Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 31 Serangan Lagi


__ADS_3

Seminggu berlalu...


Sejauh ini situasi sangat aman. Tidak ada kejadian aneh dan membahayakan nyawa Caraka.


Raihan dan Caraka juga tampak semakin akrab, terlihat seperti teman, bukan seperti supir dan manjikan.


Caraka mampir ke R cafe sore ini. Ia turut mengajak Raihan masuk ke dalam. Awalnya pria itu menolak, tapi dengan sedikit memaksa akhirnya Raihan ikut masuk.


Caraka duduk di meja nomor 5 bersama Raihan. Ia sengaja tidak ingin masuk ke ruangan Rion. Lagi pula, mobil pria itu tidak terlihat terparkir di depan Cafe.


"Pilih menu yang kamu suka, Han!" Perintah Caraka pada Raihan saat seorang waitters memberikan buku menu pada mereka.


"Ngopi aja deh, mas. Saya gak lapar soalnya!" Jawab Raihan sambil menunjukkan kopi pilihannya yang ada di buku menu kepada waitters.


"Aku milkshake sama cake coklat yang biasa aja, mbak!" Caraka bukan tamu asing, hampir semua waitters sudah hafal betul dengan menu yang biasa Caraka pesan.


"Bang!" Syakilla membuat Caraka menoleh kebelakang.


Dia melihat adiknya itu sedang bersama Chiara. Keduanya memang sering menghabiskan waktu bersama.


"Sya! Kamu disini juga?" Tanya Caraka.


"Iya. Udah dari tadi sih, nih kita mau balik!" Balas gadis berpakaian rapi itu yang saat ini sedang diperhatikan lekat-lekat oleh Raihan.


Baru kali ini, Raihan bisa melihat wajah Syakilla dengan jelas dan dari jarak dekat. Selama seminggu ini, tiap kali ia menjemput Caraka ia tidak pernah bertemu dengan gadis itu, karena jam kerjanya yang lebih pagi dari pada Caraka.


Dan saat mengantar Caraka pulang, keduanya hanya sesekali bertemu.


Raihan menyadari, adik dari majikannya ini begitu cantik.


"Mata kamu, di jaga Han!" Chiara mengulum senyum melihat Raihan yang menatap sahabatnya itu tanpa berkedip.


Raihan jadi salah tingkah, apa lagi saat Caraka dan Syakilla kompak menatapnya.


Raihan menggaruk tengkuknya. "Hehe, habisnya mirip sama teman saya, Non!" Alasan Raihan saja. Padahal tidak ada temannya yang mirip dengan Syakilla.


Syakilla dan Caraka menghela nafas lega.


"Alah, alasan kamu aja!" Chiara tertawa melihat ekspresi Raihan yang kelihatan sedang berbohong.


"Kalian mau balik?" Tanya Caraka lagi.


"Iyalah!" Jawab Syakilla dan Chiara mengangguk.


"Kamu naik apa, Chi?" Tanya Caraka karena tidak menemukan mobil yang biasa Chiara pakai di halaman Cafe.


"Aku diantar supir, Bang!"


"Tapi kayaknya lagi jemput mami di rumah kak Bi. Soalnya aku juga bilang, agak lama di Cafe."


"Gabung dulu aja deh, nanti barengan aja baliknya," ajak Caraka berdiri dan menarik kursi untuk kedua gadis itu.


"Mau balik sekarang, kasian Raihan, dia baru pesen kopi soalnya." Lanjut Caraka.


Chiara dan Syakilla duduk satu meja dengan kedua pria sebaya itu.


"Aku tanya supir dulu, deh. Bisa jemput apa gak?" Ucap Chaira sambil mengambil ponsel di tas kecilnya.


Ia menghubungi seseorang dan meletakkan ponsel ditelinganya.


"Oh, ya udah. Gak apa-apa, Pak. Nanti biar saya yang hubungi mami."


Chiara mengakhiri panggilan dan kembali menghubungi seseorang.


"Assalamaualaikum, Mi?" Sapa Chiara.


"Waalaikum salam, Sayang!"

__ADS_1


"Mami belum balik dari rumah kak Bi?" Tanya Chiara.


"Belum sayang! Queen sama Prince drama banget pengen ikut! Padahal mereka besok harus sekolah!"


Chiara tertawa. "Bawa aja sih, Mi. Chia juga kangen sama mereka."


"Gak bisa sayang! Mereka besok masih harus sekolah."


"Ya udah deh, selamat bujuk membujuk Queen sama Prince, Mi."


"Mami gak usah minta supir jemput Chia. Chia balik sama Syakilla sama bang Caraka, Mi."


"Kebetulan kita ketemu di Cafe abang."


Panggilan diakhiri bertepatan dengan datangnya menu yang dipesan Caraka dan Raihan.


"Gimana?" Tanya Syakilla.


"Mami lagi riweh gak bisa balik karena Queen sama Prince yang minta ikut!" Chiara tertawa.


"Tau sendirilah, gimana Queen!" Lanjut gadis itu.


Syakilla dan Caraka tertawa kompak. Keduanya cukup faham dengan keponakan mereka itu.


"Dari masih orok juga, Queen udah begitu, Chi!" Ucap Syakilla. "Paling aktif, paling cerewet, paling gak bisa diem."


"Hahaha, kalau gak begitu bukan anak bang Rion, Sya!" Chiara bahkan mengakui keponakannya itu persis seperti Rion- abangnya.


"Bener banget!" Sahut Caraka setuju.


"Zidane yang cowok aja gak seaktif dia," lanjut Caraka.


