
"Bang, kita harus ke bandara dua jam lagi," Chiara memperingatkan suaminya yang masih malas-malasan dibalik selimut hotel
Dua malam mereka tinggal di hotel ini dan tanpa pulang ke rumah, mereka akan melanjutkan agenda yang sudah Rion susun. Mereka akan ke Paris pagi ini. Menghabiskan waktu beberapa hari di negara yang memiliki icon sebuah menara yang sangat terkenal.
"Batalin aja Chi. Atau di tunda sampai besok saja," jawab Caraka dengan suara parau.
"Ya gak bisa dong, Bang!" Chiara yang sedang membereskan koper menatap Caraka yang hanya terlihat kepala nya saja.
"Bang Dion sudah menjadwalkan semuanya. Gak bisa seenak kita mau mundurin atau batalin semuanya."
Caraka nyengir kuda. Ia menyibak selimut dan turun dari ranjang. Pria yang hanya memakai boxer itu menarik hidung Chiara.
"Udah mulai mendalami peran sebagai istri yang gak bisa dibantah nih!"
"Isssh!" Desis Chiara kesal sambil berusaha melepaskan tangan Caraka dari hidungnya. "Bukan mendalami peran, tapi sedang latihan menegakkan prinsip wanita selalu benar!"
Caraka tertawa sambil memeluk Chiara dari belakang. "Dendam banget sama suami sendiri!"
Chiara melirik kesal. Sebelum Chiara mempersiapkan koper, sebenarnya ia masih ingin malas-malasan di dalam selimut. Tapi, suaminya yang suka menggoda dan mengajaknya kembali berkeringat pagi ini membuatnya terpaksa bangun.
"Lukanya belum kering, Bang!" keluh Chiara.
"Jadi aku harus bagaimana? Harusnya kamu tahu dong cara mengatasinya."
Chiara melirik kesal. "Kamu juga dokter, kamu pasti tahu caranya!"
Caraka tertawa. "Aku pura-pura gak tau aja. Hahaha..."
"Aku mandi dulu!" Caraka mencium pipi yang seketika menjadi merona itu.
Chiara tertawa sendiri. Ia belum terbiasa di perlakukan seperti itu oleh Caraka. Dulu, ia menghargai pria itu sebagai abang dari sahabatnya dan sekarang malah berhak tidur seranjang dengannya.
Chiara segera bersiap. Ia sudah merias wajahnya dan segera check out karena waktu untuk menuju bandara sudah sangat mepet.
Caraka membawa dua koper besar milik mereka. "Ayo sayang!"
Mereka keluar dari gedung hotel dan mobil Rion sudah terparkir di depan hotel.
"Lama banget!" Kesal Rion yang sudah menunggu sedari tadi.
"Abang kenapa gak telpon aku?"
Rion melirik Caraka yang tersenyum kecil. "Direject sama suami kamu!"
Chiara menatap Caraka yang tersenyum lebar. "Belum lama sayang! Baru 10 menit."
"Ayo cepat! Jangan sampai kalian ketinggalan pesawat!"
Keduanya masuk kedalam mobil Rion dan segera melaju menuju bandara. "Kalau sampai pesawat sudah terbang! Kalian terbang naik ke punggung bangau!"
"Sudah di peringatkan berkali-kali, jangan terlambat! Jangan terlambat! Masih saja terlambat!" Omel Rion tak ada habisnya. Ia sendiri yang menjemput pengantin baru ini karena keluarga yang mengantarkan mereka sudah lebih dulu menuju bandara. Begitu juga Syakilla dan Shaka.
"Mental Bos emang begitu ya Chi? Ngomel melulu!" bisik Caraka pada istrinya.
__ADS_1
Chiara menempelkan telunjuk di bibir meminta Caraka untuk diam. "Iya-in aja."
Mereka tiba di bandara dan seluruh anggota keluarga sudah menunggu.
"Apa kabar sayang!" Peluk Sania pada putri kesayangannya.
"Baik, Mi!" jawab Caraka membuat Sania memicing curiga.
"Kok kamu yang jawab!"
"Sebagai bentuk tanggung jawab karen sudah..." Caraka melihat situasi, tidak mungkin ia mengatakan rahasia umum sepasang pengantin baru pada semua orang.
"Mami paham."
"Have fun ya sayang! Nikmati liburan kamu. Kunjungi tempat-tempat yang kamu ingin kunjungi." pesan Sania karena ia tahu, putrinya jarang sekali pergi liburan karena terlalu fokus pada pendidikan dan pekerjaan.
