Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 33 Tertangkap


__ADS_3

Chiara mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi ia belum bisa tidur karena kejadian sore tadi cukup membuatnya shock.


Tok... tok... tok..


"Mi, Pi... Udah tidur belum? Chia boleh masuk?" Tanyanya di depan pintu. Ia berdiri sambil berharap kedua orang tuanya belum tidur.


"Masuk aja sayang! Gak di kunci kok!" Sahut Sania dari dalam.


Chiara membuka pintu dan melihat Sania sedang memakai skincare rutinnya di depan cermin rias sementara Ray yang duduk di ranjang masih berkutat dengan tab-nya.


Chiara perlahan duduk di dekat kaki papinya. Ia bisa melihat bayangan maminya di cermin. Wajah cantik itu tak luntur meski usianya sudah 60 tahun. Sungguh, satu hal yang membuat Chiara bersyukur, maminya awet muda.


"Ada apa? Karena gak biasanya anak papi masuk ke kamar orang tuanya." Ray meletakkan tab di nakas dan meraih guling dan meletakkan dipangakuannya.


Sania juga berbalik dan duduk menghadap kearah putrinya. Sania tahu, Chiara pasti akan mengatakan hal penting hingga gadis itu masuk ke kamar mereka malam-malam begini.


"Papi pasti udah dapat laporan dari Raihan soal kejadian sore tadi." Chiara menatap Ray.


Ray mengangguk pelan.


"Terus rencana papi apa?" Tanya Chiara.


"Gak ada. Yang penting Caraka harus lebih berhati-hati.."


"Mau sampai kapan, pi?" Tanya Chiara.


"Mau sampai mereka puas dan akhirnya nyawa bang Caraka gak tertolong?"


Ray mengerutkan keningnya. "Kamu perhatian banget sama Caraka?" Ray tersenyum menggoda putrinya.


"Punya perasaan ya?"


Sania sampai memutar bola matanya. Suaminya itu bisa-bisanya mengajak Chiara bercanda padahal putrinya itu sedang serius.


"Astaga papi...!" Pekik Chiara kesal.


"Chia lagi serius ini, Pi. Papi malah becandain!"


"Hahahah... habisnya kamu lucu banget sih! Kayaknya khawatir banget sama keselamatannya Caraka."


"Ray!" Sania menatap tajam suaminya. "Putri kamu lagi serius, sayang!"


"Tau nih, papi! Ini menyangkut nyawa orang lain, Pi. Meski itu bukan orang yang Chiara kenal, kalau keadaannya dalam bahaya karena Chiara, pasti Chia akan khawatir, Pi!"


Ray tersenyum kecil. Ia mendekati Chiara, dan mengusap rambut putrinya.


"Sayang! Papi sedang mengusahakan agar semuanya kembali seperti semula."


"Semua butuh waktu, Chi..."


"Yang kita hadapi ini, pengusaha. Tapi licin seperti belut sawah, Nak."

__ADS_1


"Kalau papi setengah-setengah melawan mereka. Bisa aja, mereka akan terus mengulangi hal yang sama dan gak akan ada jeranya."


"Dendam dan saling balas akan terus berlanjut. Kamu mau begitu terus? Mau sampai kapan? Sampai tujuh turunan?"


"Tapi, sore tadi itu benar-benar menegangkan, Pi. Jantung Chia sama Syakilla itu rasanya gak karuan."


"Itu baru diikuti loh ya, belum di eksekusi."


"Kita juga gak tau, orang suruhan mereka itu berkamuflase kayak apa, Pi."


"Kasus peledak, nyamar jadi petugas kebersihan."


"Hari ini, ngikuti mobil dari belakang."


"Kalau Raihan gak jago nyetir, entah apa yang akan terjadi sama kami semua, Pi."


Ray diam saja. Ia menghela nafas berat karena mengatasi semua ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Ray... Chiara benar sayang! Aku gak sanggup kalau semakin hari, semakin membahayakan bagi Caraka."


"Bukan gak mungkin juga, Chiara kena imbasnya sayang!" Sania duduk di samping Chiara dan memeluk putrinya itu.


"Mereka aja bisa, baik di depan, busuk dibelakang! Kamu harus bisa seperti itu juga, Ray!"


"Putuskan aja kerja sama kita. Biar mereka gak meremehkan kamu. Biar mereka sedikit mikir panjang untuk mencelakai Caraka."


"Kalian tenang ya... Papi sama Rion serta managemen rumah sakit juga sedang mencari perusahaan lain untuk menggantikan perusahaan mereka."


"Papi janji, papi akan selesaikan ini semua."


***


Ray keluar menuju ruang tamu, ia langsung menghubungi seseorang.


