
Suhu udara yang dingin di kota Paris siang ini, tak membuat Shaka dan Syakilla mengurungkan niat mereka untuk berburu foto di taman sekitar menara Eiffel.
Mereka sudah bersiap, memakai pakaian paling stylish yang mereka bawa dan yang pasti terlihat kompak karena memliki warna yang sama.
Tak lupa mereka mempersiapkan alat tempur seperti kamera dan tripod yang mungkin akan berguna jika pasangan pengantin baru tidak mau menjadi fotografer dadakan.
Sangat berbeda dengan sepasang pengantin baru yang masih enggan meninggalkan ranjang dan selimut. Keduanya masih tidur karena pertempuran panas yang entah ke berapa kalinya baru saja selesai.
"Handphone kamu bunyi, Bang!" ucap Chiara memberi tahu kalau nada dering di ponsel Caraka berbunyi.
"Biarin aja!" Jawab Caraka memeluk Chiara dan kembali memejamkan mata.
"Palingan juga Duo S." jawab Caraka malas.
"Bang, bunyi lagi!" Chiara mengguncang bahu Caraka yang tak bergeming.
"Biarin! Siapa suruh ganggu orang tidur!"
Sementara itu, di luar kamar mereka. "Gak diangkat, Sayang!" ucap Syakilla pada Shaka saat ia mencoba menghubungi abangnya- Caraka.
"Coba lagi..." perintah Shaka yang sedang berdiri di depan pintu kamar Syakilla sambil menggendong ransel berisi alat-alat foto.
"Masih gak diangkat!" Syakilla sudah mencoba beberapa kali. Namun, masih sama. Belum ada jawaban.
"Begini yang katanya mau jagain aku?" Gumam Syakilla kesal.
Shaka tertawa. "Di Jakarta dia ingat, di Paris dia mendadak hilang ingatan, Sayang!"
Syakilla sependapat. "Bener banget. Sebelum berangkat, sok keras gak boleh ini, itu, harus begini, harus begitu. Eh, pas disini, melempem!" Syakilla mengejek Caraka.
Shaka dan Syakilla kompak mentertawakan orang yang sengaja tidak menjawab panggilannya itu.
"Kita pergi sendiri?" tanya Shaka.
Syakilla mengangguk. "Kalau harus bareng mereka, bisa-bisa kita gak akan bisa jalan kesana dan kesini."
"Ya kali, cuma fotoin menara Eiffel dari jendela hotel."
Syakilla menggandeng tangan Shaka dan keduanya pergi tanpa Chiara dan Caraka.
Mereka tiba di taman sekitar menara yang menjadi icon negara Prancis itu. Beberapa kali Shaka mengambil potret candid Syakilla.
"Kelak, aku mau bawa anak-anak kita ke negara ini..." Syakilla duduk di rerumputan dan melihat ke puncak menara.
"Semoga kita dikaruniai anak yang banyak," sambung Shaka sambil tertawa.
Pria itu duduk di samping Syakilla dan beberapa kali mengambil foto selfie dari segala sisi, depan belakang, kanan dan kiri untuk ia pamerkan di grup chat keluarga.
Syakilla tertawa. "Kamu aja yang ngelahirin! Aku gak mau kalau terlalu banyak."
Shaka terkekeh. "Kalau bisa, akan ku lakukan Sya!"
__ADS_1
"Sayang sekali, kita diciptakan begitu sempurna untuk saling melengkapi."
"Duit. Aku yang cari, kamu yang habisin," ucap Shaka dan Syakilla tertawa.
"Rumah. Aku yang bangun, isinya kamu yang mengatur."
"Anak. Aku yang buat kamu yang ngelahirin."
"Sungguh, Tuhan gak pernah salah memberikan pasangan!"
Syakilla mencubit hidung Shaka. "Kamu pinter banget sih mengatur kerja sama kita!"
"Pastilah. Kita kan partner di semua situasi," ucap Shaka percaya diri.
"Termasuk partner in crime!" sambar Syakilla.
"Menjebak Daffin dan Sabella." Lanjut Shaka. Lalu keduanya tertawa bersama saat ingat kejadian itu, dimana kaki Syakilla malah kram saat mereka akan pergi dari tempat itu.
"Perjuangan banget memang!" ucap Syakilla.
"Ya... Kita yang berjuang, malah orang lain yang jadian!" sambung Shaka dan mereka kembali tertawa.
Maksudnya adalah berkat mereka akhirnya Caraka bisa bersama Chiara sekarang, meski cobaan yang Caraka hadapi jauh lebih berat.
"Sekarang mereka sudah bersatu."
"Dan kelak kita juga akan dipersatukan dalam ikatan yang sama." Shaka tampak serius.
