
Sebulan kemudian...
Caraka masuk ke kamar hotel yang ditinggali orang tuanya selama sehari semalam ini. Ia melihat mamanya-Sora sedang dirias oleh make up Artis yang memang sudah dibayar jasanya oleh pasangan pengantin Shaka dan Syakilla.
Resepsi pernikahan mereka akan berlangsung dalam hitungan jam. Sehingga Sora harus segera bersiap.
Berbeda dengan Caraka yang masih memakai kaos putih dan celana boxer itu.
"Mamaaaaa!" teriaknya sambil berlari dan bersimpuh di kaki Sora. Wanita lima puluh tahunan itu merasa terkejut.
Abimanyu yang membukakan pintu untuknya, malah dilewati begitu saja. Abi sampai terheran dengan sikap Caraka. Apalagi ekspresi putranya itu sulit ditebak.
"Astagfirullah! ada apa, Cak?" tanya Sora pada putra yang tengah memeluk kakinya itu. "Kamu kenapa, Nak?" tanya Sora panik. perias bahkan sampai berhenti dan menjauh dari Sora.
Caraka menatap wajah Sora lalu memeluk wanita yang melahirkannya itu. "Mama..."
"Mama akan punya cucu, Ma..." teriak Caraka senang bercampur tangis.
Abimanyu mendekat dan menyentuh bahu Caraka. "Istri kamu hamil?" tanyanya.
Caraka mengangguk dan memeluk erat mamanya.
Sora menghela nafas. Ia lega karena ternyata yang datang malah kabar bahagia.
"Selamat, Cak. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah!" ucap Sora mengusap punggung lebar yang masih bergetar itu.
Caraka berdiri dan Abimanyu menghadiahinya sebuah pelukan hangat.
"Mengapa papa tidak pernah cerita kalau rasanya seperti ini, Pa?" tanya Caraka yang membuat Abimanyu bingung harus menjawab apa.
"Papa mengapa tidak pernah memberitahuku kalau rasanya seluar biasa ini."
Caraka menghapus air matanya. Sedari tadi, ia menahan tangis di depan Chiara. Seperti ketiban uang sekontainer, terasa mengejutkan, membahagiakan dan mengharukan sekaligus.
Ia menahan tangis saat Chiara yang mengeluh tidak enak badan beberapa hari terakhir akhirnya menujukkan sebuah tespack dengan dua strip merah muda.
Ia sampai bergetar menerima berada pipih itu. Ia memeluk Chiara dan mencium istrinya itu.
Ia membisikkan kata terima kasih sampai berulang kali. Ia tidak ingin terlihat cengeng, tapi entahlah ia tak tahu harus bagaimana meluapkan rasa haru dalam hatinya.
Akhirnya ia berlari menuju kamar orang tuanya dan meninggalkan istrinya yang kembali masuk ke kamar mandi.
Abimanyu tertawa dan menepuk bahu putranya beberapa kali. "Selamat, selamat kamu akan menjadi seorang ayah!"
"Terima kasih telah membuat papa menjadi seorang kakek."
***
Sementara itu, Syakilla yang sudah dirias sedang berbicara dengan Sora.
"Mama serius?" tanyanya tak percaya saat Sora memberitahu kabar bahagia mengenai kehamilan Chiara, ipar sekaligus sahabatnya.
"Aku ingin menemuinya!" Syakilla berdiri. Ia belum puas jika belum mengucapkan selamat secara langsung.
"Jangan seperti itu, Sya! Riasan kamu bisa rusak."
__ADS_1
"Nanti saja menemuinya, Sya! Kakakmu juga sedang bersiap. Kalau acara sudah selesai, kamu bisa mengucapkan selamat pada abang dan kakakmu."
Syakilla akhirnya menurut pada saran mamanya. Apalagi Shaka juga melarangnya untuk keluar karena tak ingin ia kelelahan. Resepsi dengan ribuan tamu undangan pasti akan membuat mereka berdiri selama berjam-jam.
"Pakai sepatu saja, Kak!" saran Lovely pada Syakilla.
Gadis yang terpaksa pulang ke tanah air karena menghadiri pernikahan kakaknya itu baru saja masuk ke dalam kamar itu bertepatan saat Sora keluar.
"Ide kamu bagus juga, Lov." jawab Syakilla. Gaun besarnya tidak akan membuat sepatunya itu terlihat.
"Aku boleh memakainya, Mas," tanya Syakilla pada Shaka dengan panggilan baru yang telah mereka sepakati sebelum pernikahan.
Shaka mengangguk. "Biar ku pesan dulu!" Shaka mengambil ponselnya untuk meminta orang suruhannya membeli sepatu baru untuk Syakilla.
"Aku bawa, Mas. Tidak perlu membeli lagi." ucap Syakilla membuat Shaka berhenti menggeser jarinya di layar ponsel.
"Kamu bawa?" tanyanya dan Syakilla mengangguk.
"Ada dimana, Kak. Biar ku ambilkan." tanya Lovely yang siap membantu.
"Disana, Lov. Di koper." tunjuk Syakilla pada koper berwarna abu-abu itu.
Syakilla membawa sepatu kets bukan tanpa alasan. Pasalnya, setelah resepsi mereka akan pergi keliling benua Eropa untuk mengunjungi beberapa negara disana.
