
Caraka menatap gedung tinggi di hadapannya. Sebuah bangunan puluhan lantai dan penjagaan ketat membuatnya menghela nafas panjang. Kapan bisa punya yang begini?
Huh! Tapi Caraka sadar, ia hanya seorang dokter bedah, bukan seorang pengusaha yang akan duduk dibalik meja melihat pergerakan grafik saham dan memikirkan ribuan karyawan yang bergantung pada perusahaannya.
"Rion, crazy people!" gumam Caraka yang mengagumi sepak terjang seorang Orion yang mampu mengurus perusahaan, cafe, sekolah bahkan rumah sakit secara bersamaan. Belum lagi usahanya yang lain. Caraka salut akan kemampuan dan kerja keras calon abang iparnya itu.
Caraka melangkahkan kaki menuju lobby dan bertanya pada resepsionis.
"Permisi, mbak!"
"Ya... ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya wanita bername tag Sintya dengan senyum lebarnya.
"Saya ingin bertemu Rion," jawab Caraka.
Wanita itu tampak kebingungan dan mulai berfikir keras. Siapa yang berani memanggil pemimpin perusahaan hanya dengan panggilan nama.
Tamu kurang ajar yang sering datang ke perusahaan ini hanyalah Nath, si arsitek dan Ethan si tukang foto. Selebihnya tidak ada lagi. Bahkan Bintang hanya sesekali kesini. Karena mereka lebih nyaman bertemu di R Cafe.
"Maksud anda pak Orion Danadyaksa?" tanya wanita itu memastikan. Lengkap dengan nama belakang agar tidak salah orang.
"Ya..." jawab Caraka dan seketika ia tersadar.
Hahah.. aku lupa! Dia kan disini sebagai bos besar dan aku malah hanya memanggilnya dengan sebutan nama.
Cak, ini bukan di cafe!
"Iya, benar mbak. Maksud saya pak Orion."
"Anda sudah membuat janji?"
"Belum, tapi saya sudah menghubunginya dan dia mengatakan sedang berada di kantor."
"Tolong katakan padanya Caraka ingin bertemu."
Wanita bernama Sintya itu menghubungi sekretaris Rion.
"Maaf, Mas. Anda diminta untuk menunggu."
Caraka mengangguk. Mungkin Rion sedang sibuk atau sedang meeting.
"Boleh saya duduk disana?" tunjuk Caraka pada sofa di sudut.
"Silahkan!"
***
"Pak, ada pria bernama Caraka ingin bertemu anda." suara sekretaris Rion terdengar dari intercom yang terletak di mejanya.
"Caraka?" gumam Rion sambil menyeringai.
"Suruh saja tunggu di bawah!" perintahnya.
"Baik, Pak!"
"Caraka!" gumam Rion.
"Terserah mau berkarat atau berjamur menungguku! Aku gak akan turun secepatnya!" Rion ternyata sengaja menjahili Caraka.
Rion kembali memeriksa dokumen dan menyelesaikan semua pekerjaannya yang masih menumpuk. Ia sengaja membiarkan Caraka menunggu sebagai hukuman karena telah melamar adiknya tanpa ada romantis-romantisnya.
Hampir satu jam, Rion akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah karena Caraka ternyata masih menunggu dirinya.
Ia tidak sekejam itu, tapi tidak mungkin ia membuat seorang dokter menunggu. Bagaimana jika pria itu harus segera kembali ke rumah sakit atau ada urusan lainnya.
Rion melihat sekeliling dan menemukan Caraka sedang duduk di sofa sendirian. Rion melangkah maju dan mendekati calon adik iparnya itu.
"Sorry lama," ucapnya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Caraka menarik satu sudut bibirnya. "Bilang aja, sengaja! Gak perlu basa-basi." Caraka tau isi kepala Rion.
Rion tertawa. "Gak boleh su'udzon! Dosa." Rion duduk di samping Caraka.
"Mau ngobrol banyak atau gak?" tanya Rion sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
Ada waktu dua jam sampai meeting berikutnya. batin Rion.
"Lumayan! Kalau ditulis ada sekitar 2 lembar hvs." jawab Caraka asal.
"Bapak dokter mau ngobrol atau mau pidato, Pak?" tanya Rion sambil terkekeh.
"Dua - duanya, Pak CEO!"
Akhirnya Rion membawa Caraka ke sebuah restoran di dekat gedung perusahaan. Mencari tempat yang nyaman untuk berbincang. Atau mungkin jika mereka akan baku hantam, setidaknya Rion tak perlu jaim karena tidak akan dilihat oleh karyawannya.
"Sorry!" ucap Caraka membuka pembicaraan.
"Untuk?" tanya Rion basa-basi.
"Untuk kemarin siang. Karena telah melamar Chiara tiba-tiba bahka tanpa persiapan."
Rion mengangguk. "Hemm."
"Jujur saja, kata-kata itu meluncur begitu saja, Yon!"
