
"Mau jogging, Bang?" tanya Syakilla saat melihat Caraka turun dari lantai dua dengan mengenakan kaos hitam polos dengan celana trainning dan sepatu sport.
"Hem!" Caraka duduk sebentar di meja makan. Bergabung dengan papanya yang sedang menikmati secangkir kopi dan Syakilla yang sedang duduk sambil menunggu sarapan untuk mereka selesai dibuat.
"Sendirian?" tanya Syakilla lagi.
"Hem! Ya kali, bawa orang sekomplek, Sya!" jawabnya malas.
Syakilla hanya mengangguk beberapa kali sambil membulatkan mulutnya. Mengatakan "o" tanpa suara.
"Ya kali, sekalian sama teman-teman dokter!" gumam gadis itu.
"Jogging massal!" Lanjutnya. Syakilla sedikit tertawa diujung kalimatnya.
Caraka ikut tertawa. "Mau ikut gak?" tawarnya.
"Enggak!" tolak Syakilla.
"Ya, terserah sih. Semoga aja segala jenis sate yang kamu makan malam tadi gak jadi tumpukan lemak dibadan kamu!" Caraka berdiri dan segera meninggalkan meja makan.
"Aku gak akan gemuk, Bang! Tenang aja!" teriak Syakilla.
Caraka melakukan pemanasan di halaman rumahnya sebelum akhirnya keluar dari gerbang rumahnya dan mulai berlari-lari kecil.
Di sepanjang jalan menuju taman komplek, Caraka juga bertemu dengan para penghuni komplek yang juga sedang jogging.
Caraka hanya sendiri, tidak ingin bergabung dengan salah satu dari mereka meskipun beberapa kali ada tawaran untuk bergabung.
Caraka sedang memikirkan keputusan yang akan ia ambil. Ia tak ingin hubungannya dan Chiara menjadi canggung seperti malam tadi.
Ia setuju dengan ucapan gadis itu bahwa, hubungan yang belum mereka mulai tidak boleh merusak hubungan yang sudah terjalin lebih dulu.
Caraka duduk di sebuah kursi taman. Ia berniat akan bicara langsung dengan Chiara. Ia harus menjadi pria gentle. Ia tak boleh berlarut-larut dalam konflik batin yang sebenarnya cukup menyiksa ini.
Caraka mengambil ponsel di saku celananya. Ia segera mengirim pesan pada Chiara untuk bisa bertemu dengan gadis itu.
Assalamualaikum, Chi...
Bisa kita bertemu?
Caraka menghembuskan nafas kasar. "Setelah ini tinggal terserah Allah mau menakdirkan kami seperti apa?"
"Intinya aku harus memperjelas semuanya. Kalau dia memberi kesempatan, ya syukur! Tapi kalau enggak, ya mau bagaimana lagi?" Caraka bermonolog.
Tak perlu waktu lama, pesannya langsung di balas.
Bisa Bang.
Caraka tersenyum. "Singkat banget!" gumamnya.
Oke Chi. Jam 11 siang ini di cafe X.
***
Caraka mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari gadis yang katanya sudah menunggunya di area outdoor di sebuah cafe tempat yang Caraka janjikan.
Bibirnya melengkung kala melihat gadis dengan kemeja dan jeans duduk sendirian di sudut cafe.
"Sorry! Malah jadi kamu yang menunggu," ucap Caraka saat tiba di hadapan Chiara.
Gadis yang sedari tadi fokus pada ponselnya itu menengadahkan kepala. Bibirnya melengkung melihat pria tampan yang mengenakan hoodie berwarna putih itu.
"Aku juga baru sampai kok," jawab Chiara lembut.
Keduanya duduk saling berhadapan. "Udah pesan makanan?" tanya Caraka.
Chiara menggeleng. Akhirnya mereka memutuskan untuk memesan makanan lebih dulu.
"Ada yang mau dibicarakan, Bang?" tanya Chiara pada Caraka yang masih berusaha menyusun kata demi kata di otaknya.
