Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 34 Dikejar Musuh


__ADS_3

Dua hari kemudian, beberapa orang polisi mencari Abraham dan Daffin dikediaman mereka.


Abraham dan Daffin sudah tidak pulang ke rumah itu semenjak si X tertangkap.


Padahal pihak kepolisian memawa surat panggilan untuk keduanya untuk menjalani pemeriksaan.


Namun, seluruh asisten rumah tangga tidak ada yang tahu pasti keduanya pergi kemana.


Disisi lain, Abraham semakin gelisah karena mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa polisi telah mencari mereka ke rumah.


"Ini semua harus diakhiri, Daf! Sebelum nasib kita benar-benar berakhir!"


"Sebantar lagi, nama baik dan semua bisnis kita akan hancur! Sedangkan Caraka masih bisa bebas bernafas."


Daffin tidak merespon sama sekali karena ia fokus menerima laporan bahwa Sabella terakhir kali terlihat di bandara Internasional di Bali beberapa hari lalu.


Daffin menatap kepergian Abraham yang sudah menyambar kunci mobilnya.


Daffin keluar kearah balkon dan tak lama ia melihat Abraham berjalan menuju mobil jenis jeep keluaran terbaru tanpa di dampingi supir atau pengawal pribadi.


"Dad! Mau kemana?" teriaknya dari atas balkon.


"Menghabisi Caraka!" Jawab Abraham.


"Pergi dan habisi putri Ray!" Bentak Abraham pada Daffin.


"Kalau seandainya kita tertangkap setidaknya Caraka dan Ray mendapat kenang-kenangan dari kita!"


"Tidak bisakah Daddy mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk membungkam mulut si X itu?" Teriak Daffin. Ia sedang malas bermain dengan Chiara karena ia sedang fokus mencari tahu kemana Sabella pergi.


"Jangan mengajariku!" Abraham segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan villa miliknya itu.


Daffin menatap kepergian Abraham yang terlihat seperti bandit di film action. keluar dari markas dengan mobil keren dan siap menghabisi musuh.


Daffin mendadak tersenyum kecil. "Caraka... bagaimana jika gadis yang kamu cintai itu ku sakiti sedikit?"


Daffin mendadak teringat saat Sabella mengatakan bahwa Caraka mencintai gadis bernama Chiara itu.


Sabella mendukungnya bertunangan dengan Chiara agar gadis itu bisa bersama Caraka.


Sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya. Bagaimana kalau ia menyakiti Chiara sedikit saja? Apakah Caraka akan bersedih?


Sama seperti yang Caraka lakukan padanya, yaitu membawa gadis yang ia cintai pergi darinya.


Bagaimana kalau dia menculik Chiara dan meminta Caraka untuk datang menemuinya?


"Ini akan seru, Caraka!" Daffin menyeringai.


***


Sesuai jadwal yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Hari ini Caraka dan beberapa orang dokter lainnya menghadiri seminar di salah satu gedung di daerah X. Dimana daerah tersebut masih tergolong daerah pemekaran dan belum semaju daerah dipinggiran kota Jakarta.

__ADS_1


Untuk sampai di tempat itu, Caraka harus melewati jalan raya yang lumayan sepi dan dikelilingi perkebunan karet disisi kanan dan kiri.


Untung saja, Raihan setia mengantarkan dirinya. Sehingga ia tak perlu merasakan kelelahan saat mengemudi.


Ada dua mobil yang berangkat ke sana. Tapi hanya dirinya saja yang berada di mobil berbeda.


Ini semua atas saran Raihan dan atas persetujuan Ray. Hanya untuk berjaga-jaga, kalau seandainya ada yang mengincar Caraka, setidaknya hal itu tidak membahayakan orang lain.


"Langsung balik aja, Han!" Ucap Caraka saat ia keluar dari gedung diadakan seminar itu.


"Mobil satu lagi belum kelihatan, Mas. Kita gak nunggu?" Tanya Raihan karena belum melihat satu mobil yang berangkat bersama mereka pagi tadi.


"Mereka mau mampir ke salah satu tempat belanja oleh-oleh, Han!"


"Mas gak beli?" tanya Raihan.


Caraka menggeleng. "Perasaan ku gak enak! Entah karena gak enak badan atau kecapekan!"


"Aku mau langsung balik aja!"


"Aku juga udah nitip ke mereka kok!"


Raihan mengangguk. Ia menuruti perintah dan segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Perjalanan kita lebih dari satu jam, Mas! Kalau mau tidur, gak apa-apa!" Ucap Raihan saat melihat Caraka sepertinya kelelahan.


Seminar yang dimulai dari pagi dan selesai sore tadi cukup menguras tenaga dan fikiran.


