
"Akhirnyaaaa..." seru Shaka sambil meregangkan tubuhnya dengan mengangkat tangannya keatas saat pesawat mereka berhasil mendarat di bandara negara tujuan mereka.
"Sungguh luar biasa melelahkan," keluhnya.
Syakilla tertawa. "Padahal kamu tidur terus, tapi masih mengeluh juga!"
Shaka tersenyum menatap Syakilla yang sedang membenarkan letak tas selempangnya.
"Wanita paling cantik yang ku lihat di Paris..." gumam Shaka.
Bukannya tersipu, wanita yang sedang dipuji itu malah menahan tawanya.
"Kamu belum turun dari pesawat tapi udah bilang begitu. Awas aja kalau mata kamu gak berkedip lihat cewek-cewek disini. Apa lagi sampai leher kamu muter 360 derajat!"
Shaka tertawa. "Burung hantu kali, ah! Bisa muter 360 derajat."
"Ceritanya ditunda dulu, woi." Caraka mengganggu pasangan yang sedang berdebat kecil itu.
"Ayo turun!" Ajak pria yang memakai ransel sambil tangannya menggandeng istri yang tampak kelelahan itu.
"Gak sabar pengen bobo ganteng di hotel," ucap Caraka sambil terus berjalan untuk turun dari dalam pesawat.
Shaka dan Syakilla malah terkikik berdua sambil berjalan dibelakang Chiara.
"Kok aku gak yakin ya sayang, abang kamu akan bobo ganteng. Aku malah curiga kalau Chiara bakalan gak bisa tidur karena ulahnya," bisik Shaka.
"Huss! Ikut campur aja sama urusan pengantin baru! Mau tidur atau enggak, bukan urusan kita," balas Syakilla.
"Pokoknya aku mau foto di semua semua tempat di kota ini, sayang!"
Shaka tertawa. "Katakan sekali lagi."
"Aku mau foto di semua tempat di kota ini," ulangnya.
"Bukan yang itu, yang terakhir saja."
"Ini." Syakilla mengatakan kata ini membuat Shaka tertawa.
"Bisa diam gak?" Caraka menoleh kebelakang saat mereka sudah turun dari pesawat.
"Gak malu dilihatin sama pramugarinya!"
Bukan Shaka dan Syakilla namanya jika mereka tidak terbahak.
Caraka dan Chiara sampai jengah menghadapi dua makhluk Tuhan paling kompak itu.
Mereka segera pergi menuju hotel dimana kamar mereka sudah di pesan. Mereka menggunakan taxi yang berbeda.
__ADS_1
"Kamu pesan berapa kamar, Shak?" Tanya Caraka saat mereka sudah sampai di hotel.
"Hanya satu." Jawab Shaka bercanda tapi dengan nada serius.
Caraka melotot. "Pesan lagi! Kamu gak boleh sekamar dengan Syakilla!" Marah Caraka.
"Yang bilang aku sekamar sama dia siapa?" Tanya Shaka dengan ekspresi paling mengesalkan di mata Caraka.
"Sya akan sekamar sama Chiara. Dan kita berdua akan tidur sekamar." Shara tersenyum lebar sambil menunjuk dirinya dan Caraka bergantian.
Caraka mendorong bahu Shaka. "Ogah!"
"Kamu tidur sendirian aja! Aku akan pesan kamar lagi untuk kami berdua!"
Shaka, Syakilla dan Chiara tertawa.
"Ya gak mungkin Shaka cuma pesan satu kamar, Bang!" Chiara mengusap bahu Caraka.
"Bisa-bisanya kamu percaya sama omongan dia."
Mereka tiba di meja resepsionis dan segera diantar oleh roomboy ke kamar mereka.
Mereka akan menginap di tiga kamar yang letaknya saling berdekatan. Shaka sengaja meminta Rion memesankan kamar untuknya dan Syakilla. Dan beruntung, kamar mereka berada di lantai yang sama dan letaknya juga sangat berdekatan.
Pertama, mereka mengantar Syakilla dulu. "Masuk, sya!" Perintah Caraka. "Istirahat dan jangan buka pintu untuknya!" Ia melirik Shaka yang nyengir menunjukkan gigi putihnya.
"Kalian belum halal."
Lalu Caraka dan Chiara masuk ke kamar mereka setelah Shaka masuk ke dalam kamarnya.
Caraka menutup pintu kamar. Ia membawa dua koper miliknya dan Chiara masuk ke dalam.
"Viewnya pasti keren nih!" Yang pertama kali dilakukan Chiara adalah mendekat ke arah jendela.
