Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 11 Strategi


__ADS_3

Sreet!


Shaka melepas kumis dan janggut palsu yang menempel diatas bibir serta dagunya. Ia melihat bayangan dirinya di spion atas.


"Gatel banget, Sya!" Keluh Shaka yang sepertinya tidak nyaman dengan kumis dan janggut palsu yang melekat di wajahnya selama lebih dari 1 jam.


Syakilla juga membuka rambut palsunya dan meletakkannya asal di dashboard mobil. "Aku malah gerah banget."


"Kamu beli dimana sih?" tanya Shaka. "Pasti yang murahan nih!" ucap Shaka sambil tetap mengemudikan mobilnya.


"Minjem sama anak teater!" jawab Syakilla jujur. Ia memang meminjam semua atribut penyamaran ini kepada anak teater, salah satu mahasiswa sekaligus temannya di universitas.


"Pantesan, lama gak di cuci nih pasti" tebak Shaka karena ia merasa kulitnya mulai memerah. "Lagian bukan beli aja sih, Sya!"


"Buat apa? Dipakenya sekali doang!" balas Syakilla.


Mereka tiba di lampu merah, dan Shaka duduk menghadap gadis di sampingnya. "Ngomong-ngomong, kalau video tadi kita kirim ke Rion gimana ya Sya?" Shaka mulai membahas mengenai video yang berhasil mereka rekam tadi.


Syakilla menatap Shaka. "Kamu pengen pecah perang dunia ke tiga?"


Shaka mengerutkan kening. "Jadi, buat apa kita cari tahu kalau kita gak bisa kasih tahu ke pihaknya Chiara, Sya!"


"Tujuan kita kan supaya mereka tahu siapa calon tunangan Chiara yang sebenarnya, berdasarkan kecurigaan bang Caraka!"


"Dan menurutku sih yang paling aman kasih tau Rion dulu! Kalau om Ray, bisa gawat!"


"Tekanan darahnya naik, bisa tewas dia!" sambung Shaka.


"Huussh!" Desus Syakilla mengibaskan tangannya. "Ngomong sembarangan!" marahnya.


"Jadi, rekaman itu untuk apa, Sya?"


Syakilla mengangkat bahunya. "Aku juga gak tau. Terserah bang Caraka mau di apain."


"Yang pasti, cepat atau lambat, Chiara harus tau."


"Dan pasti dia akan tau. Dan aku udah ngerasa tenang karena kita punya bukti untuk menyelamatkan Chiara dari cowok toxic itu."


Shaka mengangguk. "Kirimin aku videonya, Sya!" minta Shaka.


Syakilla mendelik. "Buat apa?" tanya gadis itu tak suka.


"Buat...."


"Gak bisa!" Syakilla menggeleng.


"Aku janji gak akan ku sebarin ke siapapun."


"Enggak. Kamu mau jadiin referensi kan? Gimana caranya Daffin..."


"Isssh... enggak Sya!" potong Shaka cepat. "Kamu negatif thinking aja sama aku!" keluh Shaka dan ia melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Biasa aja kali mukanya, Ka!"


"Aku juga gak berhak nyimpen video ini. Aku akan serahakan sama Bang Caraka dan setelahnya itu urusan dia."


Shaka mengangguk. "Jadi, kita bantu cuma sampe sini, nih?" tanya Shaka.


Syakilla mengangguk. "Ku rasa iya."


"Ini masalah hati, Ka. Dan kita gak bisa paksa."


"Aku sih lebih dukung Chiara sama Abangku dari pada sama Daffin, apalagi abangku sama Sabella." Syakilla memandang lurus ke depan.


"Tapi balik lagi. Kita kan gak tau gimana perasaan Chiara." lanjut gadis itu.


"Aku lihat dia suka sama Caraka, cuma dia ragu!" balas Shaka.


Syakilla menarik satu sudut bibirnya. Sepertinya kamu benar, Ka. Dia hanya ragu sama perasaannya terhadap bang Caraka


"Gak usah sok menilai orang lain. Kamu sendiri gimana? Masih mikirin Syafa?" tanya Syakilla.


Shaka menggeleng. "Enggak. Aku gak pernah mikirin dia lagi," jawab Shaka tegas.


"Kenapa? Kalau cinta, kejar dong!"


Shaka tertawa pelan. "Dikejar juga percuma, Sya."


"Dia cintanya bukan sama aku. Dia udah bahagia sama pilihannya."


