Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 55 Marry me!


__ADS_3

Chiara sedang duduk di ruangannya. Jam kerjanya masih tersisa beberapa jam lagi. Ia merasa lelah karena hari ini cukup banyak pasien yang datang.


Ia senang bisa menolong sesama. Ada kepuasan tersendiri dalam hatinya saat ia melihat seserca senyum terbit dari wajah keluarga pasien karena ia dan tim medis lainnya berhasil menyelamatkan satu nyawa.


Pintu ruangannya diketuk dan satu orang suster datang dengan membawa sebuah paper bag bertuliskan nama butik ternama milik tante Rara, istri Om Langit.


"Ada kiriman untuk anda, Dok." Paperbag berukuran sedang itu diletakkan diatas meja.


"Dari siapa, sus?"


"Laki-laki tampan, Dok. Saya sampai lupa bertanya siapa namanya." Suster tersebut tersenyum malu.


"Pria itu cuma mengatakan untuk memberikannya pada Dokter Chiara."


"Oh, ya sudah. Terima kasih ya..." Chiara tersenyum.


Ia melihat isi paperbag itu dan tampak sebuah kotak berukuran lumayan besar.


Chiara mengeluarkan kotak berwarna navi dengan pita berwarna soft pink dan membukanya.


Ia mengerutkan kening saat melihat selembar kain terlipat rapi. Ia membentang kain berwarna putih tulang itu dan...


"Dress?" ia semakin bingung. "Untukku?" gumamnya.


Tanpa sengaja, matanya menangkap selembar kertas di dalam kotak.


Ia membuka kartu ucapan berwarna pink yang ditulis dengan tinta biru itu.


Ku jemput jam 7 malam ini.


Pakailah dan buat aku jatuh cinta sejatuh jatuhnya.


^^^Dokter tampan.^^^


^^^Caraka Abimanyu.^^^


Chiara tersenyum kala melihat ada nama pria yang dalam waktu dekat akan menjadi suaminya disudut kartu itu.


"Siapa yang pilihkan dress ini?"gumam Chiara mengagumi keindahan dress simple yang Caraka kirimkan untuknya.


"Bang Cak?" Bibirnya mencebik. "Gak mungkin."


"Bisa punya ide seperti ini aja, sangat mencurigakan." Chiara tertawa pelan. "Ku jamin, ada Syakilla sama Shaka dibelakangnya."


Tebak Chiara yang merasa mustahil jika semua ini ide Caraka. Pria itu memang baik, pengertian, punya rasa simpati yang besar, tapi soal romatis, Chiara belum pernah melihatnya melakukan hal itu.


Chiara kembali memasukkan dress tersebut ke dalam kotak seperti semula. Ia menebak-nebak, kemana pria itu akan membawanya.


Malam harinya, Chiara turun dari kamarnya yang terletak di lantai dua dengan dress yang Caraka berikan. Ia padukan dengan heels 7 cm dan handbag berwarna silver. Tak lupa pula ia sedikit memoles wajahnya dengan make up tipis untuk menyempurnakan penampilannya.


Chiara melihat Caraka sudah duduk di ruang tamu bersama orang tuanya. Ia tersenyum kecil kala melihat Caraka memakai kemeja putih dengan blazer berwarna hitam.


"Maaf menunggu lama..." ucap Chiara.


"Gak apa-apa, Chi... Jam 7 tepat." Caraka menunjuk jam di pergelangan tangannya.


"Belum terlambat," pria itu tertawa.


"Ya, kan om?" lanjutnya.


Ray mengangguk. "Hati-hati, Cak!" Ray menepuk bahu calon menantunya itu.

__ADS_1


"Iya Om. Kami pamit dulu, Om, tante."


Ray dan Sania mengantarkan mereka hingga ke depan pintu. "Jangan pulang terlalu larut, Cak!" ucap Sania.


"Siap tante!"


Caraka dan Chiara masuk ke dalam mobil. Mereka meninggalkan kediaman Ray dan segera melaju ke sebuah tempat yang sudah Caraka siapkan untuk gadis yang akan menjadi istrinya.


Mereka tiba di sebuah rumah minimalis dua lantai disalah satu komplek perumahan.


Seorang pria membukakan pagar rumah tersebut agar mobil Caraka bisa masuk ke dalam.


"Rumah siapa, Bang?" tanya Chiara terheran karena ia baru pertama kalinya masuk datang ke sini.


Ia sempat menduga ini adalah rumah teman atau atasannya yang mengundang pria itu untuk makan malam bersama sehingga Caraka mengajaknya.


"Kita masuk aja dulu."


"Kamu akan tahu nanti."


Caraka membuka sabuk pengaman dan segera keluar dari mobil. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Chiara dan menggandeng tangannya.


