
Sabella menatap nanar bayangan dirinya di depan cermin. Bekas membiru di bahu, sudut bibir dan luka kecil di pelipisnya membuat dirinya begitu tampak menyedihkan.
Ia akhirnya berhasil kabur dari Daffin meski tak tahu sampai kapan ia bisa bersembunyi. Ia sekarang masih berada di Indonesia, di sebuah pulau kecil di daerah pulau dewata, Bali.
"Minum dulu, Bel." Devi menyuguhkan segelas air putih dingin pada Sabella yang hanya terus memandangi bayangan dirinya di depan cermin.
Devi memeluk Sabella dari belakang. Ia mengusap rambut kecoklatan yang mulai tak terawat.
"Dev, aku hancur!" Lirih Sabella tanpa menatap gadis yang memeluknya. Air mata Sabella kembali menetes deras.
"Aku hancur!" Tangisnya pilu.
"Sssst! Kamu gak sendirian, Bel. Ada aku disini. Aku gak akan pernah ninggalin kamu!"
Sabella menatap wajah Devi. "Aku akan selamat dari Daffin kan, Dev?" Tanya Sabella seperti orang linglung.
"Aku akan selamat kan, Dev?" Tanyanya lagi.
Devi menangis dan mengeratkan pelukannya. Devi mengangguk. "Kamu akan selamat, Bel. Kamu akan selamat."
"Aku takut dia datang dan memukulku lagi..."
"Tenang ya... dia gak akan berani, Bel. Dia gak akan berani melakukan semua itu."
Devi menghela nafas berat. Ia memeluk erat Sabella. Ia merasa iba dengan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Flashback on.
"Aku menyerah, Daf!" Teriak Sabella dengan sisa tenaga yang ia punya.
"Aku ingin pergi darimu!"
"Aku gak sanggup harus terus melayanimu! Aku punya pekerjaan Daf!"
"Jangan bekerja dan terima saja uang dariku!"
Sabella mendengus kesal. Ia punya karir dan pekerjaan. Untuk apa dia terus bersembunyi di hotel dan menjadi budak Daffin?
"Pokoknya aku gak mau lagi melayani kamu!" Sabella memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku akan pergi jauh! Aku gak peduli lagi sama Caraka ataupun kamu!" Marah Sabella. Ia sudah sampai dititik jenuh dengan semua perlakuan Daffin.
"Terserah kamu mau bunuh Caraka ataupun enggak!" Sabella kelepasan bicara. Ia sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
"Plak!" Tamparan Daffin di pipi Sabella membuat gadis itu terpuruk di bawah ranjang. Gadis yang tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
Daffin baru saja menjamahnya dan Sabella berusaha menolak saat Daffin akan melakukannya lagi.
Sabella memegangi pipinya yang terasa perih. Belum sampai disitu, Daffin menarik rambutnya dan menyeretnya untuk duduk diatas ranjang.
Daffin mengukung Sabella dengan kedua tangannya yang bertumpu dipinggir ranjang. "Jangan pernah mimpi untuk pergi dariku!" Bisik Daffin dengan kilatan amarah di matanya.
__ADS_1
"Aku akan tetap pergi!"
"Kamu pulanglah! Bersiap untuk pertunanganmu dengan gadis itu siang ini!"
Daffin menarik rambut Sabella hingga kepalanya ikut tertarik kebelakang. "Pergi dariku sama saja mematikan masa depanmu!"
Daffin mengambil ponselnya di atas nakas dan ia menunjukkan rekaman dimana Sabella sedang berada dalam kendalinya.
"Lihat ini sayang!" Daffin menunjukka layar ponselnya di depan wajah Sabella.
Mata gadis itu membulat sempurna. Ia tak menyangka Daffin selicik ini. Mereka yang awalnya hanya sama-sama mencari kesenangan belaka hingga ia bisa menyembunyikan Daffin dari media ternyata akan berakhir seperti ini.
Daffin yang candu akan dirinya ternyata membuatnya terjebak dalam hubungan gil* ini.
"Sudah lihat?"
"Kamu ingin lagi?" Tanya Daffin. Pria itu tertawa setelah ia berusaha menghindari tangan Sabella yang berusaha merebut ponselnya.
"Jangan berani-beraninya kamu melawanku!"
Sabella menata tajam pada pria kejam itu. "Aku tidak takut! Sebarkan saja kalau kamu ingin."
"Aku lebih baik han..." belum selesai Sabella bicara, Daffin menarik rambutnya dan mendorongnya hingga membentur nakas. Bahunya terasa sakit.
