
Persiapan pernikahan berjalan sangat mulus karena Ray menggunakan uang dan kekuasaannya dengan sangat baik.
Keluarga yang kompak juga menjadi salah satu faktor keberhasilan persiapan pernikahan Caraka dan Chiara.
Ball room sebuah hotel berbintang disulap dengan sangat apik oleh Nathali dan timnya menjadi sebuah tempat yang mirip seperti hamparan salju.
Semua dekorasi di dominasi oleh warna putih. Sedikit dihiasi bunga berwarna soft pink dan dengan bentangan karpet merah dari arah pintu masuk menuju plaminan yang lebarnya lebih dari 20 meter.
Warna putih dipilih karena identik dengan warna jas seorang dokter. Dan Ballroom hotel dipilih agar lebih memudahkan akses karena seluruh anggota keluarga akan menginap di hotel yang sama.
Meninggalkan dekorasi tempat resepsi malam nanti yang sudah selesai 100 persen, kita beralih ke sebuah rumah besar milik Ray. Disana, akad nikah yang hanya dihadiri oleh keluarga inti akan dilangsungkan.
"Abang harap Caraka memang benar-benar orang yang menjadi pelabuhan terakhir kamu, Chi!" Rion menahan air matanya agar tidak tumpah.
Subuh ini, ia sengaja menyelinap masuk ke dalam kamar sang adik yang akan melakukan persiapan beberapa menit lagi.
"Maaf telah menghadirkan Daffin dan segala permasalahan yang sempat ia bawa."
Rion memeluk Chiara, tak kuasa mengharuskan hati untuk ikhlas melepas adik kesayangannya bersanding dengan pria lain.
Ia harus merelakan adiknya dipeluk dan di jaga oleh pria yang gadis itu percaya bisa menjaganya.
Rion merasa sudah berada dipenghujung tugasnya. Sebentar lagi, ia tak perlu memperhatikan Chiara seratus persen. Dan mungkin, ia tak akan lagi duduk dibalik meja kerja di rumah sakit Danadyaksa.
"Jika aku saja bisa tidak seikhlas ini, bagaimana dengan papi?" isaknya.
"Kamu kesayangan kami semua, Chi."
"Percayalah, abang akan selalu mendukungmu."
"Katakan padaku jika suamimu menyakiti kamu."
Chiara tertawa meski air matanya sudah mengalir deras. "Papi jauh lebih tegar dari abang! Meski kupapi mati-matian menahan tangis, tapi aku tahu, hatinya begitu berat melepasku." balas Chiara yang masih merasa nyaman dalam dekapan abangnya.
Malam tadi, Ray sudah menumpahkan luapan rasa bahagia karena akhirnya putri tercinta keluarga ini akan melepas masa lajangnya.
Ray tak lupa memberikan beberapa nasehat untuk putrinya.
"Setelah menikah, status kamu di dalam rumah itu hanya sebagai istri Caraka, sayang!" Ray mengusap kepala Chiara yang sedang ia rebahkan dipangkuan Sania.
"Bukan sebagai pemilik Rumah Sakit Danadyaksa ataupun putri dari seorang Ray."
"Jadi, tidak dibenarkan untuk kamu membangkang dan melawan suamimu."
"Hormati dia dan lebih banyaklah berkomunikasi agar rumah tangga kalian tetap baik-baik saja."
Chiara melepas pelukan abangnya. "Terima kasih, abang sudah menjagaku dengan baik, membantuku dalam mengurus rumah sakit, membantu dalam persiapan pernikahan ini dan terima kasih juga untuk setiap kekacauan kecil yang terjadi dalam perjalan cinta kami."
Rion tertawa sambil mengusap air matanya. "Masih ingat aja," gumamnya pelan.
Chiara tertawa. "Tenanglah, aku udah ikhlas kok."
__ADS_1
"Chia... tim MUA sudah datang." Bintang membuka pintu kamar Chiara dan malah menemukan suaminya berada di kamar itu.
"Oh, ada yang lagi melow-melow-an toh!" Bintang tertawa kecil saat melihat suaminya tampak menyeka air mata dengan terburu-buru.
"Enggak, Bi." Bantah Rion. Aku cuma mau memastikan Chiara udah bangun. Dia kan kadang suka lambat bangun kalau kecape'an."
Chiara menarik satu sudut bibirnya. "Chiara selalu on time, bang!"
"Kakak percaya sama abang kamu, Chi."
Bintang mendorong bahu Rion agar pria itu keluar dari kamar. Tapi tak urung membisikkan satu kalimat pada Chiara.
"Percaya saja, daripada ngambek." Bintang dan Chiara tertawa tanpa suara.
