
Daffin dan Abraham berada di ruang VIP di restoran yang sama. Mereka memang akan meeting, tapi bukan dengan klien perusahaan melainkan dengan orang yang akan memuluskan rencana jahat mereka.
Seorang pria sudah masuk ke ruangan itu sepuluh menit yang lalu, saat keduanya sedang makan siang bersama Ray dan Sania.
"Apa tugas saya Pak?" Tanya Pria bertubuh tinggi besar itu. Pria yang memakai jas rapi seperti seorang pengusaha, padahal tak lain dan tak bukan merupakan seorang bos komplotan para preman.
"Sabar sebentar!" Ucap Abraham sambil menyalakan rok*ok di tangannya.
"Seberapa besar keberhasilan kamu menghabisi nyawa seseorang tanpa terendus pihak kepolisian?" Tanya Abraham menelisik wajah pria dihadapannya. Asap mengepul di udara tak sedikitpun mengganggu ketiganya.
Biar bagaimanapun, Abraham terjun langsung menemui pria ini tanpa perantara. Jadi, kalau seandainya rencananya ini gagal, ia bisa terancam dipenjara.
Abraham memang tidak ingin membayar orang lain untuk menjadi kaki tangannya. Karena ia tidak bisa menanggung resiko kalau seandainya orang itu berkhianat.
"99 % Pak!"
Abraham menegakkan duduknya. "Kemana 1% nya?" Tanyanya serius. Ia ingin kesempurnaan. Tidak untuk 99% melainkan 100%.
Pria itu tertawa. "1%nya, kemungkinan terburuk. Orang-orangku tertangkap, tapi tenanglah. Mereka akan bungkam."
"Jangan khawatir, semua tergantung dengan jumlah rupiah yang anda bayarkan!"
"Jika bisa menjamin hidup keluarga anak buah saya, maka nama anda tidak akan disebut meski hanya satu huruf pun."
Abraham terkekeh. "Baiklah. Lenyapkan orang ini secara perlahan. Terserah bagaimanapun caranya."
Abraham mengambil sebuah foto berukuran 5 inci dari saku bagian dalam jasnya dan ia lemparkan asal di atas meja.
"Jangan buat dia mat* dengan mudah!
Pria itu menyeringai.
"Dia seorang dokter?" Tanyanya.
Abraham menatap sinis pria itu. "Seperti yang terlihat. Dan jangan banyak tanya."
"Jangan tinggalkan jejak apa lagi sampai gagal."
"Berapa imbalannya?"
"50 juta."
Pria itu tertawa. "50 juta? Ternyata klienku orang miskin!" Hina pria itu.
Brak!
Daffin duduk bersandar di kursi dan menaikkan kedua kakinya diatas meja. Membuat pria itu terkejut.
"Selesaikan dulu, baru minta imbalanmu!"
"Itu uang mukanya!" Bentak Daffin.
Pria itu tertawa. "Kesepakatan tetap di depan!"
"Sepuluh kali lipat!" Ucap pria itu memberi penawaran.
"Deal!" Abraham langsung setuju.
Mereka telah mencapai satu kesepakatan. Dimana Abraham akan melancarkan serangan kedua setelah serangan kemarin gagal.
Pria itu keluar dari ruangan lebih dulu. Sementara Daffin dan Abraham masih duduk di dalam.
__ADS_1
"Lupakan wanita jal*ng itu!" Ucap Abraham tiba-tiba karena sedari tadi Daffin kedapatan beberapa kali membalas pesan entah dari siapa.
Daffin menatap Daddynya. Ia tidak suka dengan perkataan ayahnya sendiri. Ia jelas-jelas masih mencari Sabella hingga saat ini meski belum menemukan titik terang.
"Banyak gadis yang bersedia membuka pahanya lebar-lebar untukmu, Daf!"
"Lupakan dia dan fokuslah pada pekerjaanmu!"
Daffin menggeleng. "Aku akan tetap mencarinya, Dad!"
"Kamu terlalu terobsesi!" Ucap Abraham sinis.
"Bukan! Aku hanya ingin dia!"
"Cih! Sama saja."
"Carilah di rumah sakit atau kuburan! Ku yakin gadis itu sudah mat* karena bunuh diri."
"Daddy salah! Dia kabur bersama managernya. Dan asistennya sendiri tidak tahu."
"Ck!" Decak Abraham. "Kamu dibohongi! Mana mungkin seorang asisten tidak tahu kemana bosnya pergi!"
"Terserah Daddy! Karena dari cctv apartemen, Caraka yang membawa keduanya pergi!"
"Kalau begitu, datangi pria itu dan tanya kemana dia membawa gadis tidak berguna itu!"
"Dia pasti akan bungkam!" Balas Daffin.
