Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 45 Kesempatan


__ADS_3

Bintang yang sedang menikmati quality time bersama suami dan kedua anaknya, dengan menonton film kartun di kamarnya mendadak bingung sendiri melihat pesan yang Caraka kirim ke nomornya.


"Siapa Bi? Kok gitu banget ekspresi kamu?" tanya Rion saat melihat Bintang berulang kali mengerutkan kening lalu senyum-senyum tidak jelas.


"Selingkuhan kamu?" tebak Rion bercanda.


Bintang menatap Rion dan tertawa pelan. "Lihat!" Bintang menunjukkan pesan chat di ponselnya.


Rion mengambil ponsel itu dari tangan istrinya. Pria 29 tahun itu membaca nama pengirimnya. "Lah, si bujang expired?" Rion tertawa pelan.


"Hus!" Desus Bintang. "Sembarangan aja kalau ngomong!"


Rion mana peduli, ia lantas membaca isi pesan yang dikirim oleh si bujangan 33 tahun itu.


Kak Bi, please! Hubungi Chiara dan minta dia datang ke rumah kakak sekarang!


Aku lagi ajak dia jalan, eh malah ketemu saingan! Mana tuh cowok sok akrab banget lagi sama Chia!


Ya kak... please!


Rion tertawa. "Licik juga nih bang Cak! Minta bantuan ke ibu peri."


Rion memberikan ponsel itu pada istrinya "Biarin aja sayang! Biar dia belajar bersaing yang sehat!"


"Semakin ketat persaingan, semakin dia bisa mengerti seberapa besar rasa cintanya terhadap Chiara."


"Singa aja harus bersaing sama sejenisnya untuk bisa memangsa rusa!" lanjut Rion yang kembali fokus pada layar tv, sama seperti Queen dan Prince.


"Kamu fikir ini alam liar!" sindir Bintang yang menyamakan Caraka seperti singa di padang sabana.


Ayolah kak Bi. Aku lagi nembak ulang Chiara nih! Chiara belum sempat jawab, dan cowok ini malah datang.


Bintang kembali menunjukkan pesan itu pada Rion.


"Kasian, sayang!" Bintang memelas.


Rion terkekeh. "Emang nasibnya itu selalu digantung, ya Bi!"


"Gimana?" tanya Bintang.


"Terserah kamu, Bi."


Bintang segera menghubungi Chiara setelah mendapat izin dari Rion. Ia meminta Chiara datang. Ia juga meminta Caraka untuk datang karena Chiara mengatakan sedang bersama pria itu.


Setelah ini, Bintang harus membuat satu alasan yang meyakinka agar Chiara tidak curiga.


***


"Bareng aku aja, Chi!" Ajak Caraka saat mereka keluar dari Cafe. Keduanya berjalan berdampingan.


"Ehm... boleh." jawab Chiara setelah berfikir beberapa detik.


"Aku telpon supir dulu ya... Tadi lagi izin buat isi bahan bakar di SPBU!"


Chiara menghubungi supirnya dan Caraka tersenyum senang sambil mengepalkan tangannya di udara dan berkata Yes berkali-kali tanpa suara saat Chiara berdiri membelakangi.


Caraka dan Chiara segera menuju rumah Bintang. Chiara menatap Caraka yang sedang mengemudi.


"Aku mau kasih kesempatan untuk hubungan kita!"


Ciiiiit!


Caraka mengerem mendadak membuat tubuh keduanya terhuyung kedepan lalu terpental kebelakang.


"Astagfirullah!" teriak Chiara.


"Kamu nerima aku?" tanya Caraka tak percaya.


Mereka saling menatap satu sama lain. Dada kedunya naik turun. Jika nafas Chiara tersengal karena ulah Caraka yang menginjak rem secara mendadak, maka berbeda dengan Caraka yang dadanya bergemuruh hebat mendengar sebaris kalimat yang gadis itu ucapkan.


"Kamu menerima aku, Chi?" tanya Caraka lagi.


Chiara menatap manik mata berbinar itu. "Hanya memberi kesempatan. Belum sepenuhnya menerima, karena aku juga harus belajar mencintai kamu sebagai seorang pria."


