
"Dokter, saya tertarik pada anda! Bisakah kita bicara sebentar!"
Deg!
Jantung Chiara nyaris copot saat mendengar dokter Danu mengatakan dengan begitu tegas dan jelas.
Keduanya sedang berselisih jalan di sebuah lorong rumah sakit saat mereka sama-sama baru saja melakukan kunjungan ke kamar pasien.
Dokter Danu tidak menyia-nyiakan keadaan. Lorong rumah sakit yang lumayan sepi karena bukan merupakan jam besuk bagi keluarga pasien.
Ia ingin bicara empat mata pada gadis yang berhasil mencuri hatinya itu. Ia tak ingin kalah jauh dari pria bernama Caraka itu.
Chiara berhenti dan berbalik. Ia berdiri berdiri menghadap pria yang lebih tinggi beberapa centi darinya itu. Ia juga memastikan lorong rumah sakit dalam keadaan sepi agar bisa berbicara dengan dokter baru itu.
"Tolong katakan sekali lagi, Dok?" pinta Chiara untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Dengan senyum lebar dan rasa percaya diri tinggi, pria bernama Danu itu mengulangi kalimatnya.
"Saya tertarik pada anda!"
Chiara menghela nafas.
"Saya jatuh cinta pada anda." aku Dokter Danu dengan sangat santai.
"Bahkan sejak pandangan pertama."
Chiara menatap pria yang terlalu berani itu.
"Saya akan berusaha mendapatkan hati anda. Saya akan memperjuangkan cinta saya."
"Saya tahu ini kurang sopan, tapi saya terpaksa karena anda sama sekali tidak pernah menerima tawaran saya untuk sekedar makan siang bersama."
Chiara tersenyum lebar. "Jangan membuang waktu anda untuk hal semacam ini."
"Maaf sebelumnya." Chiara mengangguk sekali. "Tapi saya sedang tidak tertarik untuk memulai hubungan dengan siapapun," lanjutnya tegas.
"Jadi, fokuslah bekerja! Anggap saja perasaan anda itu tidak pernah ada."
"Saya permisi dulu!" Chiara berbalik dan meninggalkan dokter Danu.
Ia tak ingin berbasa-basi karena hanya akan menimbulkan kesalah fahaman. Ia tak ingin pria itu berharap banyak darinya. Ia tak ingin pria itu berharap perasaannya terbalaskan.
"Tapi saya akan tetap berusaha."
"Meski dokter Caraka yang akan menjadi saingan saya." Dokter Danu sedikit berteriak. Beberapa tim medis yang tak sengaja lewat sempat mendengar ucapan pria itu.
Chiara tak berhenti berjalan meski ia cukup terkejut bahwa Dokter Danu mengetahui siapa Caraka sebenarnya.
"Dan saya tidak akan pernah menyerah sampai janur kuning melengkung di kediaman anda."
Chiara berhenti dan melihat kearah belakang. "Berhentilah sebelum menyesal karena semuanya akan sia-sia." Ia kembali berjalan menuju ruang kerjanya tanpa memperdulikan tanggapan Dokter Danu.
Chiara duduk di kursi kerjanya. Ia menghela nafas mengingat kejadian beberapa menit lalu.
__ADS_1
"Mengapa aku selalu dikelilingi oleh lelaki yang terlampau berani mengungkapkan perasaannya?"
"Dulu bang Caraka ngajak nikah."
"Terus Daffin..."
"Dan sekarang dokter Danu," gumamnya pelan.
Kejadian ini membuatnya kembali teringat pada Daffin yang juga pernah menyatakan cinta padanya. Dan ia menerima pria yang tampak sempurna itu. Tapi, akhirnya ia menyesali keputusannya sendiri.
Dan kali ini, ia tak ingin semua terulang lagi. Daffin dan Danu memang orang yang berbeda, tapi ia hanya tak ingin memulainya lagi. Jika kesempatan tidak ia berikan, maka kesalahan lalu tidak akan terulang lagi.
Caraka, ya... dia juga sedang berusaha untuk memulai hubungan dengan pria itu. Pria yang jauh lebih dia kenal dibanding dokter Danu.
***
Sore ini, sebelum pulang, ia harus ke ruangan Rion terlebih dahulu. Entah apa yang akan disampaikan oleh kakak laki-lakinya itu.
"Anda memanggil saya, Pak?" tanya Chiara saat ia sudah berada di ruangan Rion. Ia berusaha profesional karena ada orang lain di ruangan itu selain Rion.
"Duduklah, Dok!" Perintah Rion pada adiknya.
