
"Maafkan Mas Kala ya Pah,Dya akan coba bujuk Mas Kala agar berdamai dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu dan juga agar Mas Kala bisa berdamai dengan Papah,"lirih Dya saat melihat bagaimana sedihnya Papah Gara yang diabaikan oleh putra bungsunya.
"Temani saja dia Nak,Papah tahu jika dia tidak sekuat yang terlihat.Biarkan waktu yang membawanya pada Papah nanti,jangan memaksanya,itu akan semakin membuatnya terluka nanti.Biarkan Allah yang membukakan pintu hatinya dan kembali kepelukan Papah dengan sendirinya."lirih Papah Gara.
Jujur hatinya sakit setiap kali putra bungsu yang teramat dia cintai itu mengabaikan nya.Namun tidak ingin memaksanya juga untuk menerima semua yang terjadi.
Toh akar dari semua nya adalah dirinya sendiri yang terlalu berempati pada tempat yang salah.Papah Gara tidak menyangka jika pertemanan nya dengan seorang wanita yang berstatus janda mati dari sahabatnya itu akan melukai hati istri dan putranya.
Namun menyesal pun percuma,toh semua sudah terjadi dan saat ini Papah Gara pun sudah menutup komunikasi dalam bentuk apapun dengan wanita itu.
Meski apa yang dia lakukan saat ini tidak akan mengobati luka hati dihati Kala dan tidak akan mengembalikan Naura istrinya.Tapi setidaknya,dengan putusnya komunikasi antara dirinya dan wanita itu tidak akan menumbuhkan luka baru dihati Kala.
Bahkan Papah Gara pun sampai tidak pernah lagi menyambangi kantor nya karena kerap mendapat laporan jika wanita bernama Melisa itu masih sering mencarinya hingga kekantor.
Namun hal ini hanya diketahui oleh Arka.Mereka sengaja menutupi hal itu dari Kala karena tidak ingin Kala berpikiran semakin jauh dan semakin terluka.
__ADS_1
Beruntung wanita itu tidak pernah berhasil menemukan alamat rumah keluarga Mahesa.Jadi sampai saat ini rumah nya aman dari wanita yang entah memiliki niat apa terus saja mencari Papah Gara.
...***...
"Bulan depan Hana akan pindah kerumah utama keluarga Mahesa,dan setelah Hana disana,Papah ingin mengadakan resepsi pernikahanmu dengan Dya,bagaimana?apa kamu tidak keberatan?"tanya Papah Gara membuka suaranya disela makan malam yang mereka lakukan dirumah Arka.
"Terserah saja,aku ikut gimana baiknya saja,"jawab Kala tanpa mau melihat ke arah sang ayah.
"Baiklah,sepulang dari sini,kalian persiapkan semuanya.Papah ingin pesta yang meriah untuk menyambut kehadiran manantu baru dikeluarga Mahesa,"lanjut Papah Gara.
"Mmm,baiklah.Akan kami siapkan."jawab Kala lagi dengan singkat.
Usaai merampuungkan makan malam.Kala pun berpamitan untuk kembali ke hotel bersama dengan sang istri.
Sepanjang perjalanan menuju hotel,keduanya hanya menghabiskan waktu dengan diam.Tak ada yang membuka suara dan lebih fokus dengan pikiran mereka masing masing.
__ADS_1
Bahkan sampai didalam kamar hotel baik diam maupun Kala lebih memilih diam.Dya sendiri bukan nya mmendiamkan sang suami.
Hanya saja,saat ini Dya ingin memberi waktu untuk Kala untuk menenangkan dirinya.Dya tahu jika saat ini mood Kala sedang tidak baik setelah pertemuan nya dengan Papah Gara tadi.
"Kamu duluan yang pakai kamar mandi nya,"ucap Kala akhirnya mengeluarkan suaranya saat waktu akan menggunakan kamar mandi secara bergantian dengan istrinya.
"Apa sebaiknya kita gunakan kamar mandinya bersama saja?"saran Dya sedikit menggoda.
Meski sedikit takut dan gugup,Dya berusaha mencairkan suasana yang tiba tiba saja terasa canggung.Semoga dengan keberaniannya ini,membuat mood Kala kembali menjadi baik.
"Jangan memancingku sayang."
"Aku tidak memancingmu Mas,hanya memberi saran.Kalau tidak mau ya sudah,aku mandi dulu,"Dya pun segera beranjak.
Membuka hijabnya lalu menyampirkan begitu saja diatas sandaran sofa.Lalu masuk kedalam mengabaikan Kala yang menatap nya penuh dengan minat.
__ADS_1
Dya terkesiap saat pintu kamar mandi yang akan dia tutup didorong paksa hingga membuat Dya melangkah mundur beberapa langkah.
"Mas."seru Dya yang melihat jika Kala sudah masuk dan menutup pintu kamar mandi itu.