Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 47 Caraka Vs Danu


__ADS_3

Caraka sengaja menjemput Chiara sore ini di rumah sakit Danadyaksa tempat gadis itu bekerja.


Caraka sudah tiba di parkiran rumah sakit dan bersiap turun dari mobil miliknya. Ia sempatkan diri untuk merapihkan rambutnya di kaca spion sebelum akhirnya turun dari dalam mobil.


"Kamu..." Sapa seorang pria pada Caraka.


Caraka menatap pria yang sedang memegang kunci mobil dan berdiri di depan mobil yang terparkir di samping mobilnya. Sepertinya pria berkemeja rapi itu akan segera pulang karena jam prakteknya sudah selesai.


"Kamu yang di cafe kemarin, kan? Yang bersama dokter Chiara?" tanya pria bernama Danu itu.


Caraka mengangguk pelan. Ia tersenyum kecil pada pria yang kemarin tanpa sengaja bertemu dengannya dan Chiara di cafe.


Ia jelas masih ingat wajah pria yang menurutnya merupakan saingan baginya. Sikap Danu yang kerap kali sok akrab dengan Chiara membuat Caraka yakin bahwa pria itu menyukai gadis yang telah ia cintai sejak lama itu.


"Selamat sore dokter..." gantung Caraka.


"Dokter Danu." Ah, ya... Dia masih ingat nama dokter yang kemarin sempat mengganggu waktunya bersama Chiara itu.


"Selamat sore...!" balasnya. "Sedang apa disini?" tanya Danu penasaran. "Menjenguk kerabat, atau teman yang sedang sakit? atau mau berobat?"


Caraka menggeleng. "Sedang menjemput Dokter Chiara," jawabnya dengan senyum simpul.


"Ah, ya... saudaranya Dokter Chiara ya? Saya lupa," balas pria itu dengan tawa kecil.


Caraka tersenyum simpul. Ia sedikit tertarik dengan pria ini. Bukan karena ketampanan atau ada perasaan suka, tapi tentang ketidaktahuan pria ini mengenai siapa dirinya.


Mungkin seluruh dokter di rumah sakit ini mengenal dirinya yang sempat berseteru dengan pengusaha bernama Daffin demi menyelamatkan masa depan Chiara. Tapi, Dokter Danu sepertinya tidak mengetahui hal itu.


Dia benar-benar tidak tahu, atau hanya pura-pura tidak tahu? batin Caraka penuh selidik.


"Bang, maaf menunggu?" tanya Chiara yang baru saja datang. Chiara terdiam sejenak saat ia menyadari Caraka sedang bersama Dokter Danu yang sempat memberi tawaran padanya untuk mengantarkannya pulang. Chiara jelas menolak dengan alasan sudah ada yang menjemputnya.


"Gak masalah, Chi. Kita pulang sekarang?" tanya Caraka yang berjalan mendekat kearah Chiara.


Chiara mengangguk pelan.


Caraka langsung membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Lalu ia juga langsung masuk ke kursi kemudi.


"Kami duluan dokter." ucap Caraka sebelum menutup kaca mobilnya.


Pria bernama Danu itu tersenyum kecil dan mengangguk. Ia melihat mobil milik Caraka keluar dari area parkir.


"Dokter spesialis bedah mulut!" Danu menaikkan bahunya dan mencebikkan bibir.


"Saingan berat!" ucapnya sedikit kesal.


"Masih punya hubungan saudara, dan kenal dengan kedua orang tua Chiara." gumam Danu lagi.


"Huh!" Ia menghembuskan nafas kasar.


"Semakin seru perjuanganku." Pria itu menyeringai.


Ia segera masuk ke dalam mobil dan mulai memutar otak untuk bisa mendapatkan hati Chiara.

__ADS_1


"Cantik, smart, good attitude, dan seorang pewaris pula."


"Paket komplit yang pasti akan menjadi kebanggaan tersendiri bisa mempersuntingnya," gumam Danu sambil tersenyum.


"Mama dan papa pasti akan sangat setuju kalau aku mengatakan bahwa aku menyukai gadis itu."


Danu membayangkan bagaimana kedua orang tuanya akan langsung setuju jika ia meminta restu. Kedua orang tua yang berlatarbelakang sebagai seorang dokter pasti akan langsung setuju jika memiliki menantu yang juga seorang dokter.


"Caraka..."


"Mari bersaing secara sehat untuk mendapatkannya."


"Aku yakin akan berhasil karena aku dan dia bekerja di rumah sakit yang sama."


"Aku akan merebutnya meski sekarang kamu masih menggenggam tangannya."


***


"Bicara tentang apa sama Dokter Danu, Bang?" tanya Chiara.


Caraka menatap gadis itu dengan alis yang hampir menyatu di pangkal hidungnya. Ia heran, karena Chiara ingin tahu mengenai hal sesepele itu.


