Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Kedatangan Kembali Kerumah Besar


__ADS_3

Acara resepsi yang digelar akhirnya telah selesai. Vierra sekarang masuk kedalam mobil hitam yang sudah dihias seindah mungkin dengan bucket bunga di pintu atas kap depan serta dibagian mobil lainnya. Beberapa bunga dan pita tersusun rapi, membuat mobil tersebut sangat indah.



Pintu kaca mobil dibuka, memudahkan Vierra untuk tersenyum seraya melambaikan tangan. Keluarganya yaitu ibu, Om, serta keluarga Reno juga menatap kearahnya. Mereka semua turut membalas dengan senyuman haru saat mobil yang akan mengantarkan dua mempelai ini menuju ke rumah besar. Reno memang akan memboyong keluarga Vierra untuk tinggal bersama, tapi Ny. Dian menolak dengan alasan ingin menitipkan Vierra sepenuhnya kepada Reno. Mertuanya itu sangat percaya, kalau Reno slalu menjaga dan melindungi putrinya.


"Kalau kamu kangen mamamu, aku bakal slalu nganterin kamu pulang ke rumah mama mertua," ujar Reno membuyarkan fokus Vierra. Mobil itu melaju, disertai kepalanya yang menengok kesamping. Ada Reno yang sudah menggengam tangan kanannya.


"Iya, lagian kata ibu aku harus tinggal dirumahmu."


"Emang, Sayang.... Aku ngajakin kamu tinggal dirumah biar rumah makin ramai, meskipun aku sendiri pengen kita bisa tinggal berdua."


"Tinggal berdua? Maksudnya?" tanya Vierra tidak paham.


"Iya, Aku ingin abis nikah kita hanya tinggal berdua. Memulai hidup baru bersama anak-anak kita nantinya. Aku nanti akan bilang ke mama dan yang lain, biar kita bisa hidup berdua dengan mandiri," balas Reno seraya mengusap lembut punggung tangan Vierra. Istrinya terhanyut dalam kebungkaman, apa nantinya tidak masalah kalau hanya tinggal berdua, batinnya bersuara.


Dalam perjalanan Vierra hanya diam, dan menatap ke samping kaca mobil membiarkan manik matanya fokus ke jalanan melainkan bukan ke wajah suaminya. Rasa gugup masih melanda hatinya, membuat Vierra masih belum terbiasa apalagi sekarang statusnya adalah istri sah dari Reno.


"Sayang... Kok diem aja dari tadi? Suamimu ini ngerasa dicuekin lho!" tanya Reno dengan nada sedikit menyindir.


"Eh, maaf Ren aku-"


"Kok masih manggil Ren?" Kening Vierra mengernyit. Apa ada yang salah dengan ucapanku, fikirnya begitu.


"Lalu?"


"Panggil sebutan sayang juga dong, hm... Atau kamu manggil aku mas Reno aja, gimana?"


"Mas Reno?" Reno setuju dan mengangguk.


"Tambahin mas Reno sayang gitu istriku yang cantik," imbuh Reno sembari mencubit kedua pipi istrinya.


"Reno apasii! Sakit tau pipiku!" protes Vierra melepaskan paksa kedua tangan Reno yang menguyel pipinya.

__ADS_1


"Abisnya kamu lucu banget. Orang-orang biasanya punya panggilan sayang, apalagi kita udah nikah, jadi wajib kalau manggil pakai sayang biar mesrah gitu," ujar Reno lagi menjelaskan keinginannya.


"Iya, Iya!" sembur Vierra dengan nada malas.


"Kok gitu?" Alis Reno terangkat.


"Iya, Mas Reno sayang......" Seketika suara gelak tawa terdengar, membuat Vierra mendengus kesal disertai putaran bola matanya seakan jengah dengan sikap Reno, apasi emang ada yang lucu? Tanyanya dalam hati.


"Nah gitu, baru bener. Benar-benar istri mas yang paling nurut." Senyum Reno mengembang menatap Vierra dengan sengaja menaik-naikkan alisnya agar terlihat lebih menawan.


*****


"Leon! Ayah ingin kamu bekerja sama lagi dengan Gemilang ARD. Ayah lihat, setelah pernikahan Reno dilangsungkan saham perusahaannya meningkat pesat, jadi besok atau waktu dekat datang dan temui Reno untuk mengajaknya kerja sama bisnis."


Suara hembusan nafas terdengar berat. Leon duduk di kursi kerjanya, dengan masih menatap kearah laki-laki berumur 50 tahun keatas itu yang ikut duduk di sofa dekat meja kerja putranya.


Tn. Indramayu Markus ialah ayah kandung dari Leon. Beliau menyerahkan posisi Direktur dan segala aset perusahaan kepada anak tunggalnya dua tahun yang lalu. Leon memiliki ketrampilan serta kegigihan untuk bisa mengelola bisnis pemasaran agar semakin berkembang. Sejak meninggalnya sang istri tercinta, Pak Indra mendidik Leon dengan sangat keras dan tegas, maka dengan itu Leon tumbuh menjadi orang yang ambisius. Segala apa yang dia inginkan harus mencapai prospek yang artinya berhasil.


Leon melepaskan kaca mata yang sedari tadi tertengger di tulang hidungnya.


"Kenapa? Kamu harus bisa yakinkan dia agar percaya sama kamu, Leon! Ayah dengar dia baru saja beli lahan di kawasan Anggrek. Tugasmu meyakinkan dia tentang pembangunan dilahan itu, dan bilang kalau kamu akan menginvestasikan 40% perusahaan serta ikut membiayai pembangunan di lahan tersebut," tutur Pak Indra menjelaskan maksudnya.


