
"Cari tahu sekarang!" Perintah Ray pada seseorang melalui panggilan telfon.
Ia sedang berada di dalam kamarnya. Chiara, sang putri baru saja keluar dari kamar itu. Chiara menceritakan padanya detail kejadian mobil Caraka terbakar di parkiran R Cafe.
"Ray...." Sania mengusap bahu suaminya lembut. "Tetap positif thinking sayang!"
Ray mengangguk. Untuk itulah ia meminta seseorang menyelidikinya dan membuktikan sendiri bahwa ini murni karena kecelakaan.
"Dalam situasi seperti ini, kita harus mencari tahu kejanggalan sekecil apapun sayang," Ray menarik tangan Sania untuk mendekat dan memeluk wanita yang sudah menemaninya dalam ikatan pernikahah sekitar 30 tahun lamanya.
"Dan ini hal besar, Sayang! Nyawa Caraka gak bisa kita bawa main-main."
"Bagaimana kalau Caraka masih berada di dalam mobil, tadi?"
"Dan hal paling janggal menurutku adalah mobilnya itu, mobil mahal. Baru setahun dan rutin di servis."
"Seharusnya kejadian semacam ini minim terjadi, sayang."
Sania menatap wajah Ray. "Sayang, ku rasa apa yang Chiara minta ada benarnya."
"Seret mereka ke jalur hukum dengan video dari Caraka sayang. Mereka nipu kita loh!" pinta Sania.
"Bertunangan sama Chiara tapi memperbudak wanita lain. Bukankan sama saja itu kayak nipu kita?"
"Mereka main-main dibelakang kita, Ray!"
Ray mengusap rambut Sania. "Ku rasa gak perlu, Sayang!"
"Kenapa?"
"Ini masalah pribadi. Video itu juga sudah dihapus dengan susah payah oleh pak Abraham."
"Pihaknya juga sudah membersihkan nama dengan membawa pelaku palsu."
"Kalau kita laporkan masalah ini, bukan gak mungkin media berbondong-bondong datang. Dan yang pertama kali mereka cari bukan kita, tapi Chiara."
Sania membulatkan matanya Ia menyadari apa yang suaminya katakan ada benarnya.
"Karena ini kisah percintaan dan putri kita pemeran utama yang dikhianati," lanjut Ray.
"Media akan terus mengejar Chiara, sayang!"
"Dan aku gak mau itu terjadi." Ray menggeleng lemah. "Chiara harus tetap nyaman. Aku gak mau dia malu atau risih saat keluar rumah."
"Dia seorang dokter yang bertemu puluhan pasien. Bisa kamu bayangkan kalau sampai rasa percaya dirinya hilang karena wajahnya muncul di tv dengan kasus seperti itu? Ditipu calon tunangan sendiri?"
Sania menggeleng. Ray mengusap pipi istrinya. "Terlalu memalukan, kan?"
"Dan dendam Daffin juga gak akan hilang begitu aja, Sayang."
"Kita sibuk ngurusin kasus dan mental Chiara, Dan saat itu juga, Daffin akan menyerang kita lewat orang-orangnya."
"Makin kacaunkan?" tanya Ray.
__ADS_1
"Kita gak perlu maju hanya untuk mencari kemenangan, Sayang!"
"Kita main cerdas aja."
"Jadi, lebih baik sekarang kita fokus menjaga diri. Termasuk melindungi Caraka."
"Aku udah kecolongan sekali. Dan aku gak mau kecolongan lagi."
"Caraka bukan orang lain, San. Dia keponakan Akhtar. Aku merasa harus melindunginya dengan sungguh-sungguh."
***
Jam 11 malam, Ray berhasil mendapatkan informasi penting dari orang suruhannya. Ray membuka laptop dan menerima kiriman rekaman cctv parkiran rumah sakit tempat Caraka bekerja.
Ray bisa melihat dalam rekaman cctv itu, seorang pria sedang menyapu di sekitar parkiran dan beberapa detik menghilang karena terhalang mobil Caraka. Tapi saat muncul, pria itu tetap menyapu di parkiran itu.
"Apa mungkin ini pelakunya? Menghilang selama beberap detik untuk menempelkan peledak di mobil Caraka?" gumam Ray menebak-nebak.
Ray terus memperhatikan rekaman cctv itu.
"Beberapa menit kemudian, Caraka keluar dari gedung rumah sakit dan masuk ke dalam mobil." gumam Ray lagi.
"Kalau memang ada peledak di mobil Caraka, harusnya mereka meledakkannya saat mobil dinyalakan, atau pun saat Caraka masih ada di dalam mobil."
