
"Tok... tok... tok..."
Ketukan palu hakim menjadi putusan terakhir di sidang pengadilan siang itu.
Daffin menunduk lesu saat dirinya harus menjalankan beberapa tahun hidupnya di dalam jeruji besi.
Sementara kubu Caraka mengembangkan senyum selebar mungkin. Bukan untuk mengejek kubu Daffin, tapi hanya sebagai ungkapan kelegaan karena akhirnya semua masalah berakhir dengan seadil-adilnya.
Daffin, terbukti melakukan kekerasan terhadap Sabella yang Ray datangkan langsung sebagai saksi sekaligus korban.
Daffin juga terbukti terlibat dalam perencanaan pembunu*han dengan peledak dan preman bayaran yang mengejar mereka waktu itu.
Daffin, sosok pria berwibawa yang seketika kehilangan kehormatan dan nama baiknya.
Hotel milik Abraham mendadak kacau balau karena semua investor menarik sahamnya. Dan Daffin terpaksa menjualnya melalui bantuan pengacara karena dirinya sudah berada dijeruji besi sejak penangkapannya malam itu.
Ia tidak akan bisa membayar gaji karyawan dan staff serta mengeluarkan biaya perawatan hotel tersebut.
Perusahaan dibidang alat dan obat-obatan medis juga ia jual kepada salah satu pemegang saham. Ia tidak akan mungkin bisa mengurus semuanya karena hukuman dibalik kurungan tidak bisa dielakkan meski kuasa hukumnya mengupayakan banyak hal.
Daffin menyimpan semua uang hasil penjualan semua usahanya di sebuah bank swasta atas saran pengacaranya agak kelak saat ia terbebas dari penjara, ia masih punya sedikit modal untuk membuat usaha baru.
Caraka berdiri di depan Daffin, ia mengulurkan tangannya. Daffin yang digiring pihak kepolisian hanya menunduk dan memandang Caraka remeh.
Caraka kembali menarik tangannya. Ia menatap Daffin. "Semoga ini menjadi urusan kita yang terakhir, Daf!"
"Aku tidak ingin ada acara balas dendam untuk tahun-tahun berikutnya."
"Jadikan hukuman ini sebagai pelajaran berharga untukmu!"
Caraka berbalik dan Daffin tak mengatakan apapun. Caraka sudah sangat lelah dengan drama persidangan yang baru selesai setelah satu bulan lamanya.
Caraka bersama keluarganya dan juga keluarga Ray keluar dari gedung itu. Mereka terkejut dengan kedatangan Bintang dan Zoya beserta Ezra.
"Selamat Cak! Akhirnyaaaa...." Zoya menepuk bahu Caraka. Wanita yang menggendong balita perempuan itu menepuk bahu Caraka.
"Terima kasih, Kak!" balasnya. "Ngucapin selamat, memangnya kakak tahu keputusan pengadilan?" tanya Caraka karena kedua kakak sepupunya itu tidak masuk ke dalam untuk mengikuti sidang. Keduanya bahkan baru saja hadir.
"Tau dong! Ekspresi tante Sora sama om Abi udah jadi jawaban paling akurat, Cak!" balas Zoya.
"Ehm, sebagai rasa syukur, gimana kalau kita semua langsung cusss ke Arumi Resto."
"Kita makan sepuasnya." lanjut Zoya.
"Wah, rencananya aku mau ajak ke R Cafe kak!" potong Rion.
__ADS_1
"Ke resto aja, Yon! Sesekali kita kumpul disana," sambung Ezra.
"Gimana om?" tanya Ezra pada Abi.
"Boleh." pria itu mengangguk.
Masing-masing dari mereka masuk ke dalam mobil untuk segera melaju ke Arumi Resto.
Bintang yang awalnya ikut dengan mobil Zoya, kini berpindah ke mobil Rion. Dimana juga ada kedua mertua dan adik iparnya.
"Bi, hubungi papa kamu! Kapan lagi kita bisa kumpul begini!" ajak Ray pada Bintang.
"Iya sayang! Ayah Satya juga!"
"Pas banget, Bang! Mas Shaka juga kayaknya balik ke Jakarta lagi tadi malam."
Mereka semua tiba di Arumi Resto. Keluarga super besar yang terdiri dari puluhan orang itu masuk ke salah satu VIP Room di Arumi Resto. Restoran mewah yang saat ini dikelolah oleh Ezra dan Zoya sebagai warisan yang Zoya terima dari mendiang mamanya.
"Wah, wallpaper di sana baru lagi, Zoy?" tanya Bintang yang sedang menggandeng tangan Prince.