Ia lantas membuka gorden untuk melihat pemandangan yang bisa mereka lihat dari kaca berukuran besar itu.
"Lihat apa sayang?" Tanya Caraka yang berdiri di belakang Chiara.
"Lihat itu Bang!" Chiara menunjuk gedung yang tingginya saling berlomba, namun yang paling tinggi adalah menara Eiffel yang menjadi icon negara beribu kota Paris itu.
Caraka membulatkan matanya. "Ini sih sempurna." Ia menatap takjub pemandangan indah di depan mereka.
"Menara Eiffel sepertinya hanya sejengkal dari sini, sayang!" ucap Caraka.
Chiara mengangguk. "Malam hari nanti, pasti viewnya lebih keren lagi, Bang!"
Caraka mengangguk. Ia memeluk Chiara dari belakang. Merasakan setiap detik di kota yang sangat romantis menurut wanita yang ia peluk sekarang.
__ADS_1
Suhu udara lumayan dingin di Paris saat akhir tahun karena bertepatan dengan musim dingin yang berlangsung sejak November hingga beberapa bulan ke depan.
Jika saja mereka datang di bulan Januari atau Februari dimana suhu di kota ini mencapai titik terendah hingga 1 derajat celcius, maka mereka akan melihat taman di sekitar menara Eiffel diselimuti salju.
"Aku harus mandi dulu, Bang!"
"Sebentar lagi," jawab Caraka.
"Aku ingin istirahat..."
Caraka tertawa pelan. "Ya sudah, jangan lama-lama."
Caraka melepaskan Chiara yang langsung membuka koper untuk mencari pakaian gantinya.
Sangat wajar jika mereka kelelahan karena baru saja menepuh perjalanan lebih dari 17 jam. Dan mereka transit di Amsterdam sebelum akhirnya mendarat di bandara di kota Paris.
Tidak ada penerbangan dari Indonesia yang langsung menuju bandara di kota Paris. Beberapa penerbangan pasti melakukan setidaknya satu kali transit, entah itu di Tokyo, Doha, Singapura dan beberapa negara lainnya.
***
Malam hari...
"Ayolah!" Rengek Syakilla saat mereka berkumpul di kamar Caraka dan Chiara. "Kita disini bukan untuk sebulan, Bang! Masa iya kita cuma duduk di depan jendela, Lihat menara Eiffel dari jauh sih!" Rajuk Syakilla karena Caraka malas bergerak dari atas ranjang.
"Abang! Ya... ya... ya..." rayu Syakilla lagi.
Shaka sudah standby dengan setelannya yang lumayan keren. Sebuah coat berbahan kulit dan kupluk di kepalanya menandakan pria kaya itu siap membelah kota Paris yang sangat dingin meski dengan berjalan kaki.
Jika saja Caraka mengizinkan, ia tidak akan membiarkan Syakilla berlama- lama membujuk pengantin baru itu. Ia pasti sudah membawa Syakilla kemanapun kekasihnya itu inginkan.
"Sayang..." Chiara hanya mengangguk sekali agar Caraka memenuhi keinginan Syakilla.
"Oke... tunggu sebentar!" Caraka dengan malas turun dari ranjang dan memakai coat tebal miliknya. Ia sudah tidak bisa membantah jika Chiara yang meminta.
Chiara juga bersiap. Ia melengkapi penampilannya dengan syal dan sepatu boats berbahan kulit.
Mereka akhirnya keluar dari hotel dan menghabiskan waktu diluar. Berburu kuliner, foto sampai berbelanja.
"Kamu jangan kalap, Sya! Kita masih beberapa hari disini."
"Jangan sampai, gara-gara kamu belanja terus, kita kehabisan uang untuk makan." Nasehat Caraka yang membuat Shaka mengulum senyum.
Pasalnya, anak gadis dari pasangan Abimanyu dan Sora itu sudah menenteng beberapa paperbag di tangannya.
Menurut Shaka abang iparnya itu sangat berlebihan. Syakilla hanya membeli beberapa cinderamata sebagai oleh-oleh. Hanya beberapa macam aksesoris saja.
Lagi pula, selama ada dirinya mereka tidak akan kelaparan. Digit di tabungannya saja sudah tidak terhitung.
__ADS_1
Ia sebenarnya ingin memboyong seluruh keluarga besarnya ke Paris, namun Satya melarangnya. Karena tidak ingin liburan bulan madu bagi Caraka berubah jadi liburan keluarga.
"Iya... iya..." hanya itu jawaban Syakilla. Ia tak ingin berdebat dengan abangnya dan akan memicu pertengkaran yang membuat mood mereka memburuk.