Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 24 Pertemuan


__ADS_3

Ku tunggu di R Cafe jam 5 sore ini, Bang!


Sebuah pesan masuk yang Caraka terima dari gadis bernama Chiara itu cukup membuatnya terkejut. Setelah dua hari berlalu akhirnya Chiara mengajaknya untuk bertemu.


Caraka menyambar jas putih kebanggaannya yang tersampir di kursi kerjanya. Ia segera keluar dari ruangannya dan bersiap meninggalkan rumah sakit. Jam 5 masih satu jam lagi, tapi dia memutuskan untuk langsung ke R Cafe. Dia tidak ingin datang terlambat.


Setelah dua hari ini, tidak terjadi apapun terhadap dirinya dan pekerjaannya. Ia memang sempat dicecar berbagai pertanyaan oleh teman-temannya mengenai video perkelahiannya dengan Daffin.


Tapi semuanya aman terkendali karena memang dalam video itu, Daffin yang menyerangnya lebih dulu. Terkait siapa gadis yang dimaksud Daffin, Caraka memilih untuk bungkam.


Managemen rumah sakit juga sempat memanggilnya untuk membahas hal ini. Caraka hanya bisa mengatakan bahwa semuanya hanya masalah pribadi dan ia juga menjelaskan bahwa memang ada hubungan persahabatan dan persaudaraan antara dirinya dan Chiara. Jadi, wajar saja jika dia marah.


Caraka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menikmati sore ini sambil membayangkan apa yang akan Chiara katakan padanya dan apa pula yang akan ia katakan pada gadis itu.


Caraka sesekali melihat kearah spion setiap kali akan menyalip sepeda motor atau angkutan umum. Dan satu hal yang membuat Caraka curiga, sebuah mobil berwarna hitam yang terus berada dalam radius beberapa meter dibelakang mobilnya.


Caraka merasa ada yang aneh. Masalah kemarin jelas membuat dirinya selalu waspada, terlebih saat Ray mengatakan bahwa pria itu menolak damai dengan keluarga Abraham.


Ia juga semakin waspada karena Abraham dan Daffin menyangkal dengan mengatakan video yang ia tunjukkan adalah editan dan mereka berusaha mencari pelakunya tanpa melibatkan pihak kepolisian dan keluarga Ray.


Caraka mengehela nafas melihat permainan mereka. Jelas-jelas Daffin tahu ini ulahnya. Dan yang paling membuatnya tercengang adalah, saat malam tadi, ayah dan anak itu malah membawa orang yang entah siapa, untuk mengaku sebagai pelakunya dengan alasan dendam terhadap Daffin.


Caraka cukup terkesima dengan sandiwara untuk memulihkan nama baik itu. Dan Caraka harus tetap waspada, termasuk membuat Sabella tetap dalam keadaan aman.


Caraka berputar-putar keliling kota demi memastikan orang yang berada di dalam mobil hitam itu memang mengincarnya atau tidak.


Caraka bernafas lega karena mobil itu tak lagi mengikutinya dan ia langsung parkir di halaman R Cafe.


Jam di pergelangan tangannya menunjukkan jam 16.45. Masih ada waktu lima belas menit lagi.


Ia masuk ke dalam dan seorang pelayan menyambutnya. "Mas, diminta untuk langsung ke ruangan pak Rion!"


Caraka langsung naik ke lantai dua. Ia mengetuk pintu ruang kerja Rion dan masuk saat sudah diizinkan.


Ia duduk di sofa sementara Rion terus berkutat dengan berkas-berkasnya.


Caraka fokus ke layar tv karena tidak ingin mengganggu Rion yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.


"Gil* si Abraham itu, Cak!" ucap Rion sambil terkekeh.

__ADS_1


Caraka menatap Rion. "Apanya yang gil*?"


Rion menatap Caraka. "Ya gil*lah! Dia bawa siapa untuk ngaku jadi pelakunya segala?" Rion tertawa. "Jelas-jelas pelakunya ada disini!"


"Gak melibatkan polisi pula? Ck! Lagi-lagi duit yang ngatur!" lanjut Rion.


Caraka tertawa tanpa suara. "Padahal aku berharap dia maju dan kita bisa membuktikan semuanya dipersidangan."


"Papi juga berharap begitu!"