Dia sudah mempersiapkan segala kebutuhannya dan Shaka. Sedangkan Shaka sudah mempersiapkan tiket dan semua fasilitas yang akan mereka gunakan di tempat tujuan.
Syakilla, awalnya ia ingin menolak rencana bulan madu ini. Tapi, Shaka malah mengatakan bagaimana jika dirinya langsung hamil. Bukankah saat hamil muda dianjurkan agar tidak melakukan perjalanan jauh karena resiko kelelahan hingga keguguran.
Akhirnya Syakilla setuju, itu pun setelah Chiara sebagai seorang dokter menasehatinya.
"Sini, biar ku pakaikan." Shaka mengambil sepasang sepatu berwarna putih dari tangan adiknya.
"Mas, kaos kakinya belum!"
Lovely terbahak mendengar protes Syakilla. "Gagal fokus, jadi gagal romantis. Hahaha..."
"Nah!" Lovely menyerahkan kaos kaki yang sedari tadi ia pegang ditangannya yang lain.
"Makanya, konsentrasi. Lihat kaki mulus langsung gak berkedip." goda Lovely.
Shaka tertawa pelan. "Untung saja kamu disini, Lov. Kalau gak, mungkin aku sudah masuk ke dalam gaunnya."
Syakilla tertawa mendengar candaan pria yang sedang memakaikan sepatu di kakinya itu.
"Mengapa menunggu tidak ada aku? Lakukan sekarang!" perintah Lovely.
"Aku ingin melihatnya!" tantang Lovely sekalian. Karena ia tahu bagaimana harus mengimbangi Shaka.
"Ck!" Decak Shaka. "Jauh-jauh kuliah di luar negeri, hanya membuatmu semakin pintar untuk melawanku."
***
"Kejar Caraka, ya Shak!" ucap Nath saat ia naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat.
"Baby made in Paris." Nath tertawa saat Caraka menarik ujung rambutnya dengan ekspresi marah yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Ck! Aku kan bicara fakta, Cak!" Nath membela diri saat menoleh pria itu ada di antrian berikutnya.
"Benar, tapi gak perlu bicara di pelaminan juga, dong!"
"Ucapin selamat, ya selamat aja. Jangan diselipkan kalimat provokasi!" lanjut Caraka.
Nath tertawa. "Shaka pasti jauh lebih baik." ejek Nath.
"Kepala babynya made in Jerman, badannya di Norwegia, tangannya di Irlandia, dan kakinya di Britania Raya."
Shaka tertawa mendengar candaan Nath yang terdengar tidak masuk akal.
"Lanjut, Nath! Malah berdebat di sana!" ucap Bintang yang berada di depannya. Kakaknya itu sudah lebih dulu mengucapkan selamat.
"Yang ngantri banyak banget loh!"
Nath nyengir kuda. "Siap kakakku yang paling cantik."
Saat ini giliran Caraka yang mengucapkan selamat pada adiknya. "Bahagia selalu temanku, sahabatku, cintaku, kesayanganku, teman berantemku!" peluk Caraka.
"Kalau dia macam-macam padamu, katakan padaku. Abang akan menguliti tiiiiiittttt nya." ucap Caraka.
"Tiiiiiiittt apa bang?" tanya Shaka saat iparnya itu menjabat tangannya.
"Disensor!" balas Caraka. "Kalau kusebut, takut jadi masalah nanti."
"Soalnya yang live di pernikahan kamu tuh banyak banget! Hahaha!" Caraka tertawa.
"Ayo sayang! Kamu gak perlu salaman sama dia!" Caraka langsung menggandeng tangan Chiara yang ingin mengucapkan selamat.
"Tapi aku belum bilang selamat, Bang!"
"Gak perlu kamu kasih selamat, dia sudah selamat dari dulu!"
"Cieeee yang takut dibalas!" Ejek Shaka yang bisa menebak mengapa pria itu menjauhkan Chiara darinya.
Caraka takut, Shaka membalas ucapannya yang nyeleneh melalui Chiara.
"Hahaha..." tawa Caraka. "Takut bumil gak kuat. Entar kena mental!"
"Dasar suami gil*a!" gumam Syakilla.
"Kamu bikin malu, Bang!" bisik Chiara.
"Gak usah malu. Agak gil* sedikit sudah menjadi hal biasa dalam keluargaku!" ucap Caraka.
"Gak percaya? Kita tunggu opa-opa keren naik ke atas pelaminan. Pasti akan lebih seru lagi." Tunjuk Caraka pada Papanya sendiri, Langit, Rion danJosep.
"Mereka ketemu ayah Satya diatas, maka tawa mereka akan mengalahkan suara sound system."
Disisi lain, "Mengapa suamiku selalu suka mengganggu orang lain ya kak?" tanya Tiara pada Bintang.
"Sabar-sabar ya, Ti." Bintang tertawa.
"Kamu minta masukan dari tante Rata deh! Nath kan sama banget kayak om Langit!" Bintang dan Tiara tertawa bersama.
__ADS_1
"Akur-akur ya anak-mantu papa." ucap Akhtar yang duduk di kursinya bertepatan saat Tiara dan Bintang turut dari pelaminan.
"Siap, Pa." balas keduanya.