
Happy Reading tinggalkan jejak vote dan komentar ya 👍
_____•••_____
Disebuah ruangan, duduk seorang laki-laki dengan balutan kemeja serta jas rapi. Alis tebal yang begitu terukir indah, dengan bibir merah tebal dibagian bawah, membuat laki-laki ini begitu sangat tampan dan mempesona. Sudah sekitar 30 menit yang lalu, seorang pengawal sekaligus sekretaris pribadi dari Tuan Muda Direktur tempatnya bekerja sangat terlarut dalam buku yang tuannya baca.
"Tuan muda..." Panggil, Sekretaris itu.
"Pak An! Seharusnya, Pak Andre tidak melupakan panggilan ku." Buku berisi sastra sudah berhasil ditutup. Tatapannya mengarah kedepan, lalu beralih ke sektretaris yang berdiri di sebelah kanan kursi kebesarannya.
"Maafkan saya. Maksud saya, Mister Reno," ujar Pak Andre membenarkan panggilannya.
"Itu baru benar Pak An." Reno tersenyum, mendapat tatapan lega dari Pak Andre.
"Pak An, menurut Pak Andre kado yang cocok untuk mama apa?" tanya Reno minta solusi dari rasa bingung dibenaknya.
Besok adalah ulang tahun ibunya yang ke 45. Sudah pasti, Reno akan memberikan hadiah istimewa untuk satu-satunya orang tua yang ia miliki. Reno tumbuh selama 12 tahun tanpa seorang ayah. Tuan Ali Vodoress Barack meninggal karna kecelakaan pesawat saat usia Reno menginjak 11 tahun. Sudah 12 tahun lamanya, ia tinggal hanya ditemani ibu, kakek dan beberapa keluarga Barack yang lain.
"Saya sampai lupa, kalau ibu mister-"
"Pak Andre Cukup! Aku rubah, jangan panggil mister kalau kita sedang bicara berdua. Itu sangat aneh, tapi panggil mister kalau di publik jangan ditempat privasi seperti ini." Reno menyela cepat membuat Pak Andre mengangguk paham.
"Baik, Tuan muda."
"Lalu, kado apa yang cocok untuk mama Pak An?" Reno bertanya lagi dengan alis terangkat.
"Kalau menurut saya, belikan barang yang disukai Nyonya besar. Kemungkinan pasti, ibu tuan muda sangat menyukainya," tutur Pak Andre memberi usul. Reno diam tampak menimbang kembali saran dari sektretarisnya.
Srrttt...
Reno mendorong pelan kursi sofa berwarna white, lalu berjalan sampai ia berdiri tepat di depan meja yang memanjang.
"Ayo, Pak! Temani aku beli kado buat mama," Ujar Reno penuh semangat.
"Baik, Tuan muda. Saya juga ingin membeli sesuatu untuk Nyonya besar." Pak Andre mengangguk patuh diselingi senyuman dibibir dengan sedikit kumis yang terlihat.
Di Tempat Matahari Store.
Gadis cantik berambut sebahu itu tersenyum ramah, saat beberapa pengunjung datang untuk melihat atau sekedar bertanya.
"Silahkan ibu. Ada yang bisa saya bantu? Ibu sedang mencari apa? kebetulan di Matahari sedang ada promo sampai 70%."
"Boleh, Mbak. Saya ingin liat baju buat anak saya kira-kira dia tingginya sama dengan Mbaknya." Ibu yang berhasil Vierra tarik perhatiannya, mendekat sekaligus bertanya.
"Ada Bu, mari saya antar buat liat," ujar Vierra begitu ramah. Ibu dengan pakaian merah itu berjalan mengikuti arahan dari Vierra.
Vierra menelusuri beberapa lorong yang terbelah menjadi 6 bagian. Ia langsung mengarahkan pengunjung itu ke area gantungan baju sampai tumpukan baju yang sudah terpampang jelas harga beserta bermacam diskon.
"Ibu bisa mencarinya disini."
"Makasih, Mbak. Saya liat-liat dulu." Vierra mengangguk, lalu mundur untuk membiarkan ibu itu melihat-lihat dan mencari baju pilihannya.
Di area depan Reno berhenti membuat Pak Andre menatapnya bingung.
"Tuan muda, apa anda ingin beli barang di Matahari?" Reno langsung mengangguk, lalu menoleh ke arah Pak Andre.