Caraka sedikit terkejut, tapi ia mengangguk juga.
__ADS_1
Chiara tersenyum kecil. "Katakan aja!" Ucapnya.
Chiara menatap Caraka yang juga sedang menatapnya. Ia tidak tahu apa yang akan pria ini katakan.
Pria yang sudah mengungkapkan perasaan padanya sejak lama, namun masih ia gantung. Bahkan pernah ia tinggalkan begitu saja.
Patah semangat, putus asa, kecewa dan terluka, pasti pria yang kerap ia panggil abang itu rasakan. Chiara tahu, apa yang ia lakukan kemarin memang salah. Tidak memberi kepastian, dan malah memutuskan untuk bersama pria lain.
Itu semua karena ia tak bisa mengerti hubungan yang terjalin antara Caraka dan Sabella. Baginya, tidak ada pria dan wanita yang murni hanya berteman.
Jika bukan si pria yang suka, pasti si wanita atau mungkin keduanya memendam rasa. Minimal pernah timbul rasa suka, tapi tiba-tiba hilang.
Sama seperti yang ia rasakan pada Caraka. Dulu ia sempat suka pada pria yang gigih meraih cita-cita itu. Dia sempat menaruh hati pada Caraka yang berusaha keras menggapai gelar dokter, profesi yang juga ia cita-citakan.
Tapi perasaan itu perlahan hilang karena kesibukannya dibangku kuliah dan kesibukan pria itu dengan pekerjaan.
Setahun lalu, ia belum ingin menjawab ajakan Caraka untuk menikah. Lagi-lagi karena Sabella.
Namun, kali ini semua berubah. Ia bisa memastikan, Caraka tak memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu. Caraka bahkan tak ingin mengusik hidup gadis itu lagi. Tidak mencari tahu keberadaanya bahkan keduanya tidak pernah bertemu lagi bahkan saat proses persidangan berlangsung ketika gadis itu ada disini.
"Chi..." satu kata keluar dari bibir Caraka.
Ia sangat gugup. Ini tidak semudah saat ia meminta Chiara menikah dengannya setahun lalu.
"Ya..." Chiara memiringkan kepala dan menunggu Caraka melanjutkan ucapannya.
"Perasaanku masih sama!"
Akhirnya, sebuah ungkapan yang membuatnya menelan ludah berkali-kali. Biarlah ia disebut tidak tahu diri, mencintai putri Ray yang jelas-jelas sangat berjasa dalam melindungi nyawanya.
Chiara diam saja. Ia memandang Caraka tanpa ekspresi. Padahal dadanya berdebar hebat. Entah karena apa.
Padahal kata-kata itu tak seromantis dulu, saat Caraka mengatakan Dokter Cantik, Marry me! kepadanya.
Caraka tertawa kecil. "Setelah semua ini, ck!" Caraka berdecak.
"Harusnya aku tahu diri, sih!"
"Tapi aku butuh jawaban dari kamu, Chia!"
"Di tolak? Gak masalah!" ucapnya sambil menggeleng pelan.
"Yang terpenting, aku mendapat kepastian dari kamu. Supaya aku tahu, harus membawa perasaan ini kemana."
"Tidak ada yang berubah dengan hatiku, Chi."
"Ada atau tidaknya Sabella."
"Ada tidaknya kasus kemarin."
"Aku ingin mengakui perasaanku di hadapan om Ray, yang ku yakin 100 persen mengetahui perasaanku terhadap kamu!" Chiara menatap Caraka.
Tentu! Semua orang tahu akan hal itu bang! Kalau bang Rion tahu, Papi dan mami pasti tahu. Batin Chiara.
"Tapi aku gak bisa melakukan itu karena kamu belum memberi jawaban."
"Ini hidup kamu, Chi. Semua harus kamu yang putuskan."
"Kamu sudah dewasa dan ku yakin, kamu tahu apa yang kamu inginkan."