"Tapi, permintaanku itu tulus dari dalam hati."
"Kamu pasti fahamlah, bagaimana perasaanku."
"Aku sama Chiara masih stuck disinil-sini aja. Saingan datang silih berganti. Dan sialnya malah lebih keren dari aku!"
"Lebih kaya, lebih muda... ya walaupun kalau ganteng, masih aku yang pegang rekor!" Caraka tertawa.
Rion tersenyum sinis. "Ganteng doang..." sindirnya.
"Lebih dari yang kak Bi dan Kak Zoy terima."
Biar bagaimana pun ia tahu, seperti apa Rion melamar Bintang dan Ezra melamar Zoya. Sebuah kejutan yang tak terduga oleh keduanya.
Rion mengerutkan kening. Ia tak yakin dokter dihadapannya ini bisa bersikap romantis.
"Sebenarnya aku hanya sedikit kecewa," ungkap Rion.
"Awalnya aku berharap Chiara mendapatkan perlakuan yang lebih."
"Tapi kamu tahu sendiri, istriku selalu punya kalimat pamungkas yang membuatku tersadar."
Bintang. Aku tahu, dia penasehat yang baik. Dia teman cerita yang menyenangkan. Dan yang pasti, dia akan menegur bila salah dan akan membela bila benar.
"Dia bilang, terkadang tidak semua wanita menyukai sesuatu yang romantis."
"Sebagian wanita atau mungkin termasuk Chiara, terkadang tidak butuh pria yang pandai membuat kejutan. Tapi lebih butuh pria yang tidak pernah mengecewakan."
"Dan aku harap pria itu kamu, Cak!" Rion tersenyum kecil.
Caraka mengangguk. "Ini yang pertama dan terakhir."
"Setelah ini aku akan membahagiakannya, Yon!"
"Aku akan terus berusaha hingga kalian tidak akan merasa kecewa karena telah melepas Chiara untukku."
Rion mengangguk.
"Jadi, ku mohon, jangan marahi Chiara lagi."
Rion kembali mengangguk. "Aku bukan memarahinya. Aku hanya...."
__ADS_1
"Hanya ingin cari alasan untuk nitip anak-anak?" lirik Caraka kesal.
"Hahahaha..." Rion terbahak.
"Lebih cocok jadi psikolog dari pada dokter bedah," ucap Rion.
"Atau mungkin pakar mikro ekspresi."
Caraka tertawa. "Kasian calon istriku nanti, Yon!"
"Kenapa?"
"Kalau bohong pasti ketahuan!" Keduanya tertawa lepas.
***
"Ngobrol apa aja sama bang Rion?" tanya Chiara pada Caraka. Keduanya sedang melakukan panggilan video.
"Gak ada." Jawab Caraka dengan mata menatap layar ponsel yang dipenuhi wajah calon istrinya.
"Gak ada?" gadis itu tampak menaikkan alisnya, merasa curiga karena tidak mungkin tidak ada pembicaraan serius sementara keduanya bertemu.
"Ya... malah dia mengerjaiku!" kesal Caraka.
"Bagaimana ceritanya?"
"Ya, dia memintaku menunggu hampir satu jam di lobby."
"Haa?" Chiara kaget. "Kok bisa?" tanya gadis itu.
Caraka mengangkat bahunya. "Aku tahu dia sengaja. Dan dia malah basa-basi bilang sorry."
"Padahal aku udah minta kak Bi untuk tanya sekretaris bang Rion soal jadwalnya hari ini."
"Dan di jam itu, sudah dipastikan jadwalnya kosong!" jelas Chiara.
"Kamu kayak gak kenal abang kamu, sayang!"
Chiara terkekeh.
"Kenapa ketawa?" tanya Caraka heran.
"Belum terbiasa dipanggil seperti itu." jawab Chiara malu-malu.
Caraka tersenyum. "Gini amat ya, pacaran sama temen sendiri."
"Susah buat membiasakan diri panggil sayang."
"Aku temennya adik kamu, Bang!"
"Hahaha... jangan diperjelas dong kalau kita beda generasi."
"Loh, kan emang benar."
"Iya... iya..."
"Dulu aku masih main barbie, dan kamu udah curhat tentang pacar kamu sama Bang Nath sama Nair."
"Kamu nguping ya?" Goda Caraka.
Gadis itu cemberut kesal. "Suara kamu yang terlalu keras, Bang! Aku sama Syakilla sampai bisa dengar obrolan kalian."
"Cie... calon istriku dari kecil udah perhatian sama aku."
Chiara tertawa. "Itu bukan perhatian, Bang! Tapi cuma kebetulan dengar!"
"Ah, no debat! Bagiku itu bentuk perhatian dari kamu... cie... cie..." Caraka terus saja menggoda Chiara hingga akhirnya gadis itu kesal dan mengakhiri panggilan video tersebut
__ADS_1