Setelah acara selesai, Caraka masih harus berbincang dengan rekan seprofesinya yang lain.


"Oke mas!"


Mereka melewati daerah yang lumayan sunyi. Keadaan yang mulai gelap dan wilayah yang memang tidak ada rumah penduduk membuat jalanan lumayan lenggang.


"Astaga!" Pekik Raihan membuat Caraka terbangun karena mobil yang mereka tumpangi juga sempat oleng.


"Ada apa, Han?" Tanya Caraka yang baru membuka mata


"Ada mobil yang sengaja mau menabrak mobil kita, Mas!"


"Masa iya musuh nyerang kita di sini, Han?" Sekarang ini, Caraka selalu menanggapi hal janggal sebagai serangan musuh.


Ia tidak bisa mentoleransi hal janggal sekecil apapun karena memang nyawanya yang sedang dalam bahaya.


"Musuh bisa datang dimana aja, Mas!" Jawab Raihan agak panik karena dibelakang mereka ada mobil yang melaju sangat cepat.


"Brak!"


"Allahuakbar!" Teriak Caraka kaget karena mobil mereka ditabrak dari arah belakang.


"Han! Hati-hati, Han!" Teriak Caraka. Ia sampai berpegangan dengan erat.

__ADS_1


"Tenang, Mas! Raihan menambah kecepatan mobil.


"Dor!" Suara tembakan dilepaskan.


"Sial!" Mak* Raihan karena musuh mereka ternyata membawa senjata api.


Sementara Caraka sudah tidak bisa lagi berfikir tenang. Mengoperasi pasien saja tidak semenegangkan ini.


Caraka merasa dirinya seperti pemeran pembantu di sebuah film action dan tidak tahu apakah akan selamat hingga diakhir film.


"Mas menunduk!" Perintah Raihan karena ia tak ingin Caraka menanjadi sasaran peluru nyasar.


Caraka sampai merosot di kursinya. "Han! Bagaimana ini?"


"Tenanglah, Mas! Sebentar lagi kita akan sampai di jalan yang terdapat rumah penduduk!"


"Dor!" Satu tembakan lagi.


"Baji*ngan!" Mak* Raihan geram. "Cuma menggertak, atau si pemegang senjata yang terlalu bod*h sih nembaknya!" Ucap Raihan karena tembakan itu tak ada yang mengenai mobil mereka.


"Raihan! Hati-hati, Han!" Pekik Caraka karena mobil mereka terasa seperti melayang karena sangking cepatnya melaju.


Sementara itu....


Di sebuah mobil jenis jeep, tepat di belakang mobil putih yang Caraka tumpangi. Abraham sedang tersenyum senang.


"Aku akan menghabisimu, Caraka! Hahahah..." Teriaknya keras.


Abraham sesekali mengulurkan tangannya keluar kaca mobil untuk melepaskan satu peluru kearah mobil di depannya.


Ia menargetkan ban mobil, namun gagal karena mobil tersebut melaju terlalu cepat.


Abraham mengetahui keberadaan Caraka karena ia meminta seseorang untuk terus membuntuti pria itu.


Dan pagi tadi, Abraham mendapat kabar bahwa Caraka sedang seminar di suatu daerah yang cukup jauh dari kota. Dan ia langsung menuju lokasi dengan rencana matang. Ia juga sudah merencanakan penyerangan akan dilakukan dititik mana.


Abraham terus mengejar mobil di depannya. Ia sempat menabrak bagian belakang mobil dan ia tertawa senang karena yakin, kedua orang di dalamnya pasti saat ini sedang panik.


Sementara itu, Caraka sudah tak henti-hentinya memanjatkan doa. Semoga Raihan bisa mengendalikan mobil dengan baik. Jalan raya yang terdapat lubang di beberapa bagian terkadang membuat mobil mereka sedikit berguncang.


"Mas, pegangan!" Ucap Raihan saat mereka hampir tiba di tikungan.


Caraka berpegangan erat dan ia menahan nafasnya. Ia yakin Raihan akan membuat jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik.


"Tiiiiiinnnnn!" Sebuah klakson panjang membuat Caraka membuka matanya lebar-lebar.


"Raihaaannn! Awaaassss!" Teriak Caraka sambil menutup matanya.


Sebuah truk tiba-tiba muncul di tikungan dan membuat dua pria dewasa di dalam mobil terkejut. Lampu truk yang tak terlalu terang serta banyaknya pepohonan di tikungan membuat Raihan tidak bisa melihat kedatangan truk itu.


"Braaaakkk!!!"

__ADS_1


Kepala Caraka dan Raihan terbentur di dashboard mobil.


"Braaaakkk!!" Di susul dengan suara kendaraan yang kembali bertabrakan.


__ADS_2