"Gak ada salahnya, Pak. Aku ingin beli baju untuk mama," balas Reno. Ia melangkah masuk sampai akhirnya seorang SPG datang dengan menyapa sopan.
__ADS_1
"Mister Barack! Ya ampun... saya senang anda berkunjung kesini," ujar Alina memberi kesan baik dengan tersenyum.
"Aku ingin baju untuk wanita berumur 45 tahun, tapi tidak kuno harus yang modern tidak terlalu ketat dan sedikit motif, tapi tidak terlalu polos." Alina menatap bingung mendengar penjabaran detail dari Bos Besarnya.
"Ah... tentu ada Mister. Mari saya antarkan, kebetulan ada baju keluaran terbaru untuk Mister akan langsung mendapatkan diskon."
Reno berjalan mengikuti Alina yang berucap menjelaskan.
"Aku gak butuh diskon! Tunjukkan saja dimana bajunya."
"Ba-baiik Mister." Alina mengangguk patuh tanpa berbicara lagi.
"Tuan- Maksud saya, Mister Reno. Saya akan berkeliling untuk melihat juga," ujar Pak Andre meminta izin.
"Silahkan Pak An. Cari barang yang Pak Andre inginkan." Reno membalas dengan anggukan setuju.
"Disekitar sini, Mister." Reno membelok, ia kini sudah berada di tempat gantungan baju. Matanya mulai meneliti dan mengamati setiap baju.
"Kira-kira ukuran mama berapa ya?" Gumannya kebingungan.
"Mister..." Reno membalikkan badannya menatap kearah Alina.
"Hmm..."
"Sepertinya anda sangat kebingungan, mungkin saya bisa membantu," ujar Alina. Reno mengerutkan keningnya. Ia langsung menatap bentuk tubuh Alina secara seksama. Alina hanya diam dan merasa gugup dipandang oleh Reno.
Akhirnya Reno menggeleng disertai hembusan nafasnya. Tanpa sengaja ia melirik ke arah selatan. Tidak terlalu jauh dari tempatnya, sosok wanita yang dikenalinya berdiri diujung sana. Senyum Reno mengembang.
"Mister..., " panggil Alina.
"Oh iya! Tolong panggilkan pegawai yang berdiri disana," Ujar Reno menunjuk ke arah Vierra.
Alina menolehkan kepalanya kebelakang ia menatap bingung. Hanya ada Vierra, apa yang dimaksud Misternya itu adalah teman SPGnya.
"Iya, Dia! Panggil dia kesini!" Alina paham lalu berjalan menghampiri Vierra.
Mata Reno tidak pernah lepas kearah Vierra, bahkan sampai wanita itu berjalan menghampirinya, Reno masih menantikan kedatangan Vierra. Tepat sudah, kini Vierra berdiri didepannya.
"Ada perlu apa ya? Anda memanggil saya?" tanya Vierra berusaha menutupi kegugupannya.
"Kamu harus membantuku." Alis Vierra terangkat bingung.
"Bantu apa dulu?" Lagi-lagi Vierra bertanya. Entah kenapa ia sangat risih dengan kedatangan Reno. Teman masa SMA nya itu membuat Vierra sulit tidur semalaman.
Ya, sejak kehadiran Reno dirumahnya kemarin benar-benar menguras jam tidur Vierra. Ia bahkan hampir bangun kesiangan karna trus memikirkan laki-laki itu. Perubahan penampilan Reno, serta ucapannya tempo lalu, membuat Vierra terusik.
"Biasanya kamu memakai baju ukuran berapa?" tanya Reno membuat Vierra sekaligus Alina terkejut.
Apa dia sudah gila?
Menanyakan ukuran baju seorang wanita?
Pikir Vierra menatap aneh.
"Jawab aja. Berapa ukuran bajumu?" tanya Reno lagi mendesak.
"Itu privasi! Ngapain mau tau ukuran bajuku segala, " celetuk Vierra dengan nada sinis.
"Kalau begitu, ukuran baju ibuku pasti sama denganmu, Ra." Reno berucap memberi spekulasi.
"Ha! Apasi, maksud-"
__ADS_1
"Aku mau baju ini," Potong Reno menyela cepat. Tangan kanannya menarik sedikit bagian bawah dari baju yang ia pegang bermaksud menunjukkan kearah Alina.
