Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 35 Keisengan Daffin


__ADS_3

Chiara sedang dalam perjalanan dari rumah sakit menuju rumah bersama supir pribadi yang biasa mengantar dan menjemputnya.


Ia yang duduk di kursi belakang membuka jendela mobil saat ada wanita tua meminta-minta di samping mobilnya.


"Terima kasih, Nak! Semoga Allah balas semua kebaikan kamu!" Wanita tua berusia sekitar 70an tahun itu menengadahkan tangan keatas mendoakannya saat ia memberikan uang rupiah berwarna biru.


"Semoga Allah selalu melindungi kamu." lanjut wanita tua itu.


"Amin..." Chiara meng-aminkan.


"Sama-sama, Nek!"


Wanita itu pindah ke mobil di belakang mobil yang Chiara tumpangi. Chiara hendak menutup kembali kaca jendela mobilnya. Namun, Chiara melihat Daffin yang tersenyum kearahnya karena mobil mereka bersebelahan.


Daffin mengangkat tangannya. "Hai!" Ucap pria itu tanpa suara dan Chiara tahu, apa yang dia katakan.


Chiara membuang muka melihat keanehan sikap Daffin. "Sabelle udah gak ada. Jangan sampai dia mengincarku menjadi budaknya seperti Sabella dulu."


Chiara menggerakkan bahunya. Ia bergidik ngerih hanya dengan membayangkan menjadi budak ranjang pria licik itu.


Perasaan Chiara mulai tidak enak karena Daffin terus mengikuti mobilnya.


"Pak, bisa lebih cepat?" Pinta Chiara.


Perjalanan menuju rumah masih lama hingga akhirnya Chiara meminta untuk berhenti di kantor Rion. Dia berharap akan lebih aman jika berhenti di sana.


"Pak, kita ke perusahaan aja. Bang Rion sama papi kayaknya masih disana!" Perintah Chiara lagi.


"Pi, mobil Chia dibuntuti sama Daffin! Chia mau ke perusahaan karena tempat itu yang paling aman dan paling dekat." Ucap Chiara melalu panggilan telpon kepada Ray.


Chaira segera menghubungi Ray karena ia takut terjadi sesuatu pada dirinya. Ia teringat akan kekhawatiran maminya yang mengatakan dirinya bisa saja terkena imbas atas balas dendam Daffin pada Caraka karena mereka tak kunjung khawatir.


"Iya sayang! Papi tunggu!"


Chiara bisa sedikit bernafas lega. Jalan raya yang ramai membuatnya tak perlu terlalu khawatir, karena Daffin tidak mungkin berulah di tempat ramai begini.


"Pelan-pelan aja, Pak. Yang penting kita selamat!" Pinta Chiara pada pria berusia 35 tahun itu. Ia tak ingin supir melaju dengan kecepatan tinggi. Karena yang ada nanti bukan celaka karena ulah Daffin, tapi karena supirnya yang ugal-ugalan.


"Siap Non!" Jawab Pria itu. Pria itu sama seperti Raihan yang sudah terlatih.


Menghadapai Daffin sendirian bukan hal menakutkan baginya. Melaju cepat dijalan raya bisa ia lakukan agar terhindar dari Daffin. Tapi, pria itu menghargai perintah Chiara yang memintanya untuk tidak melaju dengan kecepatan tinggi. Ia juga tidak mau mengambil resiko atas keselamatan Chiara.


Sementara itu, Daffin tertawa di dalam mobilnya. Ia senang karena melihat wakah Chiara yang tampak tegang dan menyembunyikan ketakutan.


Dan Daffin semakin senang saat melihat Chiara buru-buru menutup kaca mobilnya.


"Baru ku buntui udah panik begitu!" Kekeh Daffin.


"Gimana lagi kalau ku culik?" Daffin tertawa puas. "Ck! Tapi aku gak akan melakukannya." Daffin berubah fikiran. Ia tidak ingin menculik Chiara. Ia hanya ingin membuat keluarga Ray panik.


"Buang-buang duit dan tenaga aja," lanjut Daffin.

__ADS_1


"Setelah ini, melaporlah ke papi kamu dan pria bernama Caraka itu." Daffin menunjukkan seringainya.


"Biar mereka sibuk melindungimu!"


Sementara di kantor Danadyaksa.


"Rion!" Ray membuka ruangan Rion. Ia segera menemui putranya setelah mendapat kabar dari Chiara bahwa Daffin mengikuti putrinya itu.


