..., onok opo iki?" Suara Bu Amarti terdengar membuat Vierra memalingkan pandangannya kearah Budhenya.
[Ya ampun nduk kenapa ini?]
"Kok isok tibo iki yok opo ceritane nduk..., yowes ayo moleh. Bulek obati neng omah. Lek ibumu ngerti pasti ngomel-ngomel iki neng Bulek, wes di omongi ojok dolen adoh-adoh. Ayo moleh Vie..." Bu Amarti membantu Vierra untuk berdiri. Beliau memapah Vierra untuk menuntunnya berjalan.
[Kok bisa jatuh gimana ceritanya nduk, yaudah ayo pulang. Bulek obati dirumah. Kalau ibumu ngerti pasti ngomel-ngomel ke Bulek, udah dibilang jangan main jauh-jauh. Ayo pulang Vie.]
"Leh..., mending kowe moleh sisan, wes kapeh bengi mengko ibumu nggolek'i"
[Leh, kamu pulang juga, udah mau malam nanti ibumu nyariin.]
"Inggih Bulek...," jawab anak laki-laki itu tersenyum menatap kearah Vierra, lalu ia pergi dengan sedikit lari kearah berlawanan.
Vierra menengok kebelakang, masih melihat punggung anak laki-laki itu yang kian menjauh.
"Wes Vie..., ayo moleh..."
Flash Back Off.
*****
__ADS_1
Bersambung...