"40%, Yah?" tanya Leon masih kurang yakin.


"Iya! Dengan begitu dia pasti gak akan nolak tawaranmu. Kalau pembangunan itu berhasil dibuat dan sukses, maka kamu juga akan mendapatkan keuntungan yang besar."


"Untuk apa, Yah? Perusahaan kita udah sangat sukses dan maju. Produk terbaru juga laku dipasaran, kenapa mesti harus kerja sama dengan Gemilang ARD," ujar Leon menolak usulan ayahnya. Hatinya masih tidak terima, apalagi mengingat kejadian di Restoran. Ancaman Reno benar-benar tidak bisa ia lupakan, bahkan sekarang ia harus lebih waspada dan membuat tameng untuk melindungi dirinya, sebelum Reno berhasil mendapat bukti kuat untuk menuntutnya.


Ayahnya masih belum mengetahui semua ini, karna beliau hanya fokus terhadap kemajuan perusahaan. Selama dua tahun Leon memimpin perusahaannya sudah mengalami kemajuan dan kenaikan saham, jadi untuk apa harus bersusah payah menjalin kerja sama. Terlebih lagi dengan Reno.


"Leon! Perusahaan ini masih dibawah perusahaan yang Reno pimpin. Dulu waktu Ali masih memimpin, sahamnya tetap stabil ditambah sekarang anaknya yang meneruskannya, jadi saham perusahaan itu trus naik. Turuti perkataan ayah. Kamu jalin kerja sama bisnis dengan Reno, dan raup keuntungan sebesar mungkin kalau perlu kamu yang menangin prospeknya."


Leon terdiam memikirkan kembali ucapan ayahnya. Memang kalau masalah tantangan seperti ini, ia sangat tertarik dan ingin mencoba, setidaknya dengan ini ia bisa menghancurkan Reno secara perlahan dan kasus pemerkosaan yang ia lakukan terpaksa ditutup.

__ADS_1


"Baik, Ayah. Aku akan ikuti saran ayah dan akan aku pastikan kalau aku yang menang."


"Bagus, itu baru putraku. Putra dari seorang Markus," puji Pak Indra seraya memberi tatapan memuaskan.


"Reno kita liat sampai mana kau mencoba menjatuhkanku. Justru aku yang akan menjatuhkan semua usahamu, kalau saja kau diam dan tidak mengancamku apalagi ikut campur tentang pemerkosaan itu, maka aku gak akan mengusikmu," guman Leon dalam hati sembari menampilkan sunggingan miring disudut bibirnya.


*****


Vierra dan Reno kini sudah sampai didepan rumah besar. Para penjaga alias sekuriti memberi salam serta ucapan selamat kepada tuan mudanya yang baru saja melangsungkan pernikahan hari ini.


"Selamat datang, Tuan muda dan juga Nyonya muda. Tuan selamat atas pernikahannya. Saya doakan Tuan dan juga Nyonya muda hidup bahagia serta dijauhkan dari marabahaya," ujar Pak Bimo selaku orang pekerja paling lama dirumah ini.


"Terimakasih Pak Bim. Amin semoga begitu..." Pak Bimo ikut tersenyum, tidak menyangka tuan muda yang ia jaga dari kecil sekarang sudah menikah, membuatnya benar-benar terharu bahagia.


"Makasih, Pak..." Vierra tersenyum yang dibalas anggukan kepala Pak Bimo.


"Ayo sayang. Hari ini kita tinggal disini ya hanya untuk beberapa hari. Trus besok kita persiapan buat bulan madu. Resepsi di Balinya juga diundur, kata mama setelah bulan madu baru resepsinya digelar, lagian resepsi pertama udah di Jakarta jadi gak masalah kalau yang di Bali belakangan. Aku juga udah pesen tiket buat kita berdua dua hari yang lalu dan dapat pas hari minggu pagi. Kita langsung berangkat ke Paris."


"Ha! Paris? Katamu Belanda?" tanya Vierra dengan membola kaget, pasalnya setahu dia, suaminya itu menginginkan bulan madu ke Belanda, tapi sekarang kenapa berubah.


"Awalnya ke Belanda, tapi kata kak Aily lebih bagus Paris. Disana kota yang paling cocok buat ngabisin waktu berdua sekaligus bulan madu. Gapapa kan sayang kalau ke Paris?"


"Ak-kuu ikut kamu aja..." balas Vierra dengan lirih, seolah tidak punya alasan lain untuk membantah dan hanya mengiyakan.


"Nanti kita di sana mungkin cuman beberapa hari trus lanjut ke Belanda juga. Sayang kalau dilewatkan. Pinginnya si keliling dunia, tapi kalau Asia udah aku jelajahi sama Amerika. Tinggal Eropa yang belum."


Eropa?


Vierra memekik kaget didalam hati. Apa ia tidak salah dengar. Suaminya itu mengucapkan kata keliling dunia dengan sangat enteng seolah tidak ada beban. Vierra sendiri belum pernah pergi keluar negri, jadi saat mendengar penjelasan Reno benar-benar membuatnya tersadar, kalau posisinya jelas jauh berbeda.


Reno masih sangat muda, mapan, mempunyai karir yang sukses, dengan dikelilingi orang-orang hebat, sedangkan dirinya hanya gadis biasa dari desa. Kota asalnya saja yaitu Solo, tapi ia beruntung jika mengingat kalau Reno menikahinya.


Apa derajat keluarganya sekarang meningkat, karna berhasil dinikahi seorang konglomerat terpandang, Vierra berharap seperti itu.

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2