"Kenapa?" tanya Caraka.


"Ya gak kenapa-kenapa, sih!" ucap Chiara agak gugup karena Caraka menatapnya seperti hendak menelannya.


"Tadi, aku lihat, sepertinya kalian ngobrol banyak."


Keduanya saling diam sejenak.


"Dia sepertinya suka sama kamu, Chi," ucap Caraka menatap Chiara sekilas.


Chiara tersenyum hambar dan tak mengatakan apapun.


"Benarkan kataku?" tanya Caraka lagi. Ia tersenyum kecut. "Dia pasti sudah kirim sinyal-sinyal itu ke kamu. Makanya kamu gak bisa jawab."


Chiara menatap Caraka yang tersenyum miris. "Kalau begini ceritanya, bukan jodoh yang gak kemana. Tapi saingan yang dimana-mana."


Chiara tertawa pelan. "Yang udah sah aja masih bisa diambil orang, Bang!"


Caraka menatap Chiara yang seolah membenarkan ucapannya tadi.


Chiara benar. Yang sudah menikah saja masih bisa berpisah karena orang ke tiga. Batin Caraka risau.


"Jadi, kamu juga kasih kesempatan untuk dia Chi?" tanya Caraka.


Chiara mengangkat bahunya. "Kami baru kenal beberapa hari. Belum lama, Bang. Bagaimana bisa aku kasih dia kesempatan ?"


Caraka menghembuskan nafas lega. "Ya... aku cuma mau memastikan, Chi."


"Aku bersaing dengan siapa aja!0l"


"Aku tahu, Dokter Danu itu sepertinya bukan dari kalangan orang yang biasa-biasa saja."

__ADS_1


"Memang." Sahut Chiara. "Kedua orang tuanya merupakan dokter di salah satu rumah sakit besar di Jakarta," lanjutnya.


Saat Dokter Danu resmi bekerja di rumah sakitnya, ia telah mengetahui latar belakang keluarga pria itu. Ia jelas harus teliti menerima tenaga medis baru di rumah sakit yang kelak akan ia jalankan sendiri tanpa campur tangan Rion dan Papinya lagi.


Caraka menghela nafas. "Tuh kan!" Dia tertawa dan menggaruk keningnya.


"Sainganku selalu diatas ekspektasiku, Chi."


"Daffin, anak orang kaya."


"Dan sekarang Danu?"


Caraka menggeleng pelan. "Semoga akhirnya nanti kamu tetap memilih aku ya, Chi."


Chiara menahan tawa melihat Caraka yang seperti seorang prajurit yang akan pergi ke medan perang.


"Aku sih tergantung perjuangan kamu, Bang!" jawab Chiara sambil menatap lurus ke depan.


"Aku bisa nyaman dan percaya atau enggak sama kamu, itu tergantung bagaimana kamu membuktikan perasaan kamu sama aku."


"Kamu masih belum bisa nyaman setelah kita kenal selama puluhan tahun, Chi?" tanya Caraka heran karena dari ucapan gadis itu, seolah Chaira belum merasa nyaman saat bersamanya.


Chiara tersenyum kecil. "Tapi apa yang sedang coba kita jalani ini gak sama dengan hubungan pertemanan, persaudaraan ataupun hubungan kakak adik."


"Kalau tujuan kita ke pernikahan, itu artinya kita harus bisa saling menerima satu sama lain."


"Kekurangan bahkan kelebihan satu sama lain."


"Saling percaya itu nomor satu, Bang!"


Caraka mengangguk pelan. "Kita nikah aja deh, yuk!" ajak Caraka sambil tertawa kecil.


"Nasehati aku kalau aku udah sah jadi suami kamu, Chi."


"Aku pasti dengerin kamu."


Chaira memukul bahu Caraka. "Banyak hal yang harus kamu sesuaikan kalau mau hidup seatap sama aku, bang!"


"Katakan!" sahut Caraka tak sabar.


"Aku lebih suka diskusi dari pada debat," ucap Chiara yang menjadi poin utama yang ia ingin agar difahami oleh Caraka.


Aku tahu itu. Batin Caraka.


"Aku suka pria yang tepat waktu, bisa di pengang omongannya, berpakaian rapi dan tegas."


"Oke, saya faham, miss perfect!" Caraka tersenyum lebar. Dirinya sekali. Semua hal yang Chiara sebut tadi jelas sudah ada dalam dirinya.


Chiara tertawa.


"Kalau cuma itu, aku siap bawa kamu ke KUA." Caraka membuat Chiara jadi salah tingkah.


Dia memang nyaris sempurna. Dulu aku belum bisa menerimanya karena Sabella. Tapi sekarang, ku rasa tidak ada alasan lagi. Batin Chiara.

__ADS_1


__ADS_2