Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Tikungan Tajam


__ADS_3

Selepas kepulangannya dari Mall, Vierra hanya diam. Sekelebat bayangan Reno dengan Rossi tadi masih mengitari fikiran serta benaknya, entahlah ia merasa trus menerus tidak tenang. Rasa cemburunya, membuat Vierra seperti orang baru pertama kali merajut kasih, padahal dulu ia pernah mencintai laki-laki lain selain Reno, namun setelah penghianatan yang ia terima mengharuskannya menutup semua pintu hatinya.


Kedatangan Reno yang baru beberapa hari, bahkan tidak sampai seminggu disertai ucapannya yang yakin ingin menikahinya, membuat hati yang semula kosong kini tlah terisi kembali. Apakah kecemburuannya ini wajar? harusnya ia karna Vierra sudah menerima keberadaan Reno dihatinya.


"Ra... kok diem aja dari tadi?" tanya Reno memecahkan keheningan, pascanya sedari tadi saat ia fokus menyetir mobil, bibir gadis itu mengatup rapat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Vierra terpengangah dengan lirihan, "Ha!" Kening Reno justru mengerut mengetahui kalau Vierra tidak fokus, "Oh... gapapa kok," sambung gadis itu dengan gelengan kepala.


"Yakin? Atau kamu mikirin soal Rossi?" Vierra berhasil menatap kearah samping. Tebakan Reno seakan benar, dan membuat Vierra bingung harus berkata apa.


"Sedikit..." lirihnya, lalu menatap kembali ke kaca depan mobil. Lampu merah tengah menyala mengharuskan Reno mengerem.


"Ra! Jangan mikirin apapun, cukup fokus sama pernikahan kita aja ya sayang," tutur Reno sembari mengelus lembut kepala Vierra dari samping dengan senyuman hangat, " Abis ini makan siang dulu ya, trus baru lanjutin foto prewed lagi di Monas," sambungnya. Vierra menoleh dan mengangguk yakin.


"Nah gitu dong, baru calon istriku hehehehe..." Reno menyengir karna berhasil membuat lengkungan senyum di bibir Vierra.


Lampu hijau menyala membuat Reno melajukan kembali mobilnya dengan menatap kedepan.


Andai kamu tau Ren, kalau aku cemburu, batin Vierra dalam hati disertai tolehan kepalanya ke kaca mobil, menatap beberapa pengendara dari samping agar Reno tidak bisa melihat ekspresi sedihnya.


*****


Waktu seakan tlah cepat berputar. Langit menjadi gelap, beberapa kru yang bertugas merapikan lampu dan kamera sudah mulai di pindahkan. Pemotretan foto prewedding di Monas ternyata sudah selesai. Pak Ramdan mengacungkan jempolnya, menandakan kalau hasil fotonya sangat bagus dan memuaskan.


"Sayang, aku anterin pulang ya. Kamu kalau udah sampai rumah, langsung makan trus abis itu istirahat kalau capek. Aku kangen kamu, tapi mungkin untuk beberapa hari nanti kita gak bisa ketemu." Reno mengusap lembut pipi kanan Vierra, sedangkan calon istrinya hanya tersenyum sembari mengangguk paham.


"Kan gak ketemunya cuman beberapa hari, Ren! Abis itu kita nikah gitu," ujar Vierra memberi penjelasan. Kekehan dari bibir calon suaminya mulai terdengar.


"Iya, iya... kamu kalau bawel makin gemesin Ra."


"Apasi! Kamu tuh yang bawel!" sembur Vierra tidak terima dan membuat pipinya ter tarik akibat cubitan dari Reno.

__ADS_1


"Awhh... Reno! iishh apasii...." sungutnya kesal, justru semakin membuat Reno merasa senang. Kini kedua pipi Vierra Reno tarik dan sesekali ia uyel-uyel seolah pipi itu sebuah squishy, yang lembut dan kenyal.


Pak Ramdan datang menghampiri Reno dan Vierra yang asik bercanda dengan kalungan kamera merk Canon di leher beliau.


"Fotonya kalau udah jadi langsung aku kasih ke rumah, Ren. Setelah aku cek, fotonya keren-keren, kemistri kalian dapat banget dan benar-benar bagus saat di foto." Reno menghentikan aksinya, lalu menatap kearah Pak Ramdan, sedangkan Vierra mengelus pipinya yang mungkin saja melar karna ulah calon suaminya itu.


"Siap, Pak Ram. Aku percayakan foto semuanya sama Pak Ram," balas Reno dengan mengangguk.


"Ok, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian nantinya. Aku pasti datang Ren, tenang aja. Semoga kalian hidup bahagia." Vierra tersenyum, hatinya tersentuh lalu membalas," Makasih Om..." Pak Ramdan mengangguk.


*****


Langit menjadi semakin gelap, menandakan sudah larut malam. Reno kini ada di Restoran miliknya sendiri. Setelah mengirim pesan kepada Leon untuk menemuinya malam ini akhirnya tercapai sudah. Reno menatap ke arah pintu masuk. Sosok Leon tlah datang dan langsung melihatnya, lalu melangkah menghampirinya. Sebelum duduk Leon lebih dulu tersenyum dengan mengancingkan kancing jas hitamnya.


