
Caraka langsung berlari keluar dan Rion menyusul dibelakangnya. Chiara juga berlari mengikuti Caraka dan abangnya.
Caraka berlari sebisanya karena kobaran api terlihat jelas saat ia sedang menuruni anak tangga.
Racun api yang tersedia di Cafe tidak cukup untuk memadamkan api. Karyawan cafe juga menarik selang air dan berusaha memadamkannya.
"Telpon pemadam!" teriak Rion pada karyawan yang kebingungan.
Pengunjung Cafe yang lumayan ramai membuar Rion harus bersusah payah untuk memberi instruksi agar tidak ada yang mendekat.
"Motor saya, Mas!" Teriak seorang gadis hampir menangis. Motor gadis itu terletak dekat dengan mobil Caraka. Karena kendaraan keduanya terletak di perbatasan antara tempat parkir mobil dan motor.
"Dik, menjauhlah!" teriak Rion menarik tangan gadis itu yang berusaha mendekat untuk memindahkan sepeda motornya.
"Tapi, motor saya bisa terbakar!" teriak gadis itu.
"Dengarkan saya!" Perintah Rion pada pengunjung Cafe.
"Saya akan ganti rugi jika ada kendaraan kalian yang terbakar!" teriak Rion. "Tapi, Please! Jangan mengganggu orang-orang yang sedang berusaha memadamkan api".
Caraka hanya bisa berdiri lemas melihat mobilnya yang bari ia beli setahun lalu sudah hampir seluruhnya dilahap api.
Sudah tidak ada yang bisa di harapkan lagi untuk diselamatkan. Hampir semua badan mobil sudah terbakar. Jas, tas dan semua barang-barang di dalamnya sudah pasti juga habis terbakar.
"Bang!" Chiara menepuk bahu Caraka.
Caraka menoleh. "Sudah habis, Chi!"
Tak berselang lama, mobil pemadam masuk tiba bersama mobil polisi.
Pemadam kebakaran langsung memadamkan api sementara Rion dan Caraka menemui pihak kepolisian.
"Ini mobil baru, Pak! Saya curiga, mobil ini sudah disabotase!" ucap Rion pada pihak kepolisian.
"Apa anda yakin tidak meninggalkan benda pemicu terjadinya arus pendek, seperti powerbank?"
Caraka menggeleng. "Saya tidak membawa power bank, Pak. Dan ponsel saya ada di saku." Caraka menunjuk saku celananya.
"Di dalam hanya ada jas dan tas kerja saya. Tidak ada laptop juga di dalamnya."
"Anda tidak lupa dan meninggalkan benda seperti kanebo atau kain di ruang mesin mobil?" tanya seorang polisi lagi.
Caraka menggeleng. "Saya yakin, tidak pak!"
"Baiklah, kami akan pasang garis polisi dan melakukan penyelidikan terkait dugaan anda tentang adanya sabotase terhadap mobil ini."
Rion membiarkan pihak kepolisian menyelidiki kasus ini meski nanti tidak ditemukan bukti apapun dan kejadian ini murni kecelakaan belaka. Setidaknya, Rion merasa puas karena tidak terus menebak-nebak.
Rion tidak bisa mengabaikan hal sekecil apapun, apalagi ini terkait keselamatan Caraka.
Rion dan Caraka duduk di bangku Cafe bersama Chiara juga. "Kamu, ku antar pulang, Cak!" ucap Rion.
"Naik taxi aja, Yon!"
__ADS_1
Rion menggeleng. "Aku gak mau ambil resiko."
"Chi! Kamu ikut mobil abang!" Perintah Rion. "Mobil kamu biar supir yang ambil."
Caraka hanya bisa diam memandangi sisa mobilnya yang hanya tinggal kerangka itu. Mobil yang ia beli dari hasil menabung bertahun-tahun sudah lenyap dalam sekejap.
Bagaimana bisa mobil yang terbilang baru dan belum dua minggu yang lalu ku servis rutin, bisa terbakar begini? Apa mungkin ini benar rencana sesorang?
"Astaga!" Ucap Caraka tiba-tiba karena menyadari sesuatu.
"Ada apa, Bang?"
"Kenapa, Cak?"
Chiara dan Rion sama sama kaget karena keduanya juga masih shock dengan kejadian barusan.
Caraka menatap keduanya bergantian. "Tadi, pas di jalan, ada yang mengikuti mobilku dari belakang, Yon! Sampe aku hampir satu jam muter-muter doang."
"Terus, di perempatan sana," tunjuk Caraka di perempatan lampu merah sekitar 500 meter dari Cafe. "Mobil itu gak mengikuti mobilku lagi!"
