
Caraka memutuskan untuk segera pulang setelah pasien dalam keadaan stabil.
"Jam 10..." gumamnya.
Ia tertawa miris. "Janji sama om Ray terpaksa batal dan aku belum mengabari mereka."
Ia mengusak rambutnya. "Siap-siap diblacklist dari daftar calon mantu..." Ia tertawa.
"Huuh!"
"Mau bagaimana lagi, ini bagian dari tugas dan ini resikonya menjadi seorang dokter."
"Semoga mereka faham."
Caraka berjalan menuju mobilnya. Ia membuka handle pintu dan...
"Bang Caraka!" Suara bariton membuatnya memutar pandangan mencari orang yang memanggilnya.
Ia melihat seorang pria bertubuh kekar dengan jaket jeans yang melekat ditubuhnya. Ia mengerutkan kening karena wajah pria itu tak asing baginya.
"Apa kabar, Bang!" pria itu mendekat dan mengulurkan tangan kearahnya.
"Baik." jawab Caraka menyambut uluran tangan itu.
"Masih ingat aku?" tanya pria itu.
"Temannya Nath ya?" tanya Caraka ragu.
Pria itu mengangguk. "Aku Delvin, dulu beberapa kali ketemu kalau ada acara di rumah om Akhtar..."
Caraka tersenyum lebar. "Ah, ya... Lama gak jumpa, makin keren aja nih?" puji Caraka.
"Iya bang! Ya beginilah."
Caraka melihat ke kanan dan kiri. "Sama siapa dan lagi apa?"
"Keluarga kamu ada yang sakit, Vin?" tanya Caraka.
Delvin menggelengkan kepala. "Aku mau bicara sebentar, Bang. Bisa minta waktunya."
****
"Kamu mau bicara soal apa?" tanya Caraka saat keduanya sedang duduk disalah satu cafe di depan gedung rumah sakit.
Caraka mengajak Delvin ke tempat ini karena sepertinya pria itu ingin bicara serius.
"Begini, Bang!" Delvin bersandar di kursinya.
"Apakah benar, abang pria yang sedang dekat dengan Chiara?"
Deg!
Caraka yang sedang fokus mendengarkan mendadak kehilangan konsentrasi.
Sebenarnya ada apa ini? Pertama, Om Ray minta aku datang. Dan sekarang, Delvin datang menemuiku.
Delvin ini polisi kan? Apa jangan-jangan aku mau dijemput paksa? Delvin ini kan sahabatnya Rion juga. Ya Allah, aku membuat kesalahan apa?
"Bang?" Delvin memanggilnya yang sedang menatap pria itu tanpa berkedip.
"Eh..." Caraka kembali fokus.
"I... iya... Aku memang dekat dengan Chaira. Ada apa, Vin?" tanyanya.
"Jadi benar, Chiara udah ada yang punya..." Delvin tertawa miris.
__ADS_1
"Harusnya aku mikir dulu sebelum bertindak. Dia cantik gitu, mana mungkin tidak ada yang punya."
Delvin, semenjak malam tadi ia memikirkan jawaban Chiara yang menolaknya dan seolah gadis itu sedang menjalin hubungan dengan pria lain.
Ia tahu, Chiara sempat gagal bertunangan beberapa bulan lalu. Dan ia mengira, gadis itu belum memulai hubungan dengan siapapun lagi.
Dan saat ia menanyakan hal itu pada Nath, sahabatnya itu menyebutkan bahwa Chiara tengah dekat dengan Caraka.
Caraka tidak mengerti arah pembicaraan Delvin. Tapi ia membenarkan bahwa gadis yang ia cintai itu memang sangat cantik.
"Abang seriuskan, sama Chiara?"
Caraka mengerutkan kening mendengar pertanyaan Delvin.
Apa pria ini dikirim untuk menguji seberapa besar perasaanku ke gadis itu? Om Ray, kenapa harus pakai cara seperti ini sih?
Caraka mengangguk. "Aku serius, dan aku gak pernah main-main Vin."
Delvin mengangguk. "Jaga dia, Bang!" Delvin menepuk pundaknya sekali.
"Pasti."
"Kalau abang gak bisa jaga dia. Aku siap merebut dia dari abang!"
"Astagfirullah!" Jawab Caraka refleks.
Delvin tertawa. Ia segera berdiri dan berpamitan pada Caraka.
"Terima kasih atas waktunya, Bang! Aku pergi dulu, gak bisa lama-lama soalnya."
"Sama-sama, Vin!"
Caraka masih tak percaya dengan kehadiran Delvin. Dia datang sebagai saingan atau orang suruhan Ray.
"Aku gak ngerti, tujuan dia menemuiku ini untuk apa?"
***
"Caraka belum ada kabar, Pi?" tanya Rion lagi. Keduanya sedang berada di halaman belakang.