Reno berdiri dan menyambut, "Silahkan duduk Pak Leon." Leon mengangguk dengan tangan yang sudah menarik kursi kayu.


Srkkk...


"Disini lebih dekat, apa kejahuan dari rumah anda Pak Leon?" Leon kembali menatap kearah Reno dengan gelengan kepala," Oh... tentu saja tidak. Saya menyukai Restoran anda ini," balasnya tersenyum.


"Pak Leon! Sepertinya anda sudah tau niat saya untuk bertemu anda disini."


"Maksud anda? Tentu saya tidak tau, kenapa anda ingin bertemu saya? Apa ada yang ingin anda sampaikan, Pak Reno?" Reno terkekeh tipis, lalu meneguk segelas air putih yang sebelumnya sudah ia pesan lebih dulu.


"Ternyata anda masih berpura-pura Pak Leon." Reno menghabiskan minumannya dan menaruh kembali gelas kosong. Tangannya meraih tisu di kotak persegi bersebelahan didekat lipatan tangannya. Mengusap bekas minum dibibir dengan hati-hati, lalu menaruhnya di atas meja.


"Saya benar-benar tidak paham apa maksud anda. Beritahu dengan jelas biar saya mengerti Pak Reno!" Nada Leon diakhir kalimat terdengar tegas dan menekan, membuat Reno menatap dengan datar namun penuh keseriusan dari sorot matanya.


"Lebih baik anda mengakui perbuatan anda. Empat hari yang lalu tepat perayaan ulang tahun mama saya berlangsung di Hotel hari Sabtu tanggal 29, anda sudah memperkosa seorang wanita. Apa itu benar, Pak Leon?"


Hening.

__ADS_1


Leon menatap dingin, lalu sebuah tawa terdengar, membuat Reno mengernyitkan dahinya kebingungan. Apa ada yang lucu, fikirnya begitu.


"Apa anda bercanda Pak Reno? Kenapa anda bisa yakin kalau itu saya? Memang benar saya sempat memesan kamar untuk menginap sehari di Hotel Gemilang, tapi tuduhan anda ini benar-benar tidak masuk akal." Geraman dibibir Reno terdengar mesti tipis, disertai tatapan tajam seakan ingin membuat lawan bicaranya takut.


"Pak Leon! Apa anda pikir, saya langsung percaya dengan ucapan anda sekarang? Jelas-jelas anda yang melakukan pemerkosaan itu di Hotel saya, kenapa anda masih mengelak-"


"Mengelak bagaimana? Saya tidak merasa melakukan hal tersebut, kenapa saya harus mengakuinya! Dan anda harus tau, Pak Reno! Saya terlalu sibuk mengurusi perceraian saya, jadi mana mungkin saya bisa memperkosa wanita lain. Anda bilang di Hotel? Hahahaha...." Reno semakin menajam, seolah jawaban Leon meremehkannya.


"Jelas saya di Hotel untuk beristirahat, karna sebelum acara ulangtahun Nyonya Elma, saya abis melakukan perjalanan bisnis ke beberapa kota. Pak Reno, saya hanya memesan kamar diHotel untuk beristirahat sekaligus menghadiri undangan dari teman saya yaitu Elson."


"Kak Elson?" Leon mengangguk masih mempertahankan senyumannya. Menatap Reno dengan santai, seperti sudah ia rencanakan dari tadi sebelum datang kesini.


Pertanyaan Reno memang sudah Leon tebak dari awal, makanya ia berusaha menjawab setenang mungkin sesuai rencananya.


"Iya! Elson adalah teman saya sewaktu kuliah dulu," ujarnya memberi tahu.


"Tetap saja saya tidak percaya! Mungkin sekarang saya belum punya bukti yang kuat, tapi bukan berarti anda bisa lepas tanggung jawab Pak Leon! Saya pastikan anda akan mempertanggung jawabkan perbuatan anda ini di pengadilan."


"Hahahahahahahhaha..... Ya, ya... silahkan. Saya akan menantikan itu, Pak Reno! Tapi anda harus tau kalau saya tidak mudah di kalahkan begitu saja, apalagi dengan orang seperti anda. Bagi saya, kekuatan anda belum seberapa dan tidak bisa membuat saya takut sedikitpun. Lakukan, Ya! Lakukan semau anda, Pak Reno!"


Sial!


umpat Reno yang tertahan di ujung tenggorokan. Tangannya mengepal diatas meja dengan pancaran mata yang kapan saja siap untuk menyerang lawan bicaranya.


"Oh iya, anda bilang saya harus bertanggung jawab? Daripada bertanggung jawab atas kelakuan saya, mending saya menikahi calon istri anda. Sepertinya dia jauh lebih menarik daripada wanita yang saya temui di Hotel tempo lalu."


"Brengsek Jaga Bicara Anda Pak Leon!" Reno berdiri dengan bentakan keras diselingi tatapan penuh amarah. Kursi yang ia duduki bahkan terjatuh tak berdaya. Leon hanya tersenyum miring menanggapi kemarahan Reno, baginya bukan sesuatu yang mesti ia takuti.


*****


Bersambung...

__ADS_1


Vote, Like dan beri komentar ya👍


__ADS_2