"Lebih baik aku cari dengan caraku sendiri! Dan kalau saatnya nanti tiba, aku akan menanyainya dimana Sabella, saat nyawanya hanya tinggal di leher!" Daffin menyeringai.
Abraham tertawa.
"Padahal dia tahu kalau Caraka itu pelakunya?"
Abraham tertawa. "Karena dia tidak punya cukup bukti untuk membantah hal itu."
"Anggap saja, si Ray itu sudah kalah, Daf!"
"Dia kira kita akan jatuh dengan mudah."
"Dad, masalah rumah sakit... kalau masih Rion yang memegang..."
"Jangan hiraukan itu. Balas dendam kita hanya untuk menghancurkan pria bernama Caraka dan jika kamu ingin bermain sedikit dengan Chiara, silahkan saja."
"Daddy tidak ingin besanan dengan dia!"
"Kita cari saja gadis kaya seorang pewaris di keluarganya."
"Ada, Dad! Dia masih kuliah."
"Siapa?" Tanya Abraham penasaran.
"Anak kedua dari Satya Bramantyo."
"Pemilik perusahaan pertambangan batu bara!"
"Dasar bodoh!" Marah Abraham.
"Perusahaan itu sudah diurus oleh putranya!"
"Lagi pula, Satya dan Ray saling mengenal. Idemu itu sangat buruk, Fin!"
__ADS_1
Daffin terkekeh karena berhasil memancing emosi pria tua di depannya.
Ponsel Daffin bersering. Ia menjawab panggilan di ponselnya.
Daffin mengubah ekspresinya menjadi marah. Rahangnya mengeras dan ia sontak berdiri dari kursinya.
"Kalian cari sampai ketemu! Kalau perlu ke pulau paling terpencil sekalipun!" Bentak Daffin.
"Jangan pulang hanya untuk kabar buruk!"
Daffin segera keluar dari ruangan itu dan meninggalkan daddynya. Ia marah karena anak buahnya gagal saat hampir mendapatkan Sabella.
Anak buahnya sudah sampai di Bali, pulau yang beberapa kali Sabella datangi.
Dan orang suruhannya sudah menemukan resort dimana Sabella menginap, namun sayang, gadis itu sudah check out sejak kemarin.
Daffin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak bisa menahan amarah karena anak buahnya yang kurang cepat.
Daffin mengirim pesan untuk mencari keberadaan Sabella baik di bandara, pelabuhan ataupun pulau lain.
"Aaarrrhhh!" Teriak Daffin di dalam mobil.
"Sabella, kalau saja video ini bisa ku sebar tanpa resiko, maka akan ku lakukan." Yang Daffin maksud adalah video rekamannya sendiri.
Ia masih memikirkan pesan Abraham, agar lebih berhati-hati, karena jika wajah Sabella di kenali oleh publik dan terbukti sama dengan video yang tersebar beberapa hari lalu, maka bukan tidak mungkin nama Daffin kembali di sorot.
Daffin masuk ke dalam kamar hotel yang sudah dirapikan setelah ia hancurkan beberapa hari yang lalu itu.
Kamar hotel yang letaknya dilantai paling atas dan memang khusus ia sediakan untuk dirinya sendiri bersama Sabella.
"Aku butuh pelampiasan!" Teriak Daffin saat masuk ke dalam kamar itu.
"Sabella! Aku bisa gil* kalau terus-terusan begini!" Dafin berteriak tak karuan.
Ia menenggak minuman beralkohol agar fikirannya sedikit lebih tenang.
Ia mulai mencari kontak seorang mucik*ari dan mencoba peruntungan dengan memesan tiga orang gadis bayaran sekaligus.
Ia ingin kembali mencoba, apakah ada gadis lain yang bisa mela*yaninya sebaik Sabella.
"Aku ingin sekarang!" Bentak Daffin.
"Dalam 15 menit, mereka harus ada di kamarku!"
Benar saja, belum 15 menit tiga gadis cantik sudah berada tepat di depan matanya.
Daffin meminta mereka masuk dan langsung ia minta untuk melayani kebejatannya.
"Ah! Kalian tidak berguna!" Daffin mendorong ketiga gadis yang sudah memar di bagian wajahnya itu ke lantai.
Daffin beberapa kali mena*mpar mereka karena tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Kalian tidak seperti Sabellaku!"
"Pergi!" Usir Daffin seperti orang gil*.
Ketiga wanita itu segera memakai pakaian mereka dan dengan cepat keluar dari kamar penyiksaan itu.
"Caraka! Ini semua karena dirimu!" Geram Daffin mengingat Caraka yang telah membawa Sabella dan Devi pergi.
"Tunggu saja! Aku akan membalasmu!"
__ADS_1