Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 32 Tentang Raihan


__ADS_3

"Jadi saya harus gimana, Mas?" tanya Raihan.


"Saya kan selalu ada di dalam mobil, kalau mereka pasang peledak, saya pasti tau mas!"


"Kamu tadi melajukan mobil terlalu cepat loh, Han! Aku sangsi kita gak akan dikejar polisi."


"Jalan yang saya pilih tadi, itu jalanan sunyi, Mas."


"Gak ada rambu larangan batas kecepatan kok!"


"Kalau berurusan sama polisi, palingan Bapak yang di temui karena mobil ini atas nama Bapak!" Raihan terkekeh.


"Han! Bisa habis kamu sama papi!"


"Hahaha, Non Chia jangan khawatir. Bapak udah biasa ngalamin ini!" Jawab pria itu.


"Papi?" Chiara heran.


Raihan mengangguk. "Saingan Bapak banyak, Non. Jagain Bapak dari pesaingnya udah jadi hal biasa bagi saya. Walaupun yang ini kayaknya lebih ekstrem." Raihan tertawa.


"Tapi gak apa-apa, nambah pengalaman!"


Caraka bersungut kesal. Ia baru melihat sisi lain dari Raihan.


"Tapi kamu hampir bahayakan nyawa kita, Han!"


"Kalau ditikungan tadi, kamu salah langkah, mobil kita bisa terbalik." Omel Caraka yang masih belum bisa menerima harga dirinya turun di depan Chiara akibat ulah Raihan.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Chiara akan mentertawakan ekspresinya tadi. Karena memang ia sangat terkejut karena Raihan melaju dengan sangat cepat.


"Iya... iya.."


"Maaf ya mbak Syakilla, mas Caraka dan Non Chiara."


"Lain kali gak begini deh. Karena serangan mereka juga gak bakalan begini lagi." Ucap Raihan meng*ulum senyum.


"Maksud kamu?" Tanya Syakilla yang merasa Raihan sedang mengisyaratkan serangan berikutnya akan lebih parah lagi.


"Pakai jeep gagal. Siapa tahu, besok-besok mereka pakai truk atau kontainer sekalian!"


Caraka menatap Raihan yang sepertinya memang punya banyak pengalaman.


***


Setelah mengantar Chiara dengan selamat, Raihan langsung mengatarkan Caraka dan Syakilla.


"Masuk, Han!" Ajak Caraka sementara Syakilla sudah masuk lebih dulu.


"Saya langsung pulang deh, Mas."


"Enggak!" Tolak Caraka. "Udah malam, kamu nginep disini!" Ia merangkul bahu Raihan dan membawa pria itu masuk ke dalam rumah.


"Mas, saya masukkan mobil ke garasi dulu!"

__ADS_1


"Ah, ya! Cepat! Biar ku bukakan pintunya.!"


Setelah mobil mahal salah satu koleksi Ray itu terparkir rapi di garasi, Raihan mengikuti langkah Caraka yang berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


"Kamu mandi dulu, bisa pakai pakaianku!"


Raihan menatap curiga pada Caraka. Ia juga sempat merinding karena takut kalau Caraka adalah pria penyuka sesama sementara dirinya masih sangat normal.


"Gak usah begitu, muka kamu!" Kesal Caraka saat melihat wajah Raihan yang tampak seperti sedang ketakutan.


"Aku masih normal."


"Dikamar bawah gak ada kamar mandinya! Kamu mau, mandi di kamar mandi dapur dan diintipin sama asisten rumah tangga?"


Raihan dan Caraka selesai mandi dan mereka makan malam bersama dengan keluarga Caraka.


"Makan, Han!" Ucap Abi mempersilahkan Raihan untuk makan.


"Jangan sungkan!" Raihan mengangguk sopan saat Sora menyendokkan nasi ke piringnya.


"Cukup, Bu."


Mereka makan dalam diam. Sesekali Raihan melirik Syakilla yang duduk di depannya.


Gadis berambut panjang itu makan dengan tenang. Terlihat santun dan tata caranya makan juga tampak anggun.


Raihan menghela nafas panjang. Terlalu berlebihan mengagumi sosok Syakilla yang sepertinya tidak menganggap ada kehadirannya.


"Kamu sebenarnya siapa?" Tanya Caraka pada Raihan yang sengaja ia giring ke halaman belakang setelah makan malam selesai.


Raihan kebingungan. Ia duduk berhadapan dengan ayah dan anak yang punya profesi berbeda.


