Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Hari Terakhir Di Paris


__ADS_3

Hari semakin berganti Vierra dan Reno sudah satu minggu lebih berada di Paris. Saat itu pula Reno begitu perhatian dan siap siaga, mengingat kondisi kaki Vierra yang bengkak kini sudah mulai sembuh dan bisa beraktivitas kembali secara normal. Di hotel Vierra tampak memasukkan semua bajunya kedalam koper, begitu juga baju Reno sudah lebih dulu ia bereskan agar tidak tertinggal sewaktu akan check out dari hotel.


Setelah menghabiskan waktu sedikit lebih lama, Vierra memutuskan untuk segera pulang ke tanah kelahiran, padahal Reno menginginkan penambahan hari sekitar bisa sampai dua minggu lebih di Paris, tapi apa daya kemauan sang istri harus ia turuti.


"Sayang...., ayo makan dulu, nanti aja dilanjut kalau sekarang gak selesai kan bisa besok kita check outnya," ujar Reno dari arah pintu. Vierra menegakkan badannya, lalu meresleting koper tersebut setelah berhasil memasukkan semuanya.


"Udah beres semua kok." Reno menghampiri Vierra, lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang disertai kecupan kecil di leher.


"Hmmm.... Kamu yakin gak mau nambah hari lagi buat disini? Nanti kita bisa keliling ke berbagai tempat wisata di Paris."


"Gak mau mas, lagian udah seminggu lebih kan kita di Paris. Aku kangen sama ibu. Akhir-akhir ini aku sering mimpiin ibu, aku jadi pengen ketemu sama ibu." Reno merenggangkan pelukannya sembari membalikkan badan Vierra agar menghadap kearahnya.


"Yaudah, kalau kamu emang kangen sama mama mertua, kita pulang ke Indonesia sekarang. Aku udah pesan tiketnya tapi berangkatnya nanti malam, gapapa kan? Kita habiskan beberapa waktu dulu disini," ujar Reno menjelaskan, lalu sebuah kecupan hangat mendarat di kening Vierra.


Cup...


"Ayo makan, kamu pasti lapar." Vierra mengangguk, "Iya mas, ayo....," balasnya pelan.


Jakarta.


Leon meruntuk kesal, pasalnya setelah kehadiran dua detektif tempo hari yang lalu, membuat semua rencananya hampir gagal. Ia bahkan memutuskan untuk membatalkan penerbangan ke Paris, karna merasa trus di incar dan diganggu.


"Sial! Ternyata sampai segini, kau ingin menghancurkan ku Reno. Baiklah aku akan membuatmu benar-benar menyesal karna sudah berani mengusikku," gumannya disertai tatapan tajam yang menyorot ke objek kosong. Emosi Leon hampir tak terkendali, karna kedatangan detektif itu juga membuat mantan istrinya lebih sering mengganggunya lagi.


Panggilan Tersambung.


"Celakai salah satu detektif itu. Malam ini juga harus berhasil, jangan sampai mereka trus mengorek keterangan dari Rossi, apalagi dari mantan istriku. Kau mengerti? Kabari mayatnya besok pagi!"


"Baik, Tuan. Malam ini tidak akan gagal lagi, saya akan membuat detektif itu meninggal dalam kecelakaan."


"Bagus, itu yang aku inginkan."


Panggilan Terputus.


Leon memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jas, dengan senyum licik yang tersungging ia berharap anak buahnya itu memberinya kabar bahagia besok pagi.


Ceklek...


"Kenapa ayah datang ke kantorku?" tanyanya terkejut melihat sang ayah masuk kedalam ruangannya begitu saja.


"Apa urusanmu dengan detektif itu masih berlanjut sampai sekarang? Kenapa mereka mendatangimu trus menerus?"


"Sial, ayah gak boleh sampai tau tentang pemerkosaan itu," guman Leon dalam hati.


"Leon! Jawab ayah, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari ayah?"

__ADS_1


10 detik hening, barulah Leon tertawa pelan dan melangkah mendekati ayahnya, "Tentu saja tidak ayah. Mereka datang ingin mengetahui kejelasan perceraianku dengan Sisilia," balasnya santai.


"Jadi mereka datang untuk mengorek keterangan alasan dibalik perceraianmu dengan gadis itu?" Leon mengangguk.


"Iya ayah, apalagi kalau bukan itu. Sepertinya ada orang yang gak suka dengan perceraianku, makanya sampai rela menyewa detektif segala hahahaha.....," ujar Leon diselingi tawa renyahnya. Ia berusaha menampilkan gesture sungguhan, agar ayahnya percaya dengan ucapannya.


"Ini pasti ulah Bintoro. Dia gak rela kalau anaknya diceraikan tanpa salah sedikitpun. Seharusnya ayah gak mengizinkanmu untuk menikahi Sisil waktu itu, karna tidak ada untungnya menikahi gadis desa tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi."


"Itu bukan salah ayah, lagipula pernikahanku cuman bertahan 3 bulan dengan gadis kampung itu. Ayah gak perlu khawatir, aku akan membereskan semua kekacauan ini," papar Leon berusaha menenangkan amarah ayahnya yang sudah mulai tersulut.


"Leon!"


"Iya ayah?"


"Biar Bintoro dan anaknya menjadi urusan ayah. Kamu cukup fokus dengan masalah perusahaan, jangan sampai fokusmu terpecah belah akibat ulah Bintoro. Ayah tau dia ingin balas dendam, karna gak terima anaknya diceraikan. Ayah pergi dulu, kamu gak perlu khawatir masalah ini akan segera ayah bereskan." Tn Indra menepuk pundak kanan anaknya, lalu balik badan untuk segera keluar.


