
Berbanding terbalik dengan acara akad nikah yang hanya dihadiri tamu-tamy penting dari keluarga terdekat, resepsi di sebuah hotel mewah ini dihadiri ribuan tamu undangan.
Berbagai kalangan hadir, turut meramaikan acara dan mendoakan kedua pengantin agar menjadi keluarga yang bahagia.
Ratusan pria berbadan kekar yang merupakan prajurit dan mantan prajurit angkatan darat tak kalah mencuri perhatian diantara para pengusaha-pengusaha kaya.
Ratusan tim medis berbalut jas dan dress bernuansa biru tua ikut berbaur dengan ratusan staff dari perusahaan Rion.
Belum lagi para guru Cahaya Bangsa dan pegawai R Cafe yang sebagian besar saling mengenal karena voucher makan yang rutin para guru dapatkan di Cafe tersebut.
Malam ini, acara besar yang mempersatukan dua keluarga dengan latar belakang berbeda itu berlangsung dengan begitu meriah dan lancar.
"Waah... Bang Cak, mimpi apa dia bisa nikah dengan semewah ini?" ucap Nath pada Tiara saat mereka berjalan di karpet merah menuju meja yang sudah disediakan untuk mereka berdua.
"Rejeki dia bagus bener sayang!" sahut Tiara. "Seorang pewaris, cantik, berpendidikan, kok mau ya sama bujang lapuk kayak dia!"
"Ssst! Dia sepupuku sayang!"
"Senyum!" perintah Tiara tiba-tiba. "Ada kamera ngarah ke kita!" Oke. Tiara sangat teliti.
Nath tersenyum lebar. Si narsis yang tak ingin tampak jelek dalam perfilman pernikahan Caraka dan Chiara.
"Lama banget." sambutan pertama yang Nath dan Tiara dapatkan saat Ethan dan Marisa sudah terlalu lama menunggu keduanya.
"Biasa tes drive ranjang hotel gratisan dari om Ray!" Jawab Nath membuat Tiara mendelik kesal.
"Dasar norak!"
Nath tertawa lebar. "Loh, kita harus pastikan aman untuk pertempuran malam nanti, Than!"
"Hahaha... Jangan mau, Ti!" Ethan mencoba menjadi kompor diantara keduanya.
"Aku juga gak mau, Than! Gak mau nolak!" Tiara mengedipkan sebelah matanya kearah Nath.
Ethan mulai jengah. "Dasar pasangan aneh!"
Acara resepsi dimulai. Satu persatu rangkaian acara berjalan lancar.
Rion dan Bintang tak ragu menyumbangkan suara emasnya. Membuat semua keluarga berjoget di atas panggung plaminan.
"Sekuntum mawar meraaahhhh. Yang kau berikan kepadaku... Dimalam itu... Ku mengerti apa maksudmu...."
Bintang membuat semua orang berjoget, terlebih saat lagu itu di aransemen dalam musik koplo.
"Ini sih lagu mereka," bisik Caraka pada Chiara yang tertawa melihat Rion dan Bintang bernyanyi duet sementara para pria, papa papa muda berjoget bersama.
Chiara mengangguk. "Inget ya, pas bang Rion lamar kak Bi pakai puluhan tangkai mawar merah?"
"Ya... Inget dong! Emang mereka berdua bener-bener memanfaatkan momen pernikahan kita untuk mengenang moment lamaran itu."
Chiara tertawa. "Harap maklum. Nanti kalau udah sering ketemu bakalan faham kok gimana kehidupan rumah tangga mereka."
"Dan aku menjadikan mereka sebagai pasangan panutanku."
Caraka menatap Chiara. "Serius? Aku juga loh."
"Oh ya?" Chiara cukup terkejut.
__ADS_1
Caraka mengangguk. "Aku melihat dari mereka, bahwa pasangan yan berbeda usia bisa tetap bahagia."
"Hei... pengantin! Malah ngobrol. Ayo joget!"
Caraka dan Chiara kompak menggeleng tapi tak berdaya saat Rion dan Nath menarik keduanya untuk bergabung.
"Ku harap, Chiara bahagia bersama Caraka!" Gumam Ray melihat putra putrinya bersama pasangan masing-masing tengah berjoget bersama diatas panggung.
"Bukan berharap, sayang. Tapi mendoakan," ralat Sania yang juga sedang duduk bersama besan-besannya di meja yang sama.
"Caraka pasti akan mengupayakan kebahagian Chiara," sambung Akhtar. "Dia keponakanku dan aku mengenalnya dengan baik."
Ray dan Sania mengangguk. Begitu juga Sora dan Abi. "Kita sebagai orang tua hanya bisa menghantarkan mereka sampai sini. Setelahnya biar mereka yang menjalani," ucap Abimanyu.
***
"Satu... dua... tii...." Teriak pembawa acara saat buket bunga pengantin siap dilemparkan.
"Yaaa.... pengantinnya nge-prank!"
Semua sontak tertawa karena di bawah panggung puluhan orang sedang menunggu untuk mengambil bunga tersebut.