"Saya..." Raihan sedikit ragu. Pertanyaan siapa dirinya, bukan sekedar membutuhkan jawaban berupa nama dan statusnya sebagai supir Ray.


Raihan tahu, Caraka ingin jawaban yang lebih berbobot.


"Han! Please!" Ucap Caraka.


"Kamu siapa? Seperti dugaanku di awal! Kamu bukan sembarang supir kan?"


"Kamu seorang bodyguard terlatih?" Tanya Caraka.


"Dan tato di dada kamu?" Caraka menunjuk tato di bagian dadanya yang sesekali terlihat dari kerah kaos yang Raihan pakai.


Raihan mengehela nafas mendengar pertanyaan Caraka. Belum lagi tatapan tajam Abi yang seolah mengintimidasi dirinya.


"Saya sebenarnya, mantan preman, Mas!"


Caraka dan Abi saling tatap.


"Saya pernah dipenjara selama beberapa bulan."


"Bukan karena kesalahan saya, sih. Saya cuma kambing hitam. Saya jadi korban kegil*an teman-teman seprofesi."

__ADS_1


"Saya dipenjara atas tuduhan pel*ecehan yang dilakukan teman saya."


"Saya dipenjara, sementara proses hukum berjalan lambat."


"Beberapa bulan setelah korban berhasil sembuh dari depersi, barulah terbukti bahwa bukan saya pelakunya."


"Saat saya baru masuk ke dalam dunia gelap itu, saya malah diberikan satu tes. Ya, tes! Kata mereka itu hanya tes untuk saya." Raihan tertawa miris.


"Saya mundur dan pak Ray yang memungut saya yang sedang kehilangan arah."


Abi dan Caraka mengerutkan kening.


"Pak Ray membawa saya ke satu tempat. Disana ada banyak orang yang dilatih untuk bisa berkelahi, dan membela diri."


"Om Ray punya tempat seperti itu?" Tanya Caraka yang baru mendengar hal baru itu.


Raihan menatap keduanya bergantian. Ia mengira Caraka dan Abi tahu akan hal itu, karena mereka masih kerabat Ray.


"Maaf, Mas. Saya sepertinya terlalu banyak bicara!"


"Lanjutkan Han!" Perintah Abi. "Saya tahu, Ray pasti jauh lebih dari yang kamu ceritakan."


Raihan kembali menarik nafas dalam. "Saya dilatih dan beberapa orang lainnya pun sama."


"Dan saat kami siap, Pak Ray memberikan jabatan sesuai kemampuan dan pendidikan."


"Ada yang bekerja dikantor, tapi kebanyakan akan ia jadikan supir atau security di beberapa gedung miliknya."


"Pantes! Supirnya om Ray masih dibawah 40an dan rata-rata punya tinggi badan yang proporsional. Ku fikir, om Ray pakai audisi buat cari supir pribadi."


Raihan tertawa tanpa suara.


"Kamu sudah lama jadi supirnya om Ray?" Tanya Caraka lagi.


"Sekitar 4 tahunan."


"Tapi keseringan menganggur di rumah."


"Bapak terkadang pilih nyetir sendiri kalau cuma disekitar komplek."


"By the way! Makasih untuk sore tadi. Aku gak tau kalau kamu gak bertindak mungkin kita udah berjejer di rumah sakit."


Abi menatapnya dengan penuh tanya dan akhirnya Caraka menceritakan pada papanya apa yang telah terjadi pada mereka sore tadi.


"Kalian harus lebih berhati-hati, Han! Lain kali langsung lapor polisi kalau ada yang mencurigakan," perintah Abi.


"Iya, Pak!"


Saya akan berhati-hati, Pak. Saya akan melindungi Mas Caraka dan tidak akan membiarkan preman bayaran itu berhasil menyentuhnya. Batin Raihan.


Raihan mengenal dua dari empat orang yang berada di mobil itu. Mereka adalah preman yang dulu sempat membuat Raihan dipenjara. Pelakunya adalah mereka berdua. Dan sepertinya mereka sudah bebas sejak beberapa bulan lalu.


Raihan semakin semangat menjaga Caraka karena jika preman-preman itu gagal menyakiti Caraka maka, mereka akan dimarahi atau bahkan dihajar habis-habisan oleh orang yang telah membayar mereka.

__ADS_1


Anggap saja, sekali dayung ia bisa melapaui dua sampai tiga pulau.


Menjaga Caraka, membuat musuh Ray gagal dan membalas perlakuan dua orang yang jahat padanya dengan cara cantik.


__ADS_2