Caraka merema*as jemari tangannya yang saling bertautan diatas meja. Ia berusaha menutupi kegugupannya, apalagi Chiara yang tak mengatakan sepatah kata pun.
Perhatian Chiara terbagi saat pelayan membawa makanan ke meja mereka.
"Makan dulu aja, Chi!" Caraka terpaksa mengatakan ini agar mengurangi ketegangan diantara mereka berdua.
"Dokter Chiara?" sapa seorang pria membuat Caraka dan Chiara yang sedang menyantap makan siang mereka, seketika langsung melihat siapa orang yang berdiri di samping meja mereka.
"Dokter Danu?" balas Chiara pada pria itu.
Caraka menatap pria yang memakai kaos kerah dan celana jeans itu.
__ADS_1
Sainganku? tanyanya dalam hati.
"Berdua aja?" tanya pria bernama Danu itu.
Chiara mengangguk. "Ya," jawabnya.
"Siapa? teman, pacar atau saudara?" tanya pria itu lagi menunjuk Caraka.
Caraka mengerutkan alisnya. Apa urusannya sama dia?
Chiara menatap Caraka sebentar lalu dengan agak ragu dia menjawab. "Te... man."
Huft! Cuma teman, Cak! Sabar!
"Boleh gabung gak, saya sendirian soalnya."
Chiara mengangguk ragu setelah menatap Caraka yang juga mengangguk pelan.
"Silahkan!"
"Kenalkan, Dokter Danu, ini Bang Caraka."
"Bang, ini dokter Danu. Salah satu dokter umum yang baru dua hari bekerja di rumah sakit Danadyaksa."
Chiara berusaha memperkenalkan mereka berdua.
"Caraka."
"Danu."
"Anda pengusaha?" tanyanya pada Caraka.
Caraka tersenyum kecil, lalu menggeleng. "Bukan."
"Ehm, dia seorang..." ucap Chiara belum selesai.
"Karyawan biasa. Yang bekerja untuk orang lain." potong Caraka tak ingin Chiara menjelaskan siapa dirinya.
Pria bernama Danu itu menarik sebelah sudut bibirnya. Caraka tahu, senyum itu meremehkan dirinya.
Tapi apa pedulinya, ia terus menyuapkan makanannya dan sesekali menawari pria bernama Danu yang sedang menunggu pesanannya itu.
Perbincangan yang sama sekali tidak melibatkan Caraka itu membuatnya bosan. Pria bernama Danu itu bahkan bisa dibilang tak membiarkan Caraka berbicara banyak. Padahal hal yang mereka bicarakan tak jauh-jauh dari masalah pekerjaan yang sangat ia fahami.
Sebuah ide muncul...
"Hallo, Kak?" sapa Chiara pada seseorang yang menghubunginya.
Caraka dan Danu hanya bisa melihat Chiara yang beberapa kali mengangguk mendengar seseorang yang gadis itu panggil kakak.
Tanpa sengaja, mata Danu dan Caraka bertemu. Caraka tetap tersenyum kecil, dan dibalas hal yang sama oleh Danu.
"Oke... Aku kesana sekarang!"
"Maaf dokter Danu, sepertinya saya harus segera pergi!" ucap Chiara sementara Caraka sudah bersiap untuk berdiri.
"Mau saya antar?" tawar pria itu membuat Caraka kembali mengerutkan alisnya.
"Tidak perlu, saya sama supir!"
Danu melirik Caraka saat Chiara mengatakan akan pulang bersama supir.
Caraka menahan tawa, kala melihat tatapan Danu yang seolah mengira dirinyalah supir yang di maksud.
"Ya, saya duluan!" Chiara mengangguk sopan pada Danu.
"Bang, Kak Bi minta abang ikut!" ucap Chiara padanya. Kali ini, ucapan Chiara yang membuat Danu mengerutkan keningnya.
Chiara berjalan lebih dulu. Sementara Caraka segera menyusulnya. "Saya duluan, Dokter Danu."
***
__ADS_1