"Fix! Ini sabotase!" Ucap Rion yakin.
"Abang yakin?" tanya Chiara meragukan Rion.
"Yakin, Chi. Kamu fikir untuk apa mobil itu mengikuti Caraka yang muter-muter doang?"
"Tapi kan mobil itu gak ngikutin lagi, Bang!" Chiara coba menyangkal.
"Ya karena orang-orang di dalamnya tahu kalau Caraka udah curiga." jawab Rion.
"Kita bahas nanti, Yon! Gak aman disini!" bisik Caraka karena saat ini mereka sedang di Cafe berbaur dengan pengunjung lain.
"Iya, Bang! Seenggaknya kita tunggu kabar dari pihak kepolisian dulu."
***
Pelukan hangat Sora menyambut kepulangan Caraka. Kabar terbakarnya mobil sang putra sampai dengan cepat bak hembusan angin.
"Kamu gak kenapa-kenapa, Nak?" Sora menangkup pipi putranya.
Caraka menggeleng. "Aku baik- baik aja, Ma. Mama jangan khawatir lagi ya..."
Caraka memeluk mamanya. Rion dan Chiara langsung pamit pulang karena hari sudah hampir malam.
"Terima kasih, Yon, Chia!"
"Sama-sama tante."
"Hati-hati!" ucap Caraka pada mereka berdua.
Caraka duduk lemas di sofa. "Mama ambil minum dulu!"
"Jangan, Ma. Aku udah banyak minum di Cafe Rion."
__ADS_1
Abi yang baru selesai mandi, ikut bergabung. "Kenapa bisa terjadi hal seperti ini, Cak?"
Caraka menggeleng. "Gak tau, Pa. Tiba-tiba mobil terbakar. Dan aku belum sampe 10 menit turun dari mobil."
"Jadi, kalau aku lanjut terus, udah dipastikan aku terpanggang di dalam mobil."
Sora memejamkan matanya. Terima kasih ya Allah, Engkau masih melindungi putraku dari marabahaya.
"Alhamdulillah, Nak. Kamu masih terlindung dari bahaya."
"Bukannya baru di servis, kan?" tanya Abi lagi. Caraka mengangguk lemah.
"Hati-hati bang!" sambar Shaka yang baru saja datang bersama Syakilla.
Semua orang menatap Shaka yang memilih menyalami Abi dan Sora.
Shaka duduk di dekat Caraka. "Dalam dunia bisnis, cara licik seperti ini udah biasa terjadi, Bang!"
"Tapi aku dokter, Ka." jawab Caraka. "Dokter mengabdi, bukan bisnis!"
Shaka tertawa pelan. "Abraham tua di dunia bisnis, Bang!"
"Abang lupa? Dia rival abang sekarang!"
Caraka, Abi dan Sora menghela nafas berat. Syakilla juga terduduk lemas menyadari abangnya berada dalam bahaya.
"Tapi..."
"Tetap waspada. Aku cuma bisa pesan seperti itu." Lanjut Shaka yang sejak remaja memang sudah dicekoki dengan ilmu bisnis oleh Satya, ayahnya.
"Kalau abang berharap kalian lawan di ring, atau adu tembak di lapangan! Itu cuma mimpi!"
"Dunia bisnis itu mainnya cantik, terselubung dan yang pasti jejak sulit dicari."
"Jadi, aku harus gimana, Ka?"
"Ya, kalau gak mau nyerang, cukup hati-hati aja nunggu serangan." Jawab Shaka santai.
"Shaka, dia seorang dokter! Fikirannya cuma menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa orang." ucap Abi. "Dia gak akan faham dengan serang menyerang." Abi menarik satu sudut bibirnya.
"Kalau yang nyerang virus, dia baru faham ya, om?" Shaka tertawa.
Caraka memijat kepalanya yang terasa pusing. "Aku gak ngerti harus gimana."
"Tetap tenang, dan jangan takut. Stay cool biar musuh makin kepanasan!" Jawab Shaka.
"Yang ada musuh nyerang terus, Ka!" balas Syakilla.
Shaka menatap Syakilla. "Dia terpuruk pun, musuh bakalan tetap nyerang Sya, sampai mereka puas dan merasa cukup."
"Biar aja mereka nyerang terus," ucap Shaka. "Sambil kita ngumpulin bukti."
"Kali ini bisa lolos, lain kali?" ucap Caraka.
__ADS_1
Shaka tertawa. "Waspada! Just it!"
"Karena seni perang tertinggi adalah menakhlukan musuh tanpa berperang." ucap Shaka yang merupakan salah satu kata kata bijak milik Panglima Jendral yang jenius.