"Anda sudah memilih bajunya, Mister? Baik saya akan mengambilnya," ujar Alina paham.
"Vie, ayo bantu aku." Vierra tersentak saat Alina menyikut lengan kirinya.
Alina mengambil baju yang Reno pegang, lalu memberikannya baju itu dengan memperlihatkan keseluruhan motif yang ada pada baju tersebut.
Reno mengambilnya langsung memberikan baju itu kepada Vierra.
"Ini ambil. Pakai baju ini, karna aku ingin melihatnya."
"Aku?" Vierra memekik sedikit keras, membuat beberapa pasang mata menatapnya. Vierra menunduk malu, lalu menatap tajam kearah Reno.
"Gak mau!" tolaknya cepat.
"Kamu SPG kan disini? Seharusnya tugasmu melayani pembeli, jadi aku minta pakai baju ini biar aku tau baju ini bagus atau gak," ujar Reno memerintah dengan nada dingin.
"Vie, udah pakai aja sebelum nanti Bu Eliska liat kesini." Alina memberi penuturan pelan membuat Vierra menelan ludahnya sedikit takut.
Vierra tidak ingin berurusan dengan wanita berumur 32 tahun itu, bisa-bisa ia potong gaji atau parahnya lagi dipecat. Bagaimana pun ini hari pertama ia bekerja.
"Kenapa diam! Ini pakai dulu bajunya." Suara Reno mengangetkannya langsung saja Vierra mengambil baju itu.
"Iya, iya! Akan aku coba. Tunggu!" sungut Vierra dengan nada ketus. Reno diam sampai Vierra pergi ke arah tempat ganti baju, baru senyum miring terukir dibibirnya.
Sekitar kurang lebih 5 menit, akhirnya Vierra keluar dari ruang ganti. Ia berjalan menghampiri Reno.
Reno terusik suara high heels terdengar jelas. Ia menatap Vierra. Gadis itu memakai baju pilihannya terlihat sangat pas dan cocok dipadukan rok span diatas lutut. Seharusnya, Vierra beruntung berkat tinggi badannya membuat baju yang awalnya Reno pikir biasa saja, kini menjadi sangat indah saat Vierra pakai.
"Aku mau baju itu, tapi ganti warna gelap dan aku juga ingin dress dengan motif yang sama," ujar Reno menjelaskan.
"Ahh... Baik, Mister. Sepertinya, masih ada stok dengan motif yang sama. Saya akan ambilkan dulu." Setelah berucap paham, Alina pergi begitu saja.
Reno menghampiri Vierra, senyumannya terukir saat menatap lekat baju yang sangat indah ditubuh Vierra.
"Kamu cocok dengan baju itu, Ra. Hmm... udah aku tebak sepertinya, kamu cocok memakai baju apa saja."
"Apasi! Gak lucu ya. Aku pakai ini, karna demi kerjaan," balas Vierra dengan nada ketus.
"Udah ah aku mau ganti baju dulu."
Srrttt ...
Tubuh Vierra hampir saja limbung, kalau tangan Reno tidak berhasil menangkap tubuhnya. Aroma yang sangat dominan tercium lagi, kali ini lebih kuat. Vierra menatap gugup bahkan saat ini pinggang nya seakan dipeluk oleh tangan kekar Reno.
"Jangan melepasnya, Ra." Suara Reno terdengar serak dan sangat pelan.
"Kamu gil-a! Aku harus pakai seragam ku lagi kalau gak, bos ku bisa marah."
"Disini aku yang bos. Gak akan ada yang marah, aku jamin. Tetap pakai baju ini, atau...."
"Maa-uu aa-pa kamu?" Tanya Vierra sangat gugup. Deru nafas Reno terdengar jelas dan wajah laki-laki itu semakin dekat.
"Ada... C C TV No! Ka-mu-"
"Menurutmu apa yang bisa aku lakukan, hmm?" Vierra menelan ludahnya perlahan.
"Apa kamu pikir, aku akan memperkosamu disini?"
"Aawwwww...." Reno meringis dengan suara keras. Baru saja Vierra menginjak kakinya.
__ADS_1
"Gila kamu! Dalam mimpimu, No!" celetuk Vierra dengan nada kesal. Ia pergi begitu saja, sedangkan Reno justru menyunggingkan smirknya.
_____•••••_____