"Bagaimana hasilnya."


"Sudah tertangkap, Pak! Pihak kepolisian juga sedang melakukan penggeledahan dan pencarian barang bukti."


"Sepertinya kali ini, kita akan benar-benar berhasil meringkus dalangnya, Pak!"


Ray mengakhiri panggilannya. Ia tersenyum senang karena orang suruhannya dan pihak kepolisian sudah menemukan tempat persembunyian pria yang menyamar sebagai petugas kebersihan dan diduga telah memasang peledak di mobil Caraka.


Semoga kali ini bukti langsung mengarah kepada Abraham atau Daffin agar salah satu dari mereka atau bahkan keduanya bisa segera mendekam di penjara.


***


"Hahaha..." Tawa Daffin meledak. Ia tak sanggup menahan tawa melihat wajah Abraham yang begitu kecut karena kabar dari anak buahnya yang gagal mencelakai Caraka.


"Daddy membayar uang muka 50 juta hanya untuk mendengar lawakan seperti ini, Dad?"


"Ck!" Decak Daffin. "Yang Daddy suruh itu, bos preman berpengalaman atau cuma preman amatiran, Dad?"

__ADS_1


"Hahaha... astaga! 50 juta! Bayangkan bagaimana mereka menghabiskan uang sebanyak itu untuk membeli minuman dan menyewa jala*ng untuk melayani mereka di markas."


"Mereka mabuk-mabukan, dan Daddy gelisah menunggu kabar keberhasilan mereka. Hahahaha!."


"Astaga! Mereka yang terlalu bod*h atau musuh yang terlalu beruntung." Daffin kembali tertawa. Ia sebenarnya juga sedang dalam pengaruh alkohol. Namun, ia masih sadar dan belum mabuk parah. Otaknya masih bisa menilai betapa tidak becusnya orang suruhan Abraham itu.


"Bagaimana mungkin, mobil keluaran lama milik mereka berkejar-kejaran dengan mobil mahal yang ditumpangi Caraka?"


"Astaga! Jangankan sampai menabrak mobilnya. Tidak mogok ditengah jalan saja sudah syukur!"


Abraham menghembuskan asap rokok ke udara dan terus menatap sebal kearah Daffin yang terus mentertawakan dirinya beserta orang bayarannya.


"Lain kali, Daddy minta saja pada anak-anak untuk menebar paku di jalan yang akan dilalu mobil Caraka."


"Ban mobil bocor, dia kehilangan kendali dan berdoa saja semoga menabrak truk!"


Daffin meraih botol minuman keras di sofa. Ia berdiri dan meninggalkan Abraham.


"Daddy, tidurlah!"


"Jangan fikirkan uang 50 juta yang melayang sia-sia!"


"Daffin!" Bentak Abraham. Ia kesal karena bukannya membantu, Daffin malah selalu membuatnya kerepotan.


Daffin hanya mengurus dirinya sendiri. Mencari gadis bernama Sabella hingga menghabiskan banyak uang untuk menyebarkan anak buahnya hingga keluar pulau.


Abraham membulatkan matanya saat ia mendapati kabar buruk.


X sudah tertangkap, Pak.


"Bajing*an!" Abraham menendang meja kecil di dekatnya hingga meja itu terguling di lantai.


"Sudah ku minta untuk kabur yang jauh! Tapi apa! Pria itu malah tertangkap!"


Abraham tengah gelisah. Pria yang ia tugaskan menempelkan peledak dibawah mobil Caraka waktu itu, sudah tertangkap oleh pihak kepolisian.


Pastikan dia bungkam atau seluruh keluarganya akan tewas!


Balas Abraham pada seseorang yang memberikan kabar buruk itu padanya.


"Aku tidak boleh tertangkap!" Gumam Abraham yang sedang memikirkan nasibnya setelah ini.


"Ca-ra-kaaaa!" Geram Abraham. Bibirnya mengatup sempurna, dan giginya bergemertakan. Pipinya sampai bergetar karena ia begitu geram terhadap pria bernama Caraka itu.


"Gara-gara dirimu, aku gagal menjadi besan keluarga Danadyaksa!"


"Aku gagal membuat Daffin menjadi pemimpin di rumah sakit milik keluarga itu!"


"Aku gagal mengepakkan sayap bisnisku melalui perusahaan Rion!"


"Dan semua itu karena dirimu!"

__ADS_1


"Kamu merusak rencanaku yang sudah tersusun rapi!"


"Lihat saja." Abraham mengepalkan tangannya. Ia menatap tangan yang mulai keriput itu. "Aku sendiri yang akan meremukkan semua tulang-tulangmu!"


__ADS_2