"Tapi, bisa saja peledak menggunakan timer, bukan remote control."
"Itu artinya selama dua hari ini mereka mengikuti Caraka dan mereka sudah tahu jadwalnya pulang."
"Mereka mengatur waktu sedemikian rupa agar mobil meledak saat Caraka di perjalanan pulang."
"Selisih satu jam?" Ray membandingkan waktu saat pria itu diduga memasang peledak dan saat mobil meledak di parkiran R Cafe.
"Harusnya ini terlalu lama untuk Caraka sampai ke rumah."
"Apa Caraka pulang lebih cepat?"
Ray menutup laptop dan memikirkan teka-teki yang ia sendiri belum tahu jawabannya.
"Baiknya aku menunggu penyelidikan pihak kepolisian."
"Benar ada peledak atau hanya masalah kelistrikan mobil."
***
Rion datang ke R Cafe sekitar jam 11 siang. Dari perusahaan, ia langsung ke R Cafe karena karyawan Cafe menghubunginya. Pihak kepolisian kembali melakukan penyelidikan dan mulai menemui titik terang.
Rion meminta pihak kepolisian bicara di ruangannya karena ini adalah hal penting dan ia tidak ingin ada pihak musuh yang mungkin saja sedang berada dekat dengannya.
"Dugaan anda kemungkinan besar benar, Pak." ucap salah satu polisi kepada Rion.
"Kami menemukan barang bukti di duga sisa peledak di bagian bawah mobil."
Rion membulatkan mata tak percaya. Benar-benar ada unsur kesengajaan dalam kasus ini.
__ADS_1
"Kami akan meminta korban untuk datang ke kantor untuk kami mintai keterangan lebih lanjut."
"Barang bukti akan kami selidiki lebih lanjut dengan tim ahli."
"Baik, Pak. Saya dan korban akan datang, kapanpun anda minta," jawab Rion.
"Dan saya mohon bantuannya untuk mengungkap kasus ini hingga pelakunya di temukan, Pak!"
"Baik pak. Saya permisi dulu." Rion mengantarkan pak polisi keluar dari ruangannya.
Rion menghela nafas panjang. Ia memilih tiduran di sofa karena hari ini sungguh mengejutkan. Ia hanya menduga, kasus ini hanyalah sabotase dengan merusak mesin mobil atau memotong selang bensin ataupun membakar dengan puntung rokok.
Ternyata ada peledak yang menempel di mobil itu. Rion merasa ini tidak lagi bisa dianggap main-main.
Rion langsung menghubungi papinya. Biar bagaimanapun pria itu perlu tahu.
"Ada perkembangan soal musibah kemarin, Pi."
"Papi akan kesana, Yon!" Ray langsung ingin datang ke cafe dan membahas hal ini disana.
Rion menunggu Ray sambil memeriksa pekerjaannya melalui tab di tangannya.
Ia memang sangat sibuk mengurus pekerjaannya. Perusahaan, Rumah sakit, Sekolah Cahaya Bangsa, dan R Cafe. Untung saja Bintang bisa membantunya mengurus Or-Bit. Ya, perusahaan yang bergerak di bidang fashion yang sejak dulu ia rintis.
"Ayah..." Queen dan Prince masuk ke dalam ruang kerjanya disusul Bintang yang berjalan dibelakangnya.
Rion menyambut putri dan putranya dengan pelukan hangat. Queen duduk di samping Rion, sementara Prince duduk di pangkuannya.
"Kamu jemput mereka sayang?" tanya Rion.
Bintang mengangguk. "Iya. Kebetulan Queen pulang lebih cepat karena guru-guru sedang rapat."
"Kamu tahu aku disini?" tanya Rion.
"Aku tadi nelfon asisten kamu dan katanya kamu di sini."
"Kita makan siang bareng?" tawar Bintang
Rion mengangguk. "Boleh deh. Sekalian bareng papi."
"Opa mau kesini, ayah?" tanya Queen senang.
"Iya sayang!"
"Sama oma?" tanya Queen lagi.
"Belum tahu sayang! Kenapa? Kamu mau ikut opa sama oma?"
"Boleh bunda?" tanya Queen pada Bintang. Gadis kecil itu meminta persetujuan bundanya karena biasanya Bintang akan melarang kalau Ray dan Sania sedang sibuk atau tidak enak badan.
Anak-anaknya yang aktif membuat Bintang sedikit khawatir pada kesehatan mertuanya. Ia khawatir sepasang suami istri itu kelelahan karena bermain dengan keduan anaknya.
Ceklek! Pintu di buka.
__ADS_1
"Opaaaa!"