"Oke mi," balas Chiara. "Mami ingin oleh-oleh apa, Mi?" tanya Chiara.
"Gak ada. Kamu sehat dan selamat sudah lebih dari cukup."
"Caraka, jaga dia!" Pesan Ray pada menantunya.
"Siap, Pi!"
Mereka bersiap untuk masuk ke gerbang keberangkatan. "Hati-hati, Sya..." pesan Sora pada putrinya. "Ingat, Nak. Belum halal."
"Tenang, Ma. Ada abang sama Chia yang akan menjaga Sya."
"Oke, Ayah!"
Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya lepas landas. Di dalam pesawat, Caraka duduk bersama Chiara sementara Shaka duduk bersama Syakilla.
Caraka sedang merasa bosan karena istrinya malah tertidur bahkan saat pesawat baru beberapa menit mengudara.
Dan samar-samar ia mendengar obrolan Shaka dan Syakilla. Tapi, ia tetap berusaha untuk memejamkan mata menyusul Chiara ke alam mimpi.
"Prewedding di Paris. Honeymoon nanti, kita ke Maldives yuk!" Ajak Shaka pada Syakilla.
"Buang-buang duit gak sih, Shak?" tanya Syakilla yang tak mengeluarkan uangnya sedikitpun.
Shaka menggeleng. "Anggap saja sedang memberi penghargaan pada diri sendiri, Sya!"
"Tubuh butuh liburan setelah bekerja keras mencetak rupiah sampai nilai M-M-an!" ucapnya sambil tertawa.
"Dan aku rasa sebanding sih."
Syakilla tertawa. "Kamu gak menyesal milih aku, Shak?"
Shaka menggeleng.
"Uang kamu banyak loh! Kamu tampan, kaya, pintar, pekerja keras dan mapan di usia muda. Kamu bisa mendapatkan gadis mana pun. Kamu tinggal tunjuk, Shak!"
Shaka tertawa pelan. "Gak semua gadis sematre itu, Sya."
__ADS_1
"Kadang masih ada kok segelintir wanita yang lebih mengutamakan perasaan dan kenyamanan dibanding semua yang kamu sebutkan tadi."
"Syafa contohnya?" tanya Syakilla membuat Shaka menarik satu sudut bibirnya.
Shaka mengangguk. "Dia melihat cinta dari sisi berbeda, Sya!"
"Uang bukan segalanya. Ia bahkan mengejar pria yang terlihat brandal dimata orang lain."
"Tapi, pria itu membuatnya nyaman dan ia bahagia bersama pria itu."
Shaka pernah dijodohkan oleh seorang pengusaha kaya, yang merupakan relasi bisnisnya dengan putri tunggal pria itu.
Shaka yang sedang jomblo lebih dari empat tahun lalu itu, mencoba menjalani hubungan itu. Namun sayang, gadis bernama Syafa itu tetap memilih kekasih yang tak direstui oleh papanya sendiri.
Perlahan tapi pasti, akhirnya Syafa bahagia dan pria itu membuktikan bahwa dirinya layak menjadi suami Syafa.
"Kamu masih..."
"Aku memang pernah mencintainya..." potong Shaka sebelum Syakilla melanjutkan ucapannya.
"Tapi, aku sudah melupakan segalanya tentang Syafa. Dan entah sejak kapan yang ada hanya kamu, Sya!"
Syakilla tertawa. "Gak perlu panik begitu mukanya!"
"Aku takut kamu salah faham!"
Syakilla menggeleng. "Aku ingin menjalani semuanya dengan santai. Aku ingin kamu tetap jadi temanku, jadi sahabatku yang selalu ada kapanpun aku butuh."
Shaka mengangguk. "Aku akan jadi apa yang kamu mau, Sya."
"Karena itulah aku merasa nyaman saat bersama kamu."
"Aku jadi diriku sendiri. Tidak perlu sok jaim, apalagi sok baik."
Syakilla tertawa.
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu langsung menerimaku?" tanya Shaka.
"Cinta tidak butuh alasan!"
"Satu saja, Sya!" paksa Shaka.
"Sudah ku sebutkan tadi, Shak!"
"Ulangi!" pinta Shaka.
"Tidak akan!" ucap Syakilla. Ia senang berdebat dengan Shaka.
"Tidurlah! perjalanan masih lama." Ucap Caraka yang ada di belakang mereka.
"Atau ku turunkan kalian disini!"
Shaka dan Syakilla sama sama tertawa. "Dia fikir kita sedang naik angkutan kota."
__ADS_1