
Caraka duduk segera menuju ruang rawat dimana Raihan baru saja dipindahkan. Ia sendiri tak ingin di rawat karena kondisinya baik-baik saja.
Ia hanya mengalami luka ringan di keningnya. Dan badannya sudah tak selemas saat kecelakaan itu terjadi.
"Han!" Caraka duduk di samping brangkar dimana Raihan tengah terbaring.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Apakah pusing?"
Kening pria itu di perban karena terdapat sekitar 9 jahitan. Tangan dan lakinya aman. Tidak ada luka serius lainnya.
Raihan tertawa tanpa suara dan ia menggeleng.
"Udah begini masih bisa ketawa Han?" Caraka ikut tertawa.
Bukan karena hal lucu. Keduanya tertawa karena takdir begitu tak bisa ditebak. Malang tak bisa ditolak, tapi pertolongan sang pencipta begitu luar biasa.
"Hari ini, kayak naik roller coaster banget, Mas!" ucap Raihan pertama kali.
Caraka mengangguk. Jika Raihan salah arah atau terlambat membating stir, sudah dipastika kondisi mereka jauh lebih buruk dari ini.
"Tapi kamu jago!" Caraka mengacungkan jempolnya. "Kita masih seperti ini tuh udah keajaiban banget, Han!"
"Dan satu lagi keajaiban yang ku rasa. Aku cuma merem aja, tau-tau mobil udah parkir di depan pohon! Hahaha..."
Raihan tertawa. "Maaf ya Mas, belum bisa jagain Mas Caraka dengan baik."
"Ini udah lebih dari cukup, Han!" suara Abi diambang pintu membuat keduanya menoleh.
Abi, Sora dan Syakilla masuk ke dalam ruang rawat itu. Sora langsung memeluk putranya yang berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Alhamdulillah, anak mama gak kenapa-kenapa kan sayang?"
Caraka mencium punggung tangan mamanya. "Aku percaya, ini atas campur tangan doa mama, kami bisa selamat, Ma."
Sora tersenyum. "Han, terima kasih telah menjaga putra saya."
Raihan mengangguk dan tersenyum kecil. "Sudah menjadi tugas saya, Bu."
"Maaf saya hanya bisa melakukan ini, harusnya saya bisa bekerja lebih baik lagi."
Abi menggeleng. "Kamu sudah melakukan yang terbaik, Han!"
"Saya sudah lihat berita tv. Melihat kondisi mobil kalian, saya gak menyangka kalian bisa selamat dan baik-baik saja seperti ini."
"Entahlah Pak, satu keajaiban yang sangat saya syukuri."
__ADS_1
Syakilla memegang perban di kening Caraka. "Sakit, Sya!"
Syakilla terkekeh. "Kirain palsu kayak di sinetron, Bang!"
Sora dan Abi tertawa. "Sya... jangan ganggu abangmu!"
"Aneh, Ma. Dia percaya diri banget. Gak di rawat, gak di infus, gak berbaring di brangkar. Sya gak yakin perban ini asli."
"Ck! Abang kamu kan strong!"
Mereka melihat kearah pintu yang terbuka dan tampak Ray beserta keluarga masuk ke dalam.
"Cak! Syukurlah kalian selamat!" Ray memeluk Caraka erat.
"Gil*a! Udah kayak kucing aja nih anak om Abi."
"Nyawanya banyak!" Canda Rion sambil tertawa.
"Jenis persia pula, Bang!" sambar Syakilla membuat Caraka tertawa.
"Hahah... dia mah kucing garong!" Balas Rion membuat Syakilla tertawa.
"Han!" Rion menyapa Raihan yang tengah menatapnya. "Good job!" Rion mengacungkan ibu jarinya memuji ketangguhan Raihan padahal mereka belum mendengar cerita lengkap dari kejadian itu.
"Om gak menyangka, mereka menyerang dalam waktu secepat ini, Cak! Bahkan saat kalian ada di luar kota."
"Kalau gak, mana mungkin dia kebetulan nyerang di daerah yang sepi."
Rion mengangguk. Caraka dan Raihan bergantian menceritakan apa yang terjadi hampir dua jam lalu itu.
Mulai dari ada yang sengaja ingin menabrak mobil mereka. Hingga mobil mereka ditabrak dari belakang dan tembakan yang membuat mereka panik.
