
Dirumah sakit sekarang hanya ada Ny. Elma, dan Keilo, sedangkan Diva pergi ketoilet. 10 menit yang lalu, Reno, Jordan dan Amily pergi untuk mengantar jenazah Bu Dian ke rumah dengan menggunakan mobil ambulance.
Sekitar membutuhkan waktu tidak sampai 30 menit untuk mobil ambulance sampai di pekarangan rumah bercat hitam. Pintu belakang dibuka, Reno keluar lebih dulu diikuti oleh Amily dan terakhir Jordan. Jenazah Bu Dian pelan-pelan dikeluarkan oleh beberapa petugas dengan dibantu oleh Reno dan juga Jordan, sedangkan Amily hanya melihat, lalu mengikuti sampai didepan pintu.
"Am, tolong kamu buka pintunya...., untung tante Dian slalu menitipkan kunci rumahnya, ini ambil." Amily mengangguk dan mengambil kunci tersebut sampai akhirnya pintu rumah terbuka.
Ceklek....
Para petugas membawa jenazah masuk kedalam rumah.
*****
Sedangkan itu di kediaman rumah Rossi. Wanita itu tampak bahagia, karna sudah mendengar kabar kepulangan Reno dari Paris. Meski ia sempat kesal akibat terlalu lama menunggu kepulangan Reno, sekarang akhirnya terbalaskan dengan adanya kabar bahagia yang ia dapat.
Rossi keluar dari kamar dengan hati berbunga-bunga. Lusa kemarin ia sudah membeli test pack kalau hasilnya positif meski garisnya ada yang masih samar-samar, tapi Rossi yakin kalau dirinya memang sedang hamil.
"Aku harus ketemu sama Reno. Aku ingin memamerkan kalau aku benar-benar hamil. Akhirnya, kamu muncul juga diperut mama sayang. Tumbuh dengan baik ya didalam, biar nanti pas keluar ayahmu seneng ngeliatnya. Mama janji akan kasih ayah baru buat kamu dan ngelupain ayah lamamu itu. Biar aja kalau dia gak mau tanggung jawab, yang penting Reno yang akan bertanggung jawab," gumannya disertai senyuman dibibir.
"Bagaimanapun wanita hamil yang akan slalu menang, jadi aku akan pastikan kamu tersingkir dari hidup Reno, Vierra...." Rossi tertawa pelan, membayangkan betapa indahnya jika khayalannya itu menjadi nyata.
Rossi akhirnya keluar dari pekarangan rumah dengan menggunakan mobil Mercedes silver. Dalam perjalanan menyetir tiba-tiba telfonnya berdering. Ia menekan panggilan masuk itu dengan memakai satu heatsed tanpa kabel ditelinganya.
Panggilan Tersambung.
"Temui aku sekarang di tempat biasa."
"Aku gak bisa karna aku harus menemui Reno. Dia udah pulang dari bulan madu. Aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Apa kau yakin?"
"Aku gak pernah salah. Obrolan kita nanti aja dilanjut, karna ada yang jauh lebih penting."
"Lupakan pertemuanmu dengan Reno, tapi temui aku sekarang juga. Ada yang harus aku bahas."
"Aku bilang gak bisa ya gak bisa Leon! Dengar, aku gak peduli apa kau benar-benar ayah anak dalam kandunganku atau bukan karna aku gak butuh tanggung jawabmu. Yang aku butuhkan sekarang tanggung jawab Reno, apa kau mengerti!"
__ADS_1
"Kau berani denganku?"
"Sudahlah Leon, aku malas berdebat! Sekarang aku harus pergi. Aku akan menemuimu nanti malam."
Panggilan Terputus.
Rossi membuang headsetnya diatas dashboard. Ia menambah laju mobil, dengan bayang-bayang ancaman Leon yang trus terlintas di otaknya. Ia tidak bisa membiarkan Leon menjadi penghalang.
"Aku gak peduli lagi. Mau dia yang udah memperkosa aku saat dihotel, atau bukan, yang penting rencanaku untuk mendapatkan Reno harus tetap berhasil. Tenang sayang..., ayahmu hanya Reno bukan laki-laki lain."
Rossi menginjak pedal gas mobil, membuat kecepatannya meningkat. Ia harus segera sampai dirumah untuk bisa menemui Reno.
*****
Reno kini ada di rumah besarnya. Terlihat sepi, apa karna tidak ada satupun penghuni dirumah. Hanya ada pelayan, entahlah kemana perginya Elson dan Kakeknya, biasanya rumah masih tetap terisi meski hanya ada Elson atau sang Kakek.
Reno pulang sehabis mengantarkan jenazah ibu mertuanya. Ia ingin mengambil barang-barang serta baju untuk keperluan Vierra saat menginap di rumah sakit. Istrinya itu harus tetap mendapatkan perawatan sampai benar-benar pulih total.