"Sebenarnya ini rumah siapa, Bang?" tanya Chiara lagi. Rumah ini tampak sepi dan tidak ada kendaraan sama sekali di dalamnya. Mata Chiara juga sempat melirik ke arah garasi yang tampak kosong.


"Ayo, masuk. Dan cari tahu jawabannya." Caraka membawa Chiara masuk ke dalam rumah.


Chiara tampak terkejut karena Caraka membuka pintu yang tidak dikunci itu. Ia heran, mengapa tidak ada pemilik rumah yang menyambut kedatangan mereka.


Keduanya masuk ke ruang tamu yang tampak bersih dan rapi dengan sofa minimalis yang masih tampak seperti baru.


Lalu, mereka melewati ruang keluarga. Dimana terdapat tv berukuran besar di dinding.


Caraka membuka pintu kaca dengan cara menggesernya dan Chiara diam mematung kala melihat sebuah meja kecil dengan dua kursi terletak di balkon.


Di atas meja terdapat hidangan makan malam mereka dengan lilin menyala yang berada di dalam gelas.


Caraka tersenyum menatap gadis yang sedang menatapnya itu.


Caraka memegang bahu Chiara agar gadis itu berdiri berhadapan dengannya.


Caraka meraih tangannya dan manik mata keduanya saling bertautan.


"Cantik..." pujinya dan berhasil membuat pipi gadis itu bersemu merah.


"Dan berhasil membuatku jatuh cinta tanpa bisa terbangun lagi..."


Caraka dan Chiara kompak tertawa.


Wajah Caraka mulai terlihat serius. "Chiara..."


"Sejauh ini, sudah banyak waktu kita lewati bersama. Meski tidak dalam satu hubungan yang istimewa, tapi ku yakin kita saling memahami satu sama lain."


"Aku bersyukur, Allah memberiku satu hati untuk selalu mencintaimu, satu otak untuk selalu memikirkanmu, dan satu mulut untuk selalu menyebut namamu di setiap doa-doaku."


"Cukup panjang waktu yang terlewat hingga akhirnya kita ada di titik ini."


"Hingga akhirnya aku bisa menggenggam tanganmu sebagai calon istriku."


"Berkali-kali melamar dengan cara sederhana, mungkin karena kamu menganggapku hanya main-main."


"Sekarang, di rumah ini..." Caraka melihat sekeliling dan kembali menatap Chiara.

__ADS_1


"Di rumah yang akan menjadi saksi perjalan cinta kita."


"Maka, jadilah ratu di dalamnya..."


"Rumah ini akan jadi tempat dimana kelak anak-anak kita dibesarkan."


"Rumah ini adalah salah satu yang sudah ku persiapkan untukmu dan untuk kita."


Chiara terkejut, karena itu berarti rumah ini akan menjadi tempat tinggal mereka setelah menikah.


"Tidak sebesar rumah kedua orang tua kita, tapi semoga cinta di dalamnya membuat rumah ini tentram seperti surga."


"Dan menjadi tempat ternyaman ketika kita merasa lelah..."


"Chiara..."


"Terima kasih telah bersedia menjadi istriku..."


"Belum, bang!" ucap Chiara mengulum senyum. Sedari tadi ia terpesona dengan kata-kata penuh makna yang pria ini katakan.


Entah itu memang dari fikirannya sendiri, atau diarahkan oleh orang lain, atau mungkin ia mencari di internet, tapi Chiara tidak peduli. Ia terlalu sibuk mengurai kata-kata manis yang membuat dirinya terasa teristimewa.


Caraka menunduk dan tersenyum lucu. "Ah, ya. Hampir."


"Maksudku kelak." ralatnya.


"Chiara..." Caraka kembali serius.


"Bertahun lamanya, namamu tertulis dalam hatiku..."


"Dan aku berharap kelak, nama kita tertulis dalam buku nikah."


Chiara malah tertawa. "Iya... iya.."


"Sudah selesai?"


Caraka mengerutkan keningnya. "Belum..."


"Katakanlah lagi! Dan semoga saja aku gak diabetes karena kata kata manis itu..."


Caraka tertawa. "Seribu kata manis gak akan bisa untuk menggambarkan betapa bahagia dan bersyukurnya aku bisa bersama kamu, Chi..."


Caraka berlutut dan mengambil sesuatu di saku blazernya.


Sebuah cincin ia persembahkan untuk Chiara. "Satu kalimat yang telah terucap beberapa kali dari bibirku."


"Dan malam ini akan ku ulang untuk ke sekian kalinya."


"Dokter cantik, marry me!"


Chiara tersipu. Benar kata pria ini. Kata-kata itu beberapa kali telah terucap dari bibirnya.


Ia mengangguk malu.


Caraka berdiri dan menyematkan cincin itu di jari manis Chiara.


"Satu anggukan saja sudah cukup menjadi jawabannya..."


Caraka memeluk Chiara dengan erat. "Terima kasih..."


"Percayalah aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2