"Kenapa Om Ray gak maju duluan ajan, Yon!" Yang dimaksud maju adalah dengan melaporkan Daffin ke pihak kepolisian.


"Sebenarnya ini kan masalah pribadi antara dua keluarga, Cak! Jadi papi gak maulah libatkatkan pihak kepolisan, kecuali mereka melaporkan kamu!"


"Barulah papi maju!"


"Karena mereka udah buat permainan mereka sendiri, Papi gak maulah repot-repot ngurusin masalah begini."


"Kalau publik udah stop ngomongin ini, ya udah! Anggap aja semuanya udah selesai."


"Lebih baik, papi fokus sama keselamatan kamu dan Sabella," lanjut Rion.


Rion menaikkan alisnya dan tertawa. "Siapa yang bisa jamin hal itu, Cak?"


Rion menggesekkan ibu jari dan telunjuknya. "Cuan bisa ngatur semuanya!"


"Tipe ambisius begitu, bakalan rela kehilangan uang banyak asal keinginannya tercapai, Cak!"


Caraka diam sejenak lalu ia mengangkat bahu. "Aku harus tetap waspada dong!"


"Iyalah! Kalo perlu pasang cctv di tubuh kamu!" Rion terkekeh.


"Ck!" Caraka berdecak. "Aku benci main belakang begini. Mana penyerangnya gak terbaca pula!" keluh Caraka.


"Aku lebih milih adu jotos di ring daripada kucing-kucingan begini, Yon!"


Rion tertawa. "Itukan maunya kamu. Bukan rencana mereka!"


Chiara masuk ke dalam ruangan itu. Rion yang mengerti keduany butuh waktu untuk bicara memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Caraka melihat Chiara yang tampak tenang duduk di depannya. "Ada apa, Chi?" tanyanya memulai pembicaraan mereka.


"Hem!" Chiara berdehem pelan.


"Aku atas nama pribadi, mau bilang terima kasih banyak atas apa yang udah abang lakukan kemarin."


"Papi sama bang Rion udah cerita mengenai alasannya." Chiara berkata tegas khas wanita mandiri dan berpendidikan.


"Dan satu hal yang aku gak sadari. Beberapa hari sebelumnya abang minta aku untuk mundur. Tapi aku tetap maju dan meneruskan pertunangan kami." Chiara terdengar menghela nafas panjang.


"Aku tau, abang udah punya rekaman itu. Dan aku kecewa kenapa abang gak tunjukin saat itu juga."


"Karena kamu bilang, kalau kamu bahagia. Aku gak mau menghancurkan kebahagiaan kamu, Chi!"


Chiara terdiam. Ia tahu mengapa akhirnya Caraka justru memberitahu kepada semua orang tepat di hari H, karena papinya sudah menjelaskan dan Chiara akhirnya mengerti.


"Tapi, imbasnya ke diri kamu, Bang! Karir kamu, keselamatan kamu, belum lagi keselamatan Sabella."


"Daffin pasti mengira kalian berdua kerja sama untuk menjebaknya."


"Ya, aku cuma bisa mendoakan supaya kami terhindar dari marabahaya."


Chiara tersenyum kecil. "Sekali lagi, terima kasih bang! Semoga papi bisa membantu abang kalau sampai terjadi sesuatu akibat masalah kemarin."


"Sama-sama, Chi. Sekarang aku udah lega karena kamu gak terjebak dalam rencana Daffin." ucap Caraka tulus. "Dan semoga gak terjadi sesuatu yang buruk."


Caraka sendiri tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Mengejar kembali dan memanfaatkan status Chiara yang sedang jomblo atau tetap menjaga jarak sebagai pria yang pernah di tolak.


"Publik udah percaya sama pelaku palsu yang mereka bawa ke media." Chiara membahas tentang permainan keluarga Abraham.


"Ini gak adil, harusnya papi maju, dan kasih mereka pelajaran," lanjut Chiara.


"Om Ray tahu yang terbaik, Chi! Om Ray pasti akan..."


"Duuaarrr!" Suara ledakan dari arah luar membuat Caraka dan Chiara segera berdiri.


Ceklek! Pintu terbuka dan Rion muncul dengan wajah panik.


"Cak! Mobil kamu terbakar dan meledak!"

__ADS_1


__ADS_2