Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 48 Syarat Jadi Mantu


__ADS_3

"Selamat sore, Om?" Sapa Caraka saat melihat Ray tengah duduk di teras sambil minum kopi.


Caraka mengantar Chiara hingga ke depan pintu rumahnya. Sebagai pria gantle ia merasa harus melakukan ini. Terlebih saat melihat orang tua gadis itu sedang berada di teras rumah.


"Selamat sore, Cak!" Ray melihat Caraka sekilas lalu meletakkan tab diatas meja.


Chiara mencium punggung tangan Ray dan Caraka juga melakukan hal yang sama.


"Aku masuk dulu, Bang! Ngobrol aja dulu sama papi." Ia langsung masuk ke dalam rumah.


Caraka dipersilahkan duduk. Ia sedikit gugup karena kali ini statusnya sebagai keponakan Akhtar tidak berguna sama sekali karena pria enam puluhan tahun itu bersikap agak dingin.


"Dari rumah sakit?" tanya Ray.


Caraka mengangguk. "Iya, Om."


Ray tersenyum kecil. "Saat kamu berani menjemput Chiara dan mengantarkannya pulang, itu artinya kamu berani menanggung segala resikonya, Cak!"


Baru pulang kerja, langsung dihadapkan dengan pembicaraan serius nih. Batin Caraka.


Caraka mengangguk pelan.


"Chiara biasanya diantar supir yang bisa dikatakan juga sebagai bodyguard."


"Ahli mengemudi, dan minimal jago menembak!" Lanjut Ray dan Caraka mengangguk pelan.


Tak perlu kaget, seorang putri Danadyaksa wajar mendapat perlakuan seperti itu mengingat saingan bisnis Ray dimana-mana. Bukankah saingan bisa juga diartikan sebagai musuh?


"Ya... tipe-tipe seperti Raihan lah!" Ray menyebut nama supir pribadi yang pernah bekerja untuk Caraka.


"Saya mengerti, Om." sahut Caraka.


Ia jelas memahami bahwa itu merupakan satu peringatan keras untuknya. Caraka tahu pria di sampingnya itu, ingin ia bertanggung jawab atas keselamatan Chiara dengan berhati-hati selama dalam perjalanan.


"Kamu bisa menembak?" tanya Ray membuat Caraka terkejut.


"Hahaha... Enggak ya... Kamu kan bisanya nyuntik sama bedah manusia!" Ray terkekeh saat melihat wajah Caraka.


"Hehehe... iya, om!"


"Minta ajarin papa kamu, dong! Nanti om kasih pist*ol buat jaga-jaga!"


Apa om Ray mantan mafia? Kenapa papa gak pernah cerita, ya?


"Legal, Cak!" Ucap Ray saat Caraka tampak kebingungan.


"Om gak main bisnis kotor. Tapi kita perlu cerdik untuk menghadapi pesaing yang pakai cara kotor." lanjut Ray.


Caraka semakin merasa jauh berbeda kelas dengan keluarga ini. Ataukah memang hidupnya yang terlalu lurus? Bagun pagi, berangkat kerja dan mengobati orang-orang sakit lalu pulang dan istirahat lagi.


Ray tersenyum kecil. "Banyak-banyak belajar dari papa kamu."


"Dia pasti faham masalah begini. Apa lagi om kamu, Akhtar!"


"Di dunia ini gak cuma ada orang baik seperti tim medis yang mengutamakan keselamatan pasien, Cak!"


"Ada segelintir orang yang yaaah, kamu tahu lah... Sejenis serigala berbulu domba."

__ADS_1


"Di depan dia menjabat tangan kita, dibelakang dia bisa saja menodongkan senjata!"


"Bisa?"


"Haaa?" Caraka bingung. "Bisa apa, Om?"


"Belajar menembak!"


Caraka diam saja. Menembak dan memberikan suntikan pada pasien jelas berbeda. Ia berfikir sejenak.


"Bisa menembak, salah satu syarat jadi mantu, om!" Ucap Ray sambil melipat tangannya di dada.


"Bisa om!" Jawab Caraka refleks.


Ray tertawa pelan. "Bagus!" Ia menepuk bahu Caraka.


"Itu masih salah satunya."


"Masih ada beberapa lagi."


"Apa saja, Om?" tanya Caraka tak sabar.


"Bereskan dulu satu-satu." jawab Ray.


***


"Brak!" Caraka melemparkan asal tas punggungnya keatas meja.


"Ngamuk nih?" tanya Nath dengan menarik satu sudut bibirnya.


"Dapat berapa target?" tanya Rion yang sedang memeriksa dokumen. Hari libur begini, Rion tetap saja menyempatkan diri untuk bekerja.


"Dua dari sepuluh." jawab Caraka kesal.


"Awal yang bagus!" Jawab Rion menyemangati.


Pagi tadi, menjadi awal Caraka belajar menembak sesuai permintaan Ray beberapa hari lalu.


