Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 53 Bercocok Tanam


__ADS_3

"Chiara?" panggil Ray saat melihat putrinya itu malah diam melamun.


Chiara terkesiap menatap Ray. "Ya, Papi..." jawabnya cepat.


"Caraka nanya sama kamu, loh!"


"Jangan buru-buru, Ray! Biar Chiara memikirkan semuanya matang-matang," bisik Sania pada suaminya.


Ray tersenyum dan mengusap punggung tangan istrinya seolah mengerti atas apa yang Sania fikirkan.


Chiara tersenyum kecil dan mengangguk. "Chia dengar kok, Pi."


Chiara menatap Caraka dan berhasil membuat jantung pria itu nyaris copot. Netra keduanya bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Tak peduli dengan adanya sepasang orang tua di dekat mereka dan sepasang suami istri di lantai dua.


"Chiara setuju, Bang!" ucapnya dengan senyum malu-malu.


Keputusan Chiara sudah bulat. Meskipun sedikit aneh rasanya mengatakan hal itu di depan orang tuanya. Tapi, mau bagaimana lagi. Pria itu saja bisa melamarnya langsung di depan orang tuanya.


Ahhhh!!!!!


Lega rasanya!


Caraka melebarkan senyum. "Terima kasih, Chi!" serunya senang.


"Terima kasih, kamu mau menerimaku diantara banyaknya pria yang berusaha mendekatimu!"


"Biasa aja tuh bibir! Gak usah melengkung sampai ke kuping!" teriak Rion dari lantai dua.


Ray dan Sania mengulum senyum lucu melihat Rion yang sepertinya tidak bisa menerima adik kesayangannya dilamar dengan sesederhana ini.


"Siap kakak ipar!" jawab Caraka memberi hormat layaknya anggota kepolisian. "Masih bisa mengendalikan diri!"


"Avatar kali!" sahut Rion cemberut. Padahal Bintang ada di belakangnya, memeluk perutnya sambil berbisik merayu.


"Sayang! Udah dong!" pinta Bintang agar Rion berhenti bersikap kekanakan.


"Malu tau, kalau anak-anak lihat kamu begini."


Seketika Rion membulatkan matanya. "Anak-anak kemana, Bi?" Rion berbalik dan berdiri menghadap istrinya.


"Tidur siang sayang!"


"Ehm..." Rion tersenyum jahil dan alarm tanda bahaya ditubuh Bintang menyala.


"Kita pesan kamar di hotel bintang 5 malam ini!"


Nah, benar kan dugaan Bintang. Suaminya itu selalu punya ide aneh meski dalam keadaan kesal sekalipun.


Rion mencium singkat kening Bintang dan segera menghindari istrinya sebelum Bintang menolak.


"Aku pesan dulu!" Rion meraih ponselnya dan berjalan menjauh.


Sementara itu di meja makan, keduanya menjadi tontonan menggelikan. Ray dan Sania bersyukur karena rumah tangga putranya selalu rukun dan harmonis. Dan keduanya juga bersyukur karena akhirnya Rion menemukan parangnya.


"Baiklah, kalau begitu saya akan segera membicarakan hal ini dengan kedua orang tua saya, Om."


"Agar kita bisa memusyawarahkan kapan acara pertunangan dan pernikahan akan di gelar," lanjut Caraka.


"Langsung menikah saja, Bang!" ucap Chiara membuat Ray dan Sania menatap putrinya itu.


"Maksud kamu...."


"Kita langsung menikah saja, tanpa acara pertunangan." potong Chiara.


"Kenapa sayang?" tanya Sania khawatir. "Bukankah memang begitu tahapan-demi tahapannya?"


Apakah putrinya setrauma itu? Apakah harus Chiara bertemu psikolog untuk mengatasi masalahnya?


"Gak kenapa-kenapa, Mi..." jawab Chiara.


"Kamu trauma sayang?" tanya Ray yang juga merasa khawatir karena Chiara pernah gagal bertunangan.


Chiara tertawa kecil dan menggeleng. "Enggak, Mi, Pi."


"Apa bedanya tunangan dulu atau enggak, toh tujuan juga menikah kan, Pi?"


"Jangan terlalu banyak acara yang membuat lelah, Pi."


"Apa lagi pekerjaan kami yang melayani orang banyak."

__ADS_1


"Chia rasanya tidak rela kalau terlalu banyak mengambil cuti."


"Bagaimana kalau banyak pasien yang membutuhkan penanganan?"


"Masih ada dokter lain, Nak!" jawab Sania.


Chiara tersenyum kecil. "Iya, Mi. Dokter umum seperti Chia mungkin banyak yang bisa menggantikan. Tapi, dokter spesialis seperti Bang Caraka?"


"Gak banyak, Mi." Chiara menggeleng.


Sania mengangguk. Ia mengerti atas ke khawatiran putrinya.


***


"Caraka mau menikah, Ma!" teriak Caraka sambil berlari dan memeluk Sora yang tengah menyiram tanaman di teras rumah.


Sora terkejut dan mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa?" tanya Sora pelan.


"Gak menghamili seorang gadis kan?"


"Astagfirullah, Mama!" Caraka melepas pelukannya dan membalikkan tubuh mamanya.


Caraka membuang selang ditangan Sora dan meraih kedua tangan wanita yang melahirkannya itu.


"Terima kasih untuk doa mama!" Caraka mencium kedua punggung tangan yang mulai keriput itu dengan penuh kasih sayang.


"Akhirnya Caraka akan menikah dengan Chiara!"


Sora diam mematung. Masih tak percaya dengan apa yang putranya itu katakan.