"Tuan muda...., akhirnya anda pulang. Semua koper sudah saya bawa kedalam kamar anda. Oh iya bagaimana dengan jenazah ibu mertua anda?" tanya Pak Budi, yang ternyata memang pulang kerumah lebih dulu atas perintah Reno untuk menjemput anggota keluarga yang lain, tapi ibunya justru datang dengan sopir lain ke rumah sakit.
"Jenazah mama mertua udah dibawa pulang kerumah Pak, kalau memungkinkan nanti malam akan langsung dikubur, tapi keluarga almarhum mama mertua datangnya baru besok pagi."
"Sebaiknya besok pagi saja di kuburnya Tuan, sekalian menunggu keluarga dari almarhum datang." Reno mengangguk setuju, "Benar Pak Bud, kalau begitu besok pagi dikuburnya."
"Apa Tuan muda masih akan pergi ke rumah sakit?"
"Iya Pak, ini aku mau ngambil beberapa baju serta perlengkapan istriku untuk menginap di rumah sakit," balas Reno cepat.
"Apa nyonya muda sedang sakit, Tuan?" Reno yang semula ingin lanjut melangkah, terpaksa ia urungkan dan kembali menatap kearah sopirnya.
"Iya Pak. Istriku kena kanker serviks," balasnya dengan nada lemas, seolah tidak kuat harus mengatakan kebenaran perihal penyakit ganas yang diderita istrinya.
"Astaghfirullah...., Tuan, saya benar-benar terkejut mendengarnya. Nyonya muda mengidap penyakit kanker?" Reno menghembuskan nafasnya disertai anggukan kepala, "Benar Pak, aku juga awalnya masih gak percaya tapi memang itu kenyataannya."
"Tuan muda yang sabar ya...., saya doakan nyonya muda cepat sembuh dari penyakitnya."
__ADS_1
"Amin Pak, aku juga berharap seperti itu. Aku rela jika harus menggantikan penyakit yang diderita istriku agar dia baik-baik saja. Melihatnya jatuh sakit apalagi sedang mengandung anakku, rasanya aku gak bisa jadi suami sekaligus calon ayah yang baik. Kenapa harus istriku yang menanggung semua ini, kenapa bukan aku saja." Nada Reno terdengar begitu sumbang, seperti menahan sesuatu yang sudah lama ia bendung sejak mendengar penyakit yang diderita Vierra. Rasanya Reno benar-benar tidak sanggup, dan hanya bisa berdoa agar Vierra dan calon bayinya slalu sehat.
"Reno......" Reno membalikkan badannya, saat suara teriakan nyaring terdengar digendang telinganya. Didekat pintu masuk, ternyata ada Rossi yang berdiri disana. Wanita itu tersenyum, lalu berlari dan tiba-tiba memeluk tubuhnya.
Brugh...
Reno sangat terkejut, begitu juga dengan Pak Budi yang menatap penuh keheranan. Rossi masih memeluk tubuh Reno sangat erat, seakan tidak ingin dilepaskan. Reno baru sadar dari keterkejutannya, dan buru-buru mendorong dengan paksa tubuh Rossi agar menjauh.
"Awhh..., kamu kok kasar sama aku si? Aku kan kangen banget sama kamu Ren. Seminggu lebih lho kamu gak ada kabar, dan pas denger kabar kepulangan mu aku seneng banget." Wajah Rossi tampak berbinar bahagia, dengan tangan yang berancang-rancang untuk memeluk kembali, tapi suara keras menghentikan aksinya.
"Jaga batasanmu Ros! Jangan berani menyentuhku!" ancam Reno murka.
"Kenapa aku gak boleh nyentuh kamu Ren? Kamu ayah dari anak yang aku kandung."
"Aku hanya akan menjadi ayah dari anak yang dikandung istriku bukan dirimu!"
"Apa maksudmu? Ren, bukannya kamu udah sepakat akan bertanggung jawab dengan bayiku?"
"Tidak akan!" tolak Reno tagas.
"Tapi kenapa? Kamu kan-"
"Aku akan bertanggung jawab diawal, tapi karna istriku sekarang mengandung anakku. Anak dari darah dagingku sendiri, maka aku akan sepenuhnya merawat istriku. Dia jauh lebih penting, dibanding dirimu. Lebih baik kamu pulang, karna aku gak ada waktu untuk meladenimu!" Reno lanjut melangkah dan meninggalkan Rossi yang menatap punggungnya.
"KALAU KAMU GAK MAU TANGGUNG JAWAB, LEBIH BAIK AKU BUNUH DIRI!!!"
Reno berhenti. Matanya membulat sempurna, apa wanita itu sudah gila, fikirnya begitu.
"AKU BERSUMPAH REN, KALAU KAMU MASIH GAK MAU TANGGUNG JAWAB AKU AKAN BUNUH DIRI. PERCUMA AKU HIDUP KALAU GAK BISA DAPATIN KAMU LEBIH BAIK AKU MATI!"
Sudah cukup kesabaran Reno diuji, ia membalikkan badannya dengan menatap penuh api amarah, "APA KAMU SUDAH GILA?"
*****
Bersambung....
__ADS_1
Vote, Like dan Komentar ya 🙏