Ia belajar bersama Raihan. Dan ternyata menembak memang sulit seperti yang ia bayangkan.


Untung saja Raihan masih sabar mengajarinya meski bidikannya meleset berkali-kali.


"Makanya jangan lupa baca bismillah..." Ucap Nair disambut tawa Rion dan Nath.


"Terima kasih sarannya pak ustadz." Ucap Caraka tersenyum lebar yang dibuat-buat.


"Ayolah, pasti bisa Cak!" ucap Nath menyemangati. "Demi gadis pujaan!" lanjutnya.


"Aneh aja, Nath... syarat jadi mantu harus bisa nembak. Nembak anaknya aja harus berkali-kali baru di terima."


Mereka tertawa mendengar keluh kesah Caraka.


"Menembak itu, jadi syarat rahasia," ucap Rion pada Caraka.


"Maksudnya gimana, Yon?" tanya dokter bedah mulut itu.


"Yang bener-bener jadi kandidat yang tahu akan syarat itu. Anggap aja kamu sudah one step closser lah..."

__ADS_1


"Cie... yang uda selangkah lebih dekat!" Ejek Nath. "Anti mainstream ya bang Cak!" Ejeknya lagi.


"Orang-orang one step closser dengan cara tunangan. Lah ini malah belajar menembak!" Nath tertawa puas.


Rion tertawa pelan. "Sesuai sama yang didapat. Mutiaranya Danadyaksa."


"Kalau aku yang seleksi harus lebih ekstream lagi. Mungkin berenang sama hiu atau lompat dari atas tugu monas!" lanjut Rion membuat Caraka membulatkan matanya.


Pria itu menyandarkan punggungnya saat lagi-lagi Nath dan Nair mentertawakannya.


"Ipar gil*a!" gumam Caraka.


"Eh! Berani mengump*at?" Rion melirik kesal.


"Ku laporkan papi baru tau rasa!" lanjutnya.


"Ya, kamu keterlaluan Yon! Berenang sama hiu, kaw*in enggak, mat*i iya!" Caraka kesal.


"Astagfirullah, Bang Cak!" ucap Nair membuat Caraka menutup mulutnya.


Pria itu mengangguk sungkan, "Maafkan saya pak ustadz."


Nath menahan tawanya. Nair begitu di hormati. Pria itu belum menjadi ustadz, tapi hanya saja lebih memahami tentang ilmu agama. Tidak seperti Nath dan Rion yang masih sering lepas kendali saat bercanda.


Caraka menegakkan duduknya. "Dulu Daffin dapat syarat begini gak sih?" tanyanya.


Rion mengangkat bahunya. "Tapi aku yakin papi tahu sampai mana kemampuannya!"


Caraka tersenyum miring. "Tapi, om Ray gak tahu tentang apa yang ku tahu." maksud Caraka adalah hububgan Daffin dan Sabella.


"Papi juga manusia kali, Cak. Mana bisa sesempurna itu sampai harus tahu segala hal."


"Oke!" Caraka mengalah.


"Tapi kalau menantunya harus bisa menembak, kamu bisa gak Yon?" tanya Caraka serius. Dia ingin tahu, apakah Rion juga dituntun sama sepertinya.


Rion tertawa hambar. "Mau ku tunjukin?"


Caraka tampak waspada pada ayah dua anak yang sedikit sable*ng itu.


Rion berjalan maju dan duduk diatas meja tepat di depan Caraka. "Targetku biasanya seekor burung!"


"Karena disini gak ada, jadi gimana kalau yang itu kita jadikan target." Lirik Rion pada sesuatu dibalik celana Caraka.


Caraka langsung merasa ngilu mendengar dan melihat kelakuan Rion. "Gak deh, lebih baik gak usah!"


Rion menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Caraka. "Jangankan aku. Chiara saja bisa melakukannya!"


Rion kembali menegakkan duduknya. "Bagaimana mungkin papi tidak membekali hal itu pada anak-anaknya, Cak?"


Caraka menghela nafas. Satu fakta lagi yang baru ia tahu. Ternyata Rion dan Chiara sudah dilatih untuk bisa menembak.


Nath dan Nair terkekeh. "Pertanyaan kamu, Cak! Ada-ada aja!" Nath menggeleng pelan mentertawakan saudara sepupunya.


Nath dan Nair tahu tentang kemampuan Rion yang satu itu. Sejak beberapa tahun lalu, Rion mulai membekali dirinya dengan banyak kemampuan termasuk bela diri dan menembak.


Ajaran Ray yang lebih menekankan tentang musuh yang ada dimana-mana membuat Rion mempersiapkan diri sebaik mungkin. Chiara, karena ia seorang perempuan tentu ia tak akan seberani Rion. Chiara tetap punya rasa takut hingga gadis itu tetap mendapat pengawalan dari bodyguard suruhan Om Ray.

__ADS_1


__ADS_2