Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 28 Pamit


__ADS_3

Pagi menjelang siang ini, Caraka ditemani kuasa hukum Ray datang memenuhi panggilan dari pihak kepolisian. Ia diperiksa selama beberapa jam dengan lumayan banyak pertanyaan.


Caraka mencoba mencerna pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh petugas kepolisian dan dia dapat menebak, kejadian yang menimpah mobilnya kemarin, diduga adalah rencana buruk seseorang.


Caraka tidak menduga ada orang yang begitu jahat sampai tega ingin menghabisi nyawa orang lain. Caraka menyimpan satu nama dalam hatinya, Daffin.


Dari kuasa hukum yang mendampingnya, Caraka mengetahui tentang dugaan Ray dan Rion mengenai pembunuhan berencana ini.


Malam ini, Caraka memandang kearah luar dari jendela kamarnya.Ia berdiri melipat tangan di dada memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengetahui serangan Daffin. Ia jelas tak ingin kecolongan lagi seperti kemarin.


Caraka menghela nafas berat. Yang terpenting saat ini adalah dia harus waspada seperti nasehat Shaka. Membalas Daffin sepertinya memang bukan pilihan tepat. Karena ia harus fokus pada dirinya sendiri dan terlintas satu nama dalam fikirannya.


"Sabella..." gumamnya pelan.


Caraka menghubungi Devi.


"Dev..."


"Hai Cak. Apa kabar?" tanya Devi basa basi.


"Baik. Bagaimana kabar kalian?"


"Kami baik Caraka. Ah, ya. Sekarang kami udah di bandara. Kami akan berangkat malam ini ke desa kecil di negara di benua Eropa."


"Dev, bagaimana bisa..." tanya Caraka terkejut.


"Seseorang berbaik hati menolong kami. Demi melindungi Sabella yang aku gak bisa jamin kesehatan mentalnya akan terus baik kalau kami terus-terusan di Indonesia."


"Dia selalu ketakutan, Cak."


"Siapa yang menolong kalian, Dev? Hati-hati, aku khawatir ini jebakan Daffin."


"Bukan, pak Arrayan Danadyaksa yang menolong kami, Cak?"


Om Ray? Bagaimana bisa om Ray juga memikirkan keselamatan mereka? Batin Caraka.


"Bisa aku bicara dengannya?" pinta Caraka.


"Tentu..."


"Caraka mau bicara, Bel." Caraka bisa mendengar Devi bicara pada Sabella.


"Hai Mas."


Caraka tersenyum kecil mendengar suara Sabella. "Apa kabar, Bel?"


"Heem... Baik." Suara lembut itu bisa Caraka dengar dengan jelas.


"Semoga kamu selalu baik-baik saja. Hati-hati dan mulailah hidup barumu. Aku pasti selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Bel."


Caraka mendengar isak tangis gadis itu. "Terima kasih dan maaf untuk semuanya, Mas. Semoga kelak kita dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang."

__ADS_1


"Semoga, Bel."


"Selamat tinggal, Mas. Semoga bahagia bersama cintamu."


Panggilan diakhiri sepihak, tapi Caraka semakin mendengar jelas isak tangis Sabella sebelum gadis itu memutuskan panggilan.


Caraka bersandar di dinding. "Sabella, selamat berjuang. Semoga di tempat barumu, kamu menemukan pria yang benar-benar tulus padamu."


***


Ditempat lain...


Sabella memeluk Devi dengan erat. Ia menumpahkan tangisnya. Sungguh berat meninggalkan Caraka, tapi ini demi menjauh dari Daffin.


"Bel, kita tinggalkan segalanya disini, ya..."


"Kebaikan, harapan dan kenangan manismu bersama Caraka, lupakan semuanya Bel."


"Kesakitanmu, kepedihan, ketakutan dan kenangan buruk bersama Daffin, lepaskan di tempat ini, Bel."


"Kita harus segera pergi, karena kamu dengar sendiri kan dari orang yang menolong kita, bahwa Daffin sudah menyerang Caraka."


"Bukan gak mungkin, sekarang orang suruhan Daffin sudah di kota ini dan sedang cari-cari kita, Bel."


Sabella mengangguk. Ia ingat, siang tadi ada yang mengetuk pintu penginapannya.


Flashback On


Sabella dan Devi menginap di sebuah resort sederhana di sebuah pulau kecil.


"Anda Sabella?" Sabella melihat sekeliling dan ia mulai ketakutan. Ia mundur dan mencoba untuk menutup pintu.


"Tunggu!" Seorang pria menahan agar pintu tidak di tutup.


"Dev! Tolong Dev!" Teriak Sabella ketakutan sambil menangis. Ia memanggil Devi yang sedang berada di kamar mandi.