"Kata Chiara, ponselnya gak aktif. Dan Bintang sudah menghubungi Sora, katanya Caraka sedang di rumah sakit karena ada hal mendesak yang mengharuskan dia untuk datang."
Rion mengangguk. "Papi yakin mau jadikan dia menantu?"
Ray menatap putranya. "Pertanyaan kamu aneh, Yon!"
"Ya bukan apa-apa sih, Pi."
"Aku pribadi memang lebih setuju kalau Chiara akhirnya menikah sama Caraka dari pada sama pria lain yang aku sendiri gak tau luar dalemnya."
"Seenggaknya, dia lebih baik lah dari kamu!" Jawab Ray sambil tertawa.
"Masih lebih tajir aku kali, Pi!" canda Rion.
Ray tertawa. "Papi gak bicara harta, Yon!"
"Bahkan pria miskin pun, asal bisa mencintai Chiara dan mau papi rangkul untuk bangkit, gak akan papi tolak!"
"Kamu begini juga bukan karena merangkak, Yon. Kalau diibaratkan nih, kamu udah berdiri, papi kasih pegangan dan setelahnya kamu langsung jalan."
"Kamu harus akui itu."
"Walau papi gak bantu kamu secara keseluruhan, tapi seenggaknya modal juga dari papi, Yon."
"Kalau Caraka, dia benar-benar cuma mengandalkan kemampuannya, Yon. Dia mengeluarkan biaya untuk pendidikan. Bukan seperti kamu, yang memutarnya untuk bisnis lalu mendapat keuntungan."
__ADS_1
Rion mengangguk. "Papi benar sih. Tapi, papi bangga gak sam Rion?"
"Banggalah!"
"Apa yang buat papi bangga?" tanya Rion.
"Ya... kamu lebih hebat dari papi."
"Dari segi apa, Pi?"
"Banyak."
"Sebutin dong, salah satunya."
"Ehm, apa ya... Ah.. ini deh!" Ray membuat Rion tak sabar menunggu.
"Kamu bisa kasih 2 cucu diusia kurang dari 25 tahun."
"Ya Allah, Papi!" Pekik Rion. "Gak ada yang lebih keren lagi, Pi?"
"Kan banyak tuh, prestasi Rion."
"Diumur 29 ini, Rion udah mimpin Perusahaan, R.s Danadyaksa, Perusahan OrBit, SMA Cahaya Bangsa, R Cafe."
"Mau apa lagi? Masih banyak, Pi." Rion tak terima hingga ia menyebutkan banyak hal yang telah ia raih saat ini.
Ray tertawa. "Tapi, beneran. Yang papi sebutkan tadi memang hal yang paling papi banggakan dari kamu."
"Kamu tahu, di umur 25, Papi belum kepikiran buat nikah loh, Yon!"
"Kamu malah punya 2 anak."
"Diumur segitu, Akhtar udah nikah, papi gak goyah sedikitpun. Sampe dia akhirnya jadi duda dan kita sama sama jomblo lagi. Hahahah..." Ray tertawa.
Rion menatap kesal kearah papinya. "Bangga banget ya yang telat nikah!"
"Hahaha... Telat, tapi tepat!" sambar Ray.
"Dih, aku lebih baik. Cepat dan tepat!" Bangga Rion.
Ray tertawa terbahak. "Ya... ya... walaupun banyak drama sampe ditinggal ke London segala." Ray menepuk bahu putranya.
"Gak terasa waktu cepat berlalu, Yon. Papi masih gak nyangka aja, cucu papi udah berusia 10 tahun, bahkan."
"Bayangin, kalau Queen nikah umur 16."
"Ogah bayanginnya, Pi!" Rion bergidik ngerih. Dia tidak akan membiarkan masa muda putrinya harus dihabiskan dengan status sebagai ibu rumah tangga.
"Hahahah... Artinya 6-7 tahun lagi kamu bakal punya cucu. Kamu jadi Opa dan papi jadi opa buyut."
"Amit... amit... Rion gak akan biarin itu terjadi. Queen harus jadi orang sukses." Rion yang kesal malah meninggalkan Ray sendirian.
"Baperan kamu, Yon!" teriak Ray sambil bercanda. Ia tak mungkin menginginkan Queen, cucu pertamanya menikah diusia semuda itu.
Drt... drt...
Ponsel Ray bergetar. Ada nama Caraka dilayar.
Ia menjawab panggilan itu dan terdengar bahwa Caraka meminta maaf sebab tak bisa hadir pagi tadi.
"Om bisa maklum, Cak!"
"Bintang sudah menanyakannya pada mama kamu, kok."
"Kalau begitu, siang ini datang ke rumah, kita akan siang bersama."
__ADS_1
****