"Ada apa, Pi?" Rion melihat papinya masuk dan berdiri di depan meja kerjanya. "Duduk, Pi!"


"Gak perlu, Yon!"


"Adikmu dibuntuti Daffin."


Rion langsung menegakkan duduknya. Ia menatap Ray dalam. "Astaga! Kenapa hobi mereka selalu membuntuti kita sih?"


"Gak ada apa, cara yang lebih keren dari pada jadi penguntit begitu!" kesal Rion.


"Terus, bagaimana sekarang, Pi?"


"Chiara mau kesini! Kalau ke rumah terlalu jauh. Dan dia gak mau ambil resiko."


Rion mengangguk. "Rion turun ke lobby, dulu!" Rion langsung berdiri dari kursinya.


"Iya. Jemput adikmu disana! Papi tunggu disini!"


"Nanti biar dia pulang bareng papi!"


"Bang!" Chiara langsung berjalan cepat saat mobilnya berhenti di depan lobby.


"Pak, pulang aja! Chiara biar bareng sama papi!" ucap Rion oada supir yang mengantar Chiara.


"Iya, Mas!"


"Pak! Hati-hati!"


Rion membawa Chiara masuk ke dalam gedung. Jam pulang tinggal beberapa menit lagi, tapi tidak masalah karena gedung ini akan tetap ramai. Banyak divisi yag lembur hari ini.


"Gimana ceritanya si Daffin itu bisa ngikutin kamu?" tanya Rion.


"Dari rumah sakit?" tanya Rion lagi.


Chiara menggeleng. "Gak tau, Bang! Chia taunya pas di lampu merah. Dia angkat tangannya dan say hai sama Chia sambil senyum-senyum gak jelas."


"Bikin geli, tau!" Keduanya masuk ke dalam lift dan di dalamnya Rion tertawa lepas.


"Dasar sakit jiw*a!"


Chiara menatap Rion kesal. "May be dia memang sakit jiw*a, Bang!"


"Percuma tajir, kalau duitnya gak di manfaatin!" sindir Chiara lagi.

__ADS_1


"Konsul kek ke psikolog. Gak perlu lah ke luar negeri. Di rumah sakit kita juga ada."


"Ku kasih free kalau dia mau periksa!" Chiara bersungut kesal.


Rion tertawa. Ia merangkul bahu Chiara. "Sabar ya..."


"Polisi udah kasih surat panggilan ke mereka. Tapi belum ketemu sama Daffin dan Abraham."


Chiara menatap Rion heran. "Mereka buronan, Bang?" tanya Chiara.


"Belum sih, masih mau diperiksa polisi. Belum ditetapkan sebagai tersangka."


"Barang bukti masih belum lengkap, tapi udah mengerucut ke Abraham."


"Sabar aja! Pihak kepolisian pasti segera menyelesaikannya!"


***


Sementara itu di tempat lain....


"Mas.... perasaan aku kok gelisah banget, yaa..." Sora ikut duduk di kursi teras bersama suaminya.


"Aku kok dari tadi mikirin Caraka terus, Mas!"


Abimanyu menatap istrinya dan tersenyum kecil. "Dia cuma seminar. Deket kok sayang!"


"Bentar lagi juga sampai di rumah!" Abi melihat langit yang mulai gelap karena waktu magrib hampir tiba.


"Iya... tapi aku gak tenang, Mas!"


Abi menghela nafas. "Masuk ke dalam, yuk. Ambil wudhu dan kita ngaji dulu sebelum sholat magrib!" Ajaknya meraih tangan Sora dan membawa istrinya itu masuk.


"Kalau gak tenang, berdoa sayang! Bukan malah mondar-mandir, sama bermasam muka begini!"


"Abang belum balik, Ma?" tanya Syakilla yang masih berada di lantai dua tepatnya diujung tangga.


"Belum, Sya! Mama khawatir banget ini!" ucap Sora.


Syakilla sebenarnya juga sedang merasa khawatir karena ia tidak bertukar kabar dengan Caraka seharian ini.


Syakilla juga sudah berusaha menanyakan dimana posisi pria itu dan kapan akan sampai ke rumah. Namun, pesannya belum juga di balas.


Saat selesai sholat, Abi mendengar getar ponsel yang ia letakkan di rak buku di dalam mushollah kecil rumahnya itu.


"Caraka!" gumamnya membuat Sora dan Syakilla langsung mendekat.


Abi menjawab panggilan dan seketika wajahnya menegang.


"Iya... iya...!"


"Papa segera kesana!"

__ADS_1


__ADS_2