"Bukan sebagai sosok abang dan teman seperti selama ini."


"Bukan sebagai sepupu kak Bi dan abang kandung Syakilla." Chiara menggeleng pelan. "Bukan."


"Tapi sebagai pria yang aku lihat dengan cinta. Sebagai pria yang ku kenal dengan hati."

__ADS_1


"Dan semua itu butuh proses."


"Aku hanya memberi kesempatan untuk diriku, dan kamu."


"Untukku belajar mencintai kamu, dan untuk kamu yang terus belajar meyakinkan aku."


Caraka melepas sabuk pengamannya. Ia mengambil kedua telapak tangan Chiara lalu menggenggamnya.


"Lihat aku, dan belajarlah untuk mencintaiku semampu kamu, Chi!"


"Belajarlah untuk terbiasa dengan wajah dan hati ini." Caraka meletakkan satu telapak tangannya di dada pria itu.


Chiara bisa merasakan jantung Caraka memompa darah lebih cepat. Ia tahu, pria ini gugup sekaligus senang. Terlihat jelas dari pancaran di bola matanya.


"Aku akan menunggu kamu sampai akhirnya kamu benar-benar bilang ya..."


"Aku..."


"Ssst!" Chiara meminta Caraka untuk berhenti bicara.


"Jangan berharap lebih dan berekpektasi terlalu tinggi bang!" Chiara bukan mematahkan semangat Caraka, tapi ia hanya tidak ingin lagi salah dalam mengambil keputusan.


Cukup saat ia terburu-buru untuk bisa bersama Daffin dan nyatanya ia tidak berhasil.


"Aku cuma kasih kesempatan."


"Jika suatu saat nanti, nyatanya kita lebih banyak gak cocoknya, aku gak mau kita memaksakan hubungan ini."


Caraka mengangguk.


"Aku faham Chi..."


"Tok! Tok! Tok!"


Kaca jendela mobil diketuk, dan Caraka langsung membulatkan mata saat seorang pria berseragam berdiri di sebelah mobilnya.


Caraka membuang nafas kasar sementara Chiara mengulu*m senyum melihat wajah Caraka yang sudah pasrah.


"Selamat siang, Pak!" Sapa pria berseragam itu.


"Selamat siang," jawab Caraka.


"Anda melanggar aturan dengan parkir sembarangan."


Caraka sudah pasrah. Ia memang mengerem mendadak dan untung saja, ia berhenti di jalan yang tidak terlalu ramai dan memang disisi kiri jalan.


Ia juga tidak sempat memperhatikan rambu dilarang parkir. Karena terlalu excited mendengar kalimat Chiara tadi.


Caraka menunjukkan surat kelengkapan mobilnya. Mobil bekas yang baru ia beli beberapa waktu lalu.


"Anda kami tilang karena tidak menaati rambu lalu lintas."


"STNK anda kami tahan!"


Caraka mengangguk. "Maaf pak! Silahkan!" ucapnya.


"Memang salah saya yang tidak melihat rambu larangan parkir." lanjut Caraka.


"Dia siapa, anda?" tanya pak Polisi khawatir ada tindak kekerasan atau asusila terjadap Chiara.


"Dia adik sepupu saya, Pak!" jawab Caraka.


"Benar begitu, dik?" tanya pak polisi pada Chiara.


Chiara mengangguk. "Benar, Pak!"


Pak polisi memberikan surat tilang pada Caraka. "Baiklah, silahkan lanjutkan perjalanan kalian!"


***


"Kak....!" Teriak Chiara saat masuk ke dalam rumah besar milik abangnya itu.


"Kakak kamu masih diatas, Chi!" jawab Rion mengagetkan keduanya.


Rion sedang duduk di sofa. Chiara dan Caraka ikut bergabung.


"Rapi amat, Yon?" tanya Caraka saat melihat Rion sudah rapi dengan kemeja lengan panjang dan celana jeansnya.


"Iya, mau kemana?" tanya Chiara.