"Kamu keluar dulu ya sayang."
"Aku mau bantu Chiara bersiap."
"Mbak, ayo masuk!" Ajak Bintang pada beberapa orang tim MUA yang masih berdiri di luar kamar.
Sementara Rion berjalan menjauh. "Anak-anak sama siapa, Bi?"
"Sama papi, di halaman belakang! Kamu bantu papi jaga anak-anak dulu," perintah Bintang.
"Kak, aku deg-degan." bisik Chiara. Padahal wajahnya sedang dirias.
Bintang tertawa. "Semua calon pengantin merasakan hal yang sama, Chi."
"Kenapa Kak?" tanya Chiara penasaran.
"Kakak terdaftar sebagai sepupunya Caraka atau sebagai kakak ipar kamu ya?"
Keduanya tertawa. Bahkan tim MUA juga tertawa.
"Pengantinnya masih saudara ya, Mbak?" tanya salah satu wanita yang sedang mempersiapkan kebaya yang akan Chiara kenakan nanti.
"Iya..." jawab Bintang.
"Dan mertua saya punya besan kakak beradik."
Chiara tertawa lagi. "Dunia ini sempit ternyata ya kak?"
Bintang tersenyum kecil. "Bukan dunia ini yang sempit, Chia. Tapi Allah yang mengatur dengan begitu baik."
"Kalau papa Akhtar dan papi tidak bersahabat, mungkin jodoh kakak bukan abang kamu. Dan jodoh kamu juga mungkin bukan Caraka."
"Kakak benar. Semua ini sudah ada yang mengatur, termasuk pernikahan Chia dan bang Caraka."
"Dia yang mengacaukan pertunanganku. Tapi dia juga yang akhirnya membawaku ke plaminan."
***
__ADS_1
"Cermin itu akan teriak minta tolong karena bayangan wajah abang gak bergeser satu senti pun sejak sejam lalu," sindir Syakilla saat melihat Caraka sudah rapih dengan setelan jas.
Ia sedari tadi terus bercermin, merapikan penampilannya dan berulang kali latihan mengucapkan kalimat kabul.
"Abang harus memastikan semuanya sempurna, Sya!"
"Harus satu tarikan nafas." Caraka memandang adiknya. "Biar keren." Ia lantas menaik-turunkan alisnya.
Syakilla memutar bola matanya. "Ayo turun. Mama sama papa sudah menunggu."
Caraka melihat seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul di lantai satu.
"Jangan senyum terus, ntar gigi kering!" Sindir Shaka.
Caraka menatap pria yang sudah memakai batik dengan motif yang sama seperti papanya.
"Hei!" tunjuk Caraka. "Sejak kapan kamu jadi anggota keluargaku?"
Shaka tertawa. Ia malah menggandeng tangan Syakilla dan menunjukkan punggung tangan gadis itu.
"Sejak cincin ini terpasang." tunjuknya pada cincin yang melingkar di jari manis Syakilla.
Mata Caraka membulat sempurna. Ia melihat sekeliling dan tampak tak ada yang terkejut. Itu berarti semua orang sudah tahu mengenai hal itu.
"Kurang ajar!" Caraka segera berlari dan menjepit leher Shaka di ketiaknya.
"Kalian anggap apa aku ini, hah!" marahnya.
Shaka malah terbahak. "Hahahah... sayang, abang kamu gak pakai deodoran ya?"
"Kete*knya bau banget!" Shaka pura-pura menutup hidungnya.
"Sayang?" Herannya "Berani-beraninya?" ucap Caraka semakin menjepit leher Shaka.
"Lupa kali, Ay!" jawab Syakilla.
"Ay?" Sekarang kepala Caraka semakin sakit. Kemajuan pesat bagi pasangan ini. Sayang dan Ay? Ayang kan artinya?
"Kebanyakan ngaca sama latihan akad," lanjut Syakilla.
Caraka tersadar. Apa benar ia tidak memakai deodoran. Ia melepaskan Shaka dan mencium ketiaknya.
"Wangi!" gumamnya.
Lalu, ia menyadari bahwa dirinya telah terkecoh oleh dua orang yang selalu kompak itu.
Ia mengejar keduanya dan menarik kerah kemeja Shaka. Ia masih ingin mendengarkan penjelasan dari keduanya.
"Caraka! Mau nikah atau mau gulat?" tanya Sora.
"Ayo! Keburu Chiara dinikahi pria lain karena mengira kamu tidak datang!"
__ADS_1
Caraka langsung melepaskan Shaka. "Hutang penjelasan!" Ia mendelik marah kearah keduanya yang malah terbahak melihat ekspresi calon pengantin itu.