Chiara duduk di depan meja kerja Rion dan di sampingnya ada Danu. Ia cukup terkejut dan bertanya-tanya untuk apa Rion memanggil keduanya sore ini.
Rion menatap keduanya bergantian dengan wajah datar.
"Kalian tahu, mengapa saya memanggil kalian kesini?" tanyanya.
Keduanya kompak menggeleng.
Rion menegakkan duduk dan melipat tangannya di atas meja.
"Kalian tahu, ini rumah sakit?" tanyanya.
"Tahu, Pak!" jawab Danu.
"Ya, saya tahu Pak!" jawab Chiara.
"Lalu, pembicaraan apa yang kalian bahas pagi tadi ke lorong rumah sakit?" tanya Rion.
Chiara dan Danu saling tatap lalu keduanya kembali menundukkan padangan.
"Beberapa staff rumah sakit dan juga tim medis sedang membicarakan kejadian pagi tadi, yang melibatkan kalian berdua."
"Siapa yang akan menjelaskan?" tanya Rion dingin.
"Biar saya jelaskan, Pak!" ucap Danu.
"Saya... saya mengatakan pada dokter Chiara bahwa saya mencintainya."
Rion menatap pria yang mulai terlihat gugup itu.
"Saya juga katakan bahwa saya tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatinya."
__ADS_1
Danu menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun, termasuk penolakan yang Chiara ucapkan padanya.
Rion melihat adiknya yang melirik kearahnya dan sepertinya gadis itu sedang memberikan kode rahasia lewat mata.
Rion tak memperdulikan Chiara yang sepertinya meminta agar masalah ini segera diselesaikan. Ia terus mendengarkan penjelasan pria di depannya itu.
"Anda harusnya bisa melihat situasi, Dok!" ucap Rion setelah Danu selesai menceritakan kejadian sebenarnya.
"Ini rumah sakit, dan kalian seorang dokter. Seharusnya jangan dilakukan disini."
"Kalian tidak malu jika apa yang kalian bicarakan juga menjadi bahan pembicaraan seisi rumah sakit ini?"
"Maaf, Pak!" Danu menunduk hormat. "Saya yang salah!"
"Nah, benar! Anda yang salah!" Danu membulatkan matanya saat mendengar Rion justru membenarkan ucapannya.
Memang dia yang salah, tapi Danu tak menduga, Rion tidak berbasa-basi sedikitpun. Apakah kesalahannya sefatal itu? Bahkan ia tak menyentuh gadis itu meski seujung kuku pun.
Sementara itu, Chiara hanya bisa diam dan menahan senyumnya kala melihat ekspresi Danu.
"Anda harusnya bisa lebih menghargai perempuan. Perlakukan dia istimewa kalau memang dia menempati salah satu ruang di hati anda."
"Bukan membuatnya menjadi bahan ceritaan banyak orang!" tegas Rion.
Huuh! Padahal yang ku lakukan pada Bintang jauh lebih parah. Maafkan aku Bi sayang! Rion tertawa dalam hatinya.
"Profesionallah dalam bekerja. Jangan membahas hal diluar pekerjaan saat masih dalam jam kerja!"
"Kalau terpaksa, setidaknya jangan di lorong rumah sakit! Cari tempat yang lebih pantas!"
"Dan anda dokter Chiara?" Rion beralih pada sang adik yang sedari tadi hanya diam.
"Sebaiknya hindari hal seperti ini lagi."
"Semua orang tahu, anda siapa! Maka lebih berhati-hatilah dalam bersikap."
Ya, tentu semua orang tahu dia anak pemilik rumah sakit ini. Calon pewarisnya bahkan.
"Baik, Pak!" Chiara mengangguk. "Saya tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi."
Huuh! Berani banget aku ngomong begini sama calon pewaris. Padahal dalam hitungan detik, aku bisa saja dipecat. Hehehe. Batin Rion tertawa.
"Sekarang kalian bisa keluar dari sini!"
"Dan ya...! Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan sebaiknya kalian menjaga jarak! Terkecuali saat sedang menangani pasien!"
"Baik, Pak!"
Danu keluar lebih dulu, sementara Chiara yang berada di belakangnya menutup pintu ruangan itu setelah berada di luar.
Chiara mengacungkan ibu jarinya sebelum tubuhnya benar-benar keluar dari ruangan itu.
Rion menahan tawanya. "Aneh-aneh aja. Udah jadi dokter tapi kelakuan masih kayak Abege."
__ADS_1
"Aku harus menjaga Chiara. Aku gak mau kecolongan lagi, seperti hubungannya dengan Daffin beberapa bulan lalu."
***