Shaka langsung mengatur letak tripod untuk menyangga kamera yang akan ia atur timernya.
"Gabung, dong!" Chiara lari dari kejauhan dan memeluk Syakilla sebagai pose-nya.
"Nah, Kang foto akhirnya datang juga!" Ucap Shaka yang tidak jadi memasang kamera ke tripod.
Ia malah memberikan kamera itu kepada Caraka yang tampak fresh dengan rambut basahnya.
"Capek, Shak!" Alasan Caraka agar tidak dijadikan tukang foto dadakan.
"Capek? Kebanyakan sih!" Sindir Shaka. Ia meletakkan asal kamera ditangannya ke dada Caraka yang langsung di tangkap dengan kedua tangan pria itu.
"Dingin gini, keramas terus!" Shaka belum selesai dengan sindirannya.
Caraka mencebikkan bibir. "Kayak gak bakal begini aja!"
"Entar giliran kamu, keramas pake salju!" Caraka tertawa. Karena sebulan lagi, saat Shaka menikah, kota Paris akan diselimuti salju.
Shaka menyeringai. "Bulan depan, bukan ke Paris."
"Bang! Cepat!" Perintah Chiara karena Shaka dan Caraka malah mengobrol berdua.
"Yang mau prewedding kita, Chi. Kamu minggir dulu dong!" Shaka meminta Chiara menjauh dari Syakilla.
__ADS_1
"Pelit banget!" Chiara pura-pura merajuk.
Caraka tetap menjadi fotografer dadakan. Hasilnya tak kalah bagus dari hasil jepretan fotografer handal.
Beberapa hari di kota Paris mereka habiskan dengan bersenang-senang. Pergi ke beberapa tempat dan tak lupa berburu oleh-oleh.
Malam terakhir mereka di Paris. Keempatnya memutuskan untuk makan malam di depan jendela kamar hotel Syakilla.
Mereka bisa melihat gemerlap lampu yang menghiasi menara Eiffel. Anggap saja mereka sedang double date.
"Semoga, kita bisa kesini lagi suatu saat nanti." Itu harapan Syakilla.
"Bersama anak-anak dan kalau bisa kita ajak mama papa dan semua keluarga besar!" lanjutnya.
Ia sungguh tak bisa move on dari keindahan kota ini. Ia bahkan merasa sangat beruntung bisa menginjakkan kaki ke sini.
"Banyak-banyak nabung, Shak! Istri kamu khayalannya terlalu tinggi!" Caraka tertawa kecil.
"Kita akan kesini, mungkin di anniversary pernikahan kita yang ke 5 atau ke 10," Ucap Shaka yang malah setuju dengan keinginan Syakilla.
"Aku gak janji, tapi akan ku usahakan," lanjut Shaka membuat Syakilla meleleh.
"I'm melted coz of you!" Syakilla menangkup pipi Shaka.
"Thank you!" Balas Shaka. "Aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu, Sya!"
"Nasib kita seperti martabak, Sayang!" ucap Caraka yang sedang duduk selonjoran dengan kedua tangan kebelakang menopang tubuhnya. Ia berbicara pada Chiara yang saat ini tengah merebahkan kepala dibahunya dan tangan memeluk perutnya.
"Special tapi masih dikacangin!" Sindir Caraka pada Syakilla dan Shaka yang sibuk saling memuji seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Chiara tertawa. "Makanya kamu gombalin aku juga dong!" pintanya.
Caraka mengubah posisinya. Ia merangkul bahu Chiara dengan satu tangannya.
"Aku gak bisa!" ucap Caraka serius.
"Tapi, kalau soal menjaga cinta, aku ahlinya."
Chiara mengerutkan dagu menunggu pejelasan Caraka. Pria itu menatapnya gemas.
"Loh, benar kan?"
"Dari kamu SMP, SMA, kuliah, internship, aku terus ditolak."
"Tapi lihat! Cintaku bukannya pudar, malah semakin besar."
Chiara memeluk Caraka erat. "Terima kasih untuk kesabaran yang tak berujung itu. Dan terima kasih untuk cinta kamu yang sangat luar biasa." Chiara mengecup pipi Caraka.
Dan semua kejadian itu tak luput dari pandangan mata sepasang kekasih yang sebulan lagi menuju halal.
"Tolong fikirin kita yang cuma bisa lihat tapi gak bisa praktek dong!" Sindir Shaka dengan suara keras membuat mereka semua tertawa bersama.
__ADS_1
Malam terakhir di kota Paris menjadi malam romantis bagi Caraka dan Chiara, tapi malah menjadi malam ngenes bagi Shaka yang memang berniat menjaga Syakilla hingga mereka sah menikah.