Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Kesepakatan


__ADS_3

Happy Reading tinggalkan jejak like dan komentar 👍


_____•••••_____


Reno kini tengah menjernihkan pikiran. Air shower menghujani seluruh tubuhnya tanpa henti. Pikirannya melayang kembali tentang pernikahannya dengan Vierra. Reno menyisir rambutnya yang basah kebelakang dengan kedua jemarinya. Sungguh ia tidak sabar menantikan pernikahannya dengan Vierra secepat mungkin.


Air shower berhenti. Reno mengambil handuk lalu ia lilitkan ke pinggang, menyisahkan tubuh atasnya yang masih telanjang basah.


Ceklek...


Reno berjalan keluar dari kamar mandi, senyumannya masih mengembang sesekali ia slalu memikirkan Vierra, namun tiba-tiba suara dering telfon terdengar. Reno melangkah ke arah laci didekat ranjang, lalu ia mengambil ponselnya yang sudah tertera nama Vierra dilayarnya.


Panggilan Tersambung.


"Besok, aku ingin bicara denganmu. Temui aku sekitar jam satu siang di food court. Aku harus minta penjelasan mu."


"Penjelasan apa lagi hm? Bukannya udah jelas, kita akan menikah minggu depan, Ra."


"Aku belum menyetujuinya! Kenapa kamu harus bilang seperti itu si didepan semua orang!" Nada Vierra terdengar sedikit keras, tapi justru membuat Reno terkekeh.


"Bukannya bagus dengan begitu semua orang bakal tau siapa calon istriku, Cantik."


"Renoo!!! Iiihhh gara-gara kamu aku terpaksa bilang iya ke ibu! Pokoknya, besok kita harus bicara. Awas aja kalau kamu ngelakuin hal yang lebih!"


"Kamu mengancamku, Ra? Berani ngancam calon suamimu sendiri, hmm. Ohhh... Aku harus minta ke mama mertua agar kamu bisa bersikap lebih lembut terutama sama calon suamimu ini."


"Apasiii! Ren! Aku serius!"


"Kamu pikir aku gak serius?"


"Pokoknya besok aku mau buat kesepakatan."


"Kesepakatan?" Alis Reno terangkat bingung.


"Iya! Gak semudah itu ya... Kamu bisa nikah sama aku. Tunggu sampai besok siang, yaudah aku tutup. Bye!"


Reno diam, pikirannya masih mencerna ucapan dari Vierra. Ada tanda tanya besar dibenaknya, kenapa calon istrinya itu mengatakan sebuah kesempatan.


Tok Tok Tok...


"Ren... Kamu belum tidur kan?"

__ADS_1


"Kalau gitu aku masuk."


Ceklek...


Reno membalikkan badannya. Laki-laki yang seumuran dengannya itu melangkah mendekatinya.


"Gevan." Ujar nya pelan.


Gevan dan Reno punya umur yang sama cuman Gevan lahir di bulan awal berbeda dengan Reno. Gevan adalah adiknya Ernest dan juga Aily. Ernest sang kakak sudah menikah dan memiliki perusahaan sendiri yang dibangun dengan usahanya sendiri, sedangkan Aily adalah saudara kembar dari Gevan cuman bedanya, Reno memanggil Aily dengan sebutan kakak tetapi tidak untuk Gevan.


"Ada apa, Gev?" tanya Reno santai.


"Kamu yakin akan menikah minggu depan? Mendahului ku?" Gevan balik bertanya, membuat Reno mengerutkan keningnya.


"Iya. Kenapa? Bukannya bagus aku nikah cepat, agar kamu gak perlu buru-buru menikahi Amanda kan," ujar Reno menjelaskan. Ia memandang dengan senyum tipis dihadapan Gevan. Reno sudah tahu, jika Gevan sebenarnya belum siap menikah. Hubungannya dengan Amanda masih dibilang baru sebentar, ditambah masalah terakhir kali yang menimpa hubungan saudaranya itu hampir membuat hubungan yang terjalin 6 bulan harus kandas.


"Aku tau, tapi makasih setidaknya kamu menyelamatkan posisiku dihadapan kakek. Hmm... Amanda sebelumnya minta putus, padahal aku udah jelasin ke dia kalau aku sama Mika hanya sebatas partner kerja, tapi dia marah dan ngotot minta putus."


"Trus, kenapa tadi kamu bisa bawa Amanda ke pesta?" Gevan mulai mendekat lagi, tapi tatapannya seakan menunjukkan banyak beban dan keraguan.


"Iya, aku yang maksa. Aku gak tau, aku bakal jadi nikah atau gak. Aku besok akan menemui Amanda lagi buat yakinin dia." Gevan menghembuskan nafas beratnya, sebelum akhirnya kembali berujar.


"Perbaiki hubunganmu sama dia, Gev! Bukannya udah bagus, kalian akan menikah dan itu kunci agar hubungan kalian tetap lanjut." Reno berucap meyakinkan dengan tangan kanan yang memegang pundak Gevan, berusaha memberi semangat.