"Dari papanya Syafa sendiri."


Syakilla hanya bisa menganggukkan kepala. "Dia balikan sama mantannya yang toxic itu?"


Shaka mengangguk. "Itu kan pilihan dia. Papanya sampai gak bisa bilang apa-apa lagi."


"Ya udah sih, doain aja semoga rumah tangganya bahagia. Dan lelaki itu bisa berubah jadi lebih baik."


"Semangat, Shaka!" Syakilla mengepalkan tangannya.


"Kamu pasti bisa dapet jodoh yang lebih baik dari gadis itu!"


"Kalau kamu aja gimana, Sya?" potong Shaka cepat.


"Haaa? Gimana... gimana?" Syakilla tak percaya dengan apa yang ia dengar.


***


Sementara itu, Chiara dan Daffin saling diam di dalam mobil. Chiara sedikit waspada dan duduk agak menjauh dari Daffin.


Ia takut, jika tiba-tiba Daffin berbuat nakal padanya seperti apa yang ia lihat pada teman-teman pria itu.


"Kamu kenapa, Sayang!" tanya Daffin.

__ADS_1


"Ehm..." Chiara melirik Daffin sekilas. "Enggak... aku gak apa-apa..."


"Cuma agak ngantuk aja." lanjut Chiara.


"Belum jam 10 malam, Chi. Dan kamu bilang udah ngantuk." Daffin tertawa kecil.


"Ya," Chiara mengangguk. "Hari ini aku lumayan sibuk di rumah sakit, Mas. Jadi wajar aja kalau aku capek."


"Kalau kamu capek seharusnya kita bisa cancel pertemuan ini."


Chiara menarik sudut bibirnya. "Gak apa-apa. Kita kan udah janji. Lagi pula kasian juga teman-teman kamu yang mungkin udah luangin waktu buat kita."


Dafgin mengangguk dan fokus pada jalan raya.


"Oh, ya... kapan kamu akan handle rumah sakit sepenuhnya." Pertanyaan Daffin membuat Chiara sedikit tertegun. Apa urusannya dengan dia?


"Ah, maksudku..." Daffin salah tingkah saat menyadari Chiara tidak suka dengan pertanyaanya.


"Maksudku, kamu kan sudah jadi dokter, kamu bisa dong mulai menjalankan rumah sakit tanpa abang kamu."


"Lagi pula, Bang Rion kayaknya sibuk banget sama perusahaan dia."


"Kasian, dia jadi gak punya banyak waktu untuk keluarganya sendiri."


Chiara diam saja dan mengangkat bahunya. "Entahlah!"


Menurutnya, urusan seperti ini tidak layak ia ceritakan pada orang yang bukan saudara atau keluarga inti. Dia menganggap Daffin masih orang lain selagi belum ada pernikahan diantara keduanya.


Lagi pula, ia nyaman ada Rion yang masih memegang kendali atas rumah sakit Danadyaksa. Chiara sendiri yang masih enggan menerima sepenuhnya warisan itu. Dia harus lebih banyak belajar dari Rion.


"Aku akan tetap izinkan kamu bekerja meski kita sudah menikah, Chi!" Ini kalimat keseribu kali yang selalu Daffin ucap.


Chiara ingin bermain sebentar.


"Bagaimana kalau setelah menikah, aku ikut kamu dan tidak bekerja lagi, Mas?"


Daffin diam saja dan menatap Chiara dengan ekspresi yang sulit di tebak.


"Lalu rumah sakit siapa yang urus?" tanya Daffin setelah keduanya saling bungkam selama beberapa detik.


Chiara menarik satu sudut bibirnya. "Selama ini ada bang Rion. Dan dia juga pasti gak akan keberatan kalau aku lebih fokus sama keluarga kayak kak Bi."


Daffin kembali diam. Ia akan dapat apa jika menikahi Chiara yang warisannya dikendalikan oleh Rion?


Ayolah, Mas Daffin. Apa yang ada dalam fikiranmu itu?


*Mengapa malam ini aku semakin menaruh curiga padamu? Apa kamu punya tujuan lain dengan bertunangan denganku?


Apa yang kamu cari? Harta? Kamu kaya, Mas.


Cinta? Apa benar kamu mencintaiku? Tapi mengapa kamu sulit sekali meluangkan waktu untukku? Mengapa kamu tidak pernah berbagi cerita mengenai kehidupan pribadimu*?

__ADS_1


__ADS_2