__ADS_1


Rion meletakkan tab nya dan tersenyum kecil kearah keduanya.


"Terus, untuk apa Kak Bi minta Chia untuk datang, Bang?" tanya Chiara lagi.


"Kalian sudah sampai?" suara Bintang dari arah tangga membuat Chiara dan Caraka menoleh.


Bintang turun bersama anak-anaknya. Queen berjalan di depan sementara Prince menggandeng tangannya.


"Ciee... mau ajak tante jalan-jalan ya sayang?" Chiara menjemput dua keponakannya.


"Bener banget, Chi!" Sahut Rion.


Caraka merasa kebingungan, ia tak merencanakan apapun lagi setelah meinta Bintang menghubungi Chiara.


Mereka berkumpul di sofa. Queen langsung menempel pada Chiara sementara Prince masih berada dipangkuan Bintang.


"Chi, kakak bisa minta tolong?" tanya Bintang.


"Ada apa kak?" tanya Chiara serius karena sangat jarang Bintang meminta tolong padanya.


"Kalian berdua, tolong ajak anak-anak main ke mall!"


"Kakak ada urusan penting sama abang kamu!"


Chaira mengangguk. "Tapi..." Chiara melirik Caraka yang belum menjawab apakah dia setuju atau tidak.


"Caraka pasti mau, Chi! Ya kan Cak?" Lirikan mata Bintang membuat Caraka tak bisa menolak.


"I... iya. Aku bisa kok. Tenang aja!"


"Queen sama Prince mau ikut ke mall sama tante?" tanya Chiara pada anak anak.


Queen sudah berseru senang sementara Prince masih belum ingin lepas dari bundanya.


"Prince gak mau ikut?" tanya Caraka. "Nanti uncle dokter traktir es krim deh!" bujuk Caraka.


Prince menatap wajah Bintang. "Seru loh, Uncle sama tante pasti nanti ajak kalian beli mainan."


"Prince mau beli apa?" tanya Caraka.


Dan akhirnya Prince dengan senang hati ikut dengan mereka setelah banyak iming-iming yang mereka tawarkan.


"Kami duluan ke mobil bang! Anak-anak pada gak sabar ni!" ucap Chiara sambil berlari kecil bersama anak-anak.


Caraka menatap Bintang dan Rion yang sama-sama menahan tawa.


"Kalian mau kemana sih, Kak?" tanya Caraka. "Kalian gak benaran ada urusan penting kan?"


Rion merangkul bahu Bintang. "Ini lebih penting dari segala urusan, Cak!"


"Titip anak-anak, and have fun ya..."


Rion dan Bi berjalan lebih dulu. "Kalian gak lagi ngerjain aku kan?" tanya Caraka masih penuh kecurigaan.


Rion berbalik. "Anggap aja balas budi, Cak!" Rion mengerling.


Caraka tahu maksudnya. Balas budi untuk permintaannya pada Bintang tadi.


"Ayo sayang!"


Caraka berjalan dibelakang mereka. "Aku masih penasaran, kalian mau kemana sih?" bawel Caraka karena ini pasti rencana mendadak yang mereka berdua buat.


"Ke hotel, produksi baby yang ke 3!" bisik Rion saat Caraka berjalan disampingnya.


Caraka diam mematung, sementara Rion dan Bi berjalan lebih dulu sambil tertawa.


"Kurang asem!" Ma*ki Caraka. "Mengambil kesempatan dalam kesempitan banget kamu, Yon!"


"Hahahah... Nitip anak-anak, Cak! Kami balik jam 10 malam nanti!"


Caraka melihat jam di pergelangan tangannya. "Gil*a! Hampir 10 jam, Yon?"


Ia menghitung waktu yang akan dihabiskan oleh pasangan itu hingga jam 10 malam nanti.


"Hahah... aku kan kuat, Cak!"


Caraka menghela nafas. Beginilah kalau meminta bantuan dari pebisnis. Begini pula kalau yang dimintai bantuan terlalu cepat dan pintar mengambil kesempatan.


"Huuh! Seenggaknya aku bakalan sama Chiara terus." Gumam Caraka sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2