"Iya, Bi. Biar fresh aja."
"Rencananya aku mau cat ulang semuanya, Bi. Tapi tunggu waktu yang pas."
"Libur panjang dong?" tanya Bintang.
Sementara itu, dibarisan paling belakang ada Chiara, Caraka dan Shakilla sebagai personil yang belum berkeluarga.
"Gokil sih kak Zoy!" ucap Syakilla mengagumi restoran milik Zoya itu. "Bisa bertahan ditengah-tengah persaingan ketat."
"Restoran ini bukannya udah puluhan tahun ya Sya?" tanya Chiara yang tak terlalu faham dengan asal-usul restoran ini.
Syakilla mengangguk. "Bener banget. Dari zaman mama kak Zoy masih ada. Sempat dikelolah Oma sama Opanya, dikelolah om Satya, Om Akhtar juga dan akhirnya sampai ke tangan kak Zoy."
"Kira-kira hampir 35 tahunan, Chi..."
Chiara merasa salut. "Keren banget sih ini."
Caraka tertawa. "Cafe abang kamu juga keren, Chi! Bahkan dari sebelum dia lahir, tuh Cafe udah ada."
Chaira terkekeh. "Bener banget!" R Cafe bahkan sudah ada saat Ray belum menikah.
"Dia konsisten juga sih kalau ku lihat!" lanjut Chiara.
"Rumah sakit juga lebih tua lagi usianya," balas Syakilla.
__ADS_1
Chiara memutar bola mataya. "Kalau itu jangan ditanya. Udah keturunan keempat, Sya!"
Mereka tertawa.
"Kalian juga punya sekolah TK yang dulunya biasa aja, kini malah udah TK bertaraf Internasional." Balas Chiara.
Syakilla tertawa saat Chiara menyebutkan warisan nenek dan kakeknya yang sekarang di urus oleh mamanya.
Begitulah obrolan muda-mudi yang membahas kekayaan keluarga mereka yang sudah ada bahkan sebelum mereka dilahirkan.
Merasa beruntung? Tentu. Tapi entah mengapa sebagian dari mereka malah memilih jalan lain.
Syakilla malah memilih menjadi dosen sementara mamanya sendiri sibuk mengurus sekolah Tk.
Caraka, malah menjadi dokter dan tidak mengikuti jejak papanya yang merupakan TNI Angkatan Darat.
Mereka tiba di ruangan yang luas dengan tatatan kursi dan meja makan yang bisa menampung puluhan orang. Dalam satu ruangan bahkan ada beberapa set meja makan.
Ini adalah salah satu fasilitas yang Arumi Resto miliki. Bisa menampung hingga 70 orang dalam satu ruangan. Cocok untuk makan malam keluarga besar.
"Hai budos!" Sapa Shaka saat Chiara dan Syakilla sedang duduk berdekatan di meja yang masih kosong.
Syakilla tersenyum lebar. Budos adalah singkatan dari Bu Dosen. Julukan yang Shaka berikan padanya.
"Hai Eksmud!" balas Syakilla sambil terkekeh.
Eksmud adalah singkatan dari Eksekutif muda. Yaitu orang yang berusia 20-30 tahun tapi memegang posisi penting dalam perusahaan.
"Hahah..." Chiara tertawa. "Sweet banget sih panggilan sayang kalian!" ucap Chiara yang merasa seperti obat nyamuk diantara keduanya.
"Hahaha..." Syakilla dan Shaka saling tatap dan kompak tertawa.
"Itu panggilan akrab, Chi!" sangkal Syakilla.
Shaka duduk disamping Syakilla. "Kitakan bestie ya Sya?" tanya Shaka.
Syakilla mengangguk. "Aku ini cuma temen curhatnya, Chi. Biasalah kalau orang baru move on terus nemu klien bening dikit langsung gegana."
"Mau maju, takut gagal lagi. Mau mundur kok sayang banget dilewatin!" Syakilla tertawa.
"Dan akhirnya patah hati karena udah tunangan!" Sahut Shaka sambil tertawa.
Chiara mengerutkan dagunya. "Kalian udah cocok. Kenapa gak mulai aja!" Saran Chiara membuat keduanya kembali saling tatap dan kembali tertawa.
"Astaga!" Keluh Chiara. "Kompak banget!"
__ADS_1
"Kalau kamu nerima Bang Cak! Aku nembak Syakilla di depan umum! Hahahah!" Shaka tertawa.
Ia hanya bercanda, karena hubungan Chiara dan Caraka masih belum ada kemajuan meski pertunangan sudah batal dan jelas-jelas Caraka terbukti begitu mencintainya.