"Ini akan lebih menarik, setidaknya ayah bisa meringankan bebanku untuk bisa menyingkirkan Sisil. Gadis kampung itu benar-benar pengganggu," gumannya tersenyum miring.


*****


Di Restoran terlihat tampak sangat ramai, dan kursipun sudah penuh sejak pukul 10 pagi lalu. Para pengunjung trus berdatangan, dan rela mengantri, atau memesan lebih dulu kursi di Restoran karna memang setiap hari slalu ramai.


Ny. Dian sibuk mencuci beberapa piring di wastafel, dan tumpukan piring barupun mulai berdatangan. Dengan kecepatan tangannya, beberapa piring sudah di cuci bersih.


"Iya, ada apa?" Ny. Dian memutar kran wastafel dan menengok kearah Koki muda tersebut.


"Rina, tolong kamu lanjutkan cuciannya," ujar beliau yang langsung mendapat anggukan patuh dari wanita beranak satu.


"Baik, Bu Dian....," balas Rina tanggap, lalu dengan sigap menggantikan pekerjaan seniornya untuk mencuci semua piring kotor.


"Bu Dian, tadi kursi nomor 6 pesan soup kan? Atau malah kursi nomor 9 yang memesannya?" Ny. Dian langsung melihat kembali daftar buku dari pengunjung yang memesan makanan hari ini, tapi tiba-tiba suara keras terdengar di dalam dapur.


Brughh....


"Astaga! Bu Dian!" Koki Alfan yang lebih dulu mengetahui kalau Ny. Dian pingsan. Beberapa detik selanjutnya pekerja yang lain terkejut, dan langsung membantu Ny. Dian.


*****


Paris.


Vierra merasa senang saat ini, bagaimana tidak Reno mengajaknya naik mobil Citroen 2CV untuk mengelilingi dari Museum Louvre sampai mengitari disepanjang Menara Eiffel. Mata Vierra berbinar karna sangking takjubnya dimanjakan oleh berbagai pemandangan saat mengelilingi dengan mobil antik yang dibandrol 63 Euro, atau setara dengan 1juta rupiah.


(Anggap saja visualisasinya seperti ini)


__ADS_1


"Mas..., ini bener-bener indah. Kita gak perlu jalan kaki buat bisa mengitari beberapa tempat, tadi aja udah mengitari disekitar menara Eiffel. Mobil ini bagus dan nyaman." Reno tersenyum, akhirnya hadiah terakhir sebelum pulang ke Indonesia bisa membuat istrinya bahagia.


"Iya sayang, mobil ini sangat antik. Di Indonesia juga ada, mungkin harganya bisa sampai milyar rupiah karna stocknya terbatas. Kamu mau? Nanti aku beliin pas sampai di Indonesia." Mata Vierra terbelalak kaget. Apa ia tidak salah dengar.


"Apasi mas, aku gak bilang kalau pingin beli mobil kayak gini. Aku suka aja karna mobilnya beda dari yang lain," tukas Vierra sedikit mendengus kesal.


"Ya kalau kamu mau, aku bisa beliin sayang. Kamu pinginnya mobil seperti apa? Nanti aku beliin sesuai keinginanmu, tapi kamu bisa menyetir kan?"


"Bisalah! Jangan ngeremehin aku ya! Gini-gini aku dulu pernah belajar nyetir diajarin sama Jordan."


"Jordan?" Vierra mengangguk, "Iya, yang waktu itu kamu ketemu dia di rumahku. Masa kamu lupa?" balasnya sedikit heran.


"Mana mungkin aku lupa, apalagi orang seperti dia," balas Reno dengan nada malas saat menyebut kata Dia.


"Jordan ngajarin aku waktu pas masih SMA dulu, dia hebat tau masa umur 16 udah bisa nyetir mobil. Katanya si, emang dia ingin, soalnya ayahnya kan punya showroom mobil."


"Apa hebatnya dia, cuman punya showroom. Aku juga bisa buka showroom bahkan lebih besar," guman Reno dalam hati.


Ciittt...


"Sir, we have arrived at Bateaux Parisien. You can get on the boat directly from here," ujar Pak Steven, yaitu laki-laki paruh baya seorang Paris Authentic selaku operator wisata mobil Citroen 2CV.


"Thank You..." Reno tersenyum, lalu membuka pintu mobil, begitu juga dengan Vierra ikut keluar dari mobil.


Reno menghampiri Vierra yang menatap ke sekelilingnya dengan raut wajah bingung.


"Ini dimana mas? Kok ada kapal-kapal?"


"Ini di dermaga sayang..., kalau mau naik kapal disini tempatnya seperti tempo lalu, masa kamu lupa?" Kening Vierra mengerut dan akhirnya mengangguk karna mengingat kembali memori pertama kali ia menaiki kapal.


Wajar saja lupa karna masih pertama kali berada di negara orang, bahkan Vierra sendiri melupakan beberapa jalanan tempat yang pernah ia lalui.


"Emang kita mau naik kapal?"


"Emang kamu mau?" Vierra menggeleng cepat, "Gak mas, bentar lagi kita kan mau balik ke Indonesia masa naik kapal." tolaknya.


"Gapapa sayang, cuman bentar..., lagian masih siang, kita check out dari hotel nanti sore setelah naik kapal." Reno mengenggam tangan kiri Vierra, lalu jalan sesuai keputusannya yang ingin menaiki kapal untuk terakhir kalinya sebelum pulang ke tanah air.


*****


Bersambung....


Akhirnya mereka selesai bulan madu, maaf ya kalau dipercepat soalnya kalau lama-lama di Paris bisa-bisa aku juga pingin kesana karna sangking gak tahan ngeliat bulan madu mereka. Berasa ngiler ini hehehe😁


Tinggalkan Vote, Like, dan Komentar ya🙏

__ADS_1


__ADS_2