
Setelah makan siang, Bintang membawa anak-anaknya turun ke bawah untuk memberikan ruang pada suami dan kedua mertuanya membicarakan masalah yang sedang mereka hadapi.
Untung saja Queen mengerti bahwa ayah, oma dan opanya akan membahas hal serius dan tidak bisa diganggu.
"Pi, mi..." Rion menatap wajah kedua orang tuanya di sebrang meja. Mereka duduk di sofa berbeda dan saling berhadapan.
"Mobil Caraka di duga telah dipasang peledak."
Deg!
Ray berdebar. Ternyata semuanya benar seperti yang ku fikirkan. Batin Ray.
"Pihak kepolisian baru memberitahuku tadi. Mereka menemukan barang bukti yang di duga merupakan sisa bahan peledak yang gak habis terbakar."
"Mungkin karena kemarin, karyawanku cepat berusaha memadamkan api dan mobil pemadam juga cepat datang."
Ray mengangguk. "Sesuai sama dugaan papi."
Rion membulatkan mata. "Papi udah tau?" tanyanya.
Ray mengangguk. "Masih dugaan sementara juga."
"Sekarang, coba kamu tanya Caraka, jam berapa biasanya dia keluar dari rumah sakit?" perintah Ray pada putranya.
Rion segera menghubungi Caraka dan bertanya hal yang Ray perintahkan.
Rion menutup panggilan dan tidak menjelaskan apapun saat Caraka bertanya padanya untuk apa menanyakan hal itu.
"Caraka bilang, biasanya dia keluar jam 4 lebih 15 sampai 30 menit. Karena saat jam kerjanya selesai, terkadang ia gak langsung pulang, Pa."
"Entah untuk sekedar ngobrol atau ada urusan lain, intinya dia jarang keluar jam 4 pas."
Ray menyeringai. Perkiraannya sudah tepat dan pas. Ia hanya perlu memberikan keterangan ini kepada pihak kepolisian.
"Sayang?" Sania manatap Ray yang tersenyum licik.
"Aku gak apa-apa, Sayang!" Ray mengusap punggung tangan Sania.
"Dugaan papi benar, Yon!"
"Maksud papi?"
Ray menunjukkan bukti cctv yang sudah ia pindahkan ke ponselnya.
"Lihat! Pria ini ada disekitar mobil Caraka. Jamnya 15.58." Ray menunjukkan waktu saat cctv itu terekam.
"Jam 16. 05, Caraka keluar dari rumah sakit."
"Itu artinya 10-25 menit lebih cepat dari biasanya."
Rion masih mendengarkan baik-baik apa yang Ray jelaskan padanya
"Kalau pria itu memasang peledak dengan timer 1 jam. Dan perjalanan Caraka ke rumah sekitar 45-60 menitan."
"Itu artinya mereka menargetkan mobil Caraka akan meledak saat perjalanan."
Rion membulatkan mata. "Papi benar."
"Mobil meledak sekitar jam 5 sore."
"Ya..." Rion ingat sesuatu. "Caraka bilang, ada yang mengikuti mobilnya saat perjalanan pulang!" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Rion rasa mereka memang sengaja mengikuti Caraka, membuatnya curiga agar mengulur waktu di perjalanan."
"Karena kalau Caraka langsung pulang, dia lebih cepat sampai di rumah sementara timer sudah mereka atur selama 1 jam."
Ray tersenyum karena putranya sepemikiran dengannya.
"Nah, itu pointnya. Ini pembunuhan berencana, Yon!" Balas Ray. "Kalau mobil meledak di perjalanan, apalagi saat jam pulang kantor, maka..."
"Akan terjadi kemacetan dan pemadam akan sulit menjangkau kendaraan Caraka!" potong Rion menyadari betapa rencana itu sudah disusun sedemikian rupa.
"Ya, dan jelas masalahnya akan mengarah pada korsleting di mesin mobil."
Rion mengepalkan tangannya. "Licik!" geram Rion.
"Pi, kita harus laporkan semua ini pada pihak kepolisian agar mereka bisa melakukan penyelidikan lebih lanjut termasuk menemukan pria yang berlagak seperti petugas kebersihan itu."
"Pasti. Papi akan segera koordinasikan dengan pengacara kita."
"Mulai sore ini, papi sudah siapkan supir untuk mengantar- jemput Caraka."
"Chiara juga kayaknya perlu pengawal, Sayang!" ucap Sania pada suaminya.
"Aku juga akan menjaga Chiara, San. Kamu tenang ya..."
Sania mengangguk. "Kenapa di masa tua kita, malah datang cobaan seperti ini ya, Ray?" Sania menyandarkan kepalanya di bahu Ray.
"Dan kenapa pula harus melalui anak kita."
"Chiara gadis baik, kenapa dia harus melewati semua ini."
"Aku takut, dia jadi trauma untuk berhubungan dengan pria lain. Dan aku takut dia jadi bahan olok-olokan teman-temannya."
Rion berdiri dan berpindah tempat duduk. Ia ikut memeluk Sania.
"Harusnya kita bersyukur, seenggaknya masa depan Chiara gak berakhir ditangan pria yang salah," ucap Rion.
