Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 29 Kuat Terlihat Lemah


__ADS_3

"Han, kita ke rumah om Ray sebentar..." perintah Caraka pada supir pribadinya. Mereka mengendarai mobil mahal yang juga di fasilitasi oleh Ray.


"Baik, mas."


Caraka sengaja minta dijemput lebih cepat dari biasanya. Malam tadi, setelah ia tahu bahwa Sabella dan Devi akan pergi ke luar negeri berkat bantuan Ray, ia mendadak jadi sulit tidur.


Caraka menebak-nebak bagaimana Ray bisa tahu keberadaan mereka berdua dan bagaimana bisa pria 60an tahun itu berinisiatif untuk mengirim Sabella ke negara yang sangat jauh.


Caraka dipersilahkan masuk oleh asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuknya.


Caraka langsung berjalan ke dalam dan diminta untuk duduk bersama Ray di kursi belakang.


"Tumben pagi-pagi udah disini?" Tanya Ray menyambut kedatangan Caraka. Caraka duduk bersama Ray.


"Sebelumnya terima kasih karena telah mengirimkan Raihan beserta mobil itu." Caraka tertawa kecil.


"Jujur saya merasa tidak enak hati. Tapi saya tahu, saya akan lebih mendapat masalah lagi kalau saya menolaknya." Caraka kembali tertawa.


"Nah, kamu tahu! Kalau kamu tolak, saya akan kirim 6 bodyguard sekaligus," jawab Ray sambil bercanda.


"Om, maaf sebelumnya...." Caraka mulai serius.


"Saya cuma ingin bertanya, darimana om tahu tentang keberadaan Sabella sementara saya sendiri yang mengatakan bahwa dia sudah pergi ke luar negeri?" Tanya Caraka sedikit ragu, takut kalau Ray salah faham.


Ray tersenyum kecil. "Dari teman-temannya, ah... maksud om, dari asistennya."


Caraka membulatkan mata. "Kalau dia bisa memberi tahu om, bukan gak mungkin dia juga akan kasih tau Daffin, Om."


Ray tersenyum kecil. "Dia setia kok, Cak!"


"Dia baru kasih tau om setelah om bilang kalau om akan bantu dia. Setelah om kasih tau siapa om sebenarnya dan tujuan om mengirim gadis itu ke luar negeri adalah semata-mata untuk melindungi gadis itu."


"Lalu..."


"Om kirim orang langsung ke tempat mereka berada. Om langsung minta orang itu mengantarkannya ke tempat dimana Sabella dan temannya bisa memulai hidup baru."


"Kamu khawatir?" Tanya Ray.


Caraka menggeleng. "Bukan khawatir, hanya saja terlalu merepotkan om!"


"Saya gak kerepotan, Cak!"


"Ini harusnya bukan hanya jadi tugas kamu untuk melindungi gadis itu. Tapi om juga merasa harus ikut bertanggung jawab."


"Mumpung orang-orang Daffin belum sampai ke pulau itu."


"Om tau?" Tanya Caraka heran karena Ray bisa tahu bahwa orang suruhan Daffin belum mencari Sabella ke pulau itu.


Ray tertawa. "Kalau kita dekat dengan teman, kita harus lebih dekat dengan musuh, Cak!"


Caraka mengerutkan kening


"Jangan difikirkan!" Ray tertawa melihat pria yang terlalu lurus ini.


Ray pernah mengatakan pada Rion bahwa Caraka adalah orang ke dua yang terlalu lurus setelah Nair diantara perkumpulan pria muda itu. Dan itu masih berlaku sampai sekarang.


"Fokus saja pada pekerjaan dan tetap waspada."


Caraka mengangguk. Nasehat Ray tak jauh beda dengan Shaka. Yaitu waspada.


Caraka berpamitan, bersamaan dengan Chiara yang juga akan berpamitan dengan Ray.

__ADS_1


Caraka hanya bisa menunduk karena tak berani menatap gadis yang ia cintai tepat di depan orang tua gadis itu.


Bukan ingin jadi pengecut, tapi ia sadar diri kalau dirinya belum pantas.


"Pi, Chia berangkat duluan." Pamit Chiara mencium punggung tangan Ray.


"Jangan lupa datang, Pi. Jam 10.30 nanti kita akan rapat bersama tim dokter, management rumah sakit dan termasuk pak Abraham," Chiara memperingatkan Ray.


"Iya. Papi gak lupa sayang. Papi akan datang bersama mami."


Caraka dan Chiara berjalan keluar rumah bersamaan.


"Ngobrolin apa sama papi, Bang?" Tanya Chiara lebih dulu karena ia menyadari pria disampingnya tampak sedikit berbeda sejak tadi.


Caraka menatap Chiara sebentar. "Enggak, cuma bilang makasih karena kasih aku supir pribadi."


Chiara mengangguk dan mulutnya membulat mengatakan "oh" tanpa suara.


***


Rumah sakit Danadyaksa.


Di ruang meeting, Ray bisa melihat wajah Abraham dan Daffin sama sekali tidak menunjukkan raut rasa bersalah.


Wajah itu pernah mereka tunjukkan, ya... saat mereka baru memulai kerja sama dulu dan saat belum ada hubungan apapun antara Daffin dan Chiara.


Begitu cepat pula Daffin mengabaikan Chiara. Terlihat dari bagaimana pria itu sama sekali tidak canggung, tidak merasa bersalah dan tidak sedikitpun menunjukkan rasa khawatir.


Daffin dan Chiara terlihat seperti dua orang yang tak saling mengenal. Ray hanya bisa menghela nafas berat.


