
"Brak!"
Chiara yang masih speachless karena dipeluk oleh Caraka menjadi terkejut mendengar suara pintu yang dibanting. Dan dalam sekejap, dekapan Caraka terlepas begitu saja.
Ia melihat seorang pria menarik paksa kerah blazer Caraka. Tak butuh waktu lama, Chiara langsung menarik nafas panjang.
"Abang!" teriaknya tak terima. Rion merusak momen romantis yang sedang Caraka ciptakan untuknya.
"Gak ada dalam rencana, Cak! Peluk-pelukan gak ada dalam rencana kita!" Caraka didudukkan paksa di sofa dan Rion berdiri dihadapan pria itu.
"Ya kali harus dibahas hal begitu, Yon!"jawab Caraka kesal.
"Namanya juga melamar, ya minimal peluklah."
"Aku belum kiss loh!" Lawan Caraka.
Dengan wajah memerah Rion menatap tajam Caraka. Mereka merencanakan lamaran ini, tapi tidak ada pembahasan mengenai pelukan hangat saat cincin sudah dipasangkan.
"Rion!" Sania menegur putranya.
Ternyata, keluarga Caraka dan keluarga Chiara bersembunyi di beberapa ruangan. Mereka akan muncul saat Caraka dan Chiara sedang makan malam ataupun saat mereka sudah selesai menyantap hidangan.
Tapi, Rion yang keponya selangit, mengintip momen romantis mereka dan malah merusak momen itu karena tak terima adiknya dipeluk oleh Caraka.
Melihat Rion yang hampir menghajar Caraka, akhirnya mereka semua keluar dari persembunyian.
"Sebentar, Mi!"
"Rion! Berani melawan mami!" tegur Sania lagi.
Rion mundur dan Bintang langsung menautkan jemari tangan mereka.
"Terima kasih sayang! Kamu yang paling mengerti aku," bisik Rion manja karena Bintang pasti mengerti perasaannya.
"Jangan terlalu percaya diri!" ucap Bintang tanpa menatap wajah Rion.
"Aku gandeng kamu, supaya kamu gak lepas lagi dan semakin merusak suasana!"
Rion terkejut dan menatap tajam istrinya. Bintang membalas tatapan itu dan Rion seketika langsung tersenyum lebar yang dibuat-buat. "Sorry..." sesalnya.
"Lain kali, besarin rasa sabarnya!" gumam Bintang. "Gak kasihan sama adik sendiri!"
Chiara memeluk Sania. "Mi..." Rengeknya pura-pura sedih. Ada rasa marah pada sang abang, tapi melihat Rion yang dimarahi Maminya, ia merasa geli sendiri. Pasalnya, putra kebanggaan keluarga itu jarang sekali kena marah.
"Maafkan abang kamu ya." Sania memeluk putrinya.
"Cak, maaf ya, rencana kamu jadi rusak begini," ucap Ray dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, om." Caraka menunduk.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik." Abi mengusap bahu putranya.
"Anggap saja, Rion sedang melindungi kamu dari dosa karena Chiara belum sah menjadi istri kamu," ucap Sora membuat putranya tersenyum kecil.
"Nah, akhirnya tante Sora belain Rion!" Ucap Rion senang karena ada yang membelanya.
"Tapi kamu tetap salah!" Bantah Ray.
"Kalau kita sedang dalam peperangan, kamu bisa membuat kami semua mat* tertembak musuh!" lanjut Ray. Heran melihat putranya yang muncul tiba-tiba sementara mereka masih harus bersembunyi.
Ia menyesal mengajak Rion untuk ikut. Setelah Caraka dan Chiara pergi meninggalkan rumahnya, Ray dan Sania juga bergegas pergi dengan melewati jalan pintas yang jaraknya lebih dekat. Mereka diantar supir supaya tidak perlu memasukkan mobil ke dalam pekarangan rumah ini, agar Chiara tidak curiga.
Sementara Rion sudah berangkat lebih dulu, dan mereka bertemu di halaman rumah itu. Dan Orang tua Carakalah yang membantu menyiapkan hidangan di balkon tersebut.
"Loh, sudah selesai?" Syakilla yang tiba-tiba datang bersama Shaka merasa heran karena semua keluarga sudah keluar dari persembunyian.
Ia datang dengan cara mengendap-endap tapi mendengar keributan di lantai dua, ia langsung naik keatas dan melihat seluruh keluarga sudah berkumpul.
__ADS_1
Semua orang menatap Syakilla dan gadis itu langsung diam. Ia tahu keadaan sedang tidak baik-baik saja.
"Sekarang, bagaimana?" tanya Ray.
"Kita langsung makan malam saja, Om." ucap Caraka.
Mau bagaimana lagi? Harusnya setelah ini, mereka makan malam romatis dulu, lalu Caraka memberi kejutan pada Chiara dengan menghadirkan seluruh keluarga, dan selanjutnya mereka akan membahas tanggal pernikahan.
"Cak, maaf ya..." Sania menatap wajah calon mantunya yang tampak lemas.
"Tidak apa-apa tante. Kan, tidak semua rencana harus berjalan mulus."
Chiara menatap tajamn ke arah Rion. "Awas!" ucapnya tanpa suara. Ia juga mengepalkan tangannya di balik punggung Sania.
***
"Minggu depan!"
Semua tercengang mendengar keputusan yang Ray buat. Setelah makan malam bersama, mereka mulai membicarakan tanggal pernikahan.
Caraka dan Chiara setuju jika pernikahan dilangsungkan dalam waktu dekat.