Daffin kembali menariknya. Membuatnya berdiri mengahadap ke dinding dengan kedua tangan yang dilipat dibelakang tubuhnya.
"Sakit, Daf!"
"Ah!" Teriak gadis itu.
"Ini agar kamu hilang ingatan dan melupakan niatmu untuk pergi."
"Lepaskan, Daf! Sakit!" Sabella terus memohon.
Suara ponsel Daffin berdering. Pria itu melepaskan Sabella yang seketika ambruk di lantai.
"Ya Dad!"
"Cepat pulang! Apa kamu tidak ingin bersiap?"
Daffin segera memakai pakaiannya. Jam memang masih menunjukkan pukul 9 pagi dan acara pertunangannya siang hari nanti.
"Jangan macam-macam atau kamu akan hancur!" Daffin meninggalkan Sabella.
Dengan sisa tenaga yang ada, Sabella memakai kembali pakaiannya dan segera meninggalkan hotel. Ia pulang ke apartemen dan menangis di dihadapan Devi, managernya.
Devi marah pada Sabella yang sudah berkali-kali dinasehati agar tidak terlalu sering bersama Daffin. Dan kecemasan Devi kini terbukti sudah.
Devi selalu menemani Sabella yang terus saja menangis. Devi bahkan sudah mengobati semua luka di tubuh gadis itu.
Saat siang hari, Devi mengambil makanan dan minuman ke dapur untuk makan siang Sabella. Dan saat kembali, ia melihat Sabella sudah berdiri di pinggir besi pembatas balkon dan siap untuk melompat.
__ADS_1
"Sabella!" Devi menarik tangan Sabella dan keduanya jatuh di lantai.
"Aku lebih baik mati, Dev!" Tangis Sabella pecah.
Devi tidak ingin kejadian ini dilihat oleh tetangga mereka. Devi memapah Sabella untuk masuk ke dalam.
"Kamu gak boleh begini, Bel. Kamu harus kuat menghadapi Daffin."
"Aku gak sanggup lagi, Dev...."
"Aku nyerah..." Sabella pingsan. Devi yang kebingungan akhirnya menghubungi Caraka.
Caraka sampai dengan cepat dan Devi menceritakan semua yang terjadi pada Sabella secara rinci.
Caraka tidak tega melihat Sabella yang sekacau ini. Ia sebenarnya tidak ingin lagi berhubungan dengan gadis ini. Tapi Caraka merasa ia harus menyelamatkan Sabella.
"Dev, bereskan semua barang-barang kalian!" Perintah Caraka.
Devi menatap Caraka tajam. "Jangan hanya diam, Dev. Waktu kalian gak lama."
"Kalian harus pergi, Dev! Bawa Sabella jauh dari sini."
Devi menurut saja. Ia segera membereskan beberapa pakaian mereka, dan yang terpenting adalah semua dokumen penting dan perhiasan yang mereka punya.
"Kita akan kemana, Dev?" Tanya Sabella saat mereka sudah di dalam mobil Caraka.
"Kita akan pergi dari sini!" Devi memeluk Sabella.
"Mas..."
"Ssst! Tenanglah! Aku akan membantu kalian. Tapi berjanjilah Bel. Jangan pernah coba untuk kembali beberapa waktu ke depan."
"Kita akan kemana?" Tanya Sabella. "Keluar negeri?"
"Akan, tapi menurutku enggak untuk sekarang, Bel." Jawab Devi.
"Kita akan ke Bali, dan menetep beberapa saat di pulau kecil itu."
"Kita tutup akses komunikasi, Bel. Kita gak usah pakai ponsel kita yang sekarang. Jangan buka akun media sosial apapaun. Ingat itu Bel."
"Kita akan pergi ke luar negeri melalui bandara internasional di Bali."
"Dan kamu, Cak. Tolong katakan pada siapapun yang bertanya bahwa kami sudah pergi keluar negeri." Pinta Devi pada Caraka.
Flashback off.
"Aku berjanji, Bel. Aku akan menjaga kamu."
"Aku akan berusaha melindungi kamu."
"Aku akan membawa kamu pergi. Kita akan hidup di negara baru, Bel."
__ADS_1
"Uang dari Daffin akan kita gunakan untuk bisa lepas dirinya." Tekad Devi sudah bulat. Ia memang sering merasa kesal pada Sabella, tapi biar bagaimanapun Sabella adalah sahabat yang selalu membantunya disaat dia susah dulu, hingga ia bisa diangkat sebagai manager Sabella.