Syakilla dan Chiara yag berdiri berdampingan hanya bisa bergidik ngerih. Tidak bisa mereka bayangkan betapa menegangkannya kondisi di mobil mereka tadi.
"Mobil yang mengejar kami tertabrak truk. Dan aku sempat melihat, yang duduk di kursi kemudi adalah Abraham."
"Astagfirullah!" ucap Sora dan Abi bersamaan.
"Ya Allah!" Syakilla menatap Chiara.
"Ab... Abraham, Mas?" tanya Raihan tak percaya.
Caraka mengangguk. "Warga mengatakan dia meninggal di tempat. Tapi gak tau, benar atau gak!"
"Ya Allah!" Sora memeluk Abi. Ia merasa semua begitu tak terduga. Abraham yang ingin melenyapakan putranya malah tewas saat menjalankan aksi jahatnya.
Satu sisi ia prihatin, tapi di sisi lain ia bahagia dan lega karena putranya selamat.
__ADS_1
"Pi, ada pihak kepolisian!" Chiara membuat Ray menoleh kearah pintu dimana pihak kepolisian sudah menunggu di luar.
Caraka didampingi Ray, Rion dan Abi menemui beberapa orang polisi yang ingin meminta keterangan darinya.
"Sebaiknya ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan!" perintah salah seorang polisi.
Caraka mengangguk. "Baik pak. Saya akan ikut. Dan bisakah supir saya diperiksa besok pagi atau sore. Dia masih butuh perawatan, Pak!" minta Caraka mengingat Raihan yang masih terlihat lemah karena kehilangan banyak darah.
Akhirnya Caraka ditemani tiga orang pria itu bersiap untuk pergi menuju kantor polisi terdekat.
"Pak, bagaimana keadaan orang di mobil yang satu lagi?" tanya Ray basa-basi.
"Hanya ada satu orang dimobil itu. Dan sudah dipastikan meninggal dunia."
"Bolehkan kami melihatnya, pak?" tanya Abi.
Polisi akhirnya membawa mereka ke ruang jenazah dimana Abraham sudah dibaringkan dan menunggu kedatangan keluarganya.
Caraka, Abi, Rion dan Ray sudah berdiri disamping jenazah Abraham. Ray membuka kain yang menutupi seluruh tubuh pria itu.
Ray menghela nafas berat melihat wajah Abraham juga terdapat beberapa luka jahitan.
Tenanglah disana Abraham. Semoga anda ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya. Batin Ray.
Saya tetap mendoakan anda, meski anda sudah beberapa kali ingin mencelakai putra saya. Batin Abimanyu.
Om Abraham, sungguh Tuhan telah memberikan karma semudah membalikkan telapak tangan! Batin Rion.
Semoga setelah ini, Daffin tidak melanjutkan penyerangan terhadapku, Pak Abraham! Batin Caraka.
Mereka keluar dari ruang jenazah bertepatan dengan datangnya Daffin. Daffin berlari saat melihat Caraka. Ia menarik Caraka ke tembok dan menghajar wajah Caraka.
"Pembunu*h!" tudingnya pada Caraka yang sedang menahan perih di wajahnya.
Abi dan Rion serta petugas kepolisian berusaha menahan Daffin. Tapi Caraka mengangkat tangannya keatas tanda agar membiarkan Daffin meluapkan amarahnya.
"Pecunda*ng!" Maki Daffin lagi. Ia melayangkan kepalan tangannya, namun sayang, Caraka bisa mengelak.
"Kamu akan membayar ini semua, Caraka!" geram Daffin.
Caraka tersenyum kecut. "Jika ini salahku, aku rela dihukum Fin!"
"Tapi, kalau kamu juga terbukti ikut andil dalam setiap kejahatan yang menimpaku! Maka tidak akan ada ampun untukmu!" Caraka menatap tajam pria yang sedang emosi itu.
"Aku akan pastikan tubuh gagahmu ini kurus kering di balik jeruji besi!"
Daffin melepaskan cengkeraman di kerah baju Caraka. Ia melihat beberapa orang polisi yang mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Daffin menatap tajam Caraka dan menudingnya tanpa mengatakan apapun lagi dan setelahnya masuk ke dalam kamar jenazah.