"Dan aku yakin, Chiara punya pemikiran yang dewasa, Ma."
"Rion malah punya rencana untuk meminta Chiara segera ambil program spesialis," lanjut Rion.
"Papi juga punya pemikiran yang sama, Yon! Papi rasa Chiara juga bebas pilih universitas yang ia mau. Meskipun di luar negeri."
"Raaay!" Sania menatap suaminya. "Aku gak mau Chiara ke luar negeri."
"Aku gak bisa pisah lama dari dia, Ray!"
Rion menunjukkan ekspresi kesal. "Papi ada-ada aja! Aku gak setuju kalau Chiara keluar negeri."
"Kenapa?"
Rion menghela nafas. "Dia harus belajar mimpin rumah sakit, pi!"
"Ya kali aku terus yang urus rumah sakit."
"Kerjaanku banyak, aku makin tua!"
"Yang ada ubanku tumbuh lebih cepat!" Keluh Rion. Bagaimana tidak, semua bisnis Ray, Rion yang menjalankan. Sementara Ray hanya sesekali datang ke kantor itupun hanya untuk rapat penting dengan para pemegang saham.
Ray dan Sania tertawa. Keduanya merasa apa yang Rion katakan ada benarnya. Dulu, Ray baru menerima tanggung jawab mengurus semua bisnis yang kakeknya wariskan di usianya yang sudah 30 tahun. Sementara Rion, belum 30 tahun, tapi sudah ia limpahi ganggung jawab.
***
__ADS_1
"Mas Caraka?" tanya seorang pria pada Caraka. Pria yang berada tepat di pintu keluar gedung rumah sakit.
Caraka berhenti sejenak. Ia menatap pria bertubuh proporsional dan sepertinya masih seusianya itu. Pakaian khas supir dikenakan dan terlihat pas ditubuhnya.
"Ya... Ada apa ya, Mas?" tanya Caraka sopan.
"Saya ditugaskan oleh pak Arrayan untuk mengantar jemput anda." ucap pria itu.
"Saya bawa mobil, Mas," ucap Caraka karena ia memang memakai mobil papanya.
"Tapi ini perintah dan saya tidak bisa menolaknya," balas pria itu.
Caraka mengambil ponsel di saku celananya. Ia mencari nomor Ray dan langsung menghubungi pria itu.
"Om, apa benar om meminta seseorang untuk menjemput saya?" tanya Caraka.
"Ah, ya. Om lupa kasih tahu kamu. Om memang mempekerjakan seorang supir untuk mengatar jemput kamu ke rumah sakit."
"Tapi, om?"
"Demi keselamatan kamu, Caraka! Om akan kirim fotonya."
Panggilan diakhiri dan selang beberapa detik, sebuah foto dikirim oleh Ray.
Caraka melihat foto pria dengan wajah yang sama seperti pria di depannya.
"Bagaimana, Mas? Kita pulang sekarang?" tanya pria itu saat Caraka sudah menutup panggilan dan menatap wajahnya dengan seksama.
"Saya bawa mobil sendiri saja. Kamu ikut dari belakang!" perintah Caraka.
Pria dengan name tag Raihan itu mengangguk dan langsung berjalan menuju mobilnya.
Sesampainya di rumah, Caraka meminta pria itu untuk masuk ke dalam karena ia ingin bicara dengan pria itu.
"Baiklah, Mas Raihan!" Caraka mulai berbicara.
"Sebenarnya saya tidak ingin diperlakukan seperti ini."
"Melihat dari postur tubuh kamu, saya yakin kamu bukan orang sembarangan. Kamu bodyguard kan?" tebak Caraka.
Karena biasanya seseorang membutuhkan supir pribadi karena tidak bisa mengemudi, dalam perjalanan jauh, atau orang yang kelelahan bekerja. Dan dia bukan dalam golongan itu.
Pria bernama Raihan itu menatapnya sekilas lalu menunduk.
Caraka tersenyum kecil. "Saya anggap itu sebagai jawaban, ya."
"Begini, Mas Raihan. Sebenarnya saya terbiasa mengemudi sendiri."
"Tapi saya juga tidak bisa menolak permintaan om Ray yang satu ini."
"Jadi, mau gak mau, saya harus bersedia mas antar jemput." Caraka sudah memikirkan ini matang-matang di sepanjang perjalanan pulang.
Pria bernama Raihan itu mengangguk dan tersenyum kecil. "Kalau begitu, bolehkah saya minta jadwal anda, Mas. Supaya saya tahu, harus standby jam berapa."
"Ah, ya sekalian kontak anda." Pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Caraka memberitahu pria itu, jadwalnya bekerja di rumah sakit. Ia juga memberikan nomor ponselnya pada pria itu.
"Mulai sekarang, panggil Caraka aja, Han!" pinta Caraka.
"Usia kita juga gak jauh beda." Lanjutnya karena Caraka melihat data diri Raihan ada di bawah foto yang Ray kirim padanya.
__ADS_1
Mereka lahir di tahun yang sama hanya saja Raihan lebih tua beberapa bulan darinya.