"Tolong jangan sakiti aku! Jangan mendekat!" Sabella mundur perlahan dan tangannya terulur kedepan sebagai isyarat bahwa ketiga pria itu tidak boleh mendekat.


"Bel... ada apa?" Devi langsung keluar dari kamar mandi saat ia mendengar Sabella memanggil namanya.


Devi langsung memeluk Sabella dengan erat. Dan saat ia melihat tiga orang pria yang sedang berdiri di depan pintu, ia seketika langsung waspada.


Devi mendekap Sabella yang tubuhnya bergetar. Sabella takut jika pria itu adalah suruhan Daffin yang akan membawa dan menyakitinya.


"Kalian siapa?" Tanya Devi memberanikan diri.


Salah satu dari pria itu berjalan maju dan Devi berusaha melarang. "Jangan mendekat atau aku akan berteriak!" Ancam Devi.


Pria itu langsung berdiri di tempat. "Baiklah. Tujuan kami kesini untuk menawarkan bantuan pada kalian."


Devi mengerutkan kening. Ia tidak bisa mempercayai siapapun di tempat asing seperti ini. Di sini, mereka berdua tidak mengenal siapapun, dan mana mungkin ada orang yang tiba-tiba menawarkan batuan.

__ADS_1


"Kami tidak butuh bantuan apapun. Sekarang pergilah." Devi mengusir ketiganya.


"Dengarkan dulu, mbak!" Ucap pria itu. "Kami orang suruhan pak Arrayan Danadyaksa."


Devi diam mematung. Bukankan Arrayan Danadyaksa adalah calon mertua Daffin?


"Aku tidak kenal siapa pak Arrayan itu!" Bentak Devi.


"Percayalah! Beliau ingin melindungi kalian berdua, terutama Mbak Sabella."


"Caraka sudah diserang, dan saat ini Daffin sedang mengerahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan kalian berdua."


"Bagaiamana kalian bisa tahu? Jangan-jangan kalian bertiga suruhan Daffin."


Pria itu menggeleng. "Baiklah, saya akan buktikan dan kalian bisa bicara sendiri dengan pak Ray."


Pria itu melakuan panggilan video. "Pak, gadis ini ingin bicara dengan anda."


Devi dengan ragu menerima ponsel pria itu dan menatap layar ponsel dimana ada wajah gagah Ray yang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Kamu Devi?" Tanya Ray.


Devi mengangguk. Ia tak percaya, seorang Danadyaksa bicara padanya. Devi tahu, pria di layar ponsel itu memang Ray. Calon mertua Daffin.


"Ku mohon! Ikutilah salah satu orang suruhanku."


"Dia akan membawamu ke negara di Eropa, ada sebuah desa kecil disana. Keluarganya ada disana, Dev. Kalian mulailah hidup baru di desa itu. Aku akan menjamin semua biaya hidup kalian sampai beberapa waktu. Ya, minimal sampai kalian bisa mendapat pekerjaan disana."


"Tapi, Pak..."


"Demi keselamatan kalian. Daffin akan dengan mudah menemukan kalian kalau kalian masih di negara ini."


"Beberapa hari lalu, mobil Caraka dipasang peledak!"


Devi membulatkan mata. Sabella mendadak melepaskan dekapan Devi saat mendengar apa yang baru saja Ray katakan.


"Mas Caraka?" Tanya Sabella.


"Ya, Sabella. Sekarang pergilah dan lindungi diri kalian. Saya akan bantu sebisa saya. Saya rasa ini harus saya lakukan karena semua terkait dengan gagalnya pertunangan itu."


Flashback Off.


"Mbak, ayo! Kita harus segera berangkat!" Ajak seroang pria pada keduanya. Pria tampan keturunan Jawa -Eropa yang bekerja bersama Ray sejak beberapa tahun lalu.


Pria itu memiliki ibu dan saudara perempuan di desa kecil di Eropa. Keluarga ayahnya di Indonesia sudah tidak ada lagi, sehingga ibunya memilih pulang ke negara asalnya. Sementara Pria itu memilih tetap tinggal dan bekerja di perusahaan Ray yang saat ini dipimpin Rion.


Sabella memantapkan langkah. Genggaman erat tangan Devi membuatnya yakin untuk meninggalkan semuanya di tempat ini. Kenangan indah dan buruk benar-benar harus ia lupakan.


Sabella memejamkan matanya. "Selamat tinggal masa laluku!" Gumamnya membuat Devi melirik dan tersenyum lebar.


"Semoga kehidupan yang lebih baik bisa kami raih di negara baru itu," lanjut Devi.

__ADS_1


***


__ADS_2