Meeting ini membahas mengenai peralatan rumah sakit yang akan mereka pesan untuk stok beberapa bulan ke depan.


"Sampai waktu yang belum di tentukan, Rion akan tetap mengurus rumah sakit ini."


"Chiara belum bisa saya percaya." Ray menatap putrinya yang tersenyum kecil.


Ray sengaja melakukan ini karena ia tidak percaya pada pria bernama Abraham dan Daffin. Ia takut keduanya memanfaatkan keadaan, dimana Chiara masih belum berpengalaman mengurus rumah sakit.


Bukan tidak mungkin mereka menipu atau melakukan kelicikan dalam kerja sama ini.


"Jadi, saya tidak ingin mendengar pertanyaan demi pertanyaan beredar diantara tim medis dan management rumah sakit mengenai pergantian Rion dengan Chiara."


"Chiara, saya rasa dia masih ingin sekolah lagi..."


Chiara mengangguk kecil.


"Dan itu terserah dia."


Daffin dan Abraham memasang ekspresi yang sulit di tebak.


Rion yang akan kalian hadapi, pak Abraham. Dan tentunya ada aku dibelakang putraku. Jangan berharap bisa menembus pertahanan kami.


Meeting selesai. Tapi, permintaan Abraham untuk mengajak mereka sekeluarga untuk makan siang bersama sepertinya tidak akan Ray sia-siakan.


"Maaf, Pi. Chia harus melanjutkan pekerjaan."


Ray tersenyum. "Silahkan sayang! Papi juga memang gak akan ngajak kamu, kok!" Ray melirik Abraham.


"Kamu harus profesional. Kamu harus tetap bekerja."


"Rion?" Tanya Ray.

__ADS_1


Rion menggeleng. "Rion harus ke perusahaan, Pi. Ada 3 meeting penting lagi sampai sore ini."


Akhirnya Ray dan Sania makan siang bersama dengan Abraham dan Daffin.


Mereka duduk saling berhadapan. Dua orang yang gagal berbesanan itu tampak menjadi perhatian banyak orang.


Ini tujuan anda pak Abraham? Agar wartawan melihat anda duduk dan makan bersamaku? Ingin membuat alibi atas kasus terbakarnya mobil Caraka, dengan menggiring opini publik kalau hubungan kita baik-baik saja, uh?


Baiklah. Aku akan membuat permainan ini menjadi lebih seru. Batin Ray.


Benar dugaan Ray. Mereka keluar dari restoran dan media langsung berebut melontarkan pertanyaan.


Sementara Daffin dan Abraham malah masuk ke ruang VIP restoran tersebut dengan alasan akan meeting dengan klien.


Ya, Ray akan makan dengan lahap umpan dari mereka. Bahkan akan sekalian Ray putuskan saja kailnya.


Ray menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang mereka lontarkan.


"Hubungan kami tetap baik. Saya sudah katakan, urusan pribadi diantara keluarga kami, tidak akan mempengaruhi pekerjaan dan kerja sama diantara kami." Jawab Ray dengan Sania yang tidak melunturkan senyumnya sedikitpun.


Senyum yang mendefinisikan tidak ada rasa sedih sedikitpun karena gagal berbesanan dengan Abraham.


"Jadi, kalau kalian melihat kami bersama seperti tadi, itu hanya untuk urusan pekerjaan."


Ray mendengarkan pertanyaan lain.


"Tidak! Tidak ada pembahasan mengenai pertunangan lagi." Tegas Ray.


Dan satuhal yang membuat Ray terkejut adalah pertanyaan mengenai mobil yang terbakar di R Cafe.


"Kasusnya sedang ditangani pihak berwajib."


"Soal peledak dan lain-lain, itu urusan pemiliknya dan pihak kepolisian."


"Karena kebetulan kejadian di Cafe anak saya, jadi mau tidak mau, nama kami ikut terseret."


"Dan kami tidak ingin ikut campur."


"Ya, pemilik mobil memang masih kerabat kami." Ray mengangguk membenarkan.


"Soal dendam atau apapun itu, saya kurang tahu!"


Ray hanya berusaha agar media tidak membahas lagi soal video yang sudah di selesaikan oleh Abraham dengan cara menghadirkan saksi palsu itu.


Sejauh ini, media tidak tahu kalau pelakunya adalah Caraka. Dan jika publik tahu, masalah akan mulai dari nol dan pemberitaan akan kembali ramai.


Jika memang kasus itu harus kembali dibuka, maka saatnya tidak sekarang. Karena Ray akan meledakkan bom waktu disaat yang tepat.


Dan pertanyaan terakhir. "Apa benar, pihak kepolisian sudah menemukan titik terang keberadaan pelakunya, Pak?"


Ray menggeleng. "Saya tidak tahu, belum dapat kabar dari pihak kepolisian."


Ray segera pergi dari kerumunan itu. Supir pribadinya berusaha membawa Ray dan Sania untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Ray, kenapa gak kamu bilang ke mereka kalau pihak kepolisian sudah menemukan titik terang keberadaan pelakunya."


"Sayang, kadang kita harus terlihat kuat saat kita lemah, dan terlihat lemah saat kita kuat."


"Biar saja Abraham dan Daffin mengira kita lemah, padahal kita sudah hampir menang." Ray menyeringai.


"Biar mereka santai dan merasa diatas awan. Karena suatu saat nanti fakta dan bukti akan membuat mereka terjun bebas dari ketinggian."

__ADS_1


__ADS_2