Tak terkecuali Syakilla dan Shaka. Meski mereka berada di barisan paling belakang, tapi tak mengapa, hanya untuk memeriahkan saja. Eits, itu pemikiran Syakilla.
Berbeda dengan Shaka. Ia harus mendapatkannya. Karena mitos yang pernah ia dengar, yang mendapat buket bunga akan segera menyusul. Dan dia ingin itu!
"Nath, ayo!" ajak Shaka.
"Dia udah nikah, Shak!" teriak Tiara marah.
"Hahaha... siapa tahu, dia pengen lagi!" Shaka suka menggangu saja.
"Hahahah...." Shaka tertawa saat Rion melirik Bintang yang duduk disampingnya. "Wah, ada pawangnya!"
"Aduh, aku sendirian nih?" keluh Shaka. "The one and only single limited edition." pujinya pada diri sendiri.
"Oke... kita mulai lagi." Suara pembawa acara membuat Shaka kembali bersiap.
"Disini aja ya sayang!" Shaka mengatur Syakilla untuk berdiri disisi kanan dan dirinya berdiri disisi kiri.
"Kamu jangan ke tengah, biar aku aja kalau seandainya bunganya melayang ke tengah ya..." pesan Shaka seperti sedang bicara pada anak kecil.
Syakilla tertawa melihat Shaka yang terlalu terobsesi untuk segera mendapatkan buket bunga itu.
"Satu... dua.. tiga...!"
Bunga dilempar, sangat jauh hingga seorang pria mendapatkannya dengan mudah.
Semua orang menatap pria beristri dengan uban yang mulai tumbuh itu.
"Yaaaaaa!" Shaka lemas saat melihat siapa yang memegang buket bunga di dominasi warna putih itu.
Tapi bukan Shaka namanya kalau tidak punya ide. Ia mendatangi pria itu dan tersenyum lebar.
"Ayah, sini bunganya!" pinta Shaka pada Satya, ayahnya sendiri.
Satya menatap putranya dan buket itu bergantian.
__ADS_1
"Ayolah Ayah. Ayah gak berniat buat nikah lagi kan?" tanya Shaka membuat bundanya menatap tajam suaminya.
"Bunda, ayah ada niat nih sepertinya!" Shaka berulah karena Satya tak kunjung memberikan buket bunga itu.
"Ini buat kamu!" Akhirnya buket bunga itu berpindah ke tangan Shaka.
"Ayah punya bunga yang jauh lebih cantik!" Satya menatap Bunga-istrinya yang tersenyum lebar.
"Thanks Ayah!"
Shaka meminta musik dimatikan.
"Chiara!" Teriak Shaka yang saat ini menjadi pusat perhatian semua orang.
"One day, aku pernah mengatakan padamu. Aku akan melamar Syakilla dihadapan banyak orang, jika kamu menerima bang Cak, kan?"
Semua orang terheran, termasuk Caraka.
Chiara mengangguk dan tertawa tanpa suara. "Aku ingat!"
"Demi persahabatan kita, dan demi perasaanku pada sahabat kita itu." Shaka menunjuk Syakilla yang berdiri di jarak beberapa meter darinya.
"I will do it now!"
"Sya..." Shaka mendekati gadis yang mulai bersemu merah dipipinya.
"Aku gak pernah tahu sejak kapan, tapi aku mulai yakin saat hanya kamu yang ingin ku temui setiap kali aku pulang."
"Bahkan tidak ayahku!"
"Dia belajar jadi anak durhaka, Na!" Bisik Satya pada istrinya. Sementara Bunga hanya tersenyum kecil.
"Sorry Ayah, tapi itu kenyataannya," Shaka sempat menoleh pada ayahnya.
"Terima kasih sudah menerimaku menjadi kekasihmu." Ucap Shaka karena kemarin malam ia sudah menyatakan perasaanya dan Syakilla menerimanya.
Dan mereka mengumumkan hubungan itu melalu story W.A dengan mengecualikan Caraka. Itulah sebabnya hanya pria itu yang tidak tahu mengenai kemajuan hubungan keduanya.
"Malam ini akan terulang, pada bulan berikutnya..."
"Dengan kita berada diatas sana!" Shaka menunjuk kearah plaminan.
Maksudnya adalah ia akan menikahi Syakilla bulan depan jika gadis itu menerima lamarannya malam ini.
Shaka tak banyak bicara. Ia berlutut dihadapan Syakilla dan memberikan buket bunga itu. "Sya! Will you marry me!"
"Terima..."
"Terima..."
"Terima..."
Sorakan para tamu membuat Syakilla mengahru biru. Karna Abi dan Sora juga mengangguk memberi restu.
"Terima nak!" Ucap Sora tanpa suara.
"Yes... I will!" Syakilla mengambil buket bunga ditangan Shaka.
__ADS_1
Sebuah jawaban yang membuat Nath dan kawan-kawan melakukan Celebration dengan mengangkat tubuh Shaka.
"Akhirnya, pria jomblo terakhir laku juga!" Sorak Nath membuat mereka semua tertawa.