_____•••••_____


Hari tlah berganti, kini Vierra pagi-pagi sekali sudah ada di dalam mall. Vierra sedang ada di toilet, meski mall dibuka pukul 10 Pagi tetap saja ia diharuskan datang lebih pagi. Vierra menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Ia merapikan seragam dan memberi polesan beberapa bedak sekaligus lipstik di bibirnya.


"Vie! Aku denger kamu akan nikah sama Mister Reno? Itu serius kan? Gak bohong?" Teman sesama SPGnya yaitu Alina datang dan berdiri di sampingnya. Vierra menatap Alina dan mengangguk pelan.


"Ya ampun.... Aku pikir Mbak Milcha bohong, ternyata bener kamu bakal nikah sama Mister Reno." Alina berujar dengan terkejut, seakan sebuah mimpi, karna teman kerjanya bisa menikah dengan orang yang terpandang.


"Jangan keras-keras, Lin! Aku terpaksa," Celetuk Vierra dengan nada malas. Ia kembali menatap pantulan wajahnya di depan cermin.


"Kamu gila, Vie! Harusnya kamu seneng dong. Aku kalau jadi kamu nih ya, aku pasti seneng banget tau. Mister Reno itu ganteng, kaya. Siapa juga yang gak mau sama dia, bahkan semut aja pasti mau, Vie."


"Lebay kamu, Lin! Dia gak sehebat itu kali!" Sungut Vierra memandang kesal.


"Aku bicara fakta, Vie! Mister Reno itu ibarat kata adalah calon menantu idaman tau, bahkan mamaku aja kalau aku ceritain soal Mister Reno, dia jadi pengen aku punya pacar kayak Mister Reno." Alina kembali berujar dengan wajah berbinarnya disertai senyuman malu-malu saat memimpikan kalau saja Reno adalah calon suaminya kelak.


"Udah ah, aku duluan ya." Vierra langsung meresleting tas merah maroonnya, lalu pergi lebih dulu meninggalkannya Alina yang masih sibuk membenarkan riasan diwajah.

__ADS_1


Srtt...


"Reno!" Vierra memekik sedikit keras, sedangkan Reno hanya menampilkan senyum menawan, karna berhasil menarik tangan kanan Vierra kearahnya.


"Ngapain kamu disini?"


"Menemui calon istriku," balas Reno membuat Vierra memutarkan bola matanya kesal. Ia langsung menarik tangan Reno, agar lebih menjauh dari toilet.


Vierra melepaskan tangan Reno dan memandang dengan sangat malas kearah Reno. Sungguh kenapa laki-laki itu menemuinya sepagi ini, bukannya ia minta ketemuan nanti siang.


"Aku penasaran dengan kesepakatan apa yang kamu maksud kemarin di telfon," ujar Reno mengutarakan maksudnya.


"Kan aku bilang nanti siang, Ren!"


"Sekarang. Aku mau sekarang aja, mumpung kita ada disini. Jadi.... Nyonya Reno Al-Barack, kesepakatan apa yang kamu inginkan dariku?" Vierra meneguk ludahnya gugup. Wajah Reno mendekat, bahkan seakan mengikis jarak yang ada.


"Bi-ssa mun-duur gak."


"Hmm gak. Katakan aja, apa yang kamu inginkan dariku." Reno berbicara dengan nada pelan dan itu membuat Vierra meremang karna geli. Aroma Mint serta parfum Reno tercium kuat. Vierra kaku dan sulit untuk bernapas.


"Akk-uu mau pernikahan kita diundur..." Alis Reno terangkat, tapi tetap dengan jarak yang sama tidak menjauh sedikit pun.


"Aku menolak!"


"Apa?"


"Iya. Aku udah putuskan kita akan menikah minggu depan," ujar Reno dengan sedikit tegas.


"Minggu depan itu kecepetan, Ren!" Sela Vierra tidak terima.


"Bagiku, minggu depan waktu yang bagus. Kamu tenang aja, kamu gak perlu nyiapin apapun, karna semua keperluannya akan aku siapin sendiri. Kamu hanya perlu...." Reno menjeda ucapannya, wajahnya semakin mendekat. Detak jantung Vierra tidak beraturan, ia sangat gugup dan tidak bisa berkutik sedikit pun.


Cup...


Benda kenyal menempel sekilas. Reno menciumnya dalam waktu singkat, meski begitu Vierra sukses melotot tak percaya. Reno tersenyum lalu mengusap bibir bawah Vierra dengan jempol kanannya.


"Setelah menikah, aku ingin lebih dari ini," ujar Reno dengan nada dibuat sensual.


"Hahahaha pipimu merah.... Sampai jumpa nanti, Nyonya Barack." Reno menjauh setelah sedikit tertawa lalu pergi begitu saja meninggalkan Vierra yang masih berada dalam keterkejutannya.


_____•••••_____

__ADS_1


__ADS_2