"Wah, Zidane itu asli banget kayak bang Zra, ya gak Sya?" Tanya Chiara.


"Bener. Kalem banget dari baby. Hahah." Syakilla tertawa. Ia mengakui bahwa Zidane, putra Zoya dan Ezra memang lebih pendiam tapi pintar.


"Tau nih!" Chiara menatap Raihan yang tersenyum kaku. "Padahal nama bocah bocah itu juga gak asing bagi dia!"


"Oh, ya? Kamu kenal, Han?" Tanya Caraka heran.


"Kenal, Mas. Saya sering antar Ibu sama Bapak ke rumah Mas Rion dan sering main juga sama Queen sama Zidane."


"Kok aku baru tau ya?" Gumam Caraka.


Syakilla mencebikkan bibir. "Siapa suruh sibuk kerja, terus."


***


"Bang, ngerasa kalau mobil dibelakang ngikuti kita terus gak sih?" Syakilla yang duduk di kursi belakang bersama Chiara membuat Caraka terkesiap melihat mobil jeep di belakang mereka.


"Emangnya mobil itu ngikutin kita, Sya?"


"Gak yakin sih, tapi kayaknya iya," jawab Syakilla.


"Kamu gimana sih?" Caraka sedikit panik. Ia yang duduk disamping Raihan menegakkan tubuhnya. "Iya apa enggak?"


"Mobil aman, kan Han?" Caraka bertanya pada Raihan.


"Han, gak ada peledak di mobil ini, kan?" Tanya Chiara sedikit meragukan keselamatan mereka.


Chiara dan Syakilla beberapa kali melihat kebelakang dan mobil itu tidak mendahului mobil mereka meski Raihan mengurangi kecepatan mobil.


"Han, kita berhenti aja deh. Aku sangsi kalau mobil ini gak ada peledaknya." Caraka jadi trauma mengingat kejadian lebih dari seminggu yang lalu.


"Tenang, Mas! Mereka gak akan sebodoh itu, menyerang dengan cara yang sama!" Jawab Raihan enteng.


"Kamu santai banget sih, Han!" Marah Chiara. "Kita gak bisa jamin kalau mereka bukan orang jahat!"

__ADS_1


Raihan tertawa. "Non mau lihat, mereka orang jahat atau bukan?"


Raihan menghentikan mobil mereka dipinggir jalan yang sepi. Dan benar saja, mobil itu berhenti sekitar seratus meter dibelakang mobil mereka.


"Lihat! Mereka memang orang jahat!" Tunjuk Raihan dengan dagunya.


"Kalau gak ada yang diincar, gak mungkin mereka ikut berhenti." lanjut Raihan.


"Jadi, kita harus gimana?" Tanya Caraka.


Raihan tersenyum lebar. "Kencangkan sabuk pengaman!" Perintahnya.


Dan dalam sekejap, mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi.


"Kamu mau bunuh kita, Han?" Bentak Caraka karena jantungnya hampir terlepas.


Caraka sesekali melihat spion dan benar saja, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi juga.


"Astagfirullah...!" Teriak Syakilla dengan suara bergetar.


"Han! Jangan sok jadi pembalap!" Teriak Chiara.


"Raihaaaan!" Teriak mereka bertiga karena Raihan tak kunjung mengurangi kecepatan bahkan saat mereka sampai ditikungan dan Raihan dengan kepiawaiannya membanting stir dan berbelok dengan aman.


"Hahahahah!" Raihan tertawa dan ia menghentikan laju mobilnya perlahan.


Mobil berhenti dengan keadaan rambut dan wajah mereka bertiga yang kacau balau.


"Malah ketawa!" Caraka memukul lengan Raihan kesal.


Raihan tak peduli dan ia malah memutar arah. "Say hello sama penjahat gagal guys!"


Raihan membuat mereka bertiga melihat kearah keluar dan tampaklah mobil jeep yang mengikuti mereka menabrak pohon dengan kondisi kap mesin terbuka dan berasap.


Dua orang di kursi depan terluka lumayan parah dan dibantu dua orang lainnya di kursi belakang untuk keluar dari mobil.


Raihan membuka kaca mobil, menekan klakson dan melambaikan tangan saat keempat pria itu melihat kearah mobil mereka.


"Jangan lupa segera ke rumah sakit, Mas..." teriak Raihan sambil menyeringai.


Raihan kembali menutup kaca mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.


"Han, kita gak akan dikejar polisi nih?" Tanya Caraka saat mereka mulai menjauh dari lokasi kecelakaan itu.


Raihan tertawa. "Memangnya salah kita apa, Mas?"


"Kita biarkan mobil yang mengalami kecelakaan," jawab Caraka. "Entar di kira tabrak lari, loh!"


Raihan tertawa. "Yang nabrak siapa mas? Mereka nabrak pohon."


"Bukan kita yang nabrak!"


"Tapi, Han..."


Raihan menggeleng. "Jadi mas mau turun, terus periksa kondisi mereka gitu?"


Raihan terkekeh. "Yang ada, mulut mas dibekap, terus dibuat pingsan!"


"Lalu setelahnya, bayangin aja mas Caraka mau jadi apa!"


Caraka diam saja. "Kamu yakin mereka orang jahat, Han?"


"Yakinlah! Udah dari 2 hari terakhir mereka nangkring di sekitar rumah sakit, Mas."


"Kamu bisa santai gini?" Tanya Caraka tak percaya karena Raihan tak mengatakan apapun selama dua hari ini.


Sementara Syakilla dan Chiara tidak ingin bicara karena kesal dengan kelakuan Raihan.

__ADS_1


__ADS_2