Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 41 Comblangin.


__ADS_3

Makan siang penuh kehangatan itu berlangsung cukup lama. Mareka yang memiliki waktu luang, tentu bisa berlama-lama. Tidak seperti Nath, dan Nair yang absen karena pekerjaan.


Nath adalah salah satu petinggi disebuah perusahaan besar. Ia punya tanggung jawab dan jadwal meeting yang padat.


Sementara Nair, seorang dokter yang tidak bisa meninggalkan jadwalnya secara mendadak. Antrian pasien sudah menunggunya.


"Cak, om mau menawarkan sama kamu, untuk ikut bergabung di rumah sakit Danadyaksa!" Ucap Ray pada Caraka.


Caraka cukup terkejut. Ia lantas langsung menatap Chiara yang juga kedapatan tengah menatapnya. Namun, dengan secepat kilat, Chiara kembali menunduk.


Caraka menghela nafas. "Saya sudah nyaman sama pekerjaan dan tempat kerja saya yang sekarang, Om," jawabnya.


Ray mengangguk. "Kalau kamu berubah fikiran, bisa langsung hubungi om atau Rion."


Caraka mengangguk.


"Heran banget aku, Tar!" Ucap Ray pada Akhtar.


"Caraka menolak. Nair juga menolak untuk jadi bagian dari rumah sakit Danadyaksa. Istrinya Nair pun juga menolak loh!" Keluh Ray.


Akhtar tertawa. "Bukan gak menghargai tawaran kamu, Ray. Mereka itu dokter. Bekerja sesuai kemampuan, bukan berdasarkan orang dalam."


"Mereka mengobati pasien, dimanapun sama aja. Kepercayaan pasien itu lebih penting. Bukan asal mampang di rumah sakit ternama lantas mereka jadi dokter terbaik," balas Akhtar.


Bukan untuk membela anak-anaknya. Tapi menjadi seorang dokter adalah panggilan dari hati. Dimanapun mereka bekerja, di rumah sakit kecil maupun besar, menurutnya sama saja.


Masalah gaji, itu adalah rezeki. Mereka sudah nyaman di rumah sakit tempat mereka bekerja saja sudah alhamdulillah.


Ia juga tahu, anak-anaknya menghindari hal yang akan menimbulkan ketidaknyamanan jika mereka bekerja di rumah sakit milik Ray seperti perlakuan Ray atau bahkan rasa iri yang mungkin akan ada di benak dokter lainnya karena menganggap anak-anaknya diistimewakan karena hubungan mereka.


"Ya kan seenggaknya aku kenal dekat sama dokter-dokter di rumah sakitku."


"Apalagi Nair, kan dia spesialis penyakit dalam. Jadi, kelak kalau ada penyakit di organ dalam tubuhku, aku bisa periksa sama dia."


Akhtar tertawa. "Dokter di rumah sakit kamu, lebih hebat dari dia Ray!"


Sania ikut tertawa. "Dia itu pengusaha, Tar! Kerjanya melobi klien terus!"


"Sampe-sampe melobi kamu biar Nair sama Naira masuk ke rumah sakitnya!" sindir Sania.


Satya tertawa melihat Ray.


"Bang Sat!" Ray meliriknya kecut. "Kita sama, Bang! Gak usah ngetawain!" kesal Ray pada pria yang bekerja sebagai pengusaha itu.


"Seenggaknya aku gak senekat kamu!" Balas Satya. "Melobi papanya untuk bisa narik anaknya!"


"Namanya juga usaha, Bang!" balas Ray.


***


Malam harinya...


Caraka duduk di lantai teras rumah. Ia menatap langit yang cerah.


"Tikungan tajam, lembah yang dalam dan tebing yang curam udah terlewat." gumam Caraka penuh syukur.

__ADS_1


Sekarang ia hanya perlu menjalani hari-harinya seperti biasa. Tanpa Daffin, tanpa Sabella dan mungkin tanpa Chiara.


"Mau ku ajari caranya untuk move on!" Shaka yang muncul dari dalam rumahnya ikut duduk di teras.


Shaka memang kerap kali ke rumahnya untuk sekedar mengantarkan adiknya pulang dan mengobrol dengan papanya.


Caraka menatap Shaka. "Move on dari siapa?" tanyanya.


"Ya yang mau abang lupain siapa?"


"Semuanya, Shak!"


"Berat!" Shaka terkekeh. "Kalau pakai cara biasa, ya berat bang!"


"Kalau caranya antimainstream ya gampang banget!"


"Mau ku bantu?" tanya Shaka.


Caraka menatap pria itu tanpa mengatakan apapun.


Shaka anggap itu jawaban ya. "Caranya naik ke atas!" Shaka menunjuk balkon lantai dua.