"Mama senyum dong! Anak bujangnya sebentar lagi sold-out loh!"


Sora menggeleng pelan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang putranya katakan adalah benar.


"Kamu gak mimpi kan, Nak?"


Caraka tertawa dan menggeleng. "Chiara setuju menikah dalam waktu dekat."


"Kamu tidak mengancam dia, kan?" tanya Abi yang baru saja datang dari arah dalam rumah.


Caraka melihat kearah pintu, tampak pria berbaju koko dan sarung tengah berdiri dengan tangan yang disembunyikan dibelakang tubuh.


Caraka berjalan mendekat. "Papa tau? Chiara mau menikah sama Caraka, pa!"


"Tanpa paksaan."


Abi dan Sora saling tatap melihat putra mereka yang tampak sangat bahagia itu.


Akhirnya, Caraka, Sora dan Abi duduk di teras rumah. Caraka menceritakan semua hal yang terjadi hari ini termasuj saat Delvin datang menemuinya.


"Om Ray sama sekali tidak menolak untuk menunda pernikahan, Cak?" tanya Abi.


Caraka menggeleng. "Sepertinya Om Ray yang trauma deh, Pa. Dia seperti tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Dia menyerahkan semuanya pada Chiara. Termasuk meniadakan acara pertunangan."


"Mama rasa memang itu yang terbaik," potong Sora.


"Karena niat baik itu tidak boleh ditunda-tunda, Cak!"


"Kapan kita akan kesana untuk membicarakan tanggal pernikahan mereka, Mas?" tanya Sora pada suaminya.


"Segera sayang!" jawaban Abi membuat kedunya tersenyum lebar.


"Cieee... selamat bujangannya mama!" Sora memeluk Caraka. "Akhirnya laku juga!"


"Mama senang?" tanya Caraka.


"Lebih tepatnya tenang. Karena akhirnya cinta kamu terbalas dan penantian kamu tidak sia-sia."


"Semua ini juga karena doa mama."


"Papa?" tanya Abi.


"Heheheh... iya... iya... doa papa juga!" Caraka tertawa.


***


Caraka menatap cahaya bulan dari depan jendela kamarnya. Ia masih tak menduga semua akan secepat ini.


Hari ini mendadak terasa semakin dekat dengan pernikahan bahkan disaat persaingan begitu ketat.

__ADS_1


"Delvin... Aku akan menjaganya agar tidak ada kesempatan bagimu untuk mengambilnya dariku," gumamnya saat terlintas bayangan wajah Delvin dalam fikirannya.


"Ah! Aku benci ini!" Caraka berdecak kesal sambil mengusak rambutnya.


"Belum menikah tapi pebinor udah memperkenalkan diri!" keluhnya.


"Delvin! Cari cewek lain gih! Jangan mengharapkan Chiara lagi!" Caraka bermonolog.


"Dia calon istriku!"


Drrrt... Ponselnya bergetar.


"Chiara?" gumam Caraka membaca nama yang muncul di layar.


"Panjang umur nih calon istri." ucapnya karena pas sekali ia tengah memikirkan gadis itu.


"Hallo, Chia. Ada apa?" sapa Caraka.


"Assalaamualaikum, Bang!" Ah... Chiara seperti sedang memperingatkannya bahwa harusnya mengucap salam lebih dulu.


"Hahaha... Iya Waalaikumsalam, Chia sayang!" Ck! Kesempatan dalam kesempitan.


"Ada apa, Chi?" tanya Caraka lagi karena Chiara tidak mengatakan apapun.


"Ehm... begini, Bang."


Caraka mendengarkan dengan seksama karena suara Chiara terdengar sedikit ragu-ragu.


"Ada apa? Katakan, Chi!"


"Ini soal kita!"


Soal kita ya? Kok aku senang? batin Caraka.


"Ya, ada apa soal kita, Chi? Apa sebegitu pentingnya hingga harus lewat telfon?"


"Gak mau ketemuan aja besok?"


Alah! Modusku! Hahahah. Batin Caraka.


Ia menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar oleh Chiara.


"Gak perlu, Bang!"


"Chia cuma mau bilang, kalau sebenarnya ada satu pria lagi yang harus abang temui!"


"Haaa?" Caraka tak percaya ini. Ada satu pria lagi?


"Si-siapa, sayang?"


Ah! Dasar Caraka. Tergagap tapi tetap manggilnya pake sayang.


"Pria yang terus saja memarahiku dan memintaku supaya abang mau menemuinya!"


"Siapa?"


"Bang Rion!" jawab Chiara.


Ku fikir saingan baru. batin Caraka lagi.


"Dan abang tau? Sekarang aku sedang momong dua bocah karena emak sama ayahnya mengunap di hotel!" Kesal Chiara.


"Astaga! Kamu jaga mereka sendirian?"


"Orang tua kamu kemana?" tanya Caraka.


"Ada. Tapi mereka maunya sama aku."


"Aku bantu kamu kesana?" tawar Caraka.


"Eh. Gak perlu, Bang!" cegah Chiara.


"Bujuk aja ayah mereka supaya gak kesal lagi sama abang! Supaya hubungan kita gak terus-terusan direcokin, Bang!"


"Iya... iya... besok aku temui dia di Cafe."


Mereka tidak banyak berbincang lagi karena Chiara harus menemani kedua keponakannya.


Caraka menghela nafas. Ia menghubungi nomor Rion dan tidak diangkat.

__ADS_1


Caraka mengangkat bahunya. "Mungkin orangnya sedang sibuk bercocok tanam!"


__ADS_2