"Seminggu?" ulang Abimanyu selaku orang tua Caraka.
"Apa tidak terlalu cepat, Ray? Kita harus mempersiapkan banyak hal."
"Tenanglah Bi," jawab Ray santai. "Persiapan selama satu minggu sudah lebih dari cukup."
"Tapi, Caraka perlu waktu untuk mencari gedung, pakaian pernikahan dan belum lagi menemui W.O yang akan mengatur acara ini."
"Kami punya Nathali, istri Joseph. Dia punya W.O yang bisa diandalkan," jawab Ray.
"Soal gedung, kita bisa menyewa hotel. Aku akan bantu mencarinya. Atau mau diadakan di rumah kami saja?"
"Dan pakaian pernikahan. Rara bisa mengatur semuanya dengan sempurna, Bi."
Abimanyu melihat kearah istrinya, meminta pendapat dari wanita yang melahirkan anak-anaknya itu.
"Chiara, Caraka, apakah kalian setuju kalau pernikahan dilangsungkan minggu depan?" tanya Sania.
"Setuju," jawab Chiara.
Caraka menatap Chiara yang menjawab tanpa berfikir panjang.
"Chia..."
"Kenapa?" tanya Chiara. "Abang keberatan?"
Caraka diam dan menggeleng. "Tapi, aku harus mengajukan cuti dulu dan mengurus semuanya."
"Jawab saja, kamu setuju atau tidak!" ucap Ray tegas.
Aku harus bisa mengambil keputusan dan tidak boleh plin-plan. Aku tahu, itu adalah poin penting yang diharapkan Om Ray dariku.
"Setuju, Om!" jawab Caraka cepat.
"Oke. Kalau semua setuju, kalian atur jadwal untuk ketemu sama tante Rara." Perintah Ray pada keduanya.
"Sekaligus dengan tante Nathali. Diluar jam kerja, itu lebih baik. Mereka berdua tidak akan keberatan."
"Semua setuju?"
Semua mengangguk tanda setuju dengan usul Ray.
"Papi mengatur semua ini bukan karena mau ikut campur. Tapi, papi tahu kalian berdua sangat sibuk."
"Dan pergunakanlah waktu seminggu ini untuk hal-hal yang sangat penting."
__ADS_1
"Terutama cuti dari pekerjaan kalian."
"Jangan lupa, jaga kesehatan kalian."
"Bintang, papi minta tolong, temani mami dan tante Sora untuk ke butik tante Rara."
"Siap, Pi."
"Tugas Rion apa, Pi?"
Ray mengerutkan kening. "Tugas kamu, atur jadwal cuti adik kamu."
"Cuma itu, Pi?"
Ray menggeleng. "Pesan tiket honeymoon, lengkap dengan semua fasilitasnya."
"Om, sepertinya..." Caraka menginterupsi. Ia ingin menolak karena itu tanggung jawanya. Ia tak ingin merepotkan siapapun untuk masalah itu.
Ray mengangkat tangannya. "Biarkan saja, Cak. Dia yang merusak momen kalian. Maka dia yang harus membayarnya dengan memberikan sesuatu yang istimewa untuk kalian."
Rion mencebikkan bibirnya.
"Bisa Rion?" tanya Ray tegas.
"Bisa, Pi," jawabnya.
"Soal akad nikah dan susunan acara, kalian bicarakan saja dengan tante Nathali. Terserah kalian mau pakai konsep seperti apa."
"Terima kasih, pi!." Chiara memeluk Ray.
"Sama-sama sayang. Papi cuma berharap kamu selalu bahagia, Nak."
"Bagaimana, Abi?" tanya Ray. "Kamu ingin menyampaikan sesuatu?"
Abi mengangguk. "Karena ini pernikahan putraku yang sudah sangat ku nanti-nantikan," Abi tertawa geli.
"Ck!" Decak Caraka. "Apa sebegitu inginnya kalian melihat aku menikah?" gumamnya.
"Boleh kan kalau aku mengundang banyak tamu," lanjut Abimanyu.
"Ya... mereka adalah orang yang selalu menanyakan apakah putraku sudah menikah atau belum."
"Mereka juga orang yang sering menawarkan anaknya untuk ku jadikan menantu..."
Ray tertawa. "Hahah... silahkan! Undang seberapapun kamu ingin."
"Karena sepertinya aku akan menyediakan lokasi yang bisa menampung lebih dari seribu tamu undangan."
***
"Hati-hati..." ucap Caraka saat membantu Chiara keluar dari dalam mobil. Ia mengantarkan gadis itu pulang.
"Maaf atas kelakuan bang Rion, ya..."
Caraka mengangguk. "Sudahlah, yang pasti aku senang karena minggu depan..." ucap Caraka malu.
"Kita sudah sah?" lanjut Chiara.
Caraka mengangguk. "Istirahatlah. Aku gak bisa mampir karena sudah terlalu larut."
Chiara tertawa. "Ditawari juga enggak!"
"Hahaha. Kan biasanya begitu. Basa-basi nawarin, masuk dulu, Bang!"
Chiara juga tertawa.
Caraka menatap wajah gadis itu dan mengusap pipinya. "Terima kasih sudah mau bersama pria sepertiku."
__ADS_1
Chiara mengangguk. "Hati-hati. Aku masuk dulu. Selamat malam, Bang!"
Chiara perlahan melangkah meninggalkan Caraka. Bukan tak ingin berlama-lama. Tapi, sentuhan tangan Caraka di pipinya seperti sengatan listrik yang berhasil membuat jantungnya berdebar hebat.