"Terjun bebas kepala duluan! Amnesia dan lupalah dengan semuanya!" Shaka tertawa dan menjauh karena kaki Caraka terus mengincar kakinya untuk di tendang.


"Pengusaha gil*a! Pengusaha edan!" Geram Caraka karena Shaka malah terus terbahak dan berguling menghindarinya.


Shaka tiba-tiba terdiam. Tatapannya dan Caraka bertemu dan Shaka memberi kode untuk melihat kearah gerbang rumahnya.


Caraka melihat arah yang dimaksud Shaka dan ia bisa melihat Sabella. Gadis yang ia lihat beberapa kali di kantor polisi dan di persidangan.


"Balik dulu, Bang!" Shaka pamit dan ia langsung masuk ke dalam mobilnya.


Sabella mendekat saat mobil Shaka sudah keluar dari gerbang.


Caraka mempersilahkan Sabella untuk masuk dan mereka duduk di kursi teras.


Keduanya hanya saling diam untuk beberapa saat setelah Caraka menawarkan minum dan gadis itu menolak.


"Besok pagi aku akan kembali!" ucap Sabella setelah mereka lama membisu.


Caraka menatap Sabella sekilas dan mengangguk. "Semoga selamat sampai tujuan!"


Sabella mengangguk. "Setelah ini, mungkin aku gak akan kembali lagi!"


Caraka mengangguk. "Aku tahu. Disini terlalu menyakitkan untukmu. Pergilah, Bel!" ucap Caraka tanpa menatapnya.


Sabella diam dan mengangguk. Tujuannya datang bukan untuk kembali mengemis cinta dari Caraka. Tapi untuk benar-benar melepaskan semuanya.


Di Bali, ia sempat meyakinkan diri bahwa semua masalah akan ia tinggal. Tapi nyatanya, demi memperjuangkan keadilan ia harus membali.


"Sekarang, aku benar-benar melepas semuanya, Mas! Bukan pergi karena lari dari masalah atau bersembunyi dari Daffin lagi."


"Aku akan benar-benar menjalankan kehidupan baru. Tanpa trauma, tanpa rasa takut, tanpa harapan kosong karena menantikan kamu."


"Bahagialah!" Ucap Sabella tulus.

__ADS_1


"Maaf, kalau selama ini kebersamaan kita justru membuat kamu tidak dipercaya oleh keluargamu."


"Maaf, kalau selama ini aku menyembunyikan soal Daffin dari kamu."


"Aku pergi, Mas!" Sabella berdiri dan berjalan meninggalkan teras rumah Caraka.


"Hati-hati, Bel."


"Maafkan aku juga kalau aku punya salah sama kamu!"


Sabella berbalik dan mengangguk.


***


"Mau ku bantu dekat sama Chiara?" tanya Syakilla saat Caraka melintasi ruang tv. Ternyata Syakilla masih berkutat dengan laptopnya. Pantas saja adiknya itu tidak mengantarkan Shaka sampai ke teras.


Caraka berhenti dan duduk di sofa yang berbeda. "Ngalir aja Sya, kayak air."


"Atau belajar move on aja deh!" jawab Caraka.


Syakilla tertawa sinis. "Yakin?"


Caraka mengangguk ragu.


"Yakin setelah kejadian sebesar ini?" tanya Syakilla.


"Perjuangan udah panjang kali lebar, eh malah mundur! Cemen!" ejek Syakilla.


"Ck!" Decak Caraka.


"Ngikut arus aja!" jawab Caraka plin-plan. Dia ingin bersama Chiara, tapi rasanya terlalu jauh untuk dia raih.


"Dih! Kok kedengarannya kayak e*ek yang ngambang di sungai yaaa... ikut arus!" Ucap Syakilla sinis.


"Tau ah! Lama-lama kamu kompor! Persis Nath sama Shaka!" Caraka naik keatas.


"Percaya deh bang! Move on lebih sulit dari pada maju untuk berjuang!" ucap Syakilla saat Caraka sudah sampai diatas.


"Pendukung abang banyak! Sayang banget kalau mundur!"


"Gak semudah itu, Sya!"


"Memang enggak! Yang mau abang raih itu mutiaranya om Ray! Bukan kerikil di jalan!" ucap Syakilla sebal.


"Comblangin makanya!" ucap Caraka pada Syakilla sebelum akhirnya pergi masuk ke dalam kamar.


"Buahahahahah!" Syakilla terbahak. "Nyerah nih?" tanya Syakilla menjerit-jerit.


"Haaa! Bang! Abang beneran nyerah nih?" tanya Syakilla lagi padahal ia tahu abangnya itu sudah membanting pintu kamar.


"Baiklah! Comblangin abang sama bestie kayaknya seru!"


"Lagian kasian banget yang udah tua!"


"Mana udah nunggu 9 tahun, pula." gumam Syakilla.

__ADS_1


__ADS_2