
Kala mengerutkan dahinya saat keluar dari kamar mandi namun tidak menemukan istrinya disana.
Rasa kesal tiba tiba saja menghinggapi hatinya saat Dya menghilang dari pandangan nya.Meski begitu Kala tetap memakan makanan yang tadi dibawakan oleh Dya untuk dirinya sarapan.
Ceklek...
Saat asik menikmati menu sarapan nya,perhatian Kala teralihkan pada suara pintu kamar yang dibuka dari luar.
Rasa lega dan juga senang tiba tiba dirasakan oleh Kala saat melihat siapa orang yang baru saja masuk kedalam kamar itu.
Aneh memang,tapi saat ini itulah yang dirasakan oleh Kala saat ini.Benci saat melihatnya tapi lebih benci lagi dan bercampur kesal jika tidak melihat sosoknya.
"Dari Mana Kamu?"tanya Kala masih dengan nada ketus nan dingin nya.Saat melihat Dya masuk kedalam kamar dengan satu plastik kecil ditangan nya.
"Habis dari apotik terdekat.Tadi pas cari obat pereda nyeri dan salep dikotak P3K,untuk memar Mas Kala ternyata tidak ada.Tanya Bi Surti juga tidak punya jadi aku tadi minta Mang Ujang buat anter ke apotik buat beli obat ini buat luka Mas"jelas Dya menunjukan kantong plastik yang dia bawa.
Kala kembali bergeming.Lalu fokus kembali untuk menghabiskan makanannya.Setelah selesai dibantu oleh Dya,Kala mulai mengobati lukanya.
Dengan telaten Dya membuka plester yanh semalam dia pasangkan,lalu mengoleskan salep yang tadi dia beli.
Tidak lupa juga Dya memberikan obat pereda nyeri pada Kala agar tubuhnya tidak terlalu sakit sakit efek dari perkelahian yang dia lakukan malam tadi.
"Sudah,sekarang lebih baik Mas istirahat dulu.Papah bilang jangan dulu kekantor karena dikantor sudah ada Bang Arka.Hari ini Mas lebih baik istirahat saja"ucap Dya panjang kali lebar namun hanya ditanggapi dingin oleh sang suami.
"Bang Ar sudah kembali?"
__ADS_1
"Iya,tadi pagi.Ya sudah Mas istirahat ya,aku pergi dulu"
"Mau kemana?"
"Hah?"
"Ng_nggak ma_maksudnya.Kamu mau kemana?hapal jalan emang nya?disini tuh kamu orang baru jangan sampai tersesat dan nyusahin orang"gerutu Kala yang tiba tiba salah tingkah oleh pertanyaan yang dia layangkan sendiri.
"Kan cuma kedapur Mas.Mau bantuin Bi Surti masak,masa tersesat sih?"
"Ohh,kirain"gumamnya pelan
"Iya,apa Mas?Mas bilang apa?"
Usir Kala yang tiba tiba merasa gugup dan juga salah tingkah saat Dya menatapnya penuh dengan tanda tanya.
Dan tidak banyak kata lagi Dya pun keluar kamar meninggalkan Kala yang tengah merutuki dirinya sendiri.Merutuki kebodohan nya karena tiba tiba bersikap perhatian pada istri yang dia benci.
Sepeninggalan Dya entah karena rasa lelah atau karena obat yang baru saja dia minum.Kala pun kembali tertidur lelap diatas ranjang yang sudah lama dia tinggalkan.
Sementara Dya sendiri disibukkan dengan kegaitan dapur bersama Bi Surti,art yang sudah lama bekerja dengan keluarga Mahesa.
"Sudah Non,nanti kecapean.Biar Bibi saja yang kerjakan"ujar Bi Surti yang sejak kehadiran Dya lebih banyak terbantu dalam pekerjaannya.
Namun Bi Surti juga merasa sungkan karena orang yang membantunya adalah menantu keluarga yang sudah mempekerjakan nya lebih dari 20 tahun itu
__ADS_1
Dan sudah banyak membantu perekonomian keluarganya dikampung.Dan oleh karena itu mana mungkin dirinya lancang meminta bantuan pada menantu sang majikan.
"Nggak apa apa Bi,lagian dirumah segede gini aku hanya diam.Ya ampun biaa mati berdiri aku karena bosan"
"Astaghfirullah,Non jangan bilang begitu.Pamali"
"Iya makanya,ijinin aku bantu ya.Lagian mau diem dikamar juga dimarahin terus sama si punya kamar.Kan nggak nyaman Bi,lebih baik disini lebih bermanfaat"
"Yang sabar ya Non.Den Kala itu sebenarnya baik.Hanya entah karena apa setelah Ibu meninggal jadi berubah drastis.Malah,nampak membenci Bapak"
"Kok biaa begitu Bi?"
"Tidak ada yang tahu alasan pastinya Non.Dan Den Kala juga hanya diam saat semua orang bertanya tentang apa yang membuatnya berubah"
"Oh gitu ya?"
Ehheeemmm...
Tiba tiba suara deheman seseorang mengagetkan Dya dan juga Bi Surti.Dengan takut takut Dya dan Bi Surti pun kompak menoleh kebelakang dan melihat seseorang tengah berdiri menatap keduanya dengan tatapan yang dingin dan cukup tajam